RENUNGAN ISLAM-DULU SEBELUM MURTAD (4/5A)

 

 

NABI MUHAMMAD dan “MUSUH PRIBADINYA” 

(S 5:28) “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.” 

Nabi Muhammad adalah manusia yang sempurna. Itu yang selalu tertanam dalam hati saya. Ukuran moral kita, suara hati kita tidak bisa dipakai untuk menilai contoh-contoh yang diberikan Nabi. Sekalipun ada tindakan yang dilakukan Nabi yang menurut ukuran suara hati saya tidak dapat diterima, kita sebagai muslim tidak bisa secara otomatis bilang bahwa sikap Nabi tidak betul. Apalagi yang menilai cuma seorang seperti saya. Betapapun sulitnya diterima hati dan pikiran kita, apapun yang dilakukan Nabi selalu memiliki pesan bijak. 

Hukum perlu tegas. Dengan demikian, masyarakat akan jera melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Hukum potong tangan dsb bagi pencuri yang ada dalam syaria adalah hukum yang tegas. Tidak semua orang bisa menerima ini(termasuk saya), tapi ini adalah hukum Islam. Orang yang tidak bisa menerima ini tentu hanya menggunakan kriteria moralnya sendiri. Demikian juga hukuman mati. Tapi keadilan memang memerlukan hukum yang tegas. Saya bisa mengerti ini. Walaupun demikian saya tidak bisa mengerti kalau hukuman yang diberikan dilakukan dengan sangat kejam, barbar, dengan penyiksaan dsb. 

Kita pada umumnya bisa menilai orang dari bagaimana mereka memperlakukan musuhnya atau memperlakukan orang-orang yang bersebrangan dengan mereka. Kalau misalnya saya membunuh orang dengan sangat kejam karena orang itu mengkritis saya, menghina, mamaki, menyebarkan fitnah, menghina keyakinan saya, saya tentu akan dinilai sebagai orang yang kejam. Kalau ada pemimpin politik yang baru berkuasa menangkapi lawan-lawan politiknya bahkan membunuhnya, kita bilang bahwa pemimpin seperti ini adalah pemimpin kejam. 

Menciptakan citra pribadi yang baik sudah menjadi kebutuhan tokoh-tokoh publik. Orang seperti ini bisa saja tampil sangat manis, dermahan, sangat baik hati, semata-mata untuk menampilkan citra yang baik tadi dengan harapan mendapat simpati dari publik. Di sisi lain bisa saja tidak masalah bagi dia kalau secara sembunyi-sembunyi mereka melakukan pembunuhan, penyiksaan dsb. Jadi mereka memiliki dua sisi. Citra baik yang ditampilkan dan wajah aslinya sebagai pembuhuh yang kejam disembunyikan. Bukankah penipu kecil-kecilan juga beroperasi dengan cara seperti ini ? 

Sebelumnya sudah saya sampaikan mengenai cerita pembunuhan dan penyiksaan kejam Kinana, (suami Safiyah yang diperistri Nabi setelah Kinana dibunuh) atas perintah Nabi hanya karena masalah harta. Dari biografi Nabi yang ditulis oleh orang-orang Islam kita bisa membaca bagaimana Nabi bersikap terhadap musuh-musuhnya. Berikut petikan dari sumber-sumber Islam. 

Pembunuhan Ka’b bin al-Ashraf 

Pada waktu Nabi hidup di Medina dan muslim semakin berkuasa, ada beberapa orang yahudi yang berseberangan dangan Nabi. Nabi memerintahkan pengikutnya untuk membunuh beberapa orang ini. Salah satunya bernama Ka’n bin al-Ashraf. 

Di Medina, Nabi mulai menghadapai oposisi dari suku-suku Yahudi yang hidup disana. Pada umumnya mereka menolak ajaran Nabi dan Islam. Suku Yahudi ini memiliki perjanjian dengan Nabi, yang intinya adalah seruan untuk hidup rukun dan saling membantu. Tidak semua orang Yahudi melihat perjanjian dengan kacamata yang sama. Salah satu orang Yahudi bernama Ka’b bin al-Ashraf, secara vokal mendukung orang Mekah Qurasisy dalam melawan Muhammad. Dia secara terbuka mengkritisi Nabi dan tidak percaya bahwa Muhammad adalah seorang Nabi. 

Ka’b membenci Nabi, meskipun tidak pernah mengangkat senjata untuk melawan Nabi atau muslim pada umumnya. Dia menyuarakan pendapatnya dan membuat sajak-sajak ejekan tentang wanita muslim. Nabi melihat dia sebagai ancaman bagi muslim dan karena itu memerintahkan pengikutnya untuk membunuh Ka’b. 
Berikut petikan dari Hadiths Bukhari mengenai peristiwa ini: 
Volume 5, Book 59, Number 369: 
Nabi berkata “Siapa yang bersedia membunuh Ka’b bin-Ashraf yang telah mnyakiti Allah dan rasulnya?” Saat itu Muhammad bin Maslama berdidi sambil berkata,”O Nabi, Apakah anda ingin saya membunuhnya?” Nabi berkata, “Ya”. Maslama berkata, “Maka ijinkanlah saya untuk bicara tidak jujur (untuk mengelabui Ka’b). Nabi bilang, “Kamu boleh mengatakan itu.”

Maslama pergi menemui Ka’b dan berkata, “Orang itu (yaitu Muhammad) meminta sadaqa (zakat) dari kita, dan dia telah menyulitkan kita, dan Saya datang untuk meminjam sesuatu darimu.” Untuk itu Ka’b berkata, “Demi Allah, kamu akan bosan/kesal sama dia”. Maslama berkata, “Sekarang karena kami telah ikut dia, kami tidak ingin meninggalkan dia kecuali jika dan s/d kita lihat bagaimana dia akhirnya nanti. Sekarang kami ingin kamu meminjami kami “a camel load” atau “two of food”. Kab berkata, “Ya,(saya akan pinjami kamu), tetapi kamu harus menjaminkan sesuatu pada saya.” Maslama dan temanya berjanji kepada Kab bahwa Muhammad akan mengembalikan itu padanya. Dia datang pada malam hari bersama dengan saudara angkat Kab, Abu Naila. Kab mengundang mereka untuk datang ke rumahnya dan kemudian dia pergi menemui mereka. Istrinya bertanya, “Kemana kamu akan pergi malam begini?” Kab menjawab, “Tidak kemana-mana kecuali Maslama dan saudara angkatku Abu Naila telah datang.” Istrinya berkata, “Saya dengan kabar bahwa seolah-olah pertumpahan darah adalah dari dia.; Kab berkata,”Mereka bukan lain kecuali saudaraku Maslama dan saudara angkatku Abu Naila. Orang yang baik harus menjawab panggilan pada malam hari meskipun jika dia diundang untuk dibunuh.” Maslama pergi bersama dua orang. (beberapa narrator menyebutkan orang itu Abu bin Jabr Al Harith bin Aus dan Abbad bin Bisr). Maka Maslama pergi bersama dua orang dan berkata kepada mereka, “kalau Kab datang, saya akan pegang rambutnya dan membauinya, dan kalau kamu lihat saya telah memegang kepalanya, tebas dia. Saya akan ijinkan kamu untuk membaui kepalanya.” Kab datang menemui mereka, tertutup dalam pakiannya dan menggunakan parfum. Maslama berkata “tidak pernah mencium bau lebih baik dari ini. Kab menjawab “Saya memiliki wanita terbaik arab yang tahu menggunakan parfum high class” Maslama menita Kab “Apakah kamu kan mengijinkan saya untuk membaui kepalamu” Kab berkata “Ya” Maslama membauinya dan meminta temannya membauinya juga. Kemudian dia minta lagi kepada Kab “Bolehkah saya (membaui kepalamu)” Kab berkata “Ya” {da waktu Maslama telah memegang dia kuat-kuat, dia bilang kepada temannya, “Pukul dia!” Maka mereka membunuhnya dan pergi menemui Nabi dan membertahukannya. (Abu Rafi) terbunuh setelah Kab bin Al-Ashraf”. 
versi bahasa Inggrisnya: 
Narrated Jabir bin ‘Abdullah: 
Allah’s Apostle said, “Who is willing to kill Ka’b bin Al-Ashraf who has hurt Allah and His Apostle?” Thereupon Muhammad bin Maslama got up saying, “O Allah’s Apostle! Would you like that I kill him?” The Prophet said, “Yes,” Muhammad bin Maslama said, “Then allow me to say a (false) thing (i.e. to deceive Kab). “The Prophet said, “You may say it.” Then Muhammad bin Maslama went to Kab and said, “That man (i.e. Muhammad demands Sadaqa (i.e. Zakat) from us, and he has troubled us, and I have come to borrow something from you.” On that, Kab said, “By Allah, you will get tired of him!” Muhammad bin Maslama said, “Now as we have followed him, we do not want to leave him unless and until we see how his end is going to be. Now we want you to lend us a camel load or two of food.” (Some difference between narrators about a camel load or two.) Kab said, “Yes, (I will lend you), but you should mortgage something to me.” Muhammad bin Mas-lama and his companion said, “What do you want?” Ka’b replied, “Mortgage your women to me.” They said, “How can we mortgage our women to you and you are the most handsome of the ‘Arabs?” Ka’b said, “Then mortgage your sons to me.” They said, “How can we mortgage our sons to you? Later they would be abused by the people’s saying that so-and-so has been mortgaged for a camel load of food. That would cause us great disgrace, but we will mortgage our arms to you.” Muhammad bin Maslama and his companion promised Kab that Muhammad would return to him. He came to Kab at night along with Kab’s foster brother, Abu Na’ila. Kab invited them to come into his fort, and then he went down to them. His wife asked him, “Where are you going at this time?” Kab replied, “None but Muhammad bin Maslama and my (foster) brother Abu Na’ila have come.” His wife said, “I hear a voice as if dropping blood is from him, Ka’b said. “They are none but my brother Muhammad bin Maslama and my foster brother Abu Naila. A generous man should respond to a call at night even if invited to be killed.” Muhammad bin Maslama went with two men. (Some narrators mention the men as ‘Abu bin Jabr. Al Harith bin Aus and Abbad bin Bishr). So Muhammad bin Maslama went in together with two men, and sail to them, “When Ka’b comes, I will touch his hair and smell it, and when you see that I have got hold of his head, strip him. I will let you smell his head.” Kab bin Al-Ashraf came down to them wrapped in his clothes, and diffusing perfume. Muhammad bin Maslama said. ” have never smelt a better scent than this. Ka’b replied. “I have got the best ‘Arab women who know how to use the high class of perfume.” Muhammad bin Maslama requested Ka’b “Will you allow me to smell your head?” Ka’b said, “Yes.” Muhammad smelt it and made his companions smell it as well. Then he requested Ka’b again, “Will you let me (smell your head)?” Ka’b said, “Yes.” When Muhammad got a strong hold of him, he said (to his companions), “Get at him!” So they killed him and went to the Prophet and informed him. (Abu Rafi) was killed after Ka’b bin Al-Ashraf.”

Berdasarkan cerita hadiths tersebut Nabi Muhammad menginginkan Kab dibunuh karena dia telah “menyakiti Allah dan Rasulnya”. Nabi tidak membunuh Kab sendiri tapi memerintahkan pengikutnya Maslama untuk membunuh. Untuk tujuan itu, Nabi mengijinkan Maslama untuk berbohong dengan cara membujuk Kab keluar dari rumahnya. 

Buku biografi Nabi (Sirat Rasul Allah, Ibn Ishaq) menyebutkan latar belakang dibunuhnya Kab adalah karena setelah perang Badr, Kab bin al-Ashraf menjadi ketakutan oleh kemenangan Nabi pada perang itu dan juga karena terbunuhnya beberapa pemimpin arab. Berikut kutipan dari Sirat RasulAllah, 

“Apakah benar? Apakah Muhammad benar-benar membunuh mereka yang disebutkan dua orang ini? Mereka ini adalah orang-orang mulia Arab dan kingly men; Demi Allah, jika Muhammad telah membunuh orang-orang ini, akan lebih baik mati daripada hidup.” 

Pada waktu musuh Allah yakin bahwa berita tsb benar dia meninggalkan kota dan pergi ke Mekah untuk tinggal bersama al-Mutatlib yang menikah dengan Atika. Atika membawanya masuk dan menjamunya dengan ramah. Dia (Kab) mulai mencaci maki Nabi dan mengucapkan kata-kata yang meratapi orang Quraish yang dilempar kedalam parit setlah dibantai di Badr. 

(…buku Sirat kemudian merinci beberapa puisi yang dibuat Kab dan lainnya…) 

Kemudian dia (Kab) meyusun sajak cinta yang bernuansa mengejek mengenai wanita muslim. Nabi berkata menurut apa yang disampaikan Abdullah Burda kepada saya, “Siapa yang akan membebaskan diri saya atas Ibnul-Ashraf?” Maslama berkata, “Saya akan tangani dia untuk anda, O Nabi, Saya akan bunuh dia.” Nabi berkata:”Lakukan jika kamu bisa.” Maka Maslama kembali dan menunggu tiga hari tanpa makanan dan minum, kecuali yang benar-benar perlu. Pada waktu Nabi diberi tahu hal ini, beliau menegur dan mennyakan kepadanya kenapa dia tidak makan dan minum. Dia menjawab bahwa Nabi telah menugaskan sesuatu kepadanya dan dia tidak tahu bagaimana harus memenuhinya. Nabi berkata, “Apa yang menjadi kewajibanmu adalah bahwa kamu harus mencoba.” Dia berkata, “O Nabi, kami harus berbohong” Nabi menjawab, “Katakan apa yang kamu suka karena kamu bebas dalam hal ini.”

Selanjutnya dia dan Silkan (Abu Naila) dan Abbad, dan Harith, dan Abu ‘Abs b.Jabr melakukan konspirasi bersama-sama dan mengirim Silkan menemui musuh Allah, Kab, sebelum mereka datang menemuinya. Kemudian dia berkata, “O Ibn Ashraf, Saya datang kepadamu mengenai urusan yang ingin saya sampaikan kepadamu dan berharap bahwa kamu bisa menjaga rahasia.” “Baik”, dia menjawab. Dia melanjutkan, “Munculnya orang ini adalah cobaan yang berat bagi kami. Dia telah memprovokasi/membangkitkan pertentangan orang Arab, dan mereka semua bersama-sama melawan kami. Jalan-jalan sudah tidak dapat dilalui lagi sehingga keluarga kami dalam keadaan menderita dan kami dan keluarga kami sangat tertekan.” Kab menjawab, “Demi Allah, saya selalu katakan kepadamu, O Ibn Salama, bahwa hal yang telah saya peringatkan padamu akan terjadi” Silkan berkata kepadanya, Saya ingin kamu menjualkan makanan untuk kami dan kami akan berikan kamu janji keamanan dan kamu bersikap murah hati dalam hal ini..” Dia menjawab, “Akan kamu berikan anakmu sebagai ikatan?” Dia berkata, “Kamu ingin menghina kami. Saya punya banyak teman yang sependapat dengan saya dan saya ingin bawa mereka kepada kamu supaya kamu bisa mnjual kepada mereka dan bertindaklah murah hati, dam kami akan beri kamu cukup senjata (perlindungan keamanan?) untuk ikatan yang baik..” Keberatan Silkan adalah bahwa dia seharusnya tidak mengemukakan masalah senjata (perlindungan keamaanan) pada waktu mereka mengungkapkannya. Kab menjawab, “Senjata adalah ikatan yang baik.”

Setelah itu Silkan kembali kepada teman-temannya, dan menceritakan apa yang terjadi, dan dia meminta mereka untuk bersiap-siap. Kemudian mereka pergi dan berkumpul dengan dia dan menemui Nabi.

Thaur b Zaid mengatakan kepada saya, Nabi berjalam bersama mereka sejauh Gharqad. Kemudian Nabi menyuruh mereka pergi, sambil barkata, “Pergi dalam nama Allah; O Allah bantu mereka.” Setelah berkata itu, Nabi pulang kerumahnya. Saat itu malam terang bulan dan mereka pergi sampai mereka tiba di kediaman Kab, dan Abu Naila memangilnya. Dia baru saja menikah dan dia meloncat dari tempat tidurnya dan istrinya setelah akhirnya tenang berkata, “Kamu dalam perang, dan mereka yang dalam perang tidak keluar pada jam-jam seperti ini” Dia menjawab, “Itu Abu Naila. Seandainya dia tahu saya tidur dia tidak akan membangunkan saya” Dia menjawab,”Demi Allah, Saya bisa mendengar kejahatan di dalam suaranya.” Kab menjawab,”Meskipun jika panggilan itu untuk membunuh, orang yang berani harus menjawabnya”

Maka dia menemui dan bicara dengan mereka untuk beberpa lama, dan saat mereka bercakap-cakap dengannya, kemudian Abu Naila berkata, “Maukah kamu berjalan bersama kami ke Shi’b al-Ajuz, sehingga kita bisa bicara sepanjang malam?” “Jika kamu ingin”, jawab dia, maka mereka pergi berjalan bersama; dan setelah beberapa saat Abu Naila memegang tangan sampai rambut Kab. Kemudian dia membaui tangannya dan berkata; Saya tidak pernah mencium bau seenak ini” Mereka berjalan lebih jauh, dia lakukan hal yang sama sehingga Kab tidak curiga akan adanya kejahatan. Kemudian setelah yang ketiga kalinya hal itu dilakukan dan berteriak, “hantam musuh Allah!” Maka mereka menghantamnya dan pedang mereka menghantamnya tanpa akibat apa-apa. Maslama berkata, “Saya ingat pisau saya waktu saya melihat bahwa pedang kami tidak berguna, dan saya rebut. Sementara itu musuh Allah membuat suara-suara sdemikian sehingga setiap rumah disekitar kami memperlihatkan cahaya. Saya tusukkan pisau saya kebagian bawah tubuhnya, dan saya dorong kebawah sampai mencapai kemaluannya, dan musuh Allah jatuh ketanah. Harith terluka, di kepala atau di kakinya, salah satu pedang kami mengenai dia. Kami pergi, melewati Umayya dan kemudian Qurayza dan kemudian bersama-sama, sampai kami pergi ke Harra di Arayd. Teman kami Harith tertinggal jauh, semakin lemah karena kehilangan darah, jadi kami menunggunya beberapa saat sampai dia muncul, mengikuti jejak kami. Kami bopong dia menemui Nabi pada akhir malam itu. Kami memberikan salam padanya saat dia berdiri berdoa, dan dia keluar menemui kami dan kami katakan bahwa kami telah membunuh musuh Allah. Dia meludahi luka teman kami, dan bersama-sama dia dan kami kembali ke keluarga masing-masing. Serangan kami ke musuh Allah telah menciptakan ketakutan bagi orang-orang Yahudi, dan tidak ada seorang Yahudipun yang tidak takut akan keselamatan hidupnya. 

versi bahasa Inggrisnya: 
“Is this true? Did Muhammad actually kill these whom these two men mention? These are the nobles of the Arabs and kingly men; by God, if Muhammad has slain these people it were better to be dead than alive.” 
When the enemy of God became certain that the news was true he left the town and went to Mecca to stay with al-Muttalib who was married to `Atika. She took him in and entertained him hospitably. He began to inveigh against the apostle and to recite verses in which he bewailed the Quraysh who were thrown into the pit after having been slain at Badr. 
The Sirat now lists some of the poems made up by Ka`b and others. The narrative continues: 

Then he composed amatory verses of an insulting nature about the Muslim women. The apostle said – according to what Abdullah Burda told me, “Who will rid me of Ibnu’l-Ashraf?” Maslama said, “I will deal with him for you, O apostle of God, I will kill him.” He said, “Do so if you can.” So Maslama returned and waited for three days without food or drink, apart from what was absolutely necessary. When the apostle was told of this he summoned him and asked him why he had given up eating and drinking. He replied that he had given him an undertaking and he did not know whether he could fulfil it. The apostle said, “All that is incumbent upon you is that you should try.” He said, “O apostle of God, we shall have to tell lies.” He answered, “Say what you like, for you are free in the matter.” 
Thereupon he and Silkan [Abu Na’ila], and Abbad, and Harith, and Abu `Abs b. Jabr conspired together and sent Silkan to the enemy of God, Ka`b, before they came to him. He talked to him some time and they recited poetry one to the other, for Silkan was fond of poetry. Then he said, “O Ibn Ashraf, I have come to you about a matter which I want to tell you of and wish you to keep secret.” “Very well”, he replied. He went on, “The coming of this man is a great trial to us. It has provoked the hostility of the Arabs, and they are all in league against us. The roads have become impassable so that our families are in want and privation, and we and our families are in great distress.” Ka`b answered, “By God, I kept telling you, O Ibn Salama, that the things I warned you of would happen.” Silkan said to him, “I want you to sell us food and we will give you a pledge of security and you deal generously in the matter.” He replied, “Will you give me your sons as a pledge?” He said, “You want to insult us. I have friends who share my opinion and I want to bring them to you so that you may sell to them and act generously, and we will give you enough weapons for a good pledge.” Silkan’s object was that he should not take alarm at the sight of weapons when they brought them. Ka`b answered, “Weapons are a good pledge.” 
Thereupon Silkan returned to his companions, told them what has happened, and ordered them to take their arms. Then they went away and assembled with him and met the apostle. 
Thaur b. Zayd told me the apostle walked with them as far as Gharqad. Then he sent them off, saying, “Go in God’s name; O God help them.” So saying, he returned to his house. Now it was a moonlight night and they journeyed on until they came to his castle, and Abu Na’ila called out to him. He had only recently married and he jumped up in the bedsheet, and his wife took hold of the end of it and said, “You are at war, and those who are at war do not go out at this hour.” He replied, “It is Abu Na’ila. Had he found me sleeping he would not have woken me.” She answered, “By God, I can feel evil in his voice.” Ka`b answered, “Even if the call were for a stab a brave man must answer it.” 
So he went down and talked to them for some time, while they conversed with him. then Abu Na’ila said, “Would you like to walk with us to Shi`b al-`Ajuz, so that we can talk for the rest of the night?” “If you like”, he answered, so they went off walking together; and after a time Abu Na’ila ran his hand through his hair. Then he smelt his hand, and said, “I have never smelt a scent finer than this.” They walked on farther and he did the same so that Ka`b suspected no evil. Then after a space did it for the third time and cried, “Smite the enemy of God!” So they smote him, and their swords clashed over him with no effect. Maslama said, “I remembered my dagger when I saw that our swords were useless, and I seized it. Meanwhile the enemy of God had made such a noise that every fort around us was showing a light. I thrust it into the lower part of his body, then I bore down upon it until I reached his genitals, and the enemy of God fell to the ground. Harith had been hurt, being wounded either in his head or in his foot, one of our swords having stuck him. We went away, passing by the Umayya and then the Qurayza and then both until we went up the Harra of Urayd. Our friend Harith had lagged behind, weakened by loss of blood, so we waited for him for some time until he came up, following our tracks. We carried him and brought him to the apostle OT the end of the night. We saluted him as he stood praying, and he came out to us and we told him that we had killed God’s enemy. He spat upon our comrade’s wounds, and both he ad we returned to our families. Our attack upon God’s enemy cast terror among the Jews, and there was no Jew in Medina who did not fear for his life.” 

Ibn Sad memberikan keterangan tambahan mengenai kejadian ini. (Ibn Sad, Vol 1 hal 37). Berikut kutipannya: 
Kemudian mereka memenggal kepalanya dan membawanya bersama mereka,…mereka letakkan kepala itu dihadapan Nabi. Nabi memuji Allah atas pembunuhan ini.. 
versi bahasa Inggrisnya: 
Then they cut his head and took it with them. … they cast his head before him [Muhammad]. He (the prophet) praised Allah on his being slain. 

Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Nabi bisa sekejam itu? Kab menghasut musuh-musuh Nabi (orang Quraisy) dan dia membuat sajak-sajak tentang wanita muslim. Nabi tidak menyukainya dan menginginkan dia mati. Pada waktu Nabi melihat penggalan kepalanya, Nabi memuji Allah atas pembunuhan ini ? 

Pembunuhan Sallam Ibn Abul Huqayq 

Pada waktu pertempuran parit (yang kemudian tidak terjadi), dan masalah dengan yahudi dari suku Banu Qurayza telah selesai, urusan Sallam b Abul-Huqayq yang dikenal dengan nama Abu Rafi muncul dalam kaitannya dengan mereka yang mengumpulkan berbagai suku untuk bersama-sama melawan Nabi. Saat itu Aus (Maslama yang membunuh Kab adalah dari suku Aus), telah membunuh Kab b al-Asraf sebelum perang Uhud, maka Khazraj (suku arab Medina lainnya, yang bersama suku Aus beraliansi dengan Nabi dlm perjanjian Aqaba, dan dua suku arab medina ini disebut sbg golongan Ansar, “penolong”). Meminta dan memperoleh ijin Nabi untuk membunuh Sallam yang saat itu berada di Khaibar. 

(Kutipan dari Sirat Rasul Allah) 
Muhammad b. Muslim b. Shihab al-Zuhridari `Abdullah b. Ka`b b. Malik mengatakan kepada saya: Satu hal yang dilakukan Allah kepada Rasulnya adalah bahwa dua suku arab Ansar ini, Aus dan Khazraj, bersaing satu sama lain seperti stallions (kuda jantan untuk diternakkan): jika Aus melakukan sesautu untuk Nabi, Khazraj akan bilang, “Mereka tidak boleh mengungguli kita dimata Nabi dan Islam” dan mereka tidak akan tinggal diam sampai mereka dapat melakukan sesuatu yang setara. 
Pada waktu Aus membunuh Kab atas permusuhannya dengan Nabi, Khazraj menggunakan kata-kata itu dan bertanya pada diri mereka sendiri orang apa yang sekasar Kab terhadap Nabi? Dan kemudian mereka ingat Sallam, yang ada di Khaibar dan bertanya dan meminta ijin Nabi untuk membunuhnya.

Lima orang dari B.Salima dari Khazraj pergi menemui dia: ‘Abdullah b.`Atik; Mas`ud b. Sinan; `Abdullah b. Unays; Abu Qatada al-Harith b. Rib’i; dan Khuza`i b. Aswad, sekutu dari Aslam. Sewaktu mereka pergi, Nbi menunjuk Abdullah b.`Atik sebagai pemimpin mereka dan Nabi melarang mereka membunuh perempuan dan anak-anak. Pada waktu mereka sampai di Khaibar, mereka pergi ke rumah Sallam pada malam hari, setelah mengunci setiap pintu rumah yang tidak berpenghuni. Saat itu dia ada di ruangan atas rumahnya yang mempunyai tangga ketempat itu. Mereka menaiki tangga itu sampai didepan pintu dan meminta ijin untuk masuk. Istrinya keluar dan bertanya siapa mereka dan mereka mengatakan bahwa mereka adalah orang arab yang sedang mencari bahan-bahan (suplies). Dia mengatakan bahwa orang merka ada disini dan bahwa mereka boleh masuk. Pada waktu kami masuk, kami kunci pintu ruangan bersama istrinya takut kalau sesuatu terjadi antara kami dan Sallam. Istrinya mengerang dan memperingatkan suaminya tentang kami, sehingga kami berlari kearah dia dengan pedang kami sewaktu dia ada di tempat tidurnya. Satu-satunya yang bisa membimbing kami dalam kegelapan malam adalah putihnya Salam seperti selimut Mesir. Sewaktu istrinya merintih salah satu dari kami mengakat pedangnya keara dia, kemudian dia ingat larangan Nabi membunuh wanita dan kemudian menarik tangannya kembali; tapi karena itu kami telah menamtkan dia pada malam itu. Pada waktu kami menghantam Sallam dengan pedang kami, Abdullah b. Unays menusukkan pedangnya ke dalam perutnya, saat Sallam berkata Qatni, qatni, yang artinya ini cukup.
Kami keluar. Saat itu Abdullah b Aik tidak memiliki penglihatan yang baik dan jatuh dari tangga dan tangannya cedera sangat parah, sehingga kami membopong dia sampai kami membawa dia ke salah satu saluran air mereka dan masuk ke dalamnya. Orang-orang menyalakan “lampu” dan pergi mencari kami ke semua tempat sampai putus asa mencari kami, mereka kembali ke tuan mereka dan berkumpul disekitar dia pada waktu dia sekarat. Kami bertanya satu sama lain bagaimana kami tahu bahwa musuh Allah sudah mati, dan salah satu dari kami secar sukarela pergi untuk melihat; Jadi dia pergi dan bercampur dengan orang-orang. Dia berkata,”I lihat istrinya dan beberapa yahudi berkumpul mengelilingi dia. Istrinya membawa lampu ditangannya dan dengan ketakutan di wajahnya dan berkata kepada mereka “Demi Allah, saya benar-benar mendengar suara Abdullah b.Atik. Kemudian saya pikir saya pasti salah dan berpikir, “bagaimana Ibn Atik bisa ada disini ?” Kemudian istrinya berbalik menghadap dia, menatap matanya dan berkata, “Demi Allah orang Yahudi, dia mati!”. Tidak pernah saya mendengar kata kata lebih manis dari itu.

Kemudian dia datang kepada kami dan mengatkan kabar itu, dan kami jemout teman-teman kami dan membawanya kepada Nabi dan mengatakan bahwa kami telah membunuh musuh Allah. Kami saling berselisih dihadapan Nabi menegnai siapa yang membunuh Sallam, masing-masing dari kami merasa yang melakukan itu. Nabi meminta untuk melihat poedang kami dan poada waktu beliau melihatnya dia berkata, “Ini adalah pedang Abdullah b Unays yang membunuh Sallam; Saya dapat melihat jejak makanan di pedang ini”. 
versi bahasa Inggrisnya: 
Muhammad b. Muslim b. Shihab al-Zuhri from `Abdullah b. Ka`b b. Malik told me: One of the things which God did for His apostle was that these two tribes of the Ansar, Aus and Khazraj, competed the one with the other like two stallions: if Aus did anything to the apostle’s advantage Khazraj would say, “They shall not have this superiority over us in the apostle’s eyes and in Islam” and they would not rest until they could do something similar. If Khazraj did anything Aus would say the same. 
When Aus had killed Ka’b for his enmity towards the apostle, Khazraj used these words and asked themselves what man was as hostile to the apostle as Ka’b? And then they remembered Sallam, who was in Khaybar and asked and obtained the apostle’s permission to kill him. 
Five men of B.Salima of Khazraj went to him: ‘Abdullah b.`Atik; Mas`ud b. Sinan; `Abdullah b. Unays; Abu Qatada al-Harith b. Rib’i; and Khuza`i b. Aswad, an ally from Aslam. As they left, the apostle appointed `Abdullah b.`Atik as their leader, and he forbade them to kill women or children. When they got to Khaybar they went to Sallam’s house by night, having locked every door in the settlement on the inhabitants. Now he was in an upper chamber of his to which a ladder led up. They mounted this until they came to the door and asked to be allowed to come in. His wife came out and asked who they were and they told her that they were Arabs in search of supplies. She told them that their man was here and that they could come in. When we entered we bolted the door of the room on her and ourselves fearing lest something should come between us and him. His wife shrieked and warned him of us, so we ran at him with our swords as he was on his bed. The only thing that guided us in the darkness of the night was his whiteness like an Egyptian blanket. When his wife shrieked one of our number would lift his sword against her; then he would remember the apostle’s ban on killing women and withdraw his hand; but for that we would have made an end of her that night. When we had smitten him with our swords `Abdullah b. Unays bore down with his sword into his belly until it went right through him, as he was saying Qatni, qatni, i.e. it’s enough. 

We went out. Now `Abdullah b.`Atik had poor sight, and fell from the ladder and sprained his arm (729) severely, so we carried him until we brought him to one of their water channels and went into it. The people lit lamps and went in search of us in all directions until, despairing of finding us, they returned to their master and gathered round him as he was dying. We asked each other how we could know that the enemy of God was dead, and one of us volunteered to go and see; so off he went and mingled with the people. He said, “I found his wife and some Jews gathered round him. She had a lamp in her hand and was peering into his face and saying to them ‘By God, I certainly heard the voice of `Abdullah b.`Atik. Then I decided I must be wrong and thought, “How can Ibn`Atik be in this country?”‘ Then she turned towards him, looking into his face, and said, ‘By the God of the Jews he is dead!’ Never have I heard sweeter words than those.” 

Then he came to us and told us the news, and we picked up our companion and took him to the apostle and told him that we had killed God’s enemy. We disputed before him as to who had killed him, each of us laying claim to the deed. The apostle demanded to see our swords and when he looked at them he said, “It is the sword of `Abdullah b. Unays that killed him; I can see traces of food on it” 
Hassan b. Thabit mentioning the killing of Ka`b and Sallam said: 
God, what a fine band you met, 
O Ibnu’l-Huqayq and Ibnu’l-Ashraf! 
They went to you with sharp swords, 
Brisk as lions in a tangled thicket, 
Until they came on you in your dwelling 
And made you drink death with their swift-slaying swords, 
Despising every risk of hurt. 

Pembunuhan Al-Nadr Bin Al-Harith 

Dalam S 7:188, Allah memerintahkan Nabi mengatakan ini bagi para penentang Quraishy pada awal masa kenabiannya di Mekah. 
(S 7:188) Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain HANYALAH PEMBERI PERINGATAN, DAN PEMBAWA BERITA GEMBIRA BAGI ORANG-ORANGYANG BERIMAN “. 

Paragraph pertama The Encyclopaedia of Islam, New Edition ( Vol. VII, 1993) memberikan gambaran mengenai orang ini. 
Al-Nadr B. Al-Harith b. `Alkama b. Kalada b. `Abd Manaf b. `Abd al-Dar b. Kusayy, orang Quraisy kaya yang sebelum periode Islam, melakukan perdagangan dengan al-Hira dan Persia, dari mana dia dikatakan memperoleh buku-buku dan juga satu atau beberapa gadis-gadis budak penyanyi. 

Dia mewakili Abd al-Dar dalam grup Mutimun, yaitu orang Mekah yang bertanggung jawab terhadap suplai makanan untuk orang-orang yang pergi ke Kabah, dan dia menduduki jabatan yang cukup penting di kota. Dia merupakan salah satu penentang Nabi yang gigih, memaki Nabi dan tidak mau kalah dalam bicara dan mengutarakan kejayaan raja-raja Persia sewaktu Nabi mengingatkan akan nasib sengsara bangsa-bangsa terdahulu. Secara khusus, dia menuduh Nabi menyebutkan kisah-kisah kuno dan dua ayat Quran yang menggambarkan hal ini dikatakan mempunyai kaitan secara khusus dengan dia. (S 8:31 dan S 83:13) 
(S 8:31) Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Qur’an) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala”. 

(S 83:13) yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”.

Quran dikatakan bicara secara tidak langsung mengenai Al-Nadr B. al-Harith disamping musuh-musuh Nabi lainnya dalam berbagai ayat, bisa dicatat diantaranya (S 6:8~9, S 45: 6~8.) 

(S 6:6) Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (7) Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang yang kafir itu berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”. (8) Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?” dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikit pun). (9) Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-Iaki), Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu. 

(45:6) Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka. (7) Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang menjelaskan, berkatalah orang-orang yang mengingkari kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka: “Ini adalah sihir yang nyata”. Bahkan mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (Al Qur’an)”, (8) Katakanlah: “Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tiada mempunyai kuasa sedikitpun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu. Dia lebih mengetahui apa-apa yang kamu percakapkan tentang Al Qur’an itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. 

Dia ikut bertempur di Badr di jajaran orang-orang pagan quraisy dan dia tertangkap oleh muslim. Nabi kemudian membunuhnya secara pribadi dan Ali (menantu Nabi yang juga adalah anak paman Nabi Abi Talib) memenggal kepalanya dengan satu pukulan pedangnya, tetapi siapa yang sebenarnya membunuh Nadr diperselisihkan karena hadith mengatakan bahwa orang terkutuk yang akan menderita siksa neraka adalah mereka yang telah membunuh Nabi atau mereka yang dibunuh Nabi. Versi yang paling diakui adalah dimana Ali b.Abi Talib setelah membawa mereka sebagai tawanan, mengekekusi dia dengan darah dingin diuatu tempat bernama al-Safra… 

Saifur Rahman (“Sealed Neactar”) menuliskan kejadian pembuhuhan ini setelah muslim mendapat kemenangan dalam perang Badr. Kutipannya (dalam kutipan dibawah, selain terbunuhnya Nadr, juga diceritakan terbunuhnya musuh Nabi yang lain yang bernama Uqba b. Abi Mu’ait, semuanya atas perintah langsung dari Nabi): 

Dalam perjalanan kembali ke Medinah, di bukit pasir yang luas, Nabi membagi-bagikan “spoils” (booty, rampasan perang) secara rata kepada para pejuang muslim setelah beliau mengambil 1/5-nya (Al-Khums, bagian booty untuk Nabi dan Allah). Sewaktu mereka mencapai As-Safra, Nabi memerintahkan dua orang tawanan untuk dibunuh. Mereka adalah An-Nadr bin Al-Harith dan Uqbah bin Abi Mauait, karena mereka telah melakukan “penganiayaan” terhadap muslim di Mekah dan menaruh kebencian terhadap Allah dan Rasulnya. Intinya, dalam istilah modern mereka adalah tawanan perang, dan eksekusi mereka merupakan pelajaran bagi para penentang. Uqbah lupa harga dirinya/kebanggaannya dan berteriak, “Siapa yang akan mengurus anak-anakku O Rasul Allah?” Nabi menjawab, “Api (neraka)”.Apakah Uqbah tidak ingat sewaktu suatu hari dia melemparkan kotoran domba ke kepala Nabi pada waktu Nabi sedang bersujud sembahyang, dan Fatimah kemudian datang dan membersihkannya ? Dia juga mencekik Nabi dengan kerudungnya seandainya tidak ada Abu Bakr yang membantu dan membebaskan Nabi. Kepala dua kriminal ini dipenggal oleh Ali bin Abi Talib. 
versi bahasa Inggrisnya: 
On their way back to Madinah, at a large sand hill, the Prophet (Allah bless him and give him peace) divided the spoils equally among the fighters after he had taken Al-Khums (one-fifth). When they reached As-Safra’, he ordered that two of the prisoners should be killed. They were An-Nadr bin Al-Harith and ‘Uqbah bin Abi Muait, because they had persecuted the Muslims in Makkah, and harboured deep hatred towards Allâh and His Messenger (Allah bless him and give him peace). In a nutshell, they were criminals of war in modern terminology, and their execution was an awesome lesson to oppressors. ‘Uqbah forgot his pride and cried out, “Who will look after my children O Messenger of Allâh?” The Prophet (Allah bless him and give him peace) answered, “The fire (of Hell). [Sunan Abu Da’ud with ‘Aun-ul-Ma’bood 3/12]” Did ‘Uqbah not remember the day when he had thrown the entrails of a sheep onto the head of the Prophet (Allah bless him and give him peace) while he was prostrating himself in prayer, and Fatimah had come and washed it off him? He had also strangled the Prophet (Allah bless him and give him peace) with his cloak if it had not been for Abu Bakr to intervene and release the Prophet (Allah bless him and give him peace). The heads of both criminals were struck off by ‘Ali bin Abi Talib. 

Haekal menuliskan hal berikut mengenai terbunuhnya Nadr. 
Sementara kaum Muslimin dalam perjalanan ke Medinah itu, dua orang tawanan telah mati terbunuh, yakni seorang bernama Nadzr bin’l-Harith dan yang seorang lagi bernama ‘Uqba b. Abi Mu’ait. Sampai pada waktu itu baik Muhammad atau sahabat-sahabatnya belum lagi membuat suatu peraturan tertentu dalam menghadapi para tawanan itu yang akan mengharuskan mereka dibunuh, ditebus atau dijadikan budak. Tetapi Nadzr dan ‘Uqba ini keduanya merupakan bahaya yang selalu mengancam Muslimin selama di Mekah dulu. Setiap ada kesempatan kedua orang ini selalu mengganggu mereka.

Terbunuhnya Nadzr ini ialah tatkala mereka sampai di Uthail para tawanan itu diperlihatkan kepada Nabi a.s. Ditatapnya Nadzr ini dengan pandangan mata yang demikian rupa, sehingga tawanan ini gemetar seraya berkata kepada seseorang yang berada di sampingnya:

“Muhammad pasti akan membunuh aku,” katanya. “Ia menatapku dengan pandangan mata yang mengandung maut.”

“Ini hanya karena kau merasa takut saja,” jawab orang yang di sebelahnya.

Sekarang Nadzr berkata kepada Mushiab b. ‘Umair – orang yang paling banyak punya rasa belas-kasihan di tempat itu.

“Katakan kepada temanmu itu supaya aku dipandang sebagai salah seorang sahabatnya. Kalau ini tidak kaulakukan pasti dia akan membunuh aku.”

“Tetapi dulu kau mengatakan begini dan begitu tentang Kitabullah dan tentang diri Nabi,” kata Mushiab. “Dulu kau menyiksa sahabat-sahabatnya.”

“Sekiranya engkau yang ditawan oleh Quraisy, kau takkan dibunuh selama aku masih hidup,” kata Nadzr lagi.

“Engkau tak dapat dipercaya,” kata Mush’ab. “Dan lagi aku tidak seperti engkau. Janji Islam dengan kau sudah terputus.”

Sebenarnya Nadzr adalah tawanan Miqdad, yang dalam hal ini ia ingin memperoleh tebusan yang cukup besar dan keluarganya. Mendengar percakapan tentang akan dibunuhnya itu ia segera berkata:

“Nadzr tawananku,” teriaknya.

“Pukul lehernya,” kata Nabi a.s. “Ya Allah. Semoga Miqdad mendapat karuniaMu.”

Dengan pukulan pedang kemudian ia dibunuh oleh Ali b. Abi Talib.

Pada waktu mereka dalam perjalanan ke ‘Irq’z-Zubya diperintahkan oleh Nabi supaya ‘Uqba b. Abi Mu’ait juga dibunuh.

“Muhammad,” katanya, “siapa yang akan mengurus anak-anak?”

“Api neraka,” jawabnya.

Lalu iapun dibunuh oleh Ali b. Abi Talib atau oleh ‘Ashim b. Thabit, sumbernya berlain-lain.. 

Nabi menyatakan bahwa Quran adalah mukjijat dari Allah dan diturunkan untuk semua manusia dimana saja dan berlaku sepanjang masa. Pada waktu para penentang Nabi menuduh beliau bahwa “Quran adalah hanya karangan Nabi”, beliau menjawab seperti dinyatakan dalam (S 11:13, S 10:38) 

(S 11:13) Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Qur’an itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surah-surah yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”. 

(S 10:38) Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” 

Pada waktu al-Nadr bin al-Harith mengisahkan kisah-kisah kejayaan raja Persia, dia kemudian mengatakan “Muhammad tidak lebih baik dari pada saya sebagai story-teller (pencerita dongeng) dan apa yang dia sampaikan hanyalah dongengan orang dahulu; dia telah membuatnya seperti saya membuatnya” 

Dua musuh Nabi ini, An-Nadr bin Al-Harith maupun Uqbah bin Abi Mauait, tidak percaya Nabi dan selalu menghina Nabi maupun ajarannya. Mereka adalah penentang Nabi yang gigih. Kita bisa melihat dari cerita diatas bahwa Nabi memerintahkan membunuh dua orang musuhnya ini. Pada awalnya Nabi hanya bilang bahwa beliau hanyalah pemberi peringatan dan seperti kita pada masa sekarang sekalipun, ada orang yang mau menerima pesan Nabi dan ada juga yang menolak. Adalah Hak Allah dan bukan Nabi untuk menghukum mereka seperti yang selalu disampaikan Nabi dalam ayat-ayat awal yang diturunkan di Mekah. Walaupun demikian, setelah Nabi memiliki kekuatan senjata, Nabi tidak lagi berpegang pada apa yang disampaikan sebelumnya dengan mengeksekusi musuh pribadinya yang telah menghina dan melawan beliau. 

Bagaimana dengan pesan moral yang ada di (S 5:28) ? 
“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.” 

Pembunuhan Uqba bin Abi Mu`ayt 

Seperti telah diceritakan sebelumnya, dalam perjalanan Nabi dan pasukannya kembali ke Medina setelah perang Badr, Uqba yang tertangkap sebagai tawanan kemudian dibunuh dengan dipenggal kepalanya oleh Ali atas perintah Nabi. Pada waktu akan dibunuh Uqba berteriak, “Siapa yang akan mengurus anak-anakku O Rasul Allah?” 
Nabi menjawab, “Api (neraka), dan kemudian Ali memenggal kepalanya. 
Diceritakan bahwa Uqba pernah pergi ke Medina bersama al-Nadr b.al-Harith untuk mencari pertanyaan yang sulit yang akan ditanyakan kepada Nabi dengan tujuan untuk men-test apakah Muhammad benar-benar seorang Nabi. 

Berikut kutipan dari Sirat Rasul Allah (Ibn Ishaq): 
Sewaktu Al-Nadr berkata kepada mereka, mereka mengirim dia dan Uqba b.Abu Mu’ayt ke suku Yahudi yang ada di Medina dan berkata kepada mereka, “Tanyakan kepada mereka mengenai Muhammad; beri gambaran tentang Muhammad kepada mereka dan apa yang dia katakan, karena mereka adalah orang-orang pertama yang menerima kitab suci dan mempunyai pengetahuan yang kitahu tidak tahu mengenai nabi-nabi.” Mereka membawa pesannya, dan berkata kepada rabi yahudi, “Kamu adalah orang pemilik Taurat, dan kami telah kepadamu supaya kamu bisa mengatkan kepada kami bagaimana kami harus menghadapi seorang (Muhammad) dari suku kami” Rabi itu berkata, “Tanyakan pada dia tentang tiga hal yang akan kami beritahu padamu; jika dia memberi jawaban yang benar maka dia adalah benar-benar seorang Nabi, tapi jika tidak maka dia adalah penipu, jadi pikirkanlah sendiri pendapatmu mengenai dia. Tanyakan pada dia apa yang terjadi pada anak-anak muda yang hilang pada jaman dulu, karena mereka mempunyai cerita yang menakjubkan. Tanyakan pada dia mengenai seorang pengelana hebat yang mencapai kedua batas Timur dan Barat. Tanyakan pada dia mengenai apakah jiwa/spirit itu. Jika dia dapat memberikan jawabannya, maka ikutilah dia, karena dia adalah seorang Nabi. Jika tidak, maka dia adalah seorang pembual dan perlakukan dia sesukamu.” Kedua orang itu kemudian kembali ke Mekah menemuia orang-orang Quraisy dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka sudah mempunya cara yang pasti dalam mengahadpi Muhammad, dan juga tentang tiga pertanyaan yang diberikan oleh rabi yahudi.. 

Mereka menemui Nabi dan meminta dia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Nabi berkata kepada mereka “Saya akan beri jawaban besok,” tetapi dia tidak mengatakan “dengan ijin Allah”. Kemudian mereka pergi; dan Nabi, seperti yang mereka katakan, menunggu selama 15 hari tanpa mendapat wahyu dari Allah mengenai hal ini, tidak juga Gabriel datang kepadanya, sehingga orang-orang Mekah mulai menyebarkan laporan-laporan jahat, yang mengatakan “Muhammad berjanji kepada kami akan memberi jawaban besok, dan sekarang adalah hari kelima belas kami menunggu tanpa jawaban.” Keterlambatan ini menyebabkan kesedihan yang mendalam pada Nabi, sampai dengan Gabril memberikan Nabi Surat-18 (Al-Kahfi, Cave), dimana Gabriel menegur mengenai kesedihan Nabi, dan mengatakan pada Nabi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka, tentang anak-anak muda, pengelana besar dan spirit. 
versi bahasa Inggrisnya: 
When Al-Nadr said that to them, they sent him and `Uqba b. Abu Mu`ayt to the Jewish rabbis in Medina and said to them, ‘Ask them about Muhammad; describe him to them and tell them what he says, for they are the first people of the scriptures and have knowledge which we do not possess about the prophets.’ They carried out their instructions, and said to the rabbis, ‘You are the people of the Taurat, and we have come to you so that you can tell us how to deal with this tribesman of ours.’ The rabbis said, ‘Ask him about three things of which we will instruct you; if he gives you the right answer then he is an authentic prophet, but if he does not, then the man is a rogue, so form your own opinion about him. Ask him what happened to the young men who disappeared in ancient days, for they have a marvellous story. Ask him about the mighty traveller who reached the confines of both East and West. Ask him what the spirit is. If he can give you the answer, then follow him, for he is a prophet. If he cannot, then he is a forger and treat him as you will.’ The two men returned to Quraysh at Mecca and told them that they had a decisive way of dealing with Muhammad, and they told them about the three questions. 
They came to the apostle and called upon him to answer these questions. He said to them, ‘I will give you your answer tomorrow,’ but he did not say, ‘if God will.’ So they went away; and the apostle, so they say, waited for fifteen days without a revelation from God on the matter, nor did Gabriel come to him, so that the people of Mecca began to spread evil reports, saying, ‘Muhammad promised us an answer on the morrow, and today is the fifteenth day we have remained without an answer.’ This delay caused the apostle great sorrow, until Gabriel brought him the Chapter of The Cave, in which he reproaches him for his sadness, and told him the answers of their questions, the youths, the mighty traveller, and the spirit. 

Seperti Al-Nadr, Uqba juga tidak percaya Nabi Muhammad dan seperti diceritakan bahkan pernah menaruh kotoran domba di kepala Nabi pada waktu Nabi sembahyang.😆 Nabi menganggap dia sebagai musuh Allah dan Nabi dan memerintahkan Ali untuk membunuhnya. 
Pembunuhan Abu Afak 

Setelah Nabi tiba di Medina (th 622), nenerapa orang lokal mulai tidak menyukai Nabi. Banyak dari mereka adalah orang Yahudi, beberapa lagi orang pagan arab. Salah satu penentang Nabi adalah Abu Afak, kakek tua berumur 120 tahun. Kejahatan Afak adalah menghasut supaya orang-orang Medina meninggalkan Nabi. 

Berikut petikan cerita ini dari Sirat RasulAllah (Ibn. Ishaq), 
Abu Afak adalah salah satu dari B.Amr.b.Auf yang merupakan klan b.Ubayda. Dia menunjukkan ketidaksukaannya pada waktu Nabi membunuh al-Harith b. Suwaydb.Samit dan berkata:
“Telah lama saya hidup tapi belum pernah saya melihat
Sekelompok/sekumpulan orang-orang
Yang lebih loyal/setia pada tugas-tugasnya
Dan sekutu-sekutu mereka pada waktu dipanggil
Daripada anak-anak Qayla pada waktu mereka berkumpul,
Orang-orang yang membuang gunung-gunung dan tidak pernah tunduk
Seorang pengendara yang datang membelah mereka dalam dua bagian (dengan berkata)
“Diijinkan”, “dilarang”, atau hal-hal semacam itu.
Seandainya kamu percaya pada kejayaan atau jabatan raja
Kamu pasti telah mengikuti Tubba.
[catatan: Tubba adalah penguasa Yemen yang menyerang daerah ini yang sekarang dikenal dengan Arab Saudi; Orang Qaylites menolak mereka]

Nabi berkata, “Siapa yang akan menangani orang ini untuk saya?” Saat itu Salim b.Umayr, saudara dari B.Amr b.Auf, salah seorang “weepers”, pergi dan membunuhnya. Umama b.Muzayriya berkata mengenai hal ini:

Kamu berbohong kepada agama Allah dan pada orang bernama Ahmad (Muhammad)
Dengan dia yang merupakan ayahmu, kejahatan adalah anak yang dihasilkan!
Seorang “Hanif” menusukmu pada malam hari dengan berkata 
“Bunuh itu Abu Afak tanpa melihat usia tuamu!”
Meskipun saya tahu apakah it manusia atau jin
Yang membunuhmu pada malam buta (Akan saya katakan tidak tahu). 
versi bahasa Inggrisnya: 
Abu Afak was one of the B. Amr b. Auf of the B. Ubayda clan. He showed his disaffection when the apostle killed al-Harith b. Suwayd b. Samit and said: 
“Long have I lived but never have I seen
An assembly or collection of people
More faithful to their undertaking
And their allies when called upon
Than the sons of Qayla when they assembled,
Men who overthrew mountains and never submitted,
A rider who came to them split them in two (saying)
“Permitted”, “Forbidden”, of all sorts of things.
Had you believed in glory or kingship
You would have followed Tubba. 
The apostle said, “Who will deal with this rascal for me?” Whereupon Salim b. Umayr, brother of B. Amr b. Auf, one of the “weepers”, went forth and killed him. Umama b. Muzayriya said concerning that: 
You gave the lie to God’s religion and the man Ahmad! [Muhammad]
By him who was your father, evil is the son he produced!
A “hanif” gave you a thrust in the night saying
“Take that Abu Afak in spite of your age!”
Though I knew whether it was man or jinn
Who slew you in the dead of night (I would say naught). 

Berikut petikan dari Kitab Al Tabaqat Al Kabir (Book of The Major Classes, Vol-2) oleh IBN SA’D 

Kemudian terjadi serangan oleh Salim Ibn Umayr al Amri terhadapa Abu Afak, Yahudi, dalam bulan Shawwal pada permulaan bulan kedua-puluh dari Hijrah Rasul Allah. Abu Afak adalah dari Banu Amr Ibn Awf, dan adalah seorang tua yang telah berusia 120 tahun. Dia seorang yahudi, dan biasa menghasut orang-orang untuk melawan Nabi, dan menyusun sajak-sajak ejekan tentang Muhammad.

Salim Ibn Umayr yang merupakan seoarang “weepers” (orang yang ditugasi berpura-pura menangis dalam suatu upacara?) yang handal dan yang ikut perang Badr, berkata, “Saya bersumpah bahwa saya akan membunuh Abu Afak atau mati sebelum dia”. Dia menunggu kesempatan sampai suautu malam yang panas datang, dan Abu Afak tidur ditempat terbuka. Salim Ibn Umayr tmengetahui itu, maka dia tancapkan pedangnya di hatinya dan menekannya sampai menembus tempat tidurnya. Musuh Allah berteriak dan orang-orang yang merupakan pengikutnya berlari kearah dia, membawanya ke rumahnya dan menguburkannya. 

Pembunuhan Asma’ Bint Marwan 

Pembunuhan Asma Bint Marwan (perempuan) terjadi setelah terbunuhnya Abu Afak. Dia juga dibunuh pada pada malam hari pada waktu sedang tidur. 

Berikut kutipan dari Sirat Rasul Allah: 

Dia adalah dari B.Umayya b.Zaid. Pada waktu Abu Afak telah dibunuh dia menjukan ketidak senangannya. Abdullah b. al-Harith b. Al-Fudayl dari ayahnya berkata bahwa dia menikah dengan ornag dari B.Khatma yang bernama Yazid b. Zayd. Menyalahkan Islam dan pengikutnya dia mengatakan:
Saya membenci B. Malik dan al-Nabit
Dan Auf dan B. al-Khazraj.
Kamu mematuhi orang asing yang bukan apa-apamu
Bukan seorang Murad atau Madhhij. {1}
Apakah kamu mangharapkan kebaikan dari dia seelah membunuh pemimpinmu
Seperti orang lapar yang menunggu daging yang dimasak ?
Bukankah orang yang tidak punya harga diri yang menyerang dia dengan tiba-tiba
Dan memutuskan harapan orang-orang yang menggantungkan semuanya dari dia?

Hassan b. Thabit menjawabnya:

Banu Wail dan B. Waqif dan Khatma
Adalah lebih rendah dari B. al-Khazrahj.
Pada waktu dia meratapi kesedihannya (?) dalam tangisnya
Karena kematian akan datang
Dia menghina orang dari asal yang gemilang
Mulia dalam kepergian dan kedatangannya
Sebekum tengah malam dia mewarnainya dalam darahnya
Dan karena itu tidak ada kesalahan

Pada waktu Rasul Allah mendengar apa yang dia (Asma) katakan, dia berkata, “Siapa yang akan meningkirkan anak Marwan dari saya?” Umayr b Adiy al-Khatmi yang bersama dia mendengarnya, dan pada malam itu juga dia pergi ke rumahnya dan membunuhnya. Pagi harinya dia datang menemui Rasul dan mengatkan padanya apa yang telah dia lakukan dan dia (Muhammad) berkata, “Kamu telah menolong Allah dan Rasulnya, O Umayr!” Sewaktu dia bertanya apakah dia harus menanggung perbuatannya Nabi berkata, “dua ekor kambing tidak akan beradu kepala mengenai dia”, maka Umayr kembali ke orang-orangnya.

Hari itu ada keributan diantara B.Khatma mengenai kejadian yang menimpa bint (anak perempuan) Marwan. Dia hidup dengan lima anak laki-laki, dan pada waktu Umayr pergi ke mereka setelah bertemu Rasul dia berkata,”Say telah membunuh bint Marwan, O anak-anak Khatma. Tahan saya kalau kamu bisa; jangan membuat saya menunggu.” Itu adalah ahri pertama Islam menjadi berkuasa atas orang-orang B.Khatma; sebelum itu mereka yang muslim menembunyikan kepercayaannya. Salah satu dari mereka yang menerima Islam adalah Umayr b Adiy yang dipanggil sebagai “Pembaca”, dan Abdullah b. Aus dan Khuzayma b.Thabit. Pada hari setela Bint Marwan dibunuh laki-laki B.Khatma menjadi muslim karena mereka melihta kekuatan Islam.
(Catatan{1}: Murad atau Madhhij adalah suku Arab yang berasal dari Yemen.) 
versi bahasa Inggrisnya: 
She was of B. Umayyya b. Zayd. When Abu `Afak had been killed she displayed disaffection. `Abdullah b. al-Harith b. Al-Fudayl from his father said that she was married to a man of B. Khatma called Yazid b. Zayd. Blaming Islam and its followers she said: 

I despise B. Malik and al-Nabit 
and `Auf and B. al-Khazraj. 
You obey a stranger who is none of yours, 
One not of Murad or Madhhij. {1}
Do you expect good from him after the killing of your chiefs 
Like a hungry man waiting for a cook’s broth? 
Is there no man of pride who would attack him by surprise 
And cut off the hopes of those who expect aught from him? 
Hassan b. Thabit answered her: 
Banu Wa’il and B. Waqif and Khatma 
Are inferior to B. al-Khazrahj. 
When she called for folly woe to her in her weeping, 
For death is coming. 
She stirred up a man of glorious origin, 
Noble in his going out and in his coming in. 
Before midnight he dyed her in her blood 
And incurred no guilt thereby. 
When the apostle heard what she had said he said, “Who will rid me of Marwan’s daughter?” `Umayr b. `Adiy al-Khatmi who was with him heard him, and that very night he went to her house and killed her. In the morning he came to the apostle and told him what he had done and he said, “You have helped God and His apostle, O `Umayr!” When he asked if he would have to bear any evil consequences the apostle said, “Two goats won’t butt their heads about her”, so `Umayr went back to his people. 
Now there was a great commotion among B. Khatma that day about the affair of bint [daughter of] Marwan. She had five sons, and when `Umayr went to them from the apostle he said, “I have killed bint Marwan, O sons of Khatma. Withstand me if you can; don’t keep me waiting.” That was the first day Islam became powerful among B. Khatma; before that those who were Muslims concealed the fact. The first of them to accept Islam was `Umayr b. `Adiy who was called the “Reader”, and `Abdullah b. Aus and Khuzayma b. Thabit. The day after Bint Marwan was killed the men of B. Khatma became Muslims because they saw the power of Islam. 
{1} The note reads “Two tribes of Yamani origin.” 

Ibn Sa`d’s Kitab al-Tabaqat al-Kabir, translated by S. Moinul Haq, volume 2, 

Kemudian terjadi serangan Umayr ibn Adi Ibn Kharashah al-Khtami melawan Asma Bint Marwan, dari Banu Umayyah Ibn Zaid, sewaktu tinggal lima malam sebelum Ramadan, pada awal bulan kesembilan belas setelah hijrah Rasul Allah. Asma adalah istri Yazid Ibn Zayd ibn Hisn al-Khatmi. Dia biasa menghina Islam dan Nabi dan menghasut orang untuk melawan Nabi. Dia menulis sajak-sajak. Umayr ibn Adi datang kepadanya pada malam hari dan masuk kedalam rumahnya. Anak-anak Asma sedang tidur disamping dia. Disitu ada satu anak yang sedang dia susui. Dia mnecari Asma dengan tanganya karena dia buta, dan memisahkan anak-anak dari ibunya. Dia tusukkan pedangnya didada Asma sampai menembus punggungnya. Kemudian dai melakukan sholat subuh bersama Nabi di Medina. Rasul Allah berkata padanya:”Apakah kamu telah membunuh anak Marwan?” Dia berkata:”Ya. Adakah hal lain lagi yang harus saya kerjakan”? Dia (Muhammad) berkata:”Tidak. Dua kambing akan beradu kepala mengenai dia” Ini adalah kata pertama yang didengar dari Rasul Allah. Rasul Allah memanggilnya “Umays, “basir” (yang melihat). 
versi bahasa Inggrisnya: 
Then (occurred) the sariyyah of `Umayr ibn `Adi Ibn Kharashah al-Khatmi against `Asma’ Bint Marwan, of Banu Umayyah Ibn Zayd, when five nights had remained from the month of Ramadan, in the beginning of the nineteenth month from the hijrah of the apostle of Allah. `Asma’ was the wife of Yazid Ibn Zayd Ibn Hisn al-Khatmi. She used to revile Islam, offend the prophet and instigate the (people) against him. She composed verses. Umayr Ibn Adi came to her in the night and entered her house. Her children were sleeping around her. There was one whom she was suckling. He searched her with his hand because he was blind, and separated the child from her. He thrust his sword in her chest till it pierced up to her back. Then he offered the morning prayers with the prophet at al-Medina. The apostle of Allah said to him: “Have you slain the daughter of Marwan?” He said: “Yes. Is there something more for me to do?” He [Muhammad] said: “No. Two goats will butt together about her. This was the word that was first heard from the apostle of Allah. The apostle of Allah called him `Umayr, “basir” (the seeing). 

Pembunuhan Musuh-musuh Nabi di Mekah 

Berikut tulisan Haekal dalam Sejarah Hidup Nabi, setelah Nabi mengalahkan Mekah. 

Kemudian ia bertanya kepada mereka: 
“Orang-orang Quraisy. Menurut pendapat kamu, apa yang akan kuperbuat terhadap kamu sekarang?”

“Yang baik-baik. Saudara yang pemurah, sepupu yang pemurah.” jawab mereka.

“Pergilah kamu sekalian. Kamu sekarang sudah bebas!” katanya.

Dengan ucapan itu maka kepada Quraisy dan seluruh penduduk Mekah ia telah memberikan pengampunan umum (amnesti). 

Alangkah indahnya pengampunan itu dikala ia mampu! Alangkah besarnya jiwa ini, jiwa yang telah melampaui segala kebesaran, melampaui segala rasa dengki dan dendam di hati! Jiwa yang 
telah dapat menjauhi segala perasaan duniawi, telah mencapai segala yang diatas kemampuan insani! Itu orang-orang Quraisy, yang sudah dikenal betul oleh Muhammad, siapa-siapa mereka 
yang pernah berkomplot hendak membunuhnya, siapa-siapa yang telah menganiayanya dan menganiaya sahabat-sahabatnya dahulu, siapa-siapa yang memeranginya di Badr dan di Uhud, siapa yang dahulu mengepungnya dalam perang Khandaq? Dan siapa-siapa yang telah menghasut orang-orang Arab semua supaya melawannya, dan siapa pula, kalau berhasil, yang akan membunuhnya, akan mencabiknya sampai berkeping-keping kapan saja kesempatan itu ada!? Mereka itu, orang-orang Quraisy itu sekarang dalam genggaman tangan Muhammad, berada di bawah telapak kakinya. Perintahnya akan segera dilaksanakan terhadap mereka itu. Nyawa mereka semua kini tergantung hanya di ujung bibirnya dan pada wewenangnya atas ribuan balatentara yang bersenjatakan lengkap, yang akan dapat mengikis habis Mekah dengan seluruh penduduknya dalam sekejap mata! 

“Tetapi Muhammad, tetapi Nabi, tetapi Rasulullah, bukanlah manusia yang mengenal permusuhan, atau yang akan membangkitkan permusuhan di kalangan umat manusia! Dia bukan seorang tiran, bukan mau menunjukkan sebagai orang yang berkuasa. Tuhan telah memberi keringanan kepadanya dalam menghadapi musuh, dan dalam kemampuannya itu ia memberi pengampunan.

 

Sumber: http://indonesia.faithfreedom.org/forum/renungan-islam-dulu-sebelum-murtad-1-5-t22142/#p286896

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s