RENUNGAN ISLAM-DULU SEBELUM MURTAD (5/5)

NASIKH MANSUKH DALAM AL-QUR’AN 

Dalam S 2:106, Quran secara jelas menyatakan: 
Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? 

Nask secara umum berarti pembatalan, penghapusan, pemindahan dan pengubahan. Kata arab “Nasikh” berarti ayat yang mengantikan/menghapus dan “Mansukh” berarti ayat yang diganti/ dihapus. 

Pada waktu saya membaca ayat ini, saya bertanya-tanya mengapa Allah melakukan ini? Bukankah dinyatakan dalam Quran bahwa Quran adalah “Nazil” atau kitab yang diturunkan dari surga tanpa campur tangan manusia. Bukankah adanya Naskh dalam Quran mengandung arti bahwa Quran sebagai kitab yang tersimpan di dalam Lohmahfuz yang selalu dipelihara/dijaga juga memiliki ayat-ayat nasikh dan mansukh? 

Bukankah Allah menyatakan bahwa tidak ada perubahan dalam kalimat-kalimat Allah seperti yang ada dalam 
(S 10:64) 
Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. 

(Ibn Kathir) For them is good news, in the life of the present world, and in the Hereafter. No change can there be in the Words of Allah. This is indeed the supreme success.) 

(Yusuf Ali): For them are glad tidings, in the life of the present and in the Hereafter; no change can there be in the words of Allah. This is indeed the supreme felicity. 

(Pickthal): Theirs are good tidings in the life of the world and in the Hereafter – There is no changing the Words of Allah – that is the Supreme Triumph. 

(Shakir): They shall have good news in this world’s life and in the hereafter; there is no changing the words of Allah; that is the mighty achievement. 

(Catatan, dalam terjemahan Indonesia, ada sisipan kata “(janji-janji)” setelah kata “kalimat-kalimat”. Sisipan ini merupakan tambahan dari penterjemahnya dan tidak dijumpai dalam Quran Arab. Berbagai penterjemah Quran bisa memiliki sisipan yang berbeda-beda dalam suatu ayat sesuai interpretasinya) 

Atau yang juga dinyatakan dalam (S 6:34) berikut: 
Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu. 

(Ibn Kathir) Verily, (many) Messengers were denied before you, but with patience they bore the denial, and they were hurt, till Our help reached them, and none can alter the Words of Allah. Surely, there has reached you the information about the Messengers (before you) 

(Yusuf Ali) Rejected were the messengers before thee: with patience and constancy they bore their rejection and their wrongs, until Our aid did reach them: there is none that can alter the words (and decrees) of Allah. Already hast thou received some account of those messengers. 

(Pickthal): Messengers indeed have been denied before thee, and they were patient under the denial and the persecution till Our succour reached them. There is none to alter the decisions of Allah. Already there hath reached thee (somewhat) of the tidings of the messengers (We sent before). 

(Shakir): And certainly messengers before you were rejected, but they were patient on being rejected and persecuted until Our help came to them; and there is none to change the words of Allah, and certainly there has come to you some information about the messengers. 

Jadi (S 10:64, 6:34) menyatakan bahwa “tidak ada perubahan dalam kalimat-kalimat Allah” sedangkan (S 2:106) menyatakan sebaliknya? (bahkan Allah membuat beberapa ayat untuk dilupakan?) 

Mengapa Allah perlu mengganti/merubah/menghapus/membatalkan? Apakah ini berarti terdapat ketidak-sesuain atau kontradiksi dalam ayat-ayat Quran? Tetapi, bukankah Allah juga menyatakan bahwa tidak ada kontradiksi dalam ayat-ayat Quran seperti bisa dilihat dalam (S 4:82) 
(S 4:82) Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. 

Sebagai contoh Naskh dalam Quran, saya sumpai pernyataan Allah berkaitan dengan kemampuan bertempur seorang muslim seperti dinyatakan dalam S 8:65. 

(S 8:65) Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. 

Tafsir Ibn Kathir menyatakan bahwa ayat ini turun pada waktu perang Badr. Disini Allah memerintahkan bahwa (1) orang muslim untuk mengalahkan (10) orang kafir. Setelah turun ayat ini, para serdadu muslim merasa bahwa perintah Allah itu sangat sulit bagi mereka. Maka kemudian Allah mengganti/menghapus ayat ini (S 8:65) dengan ayat berikutnya (S 8:66) yang meringankan beban muslim dengan menurunkan jumlah orang kafir yang harus dikalahkan oleh (1) orang muslim dari (10) orang menjadi (2) orang. 
(S 8:66) Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. 

Dari satu contoh Nask diatas, kita bisa melihat bahwa Allah mengganti (S 8:65) dengan (S 8:6) karena seolah-olah Allah sebelum menurunkan (S 8:65) tidak mengetahui kekuatan bertempur muslim. Ayat tersebut mengandung makna keterbatasan Allah. Bukankah keterbatasan adalah sifat manusia. Saya bisa paham kalau seorang manusia mengeluarkan pernyataan atau peraturan dan kemudian menggantinya akibat misalnya peraturannya tidak bisa diaplikasikan atau diprotes. Manusia memiliki keterbatasan. Undang-undang yang dibuat manusia selalu berubah sesuai dengan kondisi/situasi yang berkembang. 

Contoh nasks ayat diatas sebenarnya biasa saja seandainya hal tsb tidak dikaitkan dengan pernyataan bahwa Quran adalah firman Allah (lihat S 4:82 diatas, dan juga S10:37). 

Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. 

Banyak sekali contoh Nask yang dapat kita jumpai dalam Quran. Hal ini menimbulkan banyak interpretasi bagi muslim dan juga para ahli islam. Mereka bahkan bisa tidak sepaham ayat mana yang termasuk Nasikh dan mana yang Mansukh. Berapa banyak ayat yang sudah di “Nask”, Apakah hadiths bisa “menggantikan” ayat Quran? Ataukah Nask hanya untuk ayat dalam Quran? Apakah ayat yang turun sebelumnya bisa mengganti ayat yang turun sesudahnya? 

Contoh lain, ketetapan Allah mengenai lamanya sembahyang yang ditetapkan dalam (S 73:1-2) diganti dengan perintah di (S 73:20). 
(73:1) Hai orang yang berselimut (Muhammad), (2) bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (3) (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, 

(73:20) Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 

Tafsir Jalalayn (Indonesia) memberikan alasan mengenai penggantian ayat itu sbb: 

(Sesungguhnya Rabbmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri, salat, kurang) kurang sedikit (dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya) jika dibaca nishfihi dan tsulutsihi berarti diathafkan kepada lafal tsulutsay; dan jika dibaca nishfahu dan tsulutsahu berarti diathafkan kepada lafal adnaa. Pengertian berdiri atau melakukan salat sunat di malam hari di sini pengertiannya sama dengan apa yang terdapat di awal surah ini, yakni sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah kepadanya (dan segolongan dari orang-orang yang bersama kamu) lafal ayat ini diathafkan kepada dhamir yang terkandung di dalam lafal taquumu, demikian pula sebagian orang-orang yang bersamamu. Pengathafan ini diperbolehkan sekalipun tanpa mengulangi huruf taukidnya, demikian itu karena mengingat adanya fashl atau pemisah. Makna ayat secara lengkap, dan segolongan orang-orang yang bersama kamu yang telah melakukan hal yang sama. Mereka melakukan demikian mengikuti jejak Nabi saw. sehingga disebutkan, bahwa ada di antara mereka orang-orang yang tidak menyadari berapa rakaat salat malam yang telah mereka kerjakan, dan waktu malam tinggal sebentar lagi. Sesungguhnya Nabi saw. selalu melakukan salat sunah sepanjang malam, karena demi melaksanakan perintah Allah secara hati-hati. Para sahabat mengikuti jejaknya selama satu tahun, atau lebih dari satu tahun, sehingga disebutkan bahwa telapak-telapak kaki mereka bengkak-bengkak karena terlalu banyak salat. Akhirnya Allah swt. memberikan keringanan kepada mereka. (Dan Allah menetapkan) menghitung (ukuran malam dan siang. Dia mengetahui bahwa) huruf an adalah bentuk takhfif dari anna sedangkan isimnya tidak disebutkan, asalnya ialah annahu (kalian sekali-kali tidak dapat menentukan batas waktu-waktu itu) yaitu waktu malam hari. Kalian tidak dapat melakukan salat malam sesuai dengan apa yang diwajibkan atas kalian melainkan kalian harus melakukannya sepanjang malam. Dan yang demikian itu memberatkan kalian (maka Dia mengampuni kalian) artinya, Dia mencabut kembali perintah-Nya dan memberikan keringanan kepada kalian (karena itu bacalah apa yang mudah dari Alquran) dalam salat kalian (Dia mengetahui, bahwa) huruf an adalah bentuk takhfif dari anna, lengkapnya annahu (akan ada di antara kalian orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi) atau melakukan perjalanan (mencari sebagian karunia Allah) dalam rangka mencari rezeki-Nya melalui berniaga dan lain-lainnya (dan orang-orang yang lain lagi, mereka berperang di jalan Allah) ketiga golongan orang-orang tersebut, amat berat bagi mereka hal-hal yang telah disebutkan tadi menyangkut salat malam. Akhirnya Allah memberikan keringanan kepada mereka, yaitu mereka diperbolehkan melakukan salat malam sebatas kemampuan masing-masing. Kemudian ayat ini dinasakh oleh ayat yang mewajibkan salat lima waktu (maka bacalah apa yang mudah dari Alquran) sebagaimana yang telah disebutkan di atas (dan dirikanlah salat) fardu (tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah) seumpamanya kalian membelanjakan sebagian harta kalian yang bukan zakat kepada jalan kebajikan (pinjaman yang baik) yang ditunaikan dengan hati yang tulus ikhlas. (Dan kebaikan apa saja yang kalian perbuat untuk diri kalian, niscaya kalian akan memperoleh balasannya di sisi Allah sebagai balasan yang jauh lebih baik) dari apa yang telah kalian berikan. Lafal huwa adalah dhamir fashal. Lafal maa sekalipun bukan termasuk isim makrifat akan tetapi diserupakan dengan isim makrifat karena tidak menerima takrif (dan yang paling besar pahalanya. Mohonlah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) kepada orang-orang mukmin. 

Hal diatas memberi arti bahwa sewaktu Allah menetapkan (S 73:1-2), Allah tidak mengetahui kemampuan muslim dalam melakukan sembayang malam, sehingga diceritakan bahwa kaki para sahabat Nabi sampai bengkak-bengkak karenanya. Sewaktu kemudian Allah mengetahui bahwa (S 73:1-2) sulit dilaksanakan dan sangat memberatkan, maka Allah mencabutnya dan menggantinya dengan (S 73:20). 

Seorang muslim ahli islam, Ahmad Von Denffer (Ulum al Quran, An Introduction to the Sciences of the Qur’an) menyatakan hal berikut: 

Apa itu Naskh? 
Menurut beberapa ahli, Quran hanya “men-naskh” Quran. Mereka mendasarkan pendapatnya pada S 2:106 dan 16:101. Menurut mereka Quran tidak men-naskh sunna atau juga sunna men-naskh Quran. Pendapat seperti ini terutama dimiliki oleh Shafii. 
Pendapat lainnya adalah bahwa Quran bis men-nasks Quran maupun summan. Mereka mendasarkan pendapatnya pada sura 53:34. 
Juga ada pendapat bahwa terdapat empat kelompok nasks: 
1. Quran men-naskh Quran 
2. Quran men-naskh Sunna 
3. Sunna men-nasks Quran 
4. Sunna me-naskh sunna 

versi bahasa Inggrisnya: 
What is Abrogated? 

According to some scholars the Qur’an abrogates only the 
Qur’an. They base their view on suras 2: 106 and 16: 101. 
According to them the Qur’an does not abrogate the sunna 
nor does the sunna abrogate the Qur’an. This is, in particular, 
the view held by Shafi’i. (31) 

Others are of the opinion that the Qur’an may abrogate the 
Qur’an as well as the sunna. They base their view on Sura 53: 
34. 

There is also the view that there are four classes of naskh: 

1 Qur’an abrogates Qur’an. 
30 Bukhari, VI, No. 54.
31 For details see Kitab al-risala, Cairo, n.d., pp.30-73; English 
translation by M. Khadduri, op.cit., pp. 12345; for a brief summary 
of Ash-Shafi’i’s views see also Seeman, K., Ash-Shafi’is Risala, 
Lahore, 1961, pp.53-85. 
2 Qur’an abrogates sunna. 
3 Sunna abrogates Qur’an. 
4 Sunna abrogates sunna. (32) 

Seperti yang dinyatakan diatas para ahli islam sendiri tidak mempunyai kesepakatan mengenai “Naskh” ini. Bagaimana dengan kita? 

Berikut beberapa contoh Naskh yang lain. 
Hukuman zina: 
(4:15) Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya. 

(24:2) Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. 

Tafsir Jalalain menyatakan bahwa (4:15) dihapus oleh (24:2) sbb: 
(Dan wanita-wanita yang melakukan perbuatan keji) maksudnya berzina di antara wanita-wanitamu (maka persaksikanlah mereka itu kepada empat orang saksi di antaramu) maksudnya di antara laki-lakimu yang beragama Islam. (Maka jika mereka memberikan kesaksian) terhadap perbuatan mereka itu (maka tahanlah mereka itu) atau kurunglah (dalam rumah) dan laranglah mereka bergaul dengan manusia (sampai mereka diwafatkan oleh maut) maksudnya oleh malaikat maut (atau) hingga (Allah memberi bagi mereka jalan lain) yakni jalan untuk membebaskan mereka dari hukuman semacam itu. Demikianlah hukuman mereka pada awal Islam lalu mereka diberi jalan lain yaitu digantinya dengan hukum dera sebanyak seratus kali serta membuangnya dari kampung halamannya selama setahun yakni bagi yang belum kawin dan dengan merajam wanita-wanita yang sudah kawin. Dalam hadis tersebut bahwa tatkala hukuman itu diumumkan, bersabdalah Nabi saw., “Terimalah daripadaku, contohlah kepadaku karena Allah telah memberikan bagi mereka jalan lepas!” Riwayat Muslim. 

Kalau kita perhatikan, dalam ayat (24:2) Allah memerintahkan hukuman cambuk sebanyak 100 kali sebagai pengganti hukuman rumah seumur hidup seperti yang dinyatakan dalam (4:15). Dalam ayat (24:2) hukuman itu berlaku sama baik bagi laki-laki maupun perempuan, sudah kawin maupun belum kawin. Tafsir Jalalain kemudian menyatakan lebih jauh bahwa hukuman yang dinyatakan dalam (24:2) diganti dengan adanya hukuman rajam (dilempari batu) untuk wanita yang sudah kawin sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi dalam Hadiths. Bukankah ini berarti bahwa Hadiths mengganti ayat Quran? Bukankah perubahan-perubhan ini menunujukkan adanya ketidak-konsistenan? Kenapa mesti dirubah? Bukankah Quran menyatakan bahwa tidak ada sesuatupun yang bisa merubah kalimat-kalimat Allah? 

Berikut hadiths yang menyatakan hukuman bagi orang yang berzina: 

Hadith Bukhari, Vol.8, Book 82, No.816 
Dinarasikan oleh Ibn Abbas:
Umar berkata, Saya takut bahwa setelah waktu yang lama berlalu, orang-orang mungkin mengatakan, “Kita tidak dapat menemukan ayat mengenai hukuman rajam (melempari batu sampai mati) di dalam Quran,” dan sebagai akibatnya mereka akan menjadi sesat dengan meninggalkan kewajiban yang Allah perintahkan. Lo! Saya sepakati bahwa hukuman rajam diberikan kepada orang yang berzina, jika dia sudah menikah dan perbuatannya dibuktikan oleh adanya saksi atau kehamilan atau pengakuan.” Sufyan menambahkan “saya telah menghapal narasi ini sesuai dengan itu.” Umar menambahkan, “Sesungguhnya Rasul Allah telah melaksanakan hukuman rajam, dan juga kami setelah dia.” 
versi bahasa Inggrisnya: 
Narrated Ibn ‘Abbas: 
‘Umar said, “I am afraid that after a long time has passed, people may say, “We do not find the Verses of the Rajam (stoning to death) in the Holy Book,” and consequently they may go astray by leaving an obligation that Allah has revealed. Lo! I confirm that the penalty of Rajam be inflicted on him who commits illegal sexual intercourse, if he is already married and the crime is proved by witnesses or pregnancy or confession.” Sufyan added, “I have memorized this narration in this way.” ‘Umar added, “Surely Allah’s Apostle carried out the penalty of Rajam, and so did we after him.” 

Hadith Muslim, Book 017, Number 4194: 
Abdullah b. Abbas melaporkan bahwa Umar b. Khattab duduk di podium milik Nabi dan berkata: Sesungguhnya Allah mengirim Muhammad dengan kebenaran dan Allah menurunkan Quran padanya, dan ayat mengenai rajam termasuk apa yang diturunkan Allah padanya. Kami mengucakannya, menyimpannya dalam ingatan kami dan memahaminya. Rasul Allah memberikan hukuman melempari batu sampai mati (kepada laki-laki dan perempuan menikah yang melakukan zina) dan setelah dia kami juga memberikan hukuman rajam. Saya takut bahwa setelah sekian lama, orang (mungkin melupakannya) dan mungkin berkata: Kami tidak temukan hukuman rajam dalam Quran, dan menjadi sesat dengan mengabagikan kewajiban yang ditetapkan Allah. Hukuman rajam benar-benar ditetapkan dalam Quran untuk laki-laki/perempuan yang sudah menikah yang berzina jika buktinya diperoleh, atau ada kehamilan, atau pengakuan. 
versi bahasa Inggrisnya: 
‘Abdullah b. ‘Abbas reported that ‘Umar b. Khattab sat on the pulpit of Allah’s Messenger (may peace be upon him) and said: Verily Allah sent Muhammad (may peace be upon him) with truth and He sent down the Book upon him, and the verse of stoning was included in what was sent down to him. We recited it, retained it in our memory and understood it. Allah’s Messenger (may peace be upon him) awarded the punishment of stoning to death (to the married adulterer and adulteress) and, after him, we also awarded the punishment of stoning, I am afraid that with the lapse of time, the people (may forget it) and may say: We do not find the punishment of stoning in the Book of Allah, and thus go astray by abandoning this duty prescribed by Allah. Stoning is a duty laid down in Allah’s Book for married men and women who commit adultery when proof is established, or it there is pregnancy, or a confession. 

Saya terkejut membaca hadiths ini. Sahih Hadiths diatas menyatakan ada ayat rajam dalam Quran yang kenyataannya sekarang tidak bisa kita jumpai dalam Quran? Bukankah itu berarti Apakah ayat-ayat tsb sudah hilang? 

Selain itu, kenapa sebagian besar kita di Indonesia tidak mau mentaati perintah Allah mengenai hukuman rajam ini? Apa alasannya? Apakah mereka merasa memiliki hati dan pikiran yang lebih bermoral dari ketetapan Allah? Kalau tidak, kenapa kita tidak mau mengaplikasikannya? Apakah kita bilang itu tidak sesuai dengan zamannya lagi? Apakah dengan demikian Quran mempunyai keterbatas waktu? Siapa yang boleh menentukan ini? 

Masih banyak ayat-ayat nasks yang bisa saya jumpai (beberapa diantaranya perubahan arah kiblat, penggunaan ayat-ayat kekerasan menggantikan ayat-ayat damai, masa idah, dsb), tapi saya rasa beberapa contoh yang saya kemukakan disini cukup untuk memberikan gambaran mengenai Nasks. 

Saya sebagai manusia yang punya hati dan pikiran, tidak bisa memahami adanya Nasks seperti contoh-contoh yang saya sebutkan diatas (8:65/8:66, 73:1-2/73:20/hadiths, 4:15/24:2/hadiths) dikaitkan dengan firman Allah. Saya lebih tidak mengerti bahwa Nasks ini juga dinyatakan di ayat yang berbeda sbb: 

(16:101) Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja”. Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui. 

Dari ayat ini jelas bahwa Nasks membuat beberapa orang saat itupun tidak setuju dengan konsep nasks itu dalam kaitannya dengan firman Allah. Mereka mengatakan bahwa Nabi Muhammad “hanyalah orang yang mengada-adakan saja” sebagai reaksi adanya penggantian ayat yang satu dengan ayat lain yang lebih baik. Lebih mengherankan lagi bagi saya bahwa Quran dengan tegas menyatakan bahwa Allah menghapuskan atau menetapkan apapun yang Dia kehendaki seperti dinyatakan dalam (S 13:39) 

(13:39) Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Umulkitab (Lohmahfuz). 

(17:86) Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembela pun terhadap Kami, 

Dalam hadiths dinyatakan bahwa Nabi lupa ayat-ayat Quran dan dingatkan oleh Allah membuat Nabi lupa akan adanya ayat-ayat yang diturunkan Allah: 

Sahih al-Bukhari: book 61, volume 6 
556 Dinarasikan oleh Aisha: Nabi mendengar seseoarang mengucapkan/melantunkan Quran di mesjid dan berkata, “Semoga Allah melimpahkan rahmatNya padanya, karena dia telah mengingatkan saya ayat-ayat ini-dan itu dalam suatu surat.” 
versi bahasa Inggrisnya: 
Narrated Aisha: The Prophet heard a man reciting the Qur’an in the mosque and said, “May Allah bestow His Mercy on him, as he has reminded me of such-and-such Verses of such a Surah.” 

557 Dinarasikan oleh Hisham (Hadiths yang sama, dengan penambahan): Yang saya lupa (menggantikan kata ayat-ayat) 
versi bahasa Inggrisnya: 
Narrated Hisham: (The same Hadith, adding): which I missed (modifying the Verses). 

558. Dinarasikan oleh Aisha: Rasul Allah mendengar seseorang melantunkan Quran pada malam hari, dan berkata, “Semoga Allah melimpahkan rahmatNya padanya, karena dia telah mengingatkan saya ayat-ayat ini-dan-itu dari Surat-surat ini-dan-itu, yang saya telah dibuat melupakannya” 
versi bahasa Inggrisnya: 
Narrated Aisha: Allah’s Apostle heard a man reciting the Qur’an at night, and said, “May Allah bestow His Mercy on him, as he has reminded me of such-and-such Verses of such-and-such Suras, which I was caused to forget.” 

559. Dinarasikan oleh Abdullah: Nabi berkata,”Mengapa seseorang dari orang-orang itu berkata, “Saya lupa ayat ini-dan-itu (dari Quran)” Dia, sebenarnya, dibuat (oleh Allah) untuk melupakannya.” 
versi bahasa Inggrisnya: 
Narrated Abdullah: The Prophet said, “Why does anyone of the people say, ‘I have forgotten such-and-such Verses (of the Qur’an)?’ He, in fact, is caused (by Allah) to forget.” 

562.Dinarasikan oleh Aisha: Nabi mendengar seorang reciter melantunkan Quran di mesjid pada malam hari. Nabi berkata, “Semoga Allah melimpahkan rahmatNya padanya, karena dia mengingatkan saya ayat-ayat ini-dan-itu dari surat-surat ini-dan-itu, yang saya lupa 
versi bahasa Inggrisnya: 
562. Narrated ‘Aisha: The Prophet heard a reciter reciting, the Qur’an in the mosque at night. The Prophet said, “May Allah bestow His Mercy on him, as he has reminded me of such-and-such Verses of such and-such Suras, which I missed!” 

(Hal yang sama dinyatakan dalam hadiths muslim, book 4, vol-1, no 1720/1721/1724/1726) 

Dan yang terakhir, ayat S 22:52 berikut: 
(S 22:52) Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, 

Berikut tafsir Jalalain (Indonesia) berkaitan dengan ayat tsb: 
(Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun) rasul adalah seorang nabi yang diperintahkan untuk menyampaikan wahyu (dan tidak pula seorang nabi) yaitu orang yang diberi wahyu akan tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikannya (melainkan apabila ia membaca) membacakan Alquran (setan pun, memasukkan godaan-godaan terhadap bacaannya itu) membisikkan apa-apa yang bukan Alquran dan disukai oleh orang-orang yang ia diutus kepada mereka. Sehubungan dengan hal ini Nabi saw. pernah mengatakan setelah beliau membacakan surah An-Najm, yaitu sesudah firman-Nya, “Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap Lata, Uzza dan Manat yang ketiganya …” (Q.S. An-Najm, 19-2O) lalu beliau mengatakan, “Bintang-bintang yang ada di langit yang tinggi itu, sesungguhnya manfaatnya dapat diharapkan”. Orang-orang musyrik yang ada di hadapan Nabi saw. kala itu merasa gembira mendengarnya. Hal ini dilakukan oleh Nabi saw. di hadapan mereka, dan sewaktu Nabi saw. membacakan ayat di atas lalu setan meniupkan godaan kepada lisan Nabi saw. tanpa ia sadari, sehingga keluarlah perkataan itu dari lisannya. Maka malaikat Jibril memberitahukan kepadanya apa yang telah ditiupkan oleh setan terhadap lisannya itu, lalu Nabi saw. merasa berduka cita atas peristiwa itu. Hati Nabi saw. menjadi terhibur kembali setelah turunnya ayat berikut ini, (“Allah menghilangkan) membatalkan (apa yang ditiupkan oleh setan itu, dan Dia menguatkan ayat-ayat-Nya) memantapkannya. (Dan Allah Maha Mengetahui) apa yang telah dilancarkan oleh setan tadi (lagi Maha Bijaksana) di dalam memberikan kesempatan kepada setan untuk dapat meniupkan godaannya kepada Nabi saw. Dia berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya. 

Dalam tafsir ayat ini, Jalalain menyatakan bahwa Nabi Muhammad mengucapkan ayat-ayat yang dibisikkan oleh setan, dan kemudian Allah membatalkan ayat ini. (Ayat yang dibisikan oleh setan ini pernah menjadi sangat kontroversial dengan sebutan “Satanic Verses” dalam kaitannya dengan Salman Rusdie yang kemudian dibunuh oleh muslim di Belanda). Cerita mengenai ayat setan itu juga dapat dibaca diantaranya di Sirat Rasul Allah (Ibn Ishaq/Ibn Hisyam), History of Tabari, “Kitab al-Tabaqat al-Kabir” (Ibn Sad). Hadiths Bukhari menceritakan kejadian ini yaitu orang-orang pagan Quraisy semua ikut menyembah ketika Nabi mengucakan Surat An-Najm (Bintang, The Star): 

Bukhari, Volume 6, Book 60, Number 385, 
Dinarasikan oleh Ibn Abbas
Nabi melakukan sikap menyembah (prostation) pada waktu beliau selesai mengucapkan Surat An-Najm, dan semua muslim, pagan, dan jin dan manusia ikut melakukannya (menyembah) bersama dengan dia 
versi bahasa Inggrisnya: 
Narrated Ibn Abbas: 
The Prophet performed a prostration when he finished reciting Surat-an-Najm, and all the Muslims and pagans and Jinns and human beings prostrated along with him. 

Masih banyak sekali yang saya ingin tulis, mungkin nanti pada kesempatan lain. Salah satunya adalah fakta sejarah mengenai bagaimana sejarah islam sepeninggal Nabi, kehidupan para khalifah pertama, mulai Abu Bakr, Umar, Uthman, Ali,… Saya begitu shock mengetahui bagaimana sejak pemilihan Khalifa pertama, sudah terjadi perselisihan antara pengikut Nabi (golongan Ansar dan Muhajirin), bagaimana Ali dan Fatimah (anak Nabi istri Ali) berselisih dengan Abu Bakr, Umar, Uthman meminta harta peninggalan nabi (Fatima tidak pernah mau bicara dengan Abu Bakr sejak itu sampai meninggalnya), begaimana terpaksanya Ali yang merasa lebih berhak sebagai penerus Nabi mengakui Abu Bakr sbg khalifaf pertama, saling bunuh antara pengikut Nabi, perang yang melibatkan Aisya melawan Ali sampai dengan dibunuhnya cucu-cucu Nabi (Hasan dan Husain). Perselisihan ini yang penuh dengan darah sudah terjadi pada pengikut-pengikut utama nabi, sampai sekarang dengan perslisihan yang tidak pernah selesai antara Shiah (golongan ini adalah dari Ali-Fatimah yang merasa lebih berhak menjadi penerus Nabi-khalifa muslim) dengan Sunni.

Sumber: http://indonesia.faithfreedom.org/forum/renungan-islam-dulu-sebelum-murtad-1-5-t22142/#p286896

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s