Sejarah Pentateukh II

Istilah “Pentateukh” dan pembagiannya

Dalam PL kitab Kejadian – Ulangan tidak pernah disebut dengan istilah “pentateukh” maupun “lima kitab Musa”. Alkitab memakai beberapa sebutan untuk tulisan Musa, misalnya kitab hukum (Ul 31:26; Yos 1:8; 8:34; 2Raj 22:8; Neh 8:3),  hukum/Taurat (Yos 8:34; Ez 10:3; Neh 8:2, 7, 14; 10:34, 36; 12:44; 13:3; 2Taw 14:4; 31:21;33:8), kitab hukum Musa (Yos 8:31; 23:6; 2Raj 14:6; Neh 8:1), kitab Musa (Ez 6:18; Neh 13:1; 2Taw 25:4; 35:12), hukum Tuhan (Ez 7:10; 1Taw 16:40; 2Taw 31:3; 35:26), hukum Allah (Neh 10:28-29), kitab hukum Allah (Yos 24:26; Neh 8:18), kitab hukum Tuhan (2Taw 17:9; 34:14; Neh 9:3), hukum Musa hamba Allah (Dan 9:11, 13; Mal 4:4).

Penyebutan di PB menunjukkan fenomena yang sama. Istilah yang dipakai adalah kitab hukum (Gal 3:10), kitab Musa (Mar 12:26), hukum/Taurat (Mat 12:5; Luk 16:16; Yoh 7:19), hukum Musa (Luk 2:22; Yoh 7:23), hukum Tuhan (Luk 2:23, 24). Dari semua pemaparan ini dapat disimpulkan bahwa istilah pentateukh bukanlah istilah yang diambil dari Alkitab. Istilah “pentateukh” (pentateucos) yang sering dipakai untuk menyebut Kitab Kejadian sampai Ulangan terdiri dari dua kata: pente (“lima”) dan teucos (“gulungan”).

Pemunculan istilah pentateucos yang tertua ditemukan dalam tulisan abad ke-2. Sejauh data yang ada, Valentinian Ptolemaeus (sekitar 160 M) adalah orang yang pertama kali menggunakan istilah ini. Keterangan ini didapat dari tulisan Epiphanius (abad ke-4) yang berjudul Refutation of All Heresies (33.4) yang mengutip pernyataan Ptolemaeus. Tertulianus (160-220 M) juga memakai istilah Latin pentateuchus dalam kitabnya yang berjudul Against Marcion (1.10). Sejak jaman Jerome istilah pentateuchus menjadi semakin populer sebagai istilah teknis (technicus terminus) untuk lima kitab yang ditulis oleh Musa.

Walaupun dari sisi istilah baru ditemukan pada abad ke-2, namun pembagian kitab Musa ke dalam 5 bagian tampaknya sudah ada jauh sebelum itu. Ada beberapa bukti yang mengarah pada dugaan ini. Penggunaan judul GENESIS, EXODOS, LEUITIKON, ARITHMOI dan DEUTERONOMION dalam LXX mengindikasikan bahwa kitab Musa sudah dibagi menjadi 5 bagian. Ketika Josephus, seorang ahli sejarah Yahudi abad ke-1 M, menjelaskan kitab suci yang ia percayai, ia menyatakan, “..di antara semua ini, lima adalah kitab-kitab Musa” (Against Apion 1.8).  Philo, seorang ahli kitab Yahudi di Aleksandria pada abad ke-1, menulis, “yang pertama dari lima kitab yang di dalamnya tertulis hukum-hukum yang kudus memiliki nama dan inskripsi genesis” (De Abrahamo 1.1). Talmud Yahudi menyebut Pentateukh dengan istilah “lima per lima dari Taurat” (Sanhed. 28a, 44a).

Jika memang pembagian tersebut sudah ada sebelum jaman PB, kapan dan atas dasar apa pembagian itu dilakukan? Edward J. Young meyakini bahwa pembagian ini berasal dari Musa sendiri.  Pendapat serupa juga diusulkan oleh C. F. Keil.Argumen yang diberikan biasanya didasarkan pada keyakinan bahwa pembagian ke dalam lima bagian merupakan sesuatu yang sederhana dan natural, sesuai dengan isi dan rencana seluruh Pentateukh. Pembagian seperti ini pasti sudah ada dalam pikiran Musa.

Sailhamer berpendapat sebaliknya. Menurut dia, sejak awal kitab-kitab Musa dipahami sebagai satu kitab. Pembagian ke dalam lima kitab merupakan pekerjaan seorang redaktor di kemudian hari. Beberapa bukti yang dipaparkan Sailhamer antara lain:

(1) para penulis PL menyebut seluruh bagian Pentateukh sebagai sebuah buku (2Taw 25:4; 35:12; Ez 6:18; Neh 13:1);

(2) penulis PB juga mempraktikkan kebiasaan yang sama (Mar 12:26). Tidak ada satu
penulis Alkitab pun yang pernah memakai ungkapan “buku pertama dari tulisan Musa”, dsb.
Pada bagian selanjutnya Sailhamer menunjukkan kesatuan tema dan struktur dari seluruh
Pentateukh.

Di antara dua pendapat di atas, kita sulit memastikan mana yang benar. Kita tidak memiliki satu manuskrip pun yang berisi seluruh Pentateukh yang ditransmisikan tanpa pembagian sama sekali. Kita hanya bisa memastikan bahwa pembagian ini sudah sangat tua, tetapi kapan pembagian ini dilakukan kita tidak bisa mengetahui dengan pasti. Jika memang tulisan Musa dianggap sebagai satu kesatuan oleh para penulis Alkitab, maka ada alasan kuat untuk meyakini bahwa sejak awal seluruh Pentateukh memang sudah membentuk satu kesatuan. Sekarang kita akan membahas isu berikutnya: atas dasar apa pembagian ini dilakukan?

Secara teknis memang tidak mungkin menuliskan seluruh Pentateukh ke dalam satu gulungan (kecuali gulungan sangat besar, tetapi hal ini sangat tidak praktis). Jika dibandingkan dengan salinan Kitab Yesaya yang ditemukan di gua Qumran (1QIsaa) yang mencapai panjang 7,35m, seandainya seluruh Pentateukh ditulis dalam satu gulungan maka panjangnya bisa mencapai 33m! Hal ini jelas akan mempersulit penyimpanan, pembacaan pribadi maupun penggunaan dalam ibadah. Pembagian ke dalam 5 kitab sedikit banyak memang berkaitan dengan masalah teknis ini.

Bagaimanapun, pertimbangan teknis tersebut bukanlah pertimbangan utama. Ada beberapa alasan untuk pandangan ini.10 Jika ini masalah teknis menjadi pertimbangan, maka Keluaran, Imamat dan Bilangan akan lebih tepat dijadikan dua gulungan. Jika pembagian didasarkan pada pertimbangan teknis, maka seharusnya setiap kitab memiliki panjang yang sama. Kenyataannya, setiap kitab memiliki panjang yang berbeda-beda. Pertimbangan utama dalam pembagian ini adalah pada karakteristik/natur dari masing-masing kitab. Keil menambahkan aspek kesatuan rencana dalam seluruh Pentateukh. Kitab Kejadian menceritakan sejarah awal umat manusia sampai nenek moyang bangsa Israel. Kitab Keluaran membahas pembentukan umat Allah (kerajaan) yang dimulai di Sinai. Kitab Imamat dan Bilangan mendiskripsikan pengaturan kerajaan ini secara spiritual maupun politis. Kitab Ulangan merupakan rekapitulasi dari semua ini dengan tujuan untuk memperkuat perjanjian. Walaupun kita mungkin tidak setuju dengan penjelasan Keil, namun pembagian ke dalam lima kitab memang didasarkan pada pertimbangan isi.

Kita pasti dengan mudah memisahkan Kitab Kejadian dari Kitab Keluaran dengan dasar perbedaan kronologis: Kejadian tentang nenek moyang bangsa Israel, Keluaran tentang bangsa Israel sendiri. Kita juga pasti setuju dengan pemisahan antara Keluaran dan Imamat, karena isi dari Kitab Imamat yang khusus (berbagai peraturan tentang imam, korban dan bait Allah). Kitab Bilangan berisi narasi (mirip Kejadian dan Keluaran), tetapi kitab ini layak disendirikan karena sudah dipisahkan dari dua kitab narasi lain oleh Kitab Imamat. Kitab Ulangan jelas berisi rekapitulasi dari semua yang sudah terjadi atau diperintahkan oleh Tuhan. Pentingnya kesatuan kitab Mereka yang mempercayai pembagian ke dalam lima kitab berasal dari Musa maupun dari seorang editor sama-sama meyakini bahwa Pentateukh harus dilihat sebagai sebuah kesatuan. Pentateukh bukanlah lima kitab yang dijadikan satu, tetapi satu kitab yang dibagi menjadi lima bagian. Pemahaman seperti ini akan sangat mempengaruhi penafsiran kita dalam beberapa hal:

1.) Jika kitab ini memiliki kesatuan integral, maka satu kitab harus selalu dilihat dalam
konteks yang lebih luas, yaitu seluruh Pentateukh.

2.) Jika kitab ini memiliki kesatuan integral, maka latar belakang seluruh kitab adalah
sama, yaitu perjalanan bangsa Israel di padang gurun.

3.) Jika kitab ini memiliki kesatuan integral, maka seluruh kitab memiliki satu tujuan
utama yang sama, walaupun masing-masing kitab tetap memiliki tujuan khusus yang
mendukung tujuan utama itu.

4.) Jika kitab ini memiliki kesatuan integral, maka tema atau teologi yang diekspresikan
juga sama.

Tujuan Pentateukh

Musa tidak memberikan indikasi yang eksplisit mengapa ia menulis Pentateukh (bdk. Luk 1:1-4; Yoh 20:30-31). Ia pasti memiliki tujuan tertentu, namun tujuan ini hanya tersirat dalam seluruh tulisannya. Ketika kita mencoba menemukan tujuan ini, maka tujuan tersebut harus bisa memenuhi tiga persyaratan: (1) menyentuh inti dari Pentateukh; (2) mewakili seluruh bagian Pentateukh; (3) menjelaskan perkembangan konsep dari Kejadian sampai Ulangan. Apapun tujuan yang diusulkan, kita tidak boleh melupakan inti dari Pentateukh, yaitu perjanjian Allah dengan umat-Nya, karena topik ini memenuhi tiga persyaratan di atas. Pentingnya topik ini dapat dilihat dari beberapa indikasi. Pertama, Pentateukh dipenuhi janji Allah kepada umat-Nya, baik kepada para patriakh maupun bangsa Israel secara keseluruhan. Tujuan Pentateukh Musa tidak memberikan indikasi yang eksplisit mengapa ia menulis Pentateukh (bdk. Luk 1:1-4; Yoh 20:30-31). Ia pasti memiliki tujuan tertentu, namun tujuan ini hanya tersirat dalam seluruh tulisannya. Ketika kita mencoba menemukan tujuan ini, maka tujuan tersebut harus
bisa memenuhi tiga persyaratan: (1) menyentuh inti dari Pentateukh; (2) mewakili seluruh bagian Pentateukh; (3) menjelaskan perkembangan konsep dari Kejadian sampai Ulangan. Apapun tujuan yang diusulkan, kita tidak boleh melupakan inti dari Pentateukh, yaitu perjanjian Allah dengan umat-Nya, karena topik ini memenuhi tiga persyaratan di atas. Pentingnya topik ini dapat dilihat dari beberapa indikasi. Pertama, Pentateukh dipenuhi janji Allah kepada umat-Nya, baik kepada para patriakh maupun bangsa Israel secara keseluruhan. Kedua, dasar dan tujuan pembebasan dari Mesir berkaitan dengan perjanjian (Kel 2:23-25; 6:7). Ketiga, Pentateukh didominasi dengan bagian yang berisi tentang berbagai hukum dan peraturan (Kel 20:1 – Bil 19:22).13 Hukum dan peraturan ini sangat diperlukan sebagai alat
ukur apakah bangsa Israel setia kepada perjanjian. Keempat, Kitab Ulangan berisi refleksi dari semua yang telah terjadi maupun yang telah difirmankan Tuhan. Tujuan dari pengulangan ini adalah mendorong bangsa Israel untuk menaati perjanjian. Jika kita ingin lebih mendetail, maka tujuan Pentateukh dapat dijelaskan sebagai berikut:

A.) Menjelaskan identitas Allah yang mengikat perjanjian dengan bangsa Israel sebagai Allah yang menciptakan langit dan bumi.
B.) Menjelaskan asal-usul dan keunikan posisi bangsa Israel dibandingkan bangsa-bangsa lain.
C.) Menggambarkan kesetiaan Allah yang luar biasa sekaligus ketidaksetiaan bangsa Israel terhadap Dia.

Kita tidak boleh berpikir bahwa peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam Pentateukh hanya sekadar untuk memenuhi rasa ingin tahu manusia tentang asal-usul dunia, bangsa-bangsa, dsb. Cerita-cerita tersebut dituturkan dengan maksud teologis tertentu, tanpa mengabaikan unsur historisitas dari semua peristiwa tersebut. Dengan kata lain, Musa memaparkan dan menafsirkan berbagai rentetan peristiwa untuk menasehati, memperingatkan maupun mendorong bangsa Israel di padang gurun supaya tetap berpegang pada perjanjian.

Struktur Pentateukh

Struktur Pentateukh dapat diselidiki melalui berbagai cara.

Pertama, berdasarkan posisi masing-masing kitab.
Kejadian —-> kisah hidup para patriakh
Keluaran —–> pembebasan dari Mesir, pembentukan umat perjanjian dan kemah suci
Imamat —–> berbagai peraturan tentang ibadah
Bilangan —-> perjalanan menuju Kanaan dilanjutkan
Ulangan —-> refleksi, pengulangan dan persiapan menduduki Kanaan

Kedua, berdasarkan kronologi janji Allah.

Kejadian 1:1-2:25 –> penciptaan dunia dan manusia
Kejadian 3:1-24 —> kejatuhan manusia, akibat dan janji tentang keturunan
Kejadian 4:1-24 —> keturunan Kain yang fasik
Kejadian 4:25-5:32 —-> keturunan Set
Kejadian 6:1-8:22—> keberdosaan manusia dan hukuman Allah
Kejadian 9:1-29 —>perjanjian dengan Nuh
Kejadian 10:1-11:9 —->penyebaran manusia ke seluruh dunia
Kejadian 11:10-32—-> keturunan Sem
Kejadian 12:1-25:18 —> perjanjian dengan Abraham
Kejadian 25:19-36:43—-> perjanjian dengan Ishak
Kejadian 37:1-50:26 —->perjanjian dengan Yakub
Keluaran 1:1-18:27 —–>pembebasan dari Mesir sampai ke Gunung Sinai
Keluaran 19:1-Bil 10:10 —->tinggal di Sinai
Bilangan 10:11-36:13 —->perjalanan menuju tanah perjanjian (sampai di Moab)
Ulangan 1:1-34:12 —->berdiam di Moab sebagai persiapan untuk menduduki Kanaan

Ketiga, berdasarkan komposisi sastra. Pentateukh terdiri dari tiga bagian utama: narasi, kumpulan hukum (legal corpora) dan puisi. Narasi tidak memegang peranan penting seperti bagian kumpulan hukum yang sangat mendominasi Pentateukh. Narasi hanya muncul secara agak dominan di Kitab Kejadian. Setelah itu kita hanya menjumpai narasi dari pembebasan dari Mesir sampai tiba di Gunung Sinai (Kel 1:1-18:27). Dari sini narasi disisipi oleh kumpulan hukum yang sangat panjang (Kel 19:1-Bil 10:10). Narasi baru berlanjut di Bilangan 10:11-36:13. Setelah itu kita kembali menjumpai kumpulan hukum dan kotbah (Ul 1:1- 34:12). Walaupun tidak dominan, namun bagian narasi tetap memainkan peranan yang sangat penting. Bagian tersebut dituliskan lebih banyak sebagai sebuah narasi tipologis. Artinya, apa yang terjadi pada suatu fase memberikan sinyal pada apa yang akan terjadi kemudian. Berikut ini adalah beberapa contoh dari narasi tipologi:

Abraham di Mesir (Kej 12:10-20) & bangsa Israel di Mesir (Kej 42:1 – Kel 12:51).

Dalam kisah ini Lot yang ikut dengan Abraham (bdk. Kej 12:1-3, 4) memberi sinyal tentang bangsa-bangsa lain yang juga keluar dari Mesir bersama dengan umat pilihan (Kel 12:38). Perpisahan Lot dengan Abraham (Kej 13) juga “terjadi lagi” di kemudian hari. Lot adalah bapa dari bangsa Moab dan Amon (Kej 19:36-38) yang dilarang Tuhan untuk ikut dalam jemaah (Ul 23:4-5).

Penyebaran dosa (Kej 1-11) dan pencemaran kemah (Im 11-16).

Dua bagian ini memiliki kesamaan yang luar biasa: (1) sebagaimana Allah membuat pembedaan di antara ciptaan-Nya (gelap-terang, siang-malam, darat-laut, dsb., Kej 1) demikian pula Allah membuat pembedaan antara yang halal dan haram (Im 11); (2) kenajisan setelah melahirkan anak (Im 12) mengingatkan pada salah satu hukuman akibat dosa yang juga berkaitan dengan melahirkan anak (Kej 3:16); (3) kenajisan yang berhubungan dengan masalah kulit (Im 13:2) mengingatkan pada kejatuhan ke dalam dosa yang ditandai dengan apa yang terjadi pada kulit badan, yaitu ketelanjangan (Kej 3:7); (4) sebagaimana Adam dan Hawa yang berdosa harus diusir dari Taman Eden (Kej 3:23-24), demikian pula orang Israel yang najis harus diusir dari perkemahan (Im 13:46); (5) sebagaimana Allah dulu menggunakan air (air bah) untuk menyucikan bumi (Kej 6-8), demikian pula air memegang peranan penting dalam ritual penyucian (Bil 14:5, 6, 8, 9, 50, 51, 52); (6) Nuh menunggu di pintu bahtera selama 7 hari (Kej 7:4, 10), para imam juga menunggu di pintu kemah suci selama 7 hari (Im 14:7-8); (7) kisah air bah diakhiri dengan persembahan korban (Kej 8:20), begitu pula pendirian kemah suci (Im 14:10, 21); (8) Nuh mempersembahkan binatang halal dan burung (Kej 8:20), begitu pula di Imamat 14:21-22; (9) Nuh diberi peraturan tentang makanan dan larangan untuk makan darah (Kej 9:4), peraturan tentang makanan (Im 11) dan larangan makan darah (Im 17) juga diberikan; (10) tanda dari perjanjian yang diteguhkan adalah pelangi (Kej 9:14-15) dan awan (Im 16:2); (11) Nuh menjadi mabuk oleh anggur dan telanjang di kemahnya (Kej 9:21), para imam dilarang meminum anggur di kemah pertemuan
(Im 10:9).

Janji kepada Abraham (Kej 12:1-3) dan kisah Bileam (Bil 22:1-24:25).

Abraham dijanjikan menjadi bapa bangsa yang besar (Kej 12:2), sekarang pemenuhan janji itu mengkuatirkan Balak (Bil 22:3, 6). Balak membayar Bileam untuk mengutuk keturunan Abraham (Bil 22:5-41), tapi usaha ini gagal (Bil 24:10), karena Tuhan sudah berjanji untuk mengutuk siapa yang emngutuk keturunan Abraham dan memebrkati siapa yang memberkati keturunan Abraham (Kej 12:3). Balak berusaha menggagalkan usaha bangsa Israel menduduki tanah perjanjian (Bil 22:6), tetapi Tuhan sudah berjanji untuk memberikan sebuah negeri kepada Abraham (Kej 12:1). Komposisi sastra yang lain adalah puisi. Sama seperti narasi, bagian ini tidak terlalu dominan. Bagian puisi berguna sebagai penghubung antara narasi dan penutup (epilogue). Kita akan menemukan komposisi sebagai berikut: narasi – puisi – penutup.

Narasi                       Puisi                          Penutup
Kej 1-2                   Kej 2:23                         Kej 2:24
Kej 3                     Kej 3:14-19                    Kej 3:20-24
Kej 4                     Kej 4:23                        Kej 4:24-26
Kej 37-48               Kej 48:15-16, 20           Kej 48:21-22
Kej 12-50              Kej 49:2-27                         Kej 50

Komposisi sastra terakhir yang sangat penting adalah kumpulan hukum. Hukum-hukum ini dapat dibedakan menjadi Hukum Perjanjian (Kel 20:22-23:33), Hukum Kekudusan (Im 17-26) dan Hukum untuk Para Imam (Kel 25-Im 16).

Tema-tema penting

Sebagaimana sudah disinggung sebelumnya, Pentateukh ditulis dengan muatan teologis tertentu. Sebagai sebuah kitab teologis, Pentateukh berisi tema-tema tertentu yang mengarah pada tujuan penulisan. Ada banyak tema teologi syang dapat ditemukan di Pentateukh, namun bagian ini hanya akan membahas tentang tema-tema penting di dalamnya, yaitu tema yang muncul berkali-kali, konsisten dan berkaitan dengan seluruh bagian Pentateukh.

Keturunan
Janji tentang keturunan merupakan tema yang sangat penting. Janji ini bahkan menjadi janji dan berkat yang pertama dalam Alkitab (Kej 1:28). Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, solusi yang diberikan Allah berkaitan dengan keturunan (Kej 3:15). Kisah selanjutnya selalu berkaitan dengan bagaimana Allah menumbuhkan sebuah generasi (keturunan) yang dipakai oleh Allah, misalnya Set (Kej 4:25-5:32), Nuh (9:1-29), Sem (Kej 11:10-32), Abraham (Kej
12:1-25:18), Ishak (Kej 25:19-36:43) dan Yakub (Kej 37:1-50:26). Janji tentang keturunan berkali-kali diberikan kepada para patriakh, baik Abraham (Kej 12:2, 7; 13:15; 15:4, 13, 16, 18; 16:10; 17:2, 4-7, 16, 19; 21:12, 18; 22:16), Ishak (Kej 26:3, 24), Yakub (Kej 28:13;
35:11-12; 46:3).

Dalam realisasinya janji ini menghadapi beberapa halangan.

1. Kemandulan dari para wanita (Sarah (Kej. 11:30; 18;11), Ribka (Kej 25:12), Rahel (Kej. 29:31).

2. Permusuhan antar saudara: Ishak dan Ismael, Yakub dan Esau, Yusuf dan saudarasaudaranya.

3. Kelaparan: selama jaman Abraham (Kej 12:10), Ishak (Kej 26:1), Yakub (Kej 42:1).

4.Intervensi penguasa asing: mengambil Sarah (Kej 12:10-20; 20:1-18) dan Ribka (Kej 26:1-11). Bentuk lain dari halangan ini adalah tindakan Firaun (Kel 1:8-22) dan Balak (Bil 22-24; bdk. 22:3).Sekalipun halangan di atas selalu muncul, namun Allah tetap setia terhadap janji-Nya. Kitab Kejadian ditutup dengan keterangan bahwa jumlah keturunan Yakub sudah mencapai 70 jiwa (Kej 46:27). Kitab Keluaran dimulai dengan penjelasan bahwa keturunan Israel menjadi semakin banyak (Kel 1:7, 12). Kitab Bilangan mencatat kekuatiran Balak terhadap jumlah bangsa Israel yang sangat banyak (Bil 22:3).

Relasi dengan Allah

Relasi dengan Allah diungkapkan dengan beberapa cara dalam Pentateukh. Allah akan mengadakan perjanjian dengan seseorang atau bangsa (Kej 17:1-11). Allah menyertai seseorang (Kej 26:2, 24). Allah memberkatis eseorang (Kej 35:9). Pentingnya tema relasi dengan Allah dapat dilihat dari beragam cara. Manusia diciptakan secara personal oleh Allah (Kej 1:26), yang mencakup “baiklah Kita…”, “menurut gambar dan rupa Allah”. Manusia juga diciptakan dengan penghembusan nafas Allah (Kej 2:7). Cara ini tidak dilakukan terhadap makhluk lain (bdk. Kej 2:19-20). Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, respon pertama mereka berkaitan dengan relasi terhadap Allah, yaitu ketakutan (Kej 3:8-10). Mereka pun akhirnya diusir oleh Tuhan (Kej 3:23-24).

Dalam kejatuhan mereka Allah tetap ingin membangun relasi dengan manusia. Allah mendatangi mereka sekalipun mereka bersembunyi dari diri-Nya (Kej 3:9). Allah memberikan janji tentang keturunan yang akan menghancurkan kepala ular (Kej 3:15). Allah menutupi ketelanjangan mereka dengan mengorbankan binatang (Kej 3:21). Walaupun Allah sempat menghukum semua makhluk hidup dengan air bah (Kej 6-8), tetapi Dia tetap memiliki rencana untuk memberkati semua bangsa. Dia memanggil Abraham supaya ia menjadi berkat bagi segala bangsa (Kej 12:2; 17:16). Secara khusus Allah mengikat perjanjian dengan Abraham (Kej 17:1-11). Perjanjian ini kembali diteguhkan kepada Ishak (Kej 17:17; 26:24), Yakub (Kej 28:13, 15; 35:9; 46:3) maupun anaknya (Kej 48:21). Perjanjian ini bahkan menjadi alasan utama mengapa Allah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir (Kel 2:23-25). Allah memanggil Musa dengan memperkenalkan diri sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub (Kel 3:6, 15; 4:5), dengan demikian menyiratkan kerinduan Allah untuk meneruskan perjanjian atau relasi yang sudah Dia buat kepada nenek moyang bangsa Israel. Allah berjanji menyertai Musa (Kel 3:12). Berkali-kali Allah menyebut bangsa Israel sebagai anak-Ku (Kel 4:23) atau umat-Ku (Kel 5:1; 7:16). Secara khusus Allah menjelaskan bahwa maksud penyelamatan dari Mesir adalah untuk menjadikan bangsa Israel sebagai umat-Nya dan Ia menjadi Allah mereka (Kel 6:6-7). Berbagai peraturan yang diberikan Allah memiliki satu tujuan supaya Allah berkenan berjalan di tengah bangsa Israel dan menjadi Allah mereka (Im 26:12). Allah bahkan menjadikan relasi ini sebagai dasar apakah bangsa Israel akan diberkati atau dikutuk (Ul 28).

Tanah Yang Dijanjikan

Janji tentang tanah (‘eres) juga menduduki posisi yang penting dalam Pentateukh. Ada banyak petunjuk yang mengarah pada kesimpulan ini. Kata ‘eres bahkan muncul di bagian paling awal (Kej 1:1). Allah memakai tanah ketika menciptakan manusia (Kej 2:6-7). Nama “Adam” pun berkaitan dengan tanah (Kej 2:). Tugas utama yang diberikan Allah kepada manusia berkaitan dengan tanah (Kej 1:26, 28). Ketika manusia jatuh ke dalam dosa pun, hukumannya berkaitan dengan tanah (Kej 3:19).

Ketika Allah memanggil Abraham, panggilan ini pun berkaitan dengan tanah (Kej 12:1 LAI:TB “tanah” = ‘eres). Janji ini bahkan diulang berkali-kali oleh Allah kepada Abraham (Kej 12:7; 13:14-15, 17; 15:7, 13, 16, 18). Dalam beberapa kasus Allah secara spesifik menyatakan bahwa tanah yang dimaksud adalah Kanaan (Kej 15:18; 17:8), walaupun secara tersirat hal ini sudah dinyatakan sebelumnya (Kej 12:7; 13:14-15, 17).

Janji tersebut diteruskan kepada keturunan Abraham sebagaimana sudah dinyatakan Allah sejak awal (Kej 12:7). Ishak menerima janji yang sama (Kej 26:2), begitu pula dengan Yakub (Kej 28:13,1 5; 35:12; 46:3). Pada jaman Musa janji ini kembali dinyatakan (Kel 3:8, 17; 6:6; 23:23-33; 34:24). Bagian selanjutnya dari Pentateukh menjelaskan bagaimana Allah menggenapi janji ini dengan cara membebaskan bangsa Israel dari Mesir dan membimbing mereka di padang gurun. Bagian terakhir dari Pentateukh berbicara tentang persiapan memasuki tanah perjanjian.

Dari semua penjelasan di atas terlihat bahwa janji Allah belum sepenuhnya digenapi. Keturunan Abraham belum menjadi seperti bintang dan pasir. Tanah perjanjian juga belum dikuasai oleh bangsa Israel. Keturunan Abraham belum memberkati semua bangsa. Dengan demikian kita dapat menjelaskan bahwa Pentateukh memberikan bukti tentang proses realisasi janji-janji Allah. Apa yang sudah direalisasikan merupakan dasar yang kuat untuk berharap bahwa yang lain lagi akan tergenapi dengan segera. Pentateukh bukanlah akhir dari pemenuhan janji Allah. Penggenapan yang sepenuhnya digenapi di dalam Yesus sebagai keturunan Abraham yang akan menjadi berkat bagi banyak bangsa (Gal 3:16). Melalui iman kepada Yesus, maka semua bangsa telah menjadi keturunan Abraham (Rom 4:11-12, 23-25). Janji tentang tanah akan digenapi seutuhnya pada waktu Allah menciptakan langit dan bumi yang baru (Yes 65:17; 66:22; Why 21:1).

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s