Sejarah : mana Mushaf Quran yg ASLI ? Bag II

Kehebohan baru yang bakal mengguncangkan umat Islam datang dari Doktor Gerd R. Puin, seorang pakar filologi dan ahli bahasa-bahasa Semitis. Pada 1979, pakar kaligrafi Arab dan paleografi Alquran dari Universitas Sarre, Jerman, itu diajak Kadi Ismail al-Akwa, Ketua Dinas Purbakala Yaman, untuk meneliti sebuah bungkusan kuno yang ditemukan di Sana’a, ibu kota Yaman, pada th 1972. Bungkusan berisi perkamen (kulit kambing) dan kertas (suhuf) itu ditemukan saat pemerintah merenovasi masjid kuno di Sana’a, yang bocor akibat hujan lebat.

Paket kuno yang ditemukan para pekerja di atap masjid agung itu kemudian diamankan Kadi Ismail al-Akwa yg yakin isinya pasti bernilai. Ia lalu meminta bantuan internasional untuk menganalisa tulisan di atas perkamen itu. Akhirnya, baru pada 1979 ia berhasil membujuk Puin untuk menelitinya, dengan bantuan dana Pemerintah Jerman.

Berdasarkan penelitian awal, bisa dipastikan, perkamen Sana’a itu adalah mushaf Alquran paling tua di dunia, yang ditulis pada abad ketujuh & kedelapan.

Sbgmana diketahui, hingga saat ini, ada tiga “copy” mushaf Alquran yg sudah ditemukan;
1) & 2) Dua mushaf Alquran abad ke-8, masing-masing disimpan di Perpustakaan Tashkent, Uzbekistan, dan di Museum Topkapi di Istanbul.
3) Mushaf ketiga berupa manuskrip Ma’il dari abad ketujuh, disimpan di British Library, London, Inggris.

Menurut Doktor Puin, kaligrafi pada mushaf Sana’a itu berasal dari Hijaz, sebuah wilayah Arab, tempat tinggal Nabi Muhammad saw. Dengan
demikian, itu bukan hanya merupakan mushaf tertua di dunia, melainkan
salah satu mushaf versi pertama. Perkamen itu mengandung variasi teks yang agak berbeda, surat-suratnya disusun tak biasa, dan gaya serta grafisnya sangat langka. Ia juga melihat adanya jejak teks yang dihapus dan digantikan dengan teks baru . Karena itulah, Puin menyimpulkan, Alquran pernah mengalami evolusi tekstual. “Dengan kata lain, apa yang dibaca umat Islam saat ini kemungkinan bukan satu-satunya “versi” yg diyakini telah diwahyukan Allah kepada Nabi saw,” tulis Abul Taher, pekan lalu, dalam koran Inggris, The Guardian.

Kesimpulan Puin itu tentu saja akan sulit diterima umat Islam. Sebab mereka percaya bahwa ayat-ayat dalam Alquran itu diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad saw secara bertahap (610-632). Dan, setiap menerima wahyu, Nabi saw selalu membacakannya di hadapan para sahabat.

Menurut Ensiklopedi Islam (Jakarta, 1994), selain menyuruh para sahabatnya menghafal, Nabi saw juga memerintahkan mereka untuk menuliskannya di atas pelepah kurma, lempengan batu, atau kepingan tulang.

Menurut hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, untuk menjaga
kemurnian Alquran, itu, setiap tahun Malaikat Jibril mendatangi Nabi untuk memeriksa bacaannya. :roll: :roll: Bahkan pada tahun Nabi saw. wafat, Malaikat Jibril datang dua kali dan mengontrol bacaan Nabi, sebagaimana Nabi sendiri selalu melakukan hal yang sama kepada para sahabat selama hidupnya. Dengan demikian, terpeliharalah Alquran dari kesalahan dan kekeliruan.

29 tahun setelah Nabi wafat tersebar pelbagai versi Alquran, baik lisan maupun tulisan di semua wawasan kekuasaan Islam. Oleh karena itu, dibawah Usman, khalifah ketiga, sebuah versi baku Alquran ditetapkan dan dikodifikasi dalam bentuk sebuah buku. Kodifikasi itu dilakukan berdasarkan mushaf yang dihimpun Khalifah Abu Bakar, yang kemudian disimpan di rumah Hafsah, putri Khalifah Umar, yang juga istri Nabi saw. Karena itu, tak pernah ada lagi modifikasi dan kodifikasi Alquran sesudah Usman, yang disusun di bawah pimpinan Zaid bin Sabit. Mushaf Usmani dalam dialek Quraisy itu lalu dibuat lima kopi.

Satu kopi disimpan di Madinah (mushaf al-Imam) dan empat lainnya dikirim ke Mekah, Suriah, Basrah dan Kufah untuk disalin dan diperbanyak (EI, 1994).

Apakah perkamen dari Sana’a itu adalah salah satu dari mushaf-mushaf itu, atau salinannya, belum bisa dipastikan. Yang jelas, menurut Puin, sebagaimana dalam tradisi literatur Arab, perkamen Sana’a itu ditulis tanpa tanda-tanda diacritique (titik, aksen, koma, tanda huruf atau fonetik pengubah nilai). Artinya, perkamen itu ditulis lebih sebagai panduan bagi yang sudah hafal Alquran. Akibatnya, puluhan tahun kemudian, pembaca “Arab gundul” itu makin sulit memahaminya. Karena itulah untuk memudahkan, Hajjaj bin-Yusuf, Gubernur Irak pada th 694-714 melengkapi teks itu dengan pelbagai tanda. “Ia sangat bangga karena ia telah berhasil memasukkan lebih dari 1.000 alif ke dalam teks Alquran,” kata Puin.

Kesimpulan Puin yang juga mengejutkan adalah: sumber-sumber pra-Islam, katanya, telah dimasukkan ke dalam Alquran. Misalnya, ihwal As Sahab ar-Rass dan As Sahab al-Aiqa. Soalnya, menurut Geographie karya Ptolomeus, suku Ar Rass hidup di Lebanon sebelum Islam, dan Al Aiqa hidup di wilayah Aswan, Mesir, sekitar 150 tahun sebelum Masehi. Bahkan, Puin tidak yakin Alquran ditulis dalam bahasa Arab murni. Sebab, kata “Quran” sendiri, yang berarti “kalam”, “kitab”, “bacaan”, menurut Puin, berasal dari sebuah kata Aramian, qariyun (penggalan bacaan teks suci saat menjalankan ibadah).
Tak aneh bila sang Khalidi (?) gusar atas usaha para Islamolog Barat seperti Puin, yang tak selalu menganalisis Alquran sebagaimana mereka melakukannya terhadap Injil. Khalidi bahkan cemas bila hasil penelitian Puin itu disebarluaskan, ia akan bisa dihukum oleh umat Islam, seperti Doktor Nasr Abu Zaid, dosen ilmu Alquran dari Universitas Kairo, pada 1995, akibat karyanya Le Concept du texte (1990), menyatakan, “Alquran hanyalah teks sastra, dan satu-satunya cara untuk memahami, menerangkan, menganalisis, dan mengadaptasinya hanyalah melalui pendekatan sastra.”

Toh, Salim Abdullah, Direktur Arsip Islam Jerman, yang berafiliasi pada Liga Islam Dunia, menanggapi kesimpulan Puin dengan sikap positif. “Doktor Puin sebelumnya telah meminta izin kepada saya, apakah ia boleh mempublikasikan salah satu karangannya tentang dokumen Sana’a. Ketika saya memperingatkan bahwa ia akan menghadapi kontroversi, Puin mengatakan, sudah lama ia menunggu adanya perdebatan mengenai hal itu,” kata Salim. Padahal, sebelumnya, akibat kesimpulannya yang mengejutkan itu, Puin sendiri segera diusir dari Yaman dan ia dilarang melanjutkan penelitiannya.

 

CRAIG WINN menulis dlm :
http://www.prophetofdoom.net/quotes_overview.aspx

… Muslim juga akan menemukan bahwa penulisan Qur’an sangat kacau. Banyak kata2 yg tidak berarti, kata2 asing, kata2 yg hilang shg menyulitkan terjemahan — siapapun perlu menebak apa yg dipikirkan Muhammad utk mengerti apa yg dikatakan Allah. Itulah mengapa
Gerd Puin, pakar ternama dlm bidang kaligrafi Arab dan paleografi Qur’an yg mempelajari manuskrip2 tertua kecewa dgn keengganan Muslim dan non-Muslim utk menerima dogma Islam.

Katanya: “Qur’an menyatakan diri sbg ‘mubin,’ atau jelas, tapi dari pandangan sekilas saja kau akan melihat bahwa setiap kalimat kelima tidak masuk akal. Tentu Muslim tidak akan mengatakan padamu bahwa pada kenyataannya, seperlima isi Qur’an sama sekali tidak dapat dimengerti. Inilah yg mengakibatkan tradisi senewennya Muslim. Jika Qur’an tidak dapat dimengerti, bahkan tidak dapat dimengerti dalam bahasa Arab, maka Quran tidak dapat diterjemahkan dlm bahasa manapun. Itulah mengapa Muslim sangat takut.

 
Apakah Qur’an itu asli/murni?
http://www.harvardhouse.com/quran_purity.htm
Is the Qur’an Pure? Why did Muhammad’s close companions write unique versions of the Qur’an?

——————————————————————————–

Kenapa para sahabat dekat Muhammad masing2 memiliki versi Quran tersendiri ? Dan kenapa versi2 tsb kemudian dibakar?

Ketika Muhammad mati ditahun 632, Quran belum dicatat dan dikumpulkan menjadi buku tapi hanya eksis dlm bentuk hafalan dlm benak muslim. Ini khususnya dilakukan oleh orang2 yg kenal Muhammad secara langsung. Bisa jadi beberapa ayat ditulis pada tulang, batu atau kulit sebelum Muhammad mati. Tidak lama kemudian, muslim menetapkan perlunya mengumpulkan Quran dalam sebuah buku.

Quran yg pertama diselesaikan sekitar 634. Penting sekali diketahui bahwa sebuah proses politislah yg akhirnya menghasilkan Quran. Ditahun 633, peperangan mengakibatkan 700 muslim terbunuh. Teman dekat Muhammad (Salim) yg hafal banyak isi Quran juga tewas. Apa yg akan terjadi jika semua pengikut terdekat Muhammad terbunuh juga? Oleh karena itu Muslim saat itu merasa perlu utk mencatatkan dan mempertahankan kemurnian Quran persis seperti yg telah diucapkan Muhammad.

1) Versi Abu Bakr/Usman/Naskah Hafsah

Jadi disusunlah Quran pertama ditahun 634 selama pemerintahan Abu Bakr. Quran ini dikenal sebagai naskah Hafsah (karena berada di tangan Hafsah). Tapi 33 thn kemudian, pd th 667M manuskrip awal yg penting ini akhirnya juga dihancurkan oleh para penguasa muslim saat itu. KENAPA ?

Hafsah adalah salah satu istri Muhammad. Dia merawat Quran orisinil ini hingga ia meninggal ditahun 667. Pemimpin2 muslim ingin menghancurkan Quran ini sebelum Hafsah meninggal. Tapi dia menolak menyerahkan naskah tsb utk dibakar. Dia berhasil mempertahankan naskah tsb hingga kematiannya [rujukan Al-Masahif 24].

JADI : kenapa Hafsah tidak ingin naskah Quran ini dibakar? Dan apa yg menyebabkan perubahan drastis 33 thn kemudian hingga mengakibatkan penghancuran Quran orisinil? Kenapa naskah Hafsah tidak dipelihara lagi sejak pembuatannya (th 634) hanya dua tahun setelah Muhammad mati (632)?

Masalah2 Quran mulai muncul selama pemimpin politik Islam ke-3, yi Usman (644 s/d 656). Kelihatannya, berbareng dg menyebarnya kepercayaan islam melalui penaklukan militer dibanyak daerah, para tentara membaca Quran dg versi yg berbeda-beda. Tentara2 ini bertanya-tanya, “Apa betul Quran ini sungguh2 murni, sama seperti apa yg dipercaya dan diajarkan Muhammad ?”

Hadis yg paling dipercaya disebut Sahih Bukhari. Dalam Volume 6 Buku 61, Nomor 510, diceritakan mengenai tentara muslim yg berdebat mengenai versi2 Quran yg berbeda :
“Hudhaifa takut karena cerita yg berbeda-beda dari Quran, jadi dia tanya Usman, “Oh pemimpin kaum beriman! Selamatkan bangsa ini sebelum mereka berbeda pendapat mengenai Quran seperti yg dilakukan Yahudi dan Kristen dulu.”

Jawabannya, Kalifah Usman mengirim pesan pada Hafsah :
“Serahkan naskah Quran itu shg kita bisa mengumpulkan materi2 Quran dari salinannya yg sempurna dan naskah itu akan dikembalikan lagi padamu.” Hafsah mengirim salinannya ke Usman. Kalifah Usman menyuruh orang yg mengenal Quran utk menyusunnya kembali. Setelah selesai, naskah Hafsah dikembalikan pada Hafsah.

Setelah mempunyai versi baru ini, Usman menyuruh semua Quran lain dibakar. Usman mengirim kesetiap provinsi Islam masing2 satu salinan utk mereka miliki/salin dan memerintahkan semua Quran lain, baik yg tertulis dalam naskah sepotong2 maupun berupa salinan lengkap, utk dibakar. KENAPA harus dibakar ? Jawabannya ada pada pernyataan awal: Hudhaifa takut akan beredarnya versi Quran yg berbeda-beda. Bagi Hudhaifa, kesatuan Quran berarti kesatuan semua muslim. Jika tentara muslim tidak bersatu, islam akan jatuh.

Karena semua salinan lain dari Quran diperintahkan agar dibakar, apa yg salah dg salinan2 itu? Quran semurni apa yg dipercaya oleh muslim saat itu ? Karena keputusan utk membakar Quran2 lain bermotifkan politik, berarti Quran saat ini adalah Quran yg mewakili tindakan politis dari pemimpin politis muslim dulu dan bukan mewakili nabi Muhammad.

Pertanyaan seperti ini tidak akan pernah terjawab. Tapi sudah pasti bahwa Quran sekarang bukan lagi yg asli yg dicatat hanya 2 tahun setelah Muhammad mati. Sudah pasti juga bahwa naskah Hafsah bisa jadi merupakan Quran orisinil yg paling akurat sepanjang jaman. Tapi 33 thn kemudian, penguasa muslim memastikan bahwa naskah asli tersebut harus dibakar. Jadi apa yg sebenarnya terjadi ditahun2 awal Islam ? (Maksudnya: Jika memang salinan yg diperintahkan dibuat oleh Usman persis sama dg naskah Hafsah, kenapa naskah orisinil yg berharga dan merupakan benda bersejarah itu dibakar juga ? Penerjemah.)

:shock: :shock:

2) Versi2 Abdullah Ibn Mas’ud, Salim, Ubayy B. Ka’ab & Muadh

Sumber2 muslim melaporkan bahwa paling sedikit ada empat versi berbeda dari Quran sebelum perintah pembakaran dititahkan. (rujukan Al-Tamhid 2, 247).

Empat versi tsb ditulis oleh orang2 yg kenal langsung Muhammad. Tiap orang ini membuat versi unik Quran mereka sendiri. Berdasarkan sumber2 muslim, perbedaannya begitu serius hingga menyebabkan perpecahan diantara muslim. K. al Masahif melaporkan bahwa perbedaannya begitu serius hingga bisa membuat satu kelompok muslim menuduh kelompok lain murtad.

Selama pemerintahan Usman, guru2 mengajar bacaan2 pada murid2nya. Waktu para murid2 itu bertemu dan dan mereka saling berdebat mengenai ajaran gurunya, mereka melaporkan perbedaan2 dari ajaran guru2 mereka. Para guru membela bacaannya sendiri, menyalahkan pihak lain sebagai musyrik. (Abu Bakr ‘Abdullah b. abi Da’ud, “K. al Masahif).

Jadi sebuah keputusan politik dibuat agar hanya ada satu versi Quran. Hal ini tidak diterima dg baik oleh orang2 pembuat versi unik mereka sendiri. Siapa saja para pembuat Quran unik ini?

Sumber muslim mengungkapkan adanya sebagian dari orang2 terpilih yg dikenal telah membuat versi Unik Quran :
Kudengar sang nabi berkata, “pelajarilah pengajian Quran dari empat orang:
(1) Abdullah Ibn Mas’ud,
(2) Salim (yg terbunuh dalam perang th 633), budak yg dibebaskan oleh Abu Hudhaifa,
(3) Ubayy B. Ka’ab dan
(4) Muadh bin Jabal.” (Sahih Bukhari, Volume 5, Book 58, nomor 150)

Mereka itulah segelintir orang terpilih yg dekat dg Muhammad yg dianggap hapal Quran dan membuat koleksi mereka sendiri2. Versi2 Quran ini mulai disebarluaskan. Ini sebabnya kenapa para tentara muslim saling berdebat dan menuduh sesama Muslim = murtad.

Setelah Quran ‘resmi’ dan perintah utk membakar semua versi lain dikeluarkan, mulailah timbul keresahan. Informasi berikut dari sumber2 Muslim mungkin penting utk mempelajari orang2 yg benar2 kenal langsung Muhammad. Mari kita mulai dg Mas’ud, yg diminta langsung utk membakar Quran versi pribadinya.

“Bagaimana mungkin kau memerintahkanku utk mengkaji tulisan Zaid, sedangkan aku bisa mengkaji sekitar 70 surat yg langsung berasal dari mulut nabi ?” “Apakah aku,” pinta Abdullah, “harus mengabaikan apa yg kudapat langsung dari mulut sang nabi?” (Masahif” by Ibn abi Daud, 824-897 AD, pp. 12, 14).

Apakah Mas’ud percaya bahwa Qurannya murni shg dia menolak utk membakar versinya sendiri ?

Mas’ud adalah teman dekat dan pembantu pribadi Muhammad. Sang Nabi sendiri yg mengajarkan Quran pada Mas’ud. Karena kedekatannya dg Muhammad, Mas’ud punya keyakinan bahwa dia memenuhi syarat utk membuat Quran versinya sendiri.

Mas’ud, pindah ke Kufa-Irak, dimana dia menyelesaikan versi Qurannya (belakangan disebut dg naskah Kufan). Quran unik yg dibuat Mas’ud diselesaikan bertahun2 setelah dibuatnya naskah aslinya di th 634 yg dipegang Hafsah. TAPI Quran versi Mas’ud ini tidak memiliki bab 1, 113 dan 114 yg ada pada Quran ‘resmi’ sekarang. JADI apakah Quran jaman sekarang persis sama dgn Quran orisinal tsb ?

Quran unik lain dibuat oleh Ubayy B. Ka’ab. Dia juga teman dekat & sekretaris Muhammad. Ubayy dapat menghapal banyak ayat Quran yg dia pelajari dari Muhammad sendiri. TAPI para ilmuwan menemukan bahwa versi Ubayy berbeda dari versi ‘resmi’. Ada dua bab tambahan (berjudul: Surat Al-Khal dan Surat Al-Afd). Karena Ubayy belajar Quran dari nabi Muhammad, kenapa Quran ‘resmi’ tidak berisi dua bab tambahan tsb?

Ubayy mati semasa pemerintahan Umar, yi sebelum beredarnya Quran ‘resmi’ dibuat Usman. Oleh karena itu, Ubayy tidak menyaksikan versinya dibakar. Karena Ubayy membuat versi Qurannya tersendiri yg diakuinya langsung dari mulut Muhammad, bgm kira2 pendapatnya ttg Quran versi Mas’ud yg tidak ingin ia serahkan utk dibakar ?

Karena keputusan Usman utk membuat Quran ‘resmi’, Quran versi Ubayy dibakar. JADI, apakah Quran sekarang itu murni ?

3) Versi Zaid ibn Thabit

Quran ‘resmi’ saat ini datang dari Zaid ibn Thabit (teman Abu Bakr), yg merupakan anggota termuda dari para penulis Quran. Karena usianya yg muda, Zaid hidup lebih lama dari orang2 yg lebih tua yg pernah bersama-sama Muhammad. Tapi, akhirnya versi Quran dari Zaidlah yg terpilih oleh Usman sebagai Versi ‘Resmi’. [Mungkin versi Zaid ini mirip dgn naskah Hafzah ?] Ini sama sekali tidak disukai oleh Muslim2 lain yg memiliki versi Quran mereka masing.

KESIMPULAN :

Sumber Islam sendiri menunjukan bahwa kemurnian Quran sejak hari2 Muhammad kelihatannya telah ternodai: tidak ada satupun versi yg sama dan serupa, sampai perlu ada versi Quran yg dibakar.

Muslim percaya bahwa ada tujuh versi Quran, tapi hanya Quran Usman dianggap yg paling betul. Dan muslim tidak menghiraukan kisah2 pembakaran mushaf2 orisinil tadi. Memang diperlukan ‘kepercayaan buta’ utk percaya dan menerima sudut pandang ini.

Pembakaran Quran yg dimotivasi oleh tindakan politik oleh pemimpin muslim dulu memastikan bahwa Quran itu sama palsunya dengan Jibril.

 
 
——————————————————————————–
Sebelum 750M (sekitar 100 tahun setelah wafatnya Muhamad) tidak ada satupun dokumen yang dapat memberikan gambaran tentang perioda pembentukan Islam. Tidak ada sedikitpun keterangan/kesaksian dari masyarakat Islam selama 150 tahun pertama mereka, antara masa penjajahan Arab pertama pada permulaan abad ke 7- sampai timbulnya literatur pertama Islam abad ke 8 (Riwayah SIRA-MAGHAZI).

Satu2nya hal yang kita miliki sebelum tahun 750 itu terdiri dari ‘hampir seluruhnya kutipan2 meragukan dlm kompilasi jaman berikutnya’ (’almost entirely of rather dubious citations in later compilations’’ (Humphreys)).

Memang luar biasa bahwa Islam tidak dapat menunjukkan satupun bukti sejarah buku suci mereka bahkan dalam waktu 100 tahun setelah kelahiran nabi mereka.

Sejumlah cerita dalam Quran berasal dari abad ke 2 literatur Yahudi:
– cerita2 Cain & ABel dalam dalam Surah 5.31-32 dipinjam dari Targum Jonathan ben Uzziah dan Mishnah Sanhedrin 4.5 ;
– cerita Ibraham, berhala dan penghancuran mereka dalam Surat 21.51-71 adalah dari Misdrash Rabbah ;
– cerita Solomon dalam Surat 27.17-44, tentang burung yang dapat berbicara dan Ratu Sheba yang mengangkat gaunnya karena menyangka lantai mengkilap sebagai air, diambil dari Targum kedua cerita Esther.

Bahkan cerita Gunung Sinai diangkat dan mengambang diatas kepala rakyat Yahudi sebagai ancaman kalau menolak hukum Yahwe (Surah 7.171) berasal dari The Abodah Sarah. Dan seterusnya dst.

Dalam Surat 17.1 terdapat laporang tentang perjalanan Muhamad dari mesjid suci ke mesjid terjauh. Dalam tradisi berikutnya, ayat ini menunjuk kepada Muhamad menaiki langit ke 7, setelah sebuah perjalanan malam ajaib (MI’RAJ) dari Mekah ke Yerusalem diatas kuda bersayap bernama Buraq. Ini berasal dari berbagai sumber : Testamen Ibraham (~200), Rahasia Enoch (chap.1.4-10 and 2.1), dan buku Persia tua berjudul Arta-I Viraj Namak.

Quran menunjukkan bahwa Muhamad memutuskan hubungan degnan orang2 Yahudi pada tahun 624 dan memindahkan arah Kiblat (Surat 2.144 and 149-150) dari Yerusalem ke Mekah. Namun, dokumen yang ada dalam kepemilikan kami, yaitu Doctrina Iacobi Chronicler (dari tahun 661M) dan dokumen Usup Sebeos (dari tahun 660M) menunjukkan hubungan baik antara kaum Yahudi dengan kaum Ismaeli yang dahulu dikenal sebagai kaum Saracen. Sumber berikut dari Armenia bahkan menyebut gubernur Yerusalem adalah orang Yahudi pada tahap akhir masa penjajahan. Jadi, testimoni2 ini bertentangan dengan kesaksian dalam Quran.

MEKAH

Dalam Surat 3.96 dan 6.92 terdapat sebutan Mekah (Bakkah) yang merupakan tempat ibadah pertama manusia karena Adam menempatkan batu hitam dalam Ka’bah pertama, namun dalam Surat 2.125-127 disebutkan bahwa Ibrahim dan Ismael membangunnya kembali beberapa tahun kemudian.

Riset oleh Patricia Crone dan Michael Cook menunjukkan bahwa Mekah tidak disebut2 dalam dokumen arkeologi sebelum permulaan abad ke 8. Ingatlah bahwa ini merupakan 1 abad setelah wafatnya Muhamad.

Bahkan lebih aneh lagi adalah pernyataan kaum Muslim bahwa selain merupakan kota tua dan besar, Mekah juga pusat dagang Arab di abad ke7 dan sebelumnya. Pernyataan ini lebih mudah diperiksa kebenarannya karena bukti2 dokumen dari jaman itu cukup banyak.

Dari riset ekstensif Bulliet bisa dikatakan dengan pasti bahwa pernyataan kaum Muslim ini SALAH. Ini dibuktikan lebih lanjut oleh Groom dan Muller yang mengatakan bahwa Mekah tidak mungkin berada pada rute perdagangan karena secara geografis ini berarti orang harus mengadakan detour ketimbang melewati rute normal, yaitu melalui jalur barat. (It would have entailed a detour from the natural route along the western ridge.)

 
Image
 
 
Letak MEKAH yg tidak strategis !
 
Bahkan Patricia Crone menambahkan “Mekah adalah tempat gersang/kering dan tempat2 macam itu bukan pilihan pedagang. Mengapa karavan harus turun kedalam lembah gersang Mekah kalau mereka dengan mudah dapat berhenti di Ta’if yg lebih subur ?”

Image
http://i-cias.com/e.o/at_taif.htm

Ia juga menanyakan, “Komoditi macam apa di wilayah Arab saat itu bisa ditransportasi melewati jarak jauh dan alam kering, dan tetap bisa dijual dengan mendapatkan keuntungan yang cukup besar untuk mendukung pertumbuhan sebuah kota yang kedudukannya tidak strategis itu.”

Faktanya adalah, pada abad2 tidak lama menjelang kelahiran Muhamad di tanah Arab ini tidak ada satupun jalur pedagangan internasional, apalagi di Mekah. Ternyata kebanyakan data mengenai asal pernyataan “Mekah sarang dagang” ini adalah gara2 riset tidak teliti seorang Jesuit, Henry Lammens, seorang “akademisi yang tidak reliable”.

Lammens menggunakan sumber2 abad pertama (seperti orang2 Romawi, Periplus dan Pliny) dan bukannya sumber2 sejarawan Yunani yang hidup lebih dekat pada masa tersebut seperti Cosmas, Procopius dan Theodoratos (P. Crone).

Kenyataannya, di abad pertama, jalur perdagangan Yunani antara India dan negara2 Mediterania sepenuhnya bersifat maritim. Silahkan anda membuka atlas untuk mengerti mengapa. Tidak ada gunanya mengangkut barang dagangan melewati jalan darat yang cukup jauh jika jarak itu bisa ditempuh dalam separuh waktu lewat sungai/laut.

Menurut Nn. Croone, pada masa kaisar Dioclesias, lebih murah bagi kerajaan Romawi untuk mengangkut gandum lewat laut sepanjang 780 km (1,250 miles) ketimbang mengangkutnya lewat darat sepanjang 30 km (50 miles). Mengapa para pedagang dari India mengirim lewat laut barang dagangan mereka, menurunkannya di pelabuhan Aden dan meneruskan perjalanan di pundak onta sepanjang 780km lewat gurun gersang ?

 
Jika Lammens melakukan riset secara benar, ia juga akan melihat bahwa jalur perdagangan Yunani-Romawi dengan India runtuh pada abad 3M, sehingga pada jaman Muhamad tidak ada jalur darat maupun pasar Romawi yang menjadi tujuan barang dagang tersebut. Croone juga menunjukkan bahwa, seandainya Lammens meluangkan waktu untuk membaca sumber2 Yunani kuno, ia akan menelihat bahwa orang2 Yunani–tujuan barang dagangan tsb–belum pernah mendengar nama kota Mekah. Kalau memang tempat itu begitu penting, tentunya mereka yang akan menerima barang dagangan tersebut pasti mengetahui eksistensinya. Namun, kita TIDAK MENEMUKAN SEDIKIT KETERANGANPUN, kecuali bahwa orang Yunani menyebut kota2 Ta’if dan Yathrib (kemudian dinamakan Medinah), juga Khaybar di bagian utara. Tidak adanya sebutan ‘Mekah’ dalam dokumen historis memang merupakan fakta problematik dalam membuktikan keberadaan sebuah kota yang dianggap pusat kelahiran Islam.

Bahkan terdapat kebingungan dalam tradisi Islam ttg dimana sebenarnya letak Mekah. Menutut riset J. van Ess, baik pada masa perang sipil pertama dan kedua, ada kesaksian tentang orang2 yang bergerak dari Medina ke Iraq, lewat Mekah. Namun kota MEKAH itu terletak di bagian
barat-daya Medinah sementara Iraq berada di belahan timur-laut.
(lihat peta diatas)

Maka kota ibadah Islam, menurut tradisi tersebut tadinya terletak di bagian timur Medinah, yaitu arah berlawanan dari letak Mekah sekarang !

( According to the research by J. van Ess, in both the first and second civil wars, there are accounts of people proceeding from Medina to Iraq , via Mecca , yet the town is situated south-west of Medina and Iraq is north-east. Thus the sanctuary for Islam, according to these traditions was at one time north of Medina , which is the opposite direction from where Mecca stands today ! )

Ini mengakibatkan kebingungan. Bukan hanya bukti2 dokumenter Arab dan Yahudi tentang penanggalan saling kontradiksi, namun kota pusat Islam itu dikenal hanya jauh kemudian.

BUKTI ARKEOLOGIS ARAH KIBLAT

Dikatakan bahwa arah kiblat ditetapkan pada Mekah pada sekitar tahun 624. Namun bukti2 arkeologis yang masih berlangsung pada mesjid2 pertama yang dibangun pada abad ke7 oleh arkeolog2 Creswell dan Fehervari mengenai 2 mesjid Umayyad di Iraq dan didekat Baghdad, menujukkan bahwa Kiblat tidak diarahkan pada Mekah tetapi jauh ke utara. Mesjid Wasit malah melewati Mekah sebanyak 33 derajat dan mesjid Baghdad sebanyak 30 derajat. Ini sesuai dengan kesaksian Balahhuri (yang disebut Futuh) bahwa Kiblat mesjid pertama di Kufa, Iraq, yang dibangun tahun 670 mengarah ke barat, padahal kalau mau mengarah ke Mekah, seharusnya mengarah ke selatan !

Mesjid Amr b. al As diluar Kairo di Mesir menunjukkan bahwa arah Kiblat menunjuk jauh ke utara sampai harus diperbaiki oleh gubernur Qurra b. Sharik. Bukti2 diatas menunjukkan bahwa Kiblat tidak diunjukkan pada Mekah tetapi pada sebuah kota jauh di utara, kemungkinan didekat Yerusalem.

Ini diperkuat oleh penulis Kristen dan pelancong Yakub dari Edessa, yang tulisannya berasal dari tahun 705 dan merupakan saksi mata di Mesir. Ia menulis bahwa kaum Mahgraye (nama Yunani bagi kaum Saracen) di Mesir bersolat menghadap ke timur dan TIDAK ke selatan atau tenggara (menghadap Mekah). Suratnya (yang disimpan di British Museum) memang merupakan pembuka mata. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa sampai tahun 705 pun, arah kiblat ke Mekah BELUM JUGA DITETAPKAN.

Menurut Dr. Hawting, dari SOAS (School of Oriental and African Studies di London), penemuan arkeologis baru juga menunjukkan bahwa sampai saat itu, kaum Muslim (atau disebut juga kaum Hagar, dari nama ibu Ismael, yang dihamili nabi Ibrahim) memang solat tidak mengarah ke Mekah tetapi ke utara, kemungkinan besar Yerusalem. NAMUN QURAN MENGATAKAN KEPADA KITA (dalam Surat 2) BAHWA ARAH KIBLAT ADALAH MENUJU MEKAH, kira2 dua tahun setelah HIjrah, atau sekitar 624 dan tidak pernah berubah sampai sekarang.

Apa yang terjadi disini ? Mengapa Kiblat tidak mengarah kepada Mekah sebelum tahun 705 ? Mari sekarang kita melihat Yerusalem.

THE DOME OF THE ROCK

Image
Dome megah ini didirikan oleh Abd al-Malik pada tahun 691 dan sampai sekarang masih berdiri. Pertama, kita harus mengingat bahwa the Dome of the Rock bukan sebuah mesjid karena tidak memiliki arah kiblat. Hanya sebuah gedung oktagonal dengan 8 pilar.

Muslimin puas dengan keterangan bahwa Dome ini didirikan guna memperingati malam Isra Mi’raj, malam Muhamad terbang ke surga guna berbicara dengan Musa dan Allah tentang jumlah sholat yang harus dipatuhi pengikut. Namun, menurut riset oleh Van Berchem dan Yehuda Nevo, kaligrafi disana tidak menyebutkan apa2 tentang Mi’raj tsb. HANYA tulisan yg MENOLAK STATUS KETUHANAN YESUS, PENERIMAAN PARA NABI, PENERIMAAN WAHYU OLEH MUHAMAD DAN PENGGUNAAN ISTILAH ‘’Islam’’ DAN ‘’Muslim’’.

Mengapa, kalau memang khusus didirikan untuk memperingati Mi’raj Nabi gedung itu tidak menyebut sepatah katapun tentangnya ??? :shock: Gedung megah ini yang didirikan pada masa2 kelahiran Islam menunjukkan bahwa GEDUNG INILAH DAN BUKAN MEKAH yang merupakan tempat ibadah Islam pertama dan pusat kelahiran Islam sampai paling tidak abad ke7.

Menurut tradisi Islam, kalif Sulaiman, yang berkuasa antara tahun 715-717, pergi ke Mekah dan bertanya tentang naik haji. Ia tidak puas dengan jawaban yang diterimanya disana dan memilih untuk mengikuti Abd al-Malik (i.e. melancong ke the Dome of the Rock). Fakta ini saja, kata Dr. Hawting, menunjukkan bahwa bahkan pada abad ke 8 sudah ada ketidakpastian tentang letak tempat lahirnya Islam.

Menurut tradisi, WALID I, kalif yang berkuasa antara 705-715 menulis kepada semua daerah, memerintahkan penghancuran dan peluasan mesjid2. Mungkinkah ini saat Kiblat ditetapkan kearah Mekah ? Kalau iya, ini menunjukkan kontradiksi besar2an dengan Quran.

Dr. John Wansbrough, otoritas terbesar dalam tradisi dini Islam, menunjukkan pengamatan menarik terhadap Muhamad. Sumber2 non-muslim terbaik masa ini diberikan oleh kaligrafi Arab pada batu2an yg tersebar di gurun dan daratan Syria-Yordan, khususnya di gurun Negev. Alm. Yehuda Nevo, dari Universitas Yerusalem, melakukan riset ekstensif dan menerbitkan hasilnya pada tahun 1994 dalam bukunya ‘’Toward a Prehistory of Islam/Menuju Masa pra-sejarah Islam’’, yang saya jadikan bahan acuan disini.

Nevo menemukan dalam teks2 religius Arab, dari satu setengah abad kekuasaan Arab (abad ke 7) adanya sebuah kepercayaan monotheis yang “jelas2 bukan Islam, namun sebuah kepercayaan dari mana Islam bisa berkembang” (“demonstrably not Islam, but a creed from which Islam could have developed’’.)

Ia juga menemukan bahwa dalam semua institusi religius selama masa SUFYANI (th 661-684) tidak ada sedikitpun sebutan tentang Muhammad atau petunjuk bahwa Muhamad adalah nabi Allah. Ini benar, sampai sekitara tahun 691, dimana tujuan utama inskripsi adalah religius atau hanya commemorative, seperti inskripsi pada bendungan didekat Ta’if, yang didirikan oleh Kalif Muâwiya pada tahun 660-an. Absennya nama Muhamad pada inskripsi2 kuno adalah penting.

Kemunculan pertama nama Muhamad rasul Allah ditemukan pada coin Arab-Sassanian dari Xalib ben Abdallah dari tahun 690, yang dibuat di Damaskus. Pernyataan kepercayaan, termasuk Tauhid (KeTunggalan Allah), pernyataan bahwa Muhammad rasulAllah dan penolakan keTuhanan Jesus (rasul Allah wa-abduhu) ditemukan dalam inskripsi Abd al-Malik dalam the Dome of the Rock, tertanggal 691. SEBELUMYA, PERNYATAAN KEPERCAYAAN MUSLIM TIDAK DAPAT DIPASTIKAN.

Setelah dinasti MAARWANID (sampai 750), nama Muhammad biasanya timbul dalam pernyataan religius, seperti pada kepingan uang dan papyrus ‘’protocols’’. Namun, papirus bahasa Arab pertama di Mesir, dalam bentuk bukti penerimaan pajak tahun 642, ditulis dalam bahasa Yunani dan Arab dan menganut judul “’BASMALA’’, namun karakternya bukan Kristen maupun Muslim.

Inskripsi2 dalam the Dome of the Rock, walaupun mengandung teks religius, tidak pernah menyebut nama nabi atau kepercayaan Muslim, 30 tahun setelah kematian Muhamad, walaupun menganut suatu bentuk monotheisme yang berkembang dari gaya literatur Yahudi-Kristen. Lebih2 lagi, ketika kepercayaan itu diperkenalkan pada masa MARWANID (setelah 684), tiba2, kepercayaan itu menjadi satu2nya deklarasi religius negara. Namun lagi2 tidak begitu saja diterima rakyat.

Menurut Y. Nevo, rumusan Mohammedan ini hanya dimulai digunakan dalam inskripsi umum pada jaman Kalif Hisham (724-743). NAMUN WALAUPUN MEREKA PENGIKUT MUHAMAD, MEREKA BUKAN MUSLIM. Untuk itu, kata Nevo, kita harus menunggu sampai permulaan abad ke 9 (sekitar 822), bersamaan dengan ditemukannya Quran tertulis pertama. Jelaslah bahwa bukan semasa hidupnya Muhamad diangkat kepada posisi nabi, BAHKAN KETIKA ITU, KEPERCAYAAN KEPADA MUHAMAD TIDAK SAMA DENGAN APA YANG DITEMUKAN SEKARANG.

QURAN

Sumber2 menunjukkan bahwa buku ini disusun secara tergesa2. Wansbrough mengatakan bahwa ‘’nampak jelas bahwa buku ini tidak memiliki struktur keseluruhan, sering tidak jelas, baik dari segi bahasa maupun isi, menghubung2i materi yang terpisah2 dan cenderung mengulang-ulang anak-kalimat dalam berbagai versi. Atas dasar ini dapat disimpulkan bahwa buku ini adalah produksi editing tidak sempurna di masa kemudian dari bermacam2 tradisi’’ seperti dikutip dalam buku Crone-Cook ‘’Hagarism’’.

Mengenai kapan Quran itu disusun kami hanya bisa menerka dari penanggalan manuskrip2 yang ada. Dari sini, kami bisa menyimpulkan bahwa Quran tidak eksis sebelum akhir abad ke 7. Referensi tertua dari luar tradisi literatur Islam mengenai sebuah buku yang dinamakan dengan ‘’Quran’’ timbul pada pertengahan abad 8 dari tulisan pembicaraan antara seorang Arab dan seorang pendeta dari Bet Hale. Namun ini belum tentu menunjuk pada buku yang kita kenal sekarang. Baik Crone maupun Cook menyimpulkan bahwa selain referensi kecil ini, tidak ada indikasi apapun bahwa Quran eksis sebelum akhir abad ke 7.

Dalam riset mereka, baik Crone dan Cook bersikeras bahwa kemungkinan besar, Quran (atau dalam bentuk permulaan) disusun sebagai bukunya Muhamad pada masa gubernur HAJJAJ BEN YUSUF (663-714), sekitar tahun 705. Dari kesaksian Leo by Levond, gubernur Hajjaj nampak telah mengumpulkan semua tulisan2 lama kaum Hagar dan menggantikannya dengan versi yang disusun ‘’menurut keinginannya, dan membagikannya kepada siapaun di negerinya’’. Ini juga sesuai dengan fakta bahwa baik manuskrip Quran di Samarqand dan Topkapi (di Turki), Quran tertua yang kita miliki, ditulis dalam bahasa Kufic, dialek Persia dari Kufa, dan bukan bahasa Arab.

Kesimpulan masuk akal adalah bahwa dalam masa inilah Quran memulai perkembangannya, kemungkinan ditulis, sampai akhirnya disahkan pada pertengahan sampai akhir abad 8 sebagai Quran yang kita kenal sekarang.

Namun demikian, bukti2 arkeologis tentang keberadaan Quran adalah yang paling problematik. Bekas2 bangunan dan inskripsi dari daerah itu dari abad 7 dan 8 tidak hanya menunjukan kontradiksi bahwa Muhamad mengesahkan Kiblat semasa hidupnya, atau bahwa ia yang menyusun Quran yang kita kenal sekarang, bahkan asal usul ke-nabiannya juga diragukan. Ini merupakan penemuan penting dan problematik.

Sekarang kita menemukan coin2 yang katanya mengandung tulisan Quran, tertanggal 685, yang dibuat pada masa Abdul Malik. Lebih2 lagi, the Dome of the Rock yang dibangunnya pada tahun 691 menunjukkan ketidaksesuaian antara inskripsinya dengan pernyataan dalam Quran.

Dua ahli etymologi, Van Berchem and Grohmann, setelah riset ekstensif terhadap inskripsi ini mengatakan bahwa mereka mengandung ‘’variant verbal forms, extensive deviances, as well as omissions from the text which we have today’’ (‘’Arabic Papyri from Hirbet el-Mird’’ as cited by Crone-Cook).

Jika inskripsi2 ini berasal dari Quran, dengan berbagai macam variasi. bagaimana mungkin Quran disahkan (dikanonisasi) sebelum akhir abad ke 8 ? Orang hanya bisa menyimpulkan bahwa terjadi sebuah evolusi dalam penyusunan Quran, KALAU MEMANG MEREKA ASALNYA DIKUTIP DARI QURAN.

KESIMPULAN SINGKAT :

1) kaum Yahudi dan Arab bersahabat sampai paling tidak tahun 640.

2) Yerusalem adalah tempat ibadah Islam sebenarnya sampai
permulaan abad ke 8.

3) Mekah tidak dikenal sebagai kota dagang sebelum akhir abad
ke 7 dan tidak juga dikenal sebagai rute perdagangan.

4) Kiblat baru ditetapkan kearah Mekah setelah abad ke 8.

5) Muhamad tidak dikenal sebagai rasul sebelum akhir abad ke 7.

[b]6) Referensi paling pertama tentang adanya Quran tidak ada sebelum
pertengahan abad ke 8.

7) Tulisan Quran orisinal tidak serupa dengan teks Quran sekarang.
Quran yang kita miliki sekarang BUKAN Quran yg seharusnya
dikumpulkan dan dikanonisasi kalif Usman pada tahun 650, seperti
diakui Muslim.

9) Quran yang kita miliki sekarang (sejak tahun 790) tidak ditulis 16
tahun setelah wafatnya Muhamad, melainkan 160 tahun kemudian. [/b]

—————–
http://debate.org.uk/topics/history/bib-qur/qurmanu.htm

 
________________________________________________________________________________________
 
http://extremeweight.blogspot.com/2007/ … art-4.html

Origin and Development of the Quran (Part 4)
Asal Usul dan Perkembangan Mushaf Quran

Mana manuskrip orisinal dari daftar manuskrip arkeologis Islam sekarang ini ?

A) Manuskrip Samarkand
http://www.islamic-awareness.org/Quran/ … rqand.html

Disimpan Ali ibn Abu Talib di Samarkand, direbut Rusia dan kini berada di Tashken, Uzbekistan. Dipercaya mengandung bercak2 darah Kalif Usman, saat dibunuh oleh saingan politiknya. Ditulis dlm huruf Kufi.

Namun, ini bukan dokumen komplet. Mushaf ini hanya mengandung bagian2 dari surat 2 – 43 dari 114 bab/surat yg ada dlm Quran jaman sekarang. Dari surat2 ini, kebanyakan teksnya hilang. Teks dari codex Samarkand ini juga bermasalah karena sangat tidak teratur. Beberapa halamannya disalin secara rapih dan seragam sementara halaman2 lain agak kacau dan tidak seimbang.

b) Manuskrip Topkapi
http://www.islamic-awareness.org/Quran/ … pkapi.html

Juga dlm huruf Kufi, disimpan di Museum Topkapi, Istanbul. Tidak memiliki tanda2 vokalisasi. Spt mushaf di Samarkand, mushaf ini ditambahkan dgn hiasan2 di jaman berikutnya. Ini dianggap Muslim sbg salah satu copy original, dan kemungkinan juga versi yg disusun Zaid ibn Thabit. Namun dibandingkan dgn codex Samarkand, TIDAK MUNGKIN keduanya merupakaan mushaf orisinal dari jaman Usman.

Contoh, codex Topkapi ini memiliki 18 baris pada setiap halaman, sementara codex Samarkand hanya memiliki 8 – 12 baris per halaman; codex Istanbul ditulis secara sangat formal, kata2 dan barisannya ditulis secara seragam, sementara versi Samarkand sering kacau balau dan sangat distorsi. Tidak mungkin kedua manuskrip disalin oleh orang2 yg sama.

c) al-Khatt al-Kufi Script

Ditemukan di Kufa, Iraq, diperkirakan berasal dari jaman 790an. Martin Lings dan Yasin Hamid Safadi mengatakan bahwa ini tidak mugkin manuskrip orisinal, karena bhs Arab BUKAN bahasa dan tulisan dominan di Iraq kala itu.

Tulisan/abjad Kufi disempurnakan pada AKHIR abad 8 (150 thn setelah kematian Muhammad) dan setelah itu digunakan secara luas oleh dunia Muslim.

Ini bisa diterima, karena setelah 750M, kalifat Abbasid menguasai Islam
dan mereka berlatar belakang Persia serta bermarkas di Kufa dan Bagdad. Jelas mereka ingin agar abjad mereka mendominasi.

Karena mereka sendiri didominasi kalifat Umayyad (bermarkas di Damaskus) selama 100 thn, bisa dimengerti bahwa tulisan Arab yg berasal dari wilayah kekuasaan mereka, spt abjad Kufi kemudian berkembang menjadi abjad yg kita temui dlm kedua mushaf tadi.

d) Manuskrip Ma’il dan Mashq :

Mushaf Ma’il dikembangkan di Hijaz, khususnya di Mekan & Medinah. Mushaf Mashq berasal dari Medinah.

Mushaf ini disimpan di British Library di London dan diperkirakan berasal dari akhir abad 8 oleh Martin Lings, mantan kurator Muslim disana. Manuskrip al-Ma’il ini digunakan di abad 7 dan mudah dikenali karena tulisannya yg agak miring.

Manuskrip ini eksis selama 2 abad sebelum kemudian tidak lagi dipakai. Manuskrip Mashq dimulai di abad 7 tapi terus dipakai selama beberapa abad.

Tadinya ini diperkirakan sbg mushaf yg paling tua, sebelum ditemukannya mushaf dari Sana’a.

e) Manuskrip Sana’a

Ditemukan di Yaman th 1972 dan bisa dianggap sbg sumber paling dini. Disimpan di Museum Manuskrip di Sana’a. Tes karbon-14 memperkirakannya berasal dari th 645-690M. Dari paling sedikit 40 fragmen manuskrip tsb, versi Sana’a ini dipercaya berasal dari abad 1AH.

Pemimpin riset tsb, Gerd R. Puin (dikomisi pemerintah Yaman) menguji dan mengungkapkan susunan ayat2 yg tidak konvensional, variasi tekstual dan orthography yg jarang dipakai yg berbeda dari versi kemudian shg membantah teori bahwa Qu’ran adalah kata Tuhan yg murni dan tidak pernah berubah.

Huruf2nya ditulis dlm abjad Arab Hijaz dini, mirip dgn bagian2 Quran yg paling dini yg diketahui eksis. Juga ada ayat2 yg sangat jelas ditulis diatas ayat2 yg lebih dini dan kabur. Manuskrip ini menunjukkan sebuah teks yg berevolusi ketimbang sebuah teks yg konsisten dan tetap.

Lebih dari 15.000 halaman2nya dibersihkan dan di-foto. Puin menuliskan komentarnya dlm essay berjudul “Observations on Early Qur’an Manuscripts in San’a” gy diterbitkan kembali dlm buku What the Koran Really Says oleh Ibn Warraq.

KESIMPULAN

Hampir semua fragmen manuskrip Qur’an diperkirakan tidak berasal dari jaman lebih dini dari 100 thn setelah jamannya Muhammad (610M), yi sekitar abad 8 (750M).

Dari manuskrip2 diatas, tidak mungkin bahwa mushaf2 Usman selamat, karena manuskrip2 Samarkand, Topkapi) & Sa’na ditulis dlm abjad SETELAH jaman Usman, dlm huruf Kufi dan bukan huruf Hijazi.

Jadi kita tidak tahu apa yg terjadi dlm 150 thn antara 610M – 750M karena kami tidak memiliki buktinya. Terserah pada pembaca utk menyimpulkan apakah mushaf Quran ini memang konsisten selama sejarah eksistensinya.

 
 
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s