Tuduhan Muslim:…

Tuduhan Muslim:

Quote:
Hua ha ha ah Tetap saja Ayat Matius 26:19 Itu Palsu PALSU Nggak Usah Panajang Panjang Copas Bahasa yunani Segala Kalau Lo Bisa Mikir Yesusorang Yahudii Berbahasa IBRANIkok kitab Tertuanya Bahasa YUNANI?? itu Saja Sudah Jadi BUKTI bahwa Bible sudah campur tangan manusia Neh Bukti PAlsunya :

Tanggapan:

Sepertinya teman Muslim ini tidak sedang berdiskusi, dia hanya ingin mengecam saja. Tapi sayang sekali kecamannya tidak dibarengi dengan pengetahuan sejarah. Pendek kata teman Muslim yang sedang melontarkan tuduhan ini “buta sejarah.”

Naskah Alkitab Perjanjian Lama (PL) ditulis dalam bahasa Ibrani dan sebagian kecil Aram. Sedangkan Naskah Asli Alkitab Perjanjian Baru (PB) ditulis dalam bahasa Yunani. Naskah PB memiliki lebih dari 24,000 salinan naskah bahasa asli Yunani untuk digunakan.

Jadi, bahasa yang digunakan dalam Alkitab kami, ada tiga bahasa asli : yakni bahasa Ibrani, bahasa Aram, dan bahasa Yunani.

Alkitab ditulis dalam ketiga bahasa tersebut, dan tergantung dari waktu bagian tertentu ditulis dlm bahasa apa. Bagian-bagian yang paling kuno dari Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani, yang merupakan bahasa sehari-hari dari bangsa Israel pada zaman itu.

Lalu, berabad-abad kemudian, dipakai bahasa Aram. Perbedaan antara bahasa Ibrani dan bahasa Aram dapat digambarkan sebagai perbedaan antara bahasa Melayu Kuno dan Indonesia sekarang.

Selama pembuangan ke Babel hingga kembali ke Israel ± tahun 538 sebelum Masehi di bawah pimpinan Ezra-Nehemia, bahasa yang digunakan oleh orang Yahudi sudah bercampur dengan bahasa Aram, disebut sebagai bahasa Aram Klasik, dan akhirnya mereka benar-benar berbahasa Aram hingga di era Yesus Kristus. Sebagian kitab Perjanjian Lama yang ditulis di era pembuangan ini, ditulis dalam bahasa Aram, seperti sebagian kitab Daniel, Ezra, dan Nehemia.

Penggalian inskripsi-inskripsi di daerah Israel bertarikh 300 sebelum Masehi hingga 500 Masehi menunjukkan bahwa 70% ditulis dalam bahasa Yunani, 12% dalam bahasa Latin, dan hanya 18% ditulis dalam bahasa Aram. Tidak suatu pun yang ditulis dalam bahasa Ibrani.

Jadi sama-sama bahasa orang Israel, namun yang satu dari zaman dahulu (kuno) yang lain dari zaman kemudian (modern), khususnya zaman Yesus dan para Rasul. Jadi secara sederhana dapat dikatakan bahwa bahasa Ibrani adalah “Aram kuno,” dan bahasa Aram adalah “Ibrani modern.” Tetapi dalam periode yang lebih kemudian lagi, sudah menjelang zaman Yesus, orang menulis tidak hanya dalam bahasa Aram tetapi juga dalam bahasa Yunani. Maka dalam PL bagian terbesar ditulis dalam bahasa Ibrani, sedangkan sebagian kecil dalam bahasa Aram dan juga bahasa Yunani.

Di Yerusalem sendiri, 40% dari inskripsi Yahudi sebelum tahun 70 Masehi (keruntuhan Yerusalem) ditulis dalam bahasa Yunani, sisanya ditulis dalam bahasa Aram (bukan Ibrani).

Perjanjian Baru (PB) seluruhnya ditulis dalam bahasa Yunani, walaupun pada jaman PB didominasi oleh bahasa Ibrani Aramaik, saya ingin memberikan gambaran singkat mengenai kedudukan ketiga bahasa itu pada zaman Yesus, seperti kita sering berbahasa daerah (betawi, sunda atau jawa) tetapi dalam penulisan tetap dengan bahasa Indonesia.

Bahwa inskripsi berbahasa Yunani pun ditemukan di daerah Iraq; Hal itu tidak mengherankan karena Aleksander Agung (336 – 323 sebelum Masehi) pernah menaklukkan kerajaan Persia, oleh karena itu banyak sekali kebudayaan terutama filsafat Yunani merasuk ke dalam peradaban Timur.

Adanya perluasan jajahan dan pengembangan kebudayaan yang dilakukan oleh Aleksander Agung, bahasa Yunani berakar kuat di daerah Timur Dekat dan wilayah Laut Tengah yaitu mulai abad ke-4 sebelum Masehi.

Pelayanan Yesus ditengah multi kultural dan bahasa :

Salah satu keunikan Injil adalah pewartaan Yesus mula-mula di tengah dunia yang multi etnik dan multilingual di Galilea pada abad pertama Masehi. Dalam Yesaya 8:22 dinubuatkan daerah pelayanan Sang Mesiah: “DEREKH HAYAM EVER HAYARDEN GELIL HAGOYIM” (jalan ke laut, daerah seberang Yordan, Galilea wilayah bangsa-bangsa). Latarbelakang ini sangat mempengaruhi corak keagamaan Kristiani sejak semula. Beberapa ahli menyimpulkan, bahwa Yesus dan penduduk Galilea khususnya dan Israel pada umumnya berbicara dalam bahasa Ibrani, Aram dan sedikit Yunani.

Pertama, mengenai bahasa Ibrani dan Aram sebagai dua bahasa serumpun. Kedua bahasa ini erat bertalian, banyak kata dalam kedua bahasa ini sama. Tata bahasa dan sintaksisnya juga sama. Pada zaman Abraham (kira-kira 1900 SM) kedua bahasa itu dapat dikatakan identik, artinya belum terpecah satu sama lain. Dalam sebuah liturgi Yahudi kuno, disebutkan: “ARAMI OVED AVI VAYERED”, ‘Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara’ (Ulangan 26:5). Ini merujuk kepada Yakub, nenek moyang bangsa Israel, bahwa ia disebut orang Aram sebab disitulah letak geografis tempat tinggalnya, meskipun ia bukan dari suku itu. Dan juga karena Yakub pernah tinggal di Aram-naharaim dan anak-anaknya yang kemudian menjadi bangsa Israel.

Berabad-abad kemudian (kira-kira 1,100 – 722 sM) dari bahasa yang satu itu melahirkan dua cabang bahasa: Ibrani di kalangan orang Yahudi di Palestina dan bahasa Aram di kerajaan-kerajaan Aram di Mesopotamia: Damaskus, Zobah dan Hamat.

Bahasa Ibrani dipakai oleh Saul, Daud, Salomo dan nabi-nabi lainnya, sehingga Perjanjian Lama untuk sebagian besar ditulis dalam bahasa ini. Bahasa Ibrani (atau dikenal sebagai bahasa Ibrani klasik) bertahan sebagai bahasa resmi kerajaan Israel sampai jatuhnya Yerusalem tahun 587 sM.

Sementara itu, bahasa Aram berkembang pesat ketika orang-orang Asyiria menguasai kembali Mesopotamia (883-606 sM) dan akhirnya bahasa Aram menjadi bahasa resmi kerajaan. Keadaan ini semakin kuat di kalangan orang-orang Babel (606-539 SM) dan kelak di kalangan Persia (539-333 SM). Pada zaman ini bahasa Aram terus mendesak bahasa Ibrani sampai zaman Yesus, khususnya di wilayah Galilea, Samaria dan daerah-daerah sekitarnya. Pada zaman itu bahasa Aram tersebar luas sebagai ‘lingua franca’ di wilayah Timur, sedangkan bahasa Yunani dipakai sebagai ‘lingua franca’ di wilayah Barat. Sementara itu bahasa Ibrani membeku sebagai “bahasa suci (bahasa liturgis)” di Bait Allah dan sinagoge-sinagoge Yahudi.

Kendati secara praktis bahasa Aram berbeda dengan bahasa Ibrani klasik, namun kedua bahasa ini adalah satu rumpun dan pada zaman Yesus bahasa Aram disebut juga sebagai bahasa Ibrani. Hal ini tampak pada catatan-catatan Perjanjian Baru, yang menyebut kata-kata Aram seperti: Gabbatha (Yohanes 19:13) sebagai bahasa Ibrani juga. Begitu pula, sejarahwan Yahudi Flavius Yosephus memberitahukan kepada kita bahwa ia menulis bukunya The Jewish War ditulis dalam ‘bahasa Ibrani’, meskipun kenyataannya ia menulis “dalam dialek Ibrani”, yaitu bahasa Aram. Karena pada zaman itu bahasa Aram, kendatipun dibedakan dari bahasa Ibrani sebagai “bahasa kekusasteraan rabbinis” (yang biasa disebut juga bahasa Ibrani Mishnah), tetapi bahasa Aram hanya dianggap sebagai dialek bahasa Ibrani tutur Galilea. Karena itu, Petrus dikenali karena dialek bahasanya (Matius 26:73).

Bahasa Ibrani, Aram maupun Yunani dijumpai bersama-sama di wilayah Israel pada abad pertama Masehi. Penemuan inskripsi-inskripsi kuno (graffiti, monogram dan simbol) di bekas sinagoge Kapernaum yang ditulis dalam bahasa Ibrani Aram, Paleo-estrangelo Syriac, Yunani, bahkan Latin membuktikan dunia multi-etnik dan multi-lingual Yesus Kristus. Lebih-lebih lagi, jelas sekali dalam Injil Yohanes 19:19 dicatat bahwa inksripsi di atas kayu salib Yesus dicatat dalam bahasa Ibrani, Yunani dan Latin. Untuk pembaca bisa membayangkan, selain teks asli Yunani, di bawah ini dapat kita ikuti rekonstruksi bunyi inskripsi itu dalam Ibrani (baik Ibrani Mishnah maupun Ibrani tutur) dan juga dalam bahasa Latin:

* iesous ho nasoraios ho basileos ton ioudaion (bahasa Yunani).

* Yeshua ha natseri melak ha-yehudim (bahasa Ibrani Mishnah).

* yeshua natsraya malka da yhudeim (bahasa Aram/Syriac).

* iesus nazarenus rex yudaerum (bahasa Latin).

Kalau begitu, bagaimana mengucapkan nama Sang Juru Selamat yang sah? Yeshua, Iesous atau Iesus/Yesus? Jawabnya, semua sah-sah saja, karena semua bahasa itu hidup pada zaman-Nya. Jadi, dalam bahasa Aram inilah Yesus berbicara sehari-hari dan mengajar murid-muridnya, begitu juga ketika dikatakan bahwa Yesus bebicara dengan Paulus dalam bahasa Ibrani (Kisah 26:14), kemungkinan besar dalam bahasa Ibrani tutur Galilea atau Aram. Tetapi ketika membaca Taurat dan Kitab Nabi-nabi di sinagoge, pasti Yesus mendaraskannya dalam bahasa Ibrani (Lukas 4:18-20). Tetapi Yesus juga berbicara dalam bahasa Yunani, misalnya dalam percakapannya dengan seorang perwira di Kapernaum (Lukas 7:1-10).

Tidak hanya ke-3 bahasa itu saja yang berkembang pada masa pelayanan Yesus. Adanya penjajahan Romawi pula mengakibatkan adanya empat bahasa di era Yesus Kristus:

[1] bahasa Ibrani merupakan bahasa liturgis, digunakan untuk membaca Torah, dan sebagainya, tidak digunakan sebagai bahasa sehari-hari, dikenal sebagai bahasa Ibrani Misyna karena adanya campur tangan para ahli Taurat menyusun Talmud;

[2] bahasa Aram, digunakan oleh orang Yahudi lokal sebagai bahasa sehari-hari;

[3] bahasa Yunani, digunakan oleh orang Yahudi pendatang sebagai bahasa pergaulan di Timur Dekat; pada umumnya Yahudi pendatang berbahasa Yunani ini mengunjungi Yerusalem dalam rangka transaksi bisnis dan ziarah ke Bait Allah; dan

[4] bahasa Latin, bahasa kaum penjajah yang digunakan oleh orang-orang Romawi yang menjajah Israel sejak tahun 63 sebelum Masehi.

Sesudah keruntuhan Yerusalem tahun 70 Masehi, bahasa Aram yang mereka gunakan pun berangsur-angsur punah, bercampur dengan bahasa Jerman, Polandia, dan Rusia sehingga timbul dialek-dialek Yahudi yang baru seperti Yidisy, Ladino, dan sebagainya.

Sekitar awal 1800-an kalangan Yahudi yang dipelopori oleh seorang rabi mulai mengusahakan agar bahasa Ibrani kuno yang ditulis di dalam Tanakh (Taurat, Zabur, dan lain-lain) digunakan sebagai bahasa percakapan. Dan mulai saat itulah bahasa Ibrani baru digunakan kembali oleh orang Israel setelah tidak digunakan lebih dari 1000 tahun.

Artikel Terkait :

PERJANJIAN BARU, BAHASA, di perjanjian-baru-bahasa-vt155.html#p325

 

Tuduhan:
Quote:
Markus 16:9-20

[Markus 16:15] Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.

[16:16] Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.

Lagi-lagi ayat yang satu ini, yaitu Markus 16:15-16 adalah AYAT PALSU.

Jadi menurut mereka Yesus memerintahkan untuk menyebarkan Injil untuk seluruh makhluk. Tapi setelah diselidiki, ternyata ayat diatas adalah ayat Palsu. Kitab Markus 16 ternyata hanya sampai ayat 8:

[Markus 16:8] Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut.

Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-muridNya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu.

Ayat Markus 16:8 diatas inilah yang sebetulnya merupakan ayat penutup dari Markus 16. Sedangkan ayat Markus 16:9-20 adalah palsu dan baru disusupkan oleh gereja kemudian. Berikut ayat-ayat PALSU tersebut:

[Markus 16:9] Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.
[16:10] Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis.
[16:11] Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya.
[16:12] Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota.
[16:13] Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada merekapun teman-teman itu tidak percaya.
[16:14] Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.
[16:15] Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.
[16:16] Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
[16:17] Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,
[16:18] mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”
[16:19] Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.
[16:20] Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

– Alkitab kitab Markus pasal 16 yang diterbitkan Lembaga Biblika Indonesia yang dicetak oleh percetakan Arnoldus Ende 1986/1987, Pada catatan kakinya berbunyi:

“Dengan singkat. Bagian ayat ini hanya terdapat dalam beberapa naskah. Nampaknya baru dalam abad ke-2 masuk ditambahkan dalam injil Markus. Bagian akhir injil Markus ayat 9-20 bercerita mengenai penampakan Yesus. Ini memang termasuk kitab suci, TETAPI AGAKNYA TIDAK TERMASUK INJIL MARKUS YANG ASLI”.

– Pada The Christian Counselor’s New Testament, Markus 16 berakhir pada pasal 16 ayat 8. Kemana ayat 9-20? Pada akhir kalimat terdapat catatan kaki:

“These verse are omitted by better MSS. An alternative shoter ending is found in same”.

“Ayat-ayat ini dihapus oleh terjemahan MSS yang terbaik. Penutup lebih pendek seperti ini (Markus 16 berakhir pada ayat 8) bisa ditemukan pada beberapa versi lainnya.

– Pada The Holy Bible New International Version pada catatan kaki ayat 8 berbunyi :

“The two most reliable early manuscripts do not have mark 16:9-20″.

“DUA MANUSKRIP PALING TUA TIDAK MEMILIKI MARKUS 16:9-20″.

– “Serious doubts exists as to whether these verses belong to the Gospel of Mark. They are absent from important early manuscripts and display certain peculiarities of vocabulary, style and theological content that are unlike the rest of Mark. HIS GOSPEL PROBABLY ENDED AT 16:8, OR ITS ORIGINAL ENDING HAS BEEN LOST. (From the NIV Bible Foot Notes, page 1528)”

– Kata Herman Bakel dan Dr. A. Powel Davies, “Injil Matius 28:19 (28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,) dan Injil Markus 16:9-19 ADALAH SISIPAN. Bacalah bukunya.” (Hashem, “Jawaban Lengkap Kepada Pendeta Dr. J. Verkuyl,” terbitan JAPI, Surabaya, tahun 1969, halaman 94).

Tanggapan:

Seperti dijelaskan di atas, Naskah PB lebih dari 24,000 salinan naskah bahasa asli Yunani untuk digunakan. Kalau ada 2 naskah tidak menulis tentang ayat2 yang dimaksud, bukan berarti ayat tersebut palsu. Absen-nya ayat2 tersebut bisa saja terjadi karena ada bagian2 yang hilang/ rusak.

Diakui bahwa dalam naskah misalnya “Codex Sinaiticus” tidak memuat Markus 16:9-20, tetapi Textus Receptus dan manuskrip-manuskrip lain memuat ayat-ayat itu. Tidak dimuatnya dalam suatu salinan naskah disitu bukan berarti bahwa ayat itu tidak ditulis oleh Markus.

Akan sulit dimengerti jika Markus mengakhiri Injilnya justru pada Markus 16:8, dan ada kesejajaran pada Markus 16 ayat 9-20 dijumpai dalam injil-injil lainnya, oleh karena itu ayat 9-20 tetap merupakan ayat-ayat kanonik, bahkan naskah Yunani Westcott & Hort yang amat kritis pun memuat ayat-ayat ini.

* Markus 16:9-20 LAI Terjemahan Baru :
16:9 Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.
16:10 Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis.
16:11 Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya.
16:12 Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota.
16:13 Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya.
16:14 Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.
16:15 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.
16:16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
16:17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,
16:18 mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”
16:19 Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.
16:20 Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

* Markus 16:9-20 Naskah Wescott & Hort :
16:9 αναστας δε πρωι πρωτη σαββατου εφανη πρωτον μαρια τη μαγδαληνη παρ ης εκβεβληκει επτα δαιμονια
16:10 εκεινη πορευθεισα απηγγειλεν τοις μετ αυτου γενομενοις πενθουσιν και κλαιουσιν
16:11 κακεινοι ακουσαντες οτι ζη και εθεαθη υπ αυτης ηπιστησαν
16:12 μετα δε ταυτα δυσιν εξ αυτων περιπατουσιν εφανερωθη εν ετερα μορφη πορευομενοις εις αγρον
16:13 κακεινοι απελθοντες απηγγειλαν τοις λοιποις ουδε εκεινοις επιστευσαν
16:14 υστερον δε ανακειμενοις αυτοις τοις ενδεκα εφανερωθη και ωνειδισεν την απιστιαν αυτων και σκληροκαρδιαν οτι τοις θεασαμενοις αυτον εγηγερμενον εκ νεκρων ουκ επιστευσαν
16:15 και ειπεν αυτοις πορευθεντες εις τον κοσμον απαντα κηρυξατε το ευαγγελιον παση τη κτισει
16:16 ο πιστευσας και βαπτισθεις σωθησεται ο δε απιστησας κατακριθησεται
16:17 σημεια δε τοις πιστευσασιν ακολουθησει ταυτα εν τω ονοματι μου δαιμονια εκβαλουσιν γλωσσαις λαλησουσιν
16:18 και εν ταις χερσιν οφεις αρουσιν καν θανασιμον τι πιωσιν ου μη αυτους βλαψη επι αρρωστους χειρας επιθησουσιν και καλως εξουσιν
16:19 ο μεν ουν κυριος ιησους μετα το λαλησαι αυτοις ανελημφθη εις τον ουρανον και εκαθισεν εκ δεξιων του θεου
16:20 εκεινοι δε εξελθοντες εκηρυξαν πανταχου του κυριου συνεργουντος και τον λογον βεβαιουντος δια των επακολουθουντων σημειων παντα δε τα παρηγγελμενα τοις περι τον πετρον συντομως εξηγγειλαν μετα δε ταυτα και αυτος ο ιησους απο ανατολης και αχρι δυσεως εξαπεστειλεν δι αυτων το ιερον και αφθαρτον κηρυγμα της αιωνιου σωτηριας

* Markus 16:9-20 Naskah Textus Receptus :
16:9 αναστας δε πρωι πρωτη σαββατου εφανη πρωτον μαρια τη μαγδαληνη αφ ης εκβεβληκει επτα δαιμονια
16:10 εκεινη πορευθεισα απηγγειλεν τοις μετ αυτου γενομενοις πενθουσιν και κλαιουσιν
16:11 κακεινοι ακουσαντες οτι ζη και εθεαθη υπ αυτης ηπιστησαν
16:12 μετα δε ταυτα δυσιν εξ αυτων περιπατουσιν εφανερωθη εν ετερα μορφη πορευομενοις εις αγρον
16:13 κακεινοι απελθοντες απηγγειλαν τοις λοιποις ουδε εκεινοις επιστευσαν
16:14 υστερον ανακειμενοις αυτοις τοις ενδεκα εφανερωθη και ωνειδισεν την απιστιαν αυτων και σκληροκαρδιαν οτι τοις θεασαμενοις αυτον εγηγερμενον ουκ επιστευσαν
16:15 και ειπεν αυτοις πορευθεντες εις τον κοσμον απαντα κηρυξατε το ευαγγελιον παση τη κτισει
16:16 ο πιστευσας και βαπτισθεις σωθησεται ο δε απιστησας κατακριθησεται
16:17 σημεια δε τοις πιστευσασιν ταυτα παρακολουθησει εν τω ονοματι μου δαιμονια εκβαλουσιν γλωσσαις λαλησουσιν καιναις
16:18 οφεις αρουσιν καν θανασιμον τι πιωσιν ου μη αυτους βλαψει επι αρρωστους χειρας επιθησουσιν και καλως εξουσιν
16:19 ο μεν ουν κυριος μετα το λαλησαι αυτοις ανεληφθη εις τον ουρανον και εκαθισεν εκ δεξιων του θεου
16:20 εκεινοι δε εξελθοντες εκηρυξαν πανταχου του κυριου συνεργουντος και τον λογον βεβαιουντος δια των επακολουθουντων σημειων αμην

* Markus 16:9-20 Greek NT Scrivener:
9 αναστας δε πρωι πρωτη σαββατου εφανη πρωτον μαρια τη μαγδαληνη αφ ης εκβεβληκει επτα δαιμονια
10 εκεινη πορευθεισα απηγγειλεν τοις μετ αυτου γενομενοις πενθουσιν και κλαιουσιν
11 κακεινοι ακουσαντες οτι ζη και εθεαθη υπ αυτης ηπιστησαν
12 μετα δε ταυτα δυσιν εξ αυτων περιπατουσιν εφανερωθη εν ετερα μορφη πορευομενοις εις αγρον
13 κακεινοι απελθοντες απηγγειλαν τοις λοιποις ουδε εκεινοις επιστευσαν
14 υστερον ανακειμενοις αυτοις τοις ενδεκα εφανερωθη και ωνειδισεν την απιστιαν αυτων και σκληροκαρδιαν οτι τοις θεασαμενοις αυτον εγηγερμενον ουκ επιστευσαν
15 και ειπεν αυτοις πορευθεντες εις τον κοσμον απαντα κηρυξατε το ευαγγελιον παση τη κτισει
16 ο πιστευσας και βαπτισθεις σωθησεται ο δε απιστησας κατακριθησεται
17 σημεια δε τοις πιστευσασιν ταυτα παρακολουθησει εν τω ονοματι μου δαιμονια εκβαλουσιν γλωσσαις λαλησουσιν καιναις
18 οφεις αρουσιν καν θανασιμον τι πιωσιν ου μη αυτους βλαψει επι αρρωστους χειρας επιθησουσιν και καλως εξουσιν
19 ο μεν ουν κυριος μετα το λαλησαι αυτοις ανεληφθη εις τον ουρανον και εκαθισεν εκ δεξιων του θεου
20 εκεινοι δε εξελθοντες εκηρυξαν πανταχου του κυριου συνεργουντος και τον λογον βεβαιουντος δια των επακολουθουντων σημειων αμην

 
Tuduhan:
Quote:
Jadi perintah Yesus untuk memberitakan injil kepada seluruh makluk adalah ayat Palsu yang sengaja disisipkan oleh tangan-tangan jahil. Jadi dengan ini yang benar adalah Yesus hanya untuk bani Israel saja seperti yang Yesus katakan dengan tegas di Matius 10:5-6:

[Matius 10:5] Kedua belasmurid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka, “JANGANLAH KAMU MENYIMPANG KE JALAN BANGSA LAIN atau masuk ke dalam kota orang Samaria, [10:6] melainkan PERGILAH KEPADA DOMBA-DOMBA YANG HILANG DARI UMAT ISRAEL.

Dan Matius 15:24-26:

[Matius 15:24] Jawab Yesus: “AKU DIUTUS HANYA KEPADA DOMBA-DOMBA YANG HILANG DARI UMAT ISRAEL.”

[15:25] Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.”
[15:26] Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada ANJING.”

Tanggapan:

Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa ada urutan prioritas pengabaran Injil di era Yesus Kristus dan para rasul adalah pertama-tama orang Yahudi, baru kemudian kepada bangsa-bangsa lain di seluruh dunia. Yesus sendiri berpesan sebelum Ia terangkat ke Surga :

* Kisah Para Rasul 1:8
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Silahkan teman Muslim mencari dalil lagi untuk mengecam Alkitab kami kalau ayat di atas juga palsu, toh tuduhan tersebut bukanlah tuduhan baru, dan sudah lama sekali beredar :)

Artikel terkait :
Menjamu Tuduhan dan Salah Paham : ALKITAB ITU PALSU, KORUP, REKAYASA MANUSIA, ALKITAB ASLI SUDAH LAMA HILANG, di alkitab-itu-palsu-korup-rekayasa-yg-asli-sdh-hilang-vt580.html

Tuduhan:

Quote:
Lo Bahas Putar Putar Jawab Aja Singakat Mana Ayat Yang Menuliskan Yesus Menamakan Ajarannya KRISTEN…itu aja Nggak Usah putar Putar…mana ayatnya…

Tanggapan:

Yesus tidak menciptakan kata “Kristen” maupun “Agama Kristen,” istilah ini belakangan muncul, dan kata ini bukan ciptaan Paulus pula.
Nama “Kristen” diberikan oleh kelompok lain diluar murid2 Kristus, kemudian nama ini melekat sebagai sebutan bagi para pengikut Kristus.

Kristen/Kekristenan bukan sekedar agama, kata “agama” ini hanyalah terjadi sebagai stigma saja yang membedakan Kristen dengan kepercayaan2 lain. Kristen/Kekristenan adalah relasi (hubungan) dan relasi adalah segalanya. Tidak banyak teman-teman dari non-kristiani yang paham bahwa Kristianitas (Christianity) menempatkan RELASI dan bukan ATURAN-ATURAN AGAMA sebagaimana bagian dari ibadah yang paling utama.

Kristianitas meyakini hubungan pribadi melebihi filosofi dan aktifitas keagamaan. Relasi kita dengan Allah yang menciptakan kita adalah segala-galanya. Yesus berkata bahwa “hukum” yang paling utama adalah mengasihi Allah, lalu diikuti mengasihi sesama kita. Tiada lain, Hukumnya adalah relasi!
Dan ibadahnya bukanlah ritus-ritus aturan, melainkan relasi kasih diantara makhluk dan Khaliknya. Itulah system dan “aturan”nya yang terutama.

Bukankah aspek kehidupan kita yang paling pokok adalah relasi kita dengan orang-tua kita, suami, istri, anak-anak, teman-teman, calon pasangan kita, dst.?

Tanpa relasi, kita hanya menemukan kehidupan dan dunia yang hampa. Anggur pesta boleh berlimpah, music boleh menggelegar, bahkan narkoba dan sex bisa berpora-ria. Namun, tanpa relasi, Anda akan ditinggalkan dalam ketandusan dan kehampaan jiwa. Bahkan relasi sesama manusia-pun tidak akan memadai tanpa disertai dengan relasi dengan Pencipta dirinya, Mengapa begitu?

Ya, Alkitab menerangkan kepada kita bahwa akar dari kehampaan adalah karena manusia memalingkan mukanya dari Allah, yang merupakan SUMBER HIDUP YANG SEJATI.

Didalam Allah ada hidup :

* Amos 5:4b
………Carilah Aku, maka kamu akan hidup!

Mazmur Daud berkata, Allah adalah sumber hayat (hidup) :

* Mazmur 36:10
Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.

Injil berkata didalam Tuhan Yesus Kristus ada hidup:

* Yohanes 1:4
Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

Yesus Kristus berkata :

* Yohanes 6:35
Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

* Yohanes 11:25
Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,

Tuhan Yesus mengumpamakan diriNya :

* Yohanes 15:5-6
15:5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
15:6 Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.

Kehidupan (yang sejati dan kekal) hanya berfungsi ketika kita ber-relasi intim dengan sumber-hidup, yaitu Yesus! yang menyatu dalam Bapa dan RohNya (Yohanes 8:42; 10:30; 15:26; 14:10, dll). Sebaliknya roh-jahat amat takut bila terjadinya pengenalan Allah oleh manusia, dan relasi antara manusia dengan penciptanya. Sebab itu akan berarti pertobatan manusia kepada Khaliknya yang berakibatkan kebangkrutan kerajaan-iblis. Itulah sebabnya roh-jahat memakai tangan-tangan manusia untuk menolak keseluruhan konsep-relasi ini. Ia menolah “Bapa” dan “Anak” dan “Roh Kudus”. Keberadaan Anak Allah dianggap sebagai pencemaran kekudusan Allah yang tak mungkin beranak karena Ia tidak munkin ber-istri (padahal sama tidak ada orang Kristiani yang mengimani Allah yang beristri dan beranak). Kemudian keilahian Roh Kudus digeser menjadi hakekatnya seorang makhluk malaikat saja. Dan hubungan langsung dari anak manusia dengan Allahnya dimustahilkan, karena Allah bukan Bapanya siapa-siapa melainkan Dia-lah Dia yang tak terjangkau oleh makhlukNya. Bahkan terhadap Yesuspun didongengkan dalam berbagai versi tentang putusnya hubungan Yesus dengan murid-muridNya, mulai dari menghilangkan Yesus yang tersalib, atau jenazahnya yang dicuri, atau akhirnya pengutusan kenabianNya dialihkan ke negeri Timur entah kemana, dan dialihkan oleh Allah yang mana (lihat Artikel Tanggapan atas kritik terhadap penyaliban Yesus (2). Padalah dimana-mana Yesus selalu menjanjikan penyertaanNya kepada para pengikutNya sampai pada akhir zaman!

* Matius 28:20
dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

* Matius 18:20
Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

roh-jahat tidak ingin adanya hubungan-kasih dan relasi rohaniah ini. Namun sejak kejatuhan Adam, Allah justru merancang pemulihan hubungan istimewa ini dengan meng-inkarnasikan FirmanNya kedalam dunia menjadi manusia yang digenapi dalam (Yohanes1:1,14). InkarnasiNya ini dimaksudkan agar bisa be-relasi dan berfirman langsung dengan mansuia. Sejak itu, tidak diperlukan lagi peran antara berupa nabi-nabi, atau agen penyampai-wahyu yang lain :

* Ibrani 1:1-3
1:1 Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi,
1:2 maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.
1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,

Dengan membaca secara seksama ayat-ayat diatas, kita bisa mengerti bahwa Yesuslah yang menjalankan misi dan janji keselamatan Allah, langsung kepada murid-muridNya, dan kini kepada setiap manusia.

Ia berulang-ulang menyerukan relasi langsung : “Ikutlah Aku” (Reff. Matius 4:19 ; 8:22; 9:9; 19:21; Markus 1:17; 2:14; 10:21; Lukas 5:27; 9:59; 18:22; Yohanes 1:43; 21:19; 21:22)

Ia tidak berkata : “Ikutlah Agama Musa” atau “Ikutlah Agama Abraham”, atau bahkan “Ikutlah Agama-Ku”. Tuhan Yesus tidak memanggil orang-orang untuk mengikuti sebuah agama, atau sekumpulan kaidah, ibadah atau upacarawi keagamaan yang jelas bukan merupakan sumber dan pusat penyelamatan.

Ia mengundang Anda dan saya untuk datang langsung kepada DiriNya, berelasi dengan PribadiNya yang merupakan sumber-daya dan pelaku penyelamatan secara kepastian!.

* Kepada masing-masing Matius dan Filipus, Yesus berkata : “Ikutlah Aku” (Matius 9:9)

* Kepada Petrus dan Andreas, Ia berkata : “Mari ikutlah Aku” (Matius 4:19)

* Kepada salah satu pengikutNya, Ia berkata : “Ikutlah Aku dan biarlah orang mati menguburkan orang-orang mati mereka” (Matius 8:22)

* Kepada seorang muda yang kaya, Ia berkata :”Datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Matius 19:21)

* Kepada Petrus menjelang kenaikanNya ke Surga, Yesus berkata “Tetapi engkau, ikutlah Aku” (Yohanes 21:22).

“Ikutlah Aku” versus “Ikutlah agamaku”

Mengikut Yesus sama sekali bukanlah ikut melangkahkan kaki secara lahiriah. Ketika Yesus mengingatkan Petrus untuk mengikutiNya menjelang kepergianNya ke Surga, itu bukan dimaksudkan agar Petrus mengikuti Dia sekalian ke Surga. Orang-orang yang dipanggil untuk ikut Yesus dimaksudkan agar menyerahkan hidupnya bagi DIRI YESUS yang merupakan pusat keselamatan yang sejati, yaitu ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup’ (Yohanes 14:6). Keselamatan dan berkat-berkat Abraham adalah tertanam dalam diriNya, bukan dalam filosofi tentang diriNya. Karena itu ada perbedaan besar antara “Ikutlah Aku” (baca: Ikutlah Yesus, disingkat IA) dan “ikutlah agamaku” (baca: ikut sebuah agama, disingkat IAK). Di dunia ini kita berhadapan dengan 2 mazhab pengikut seperti itu, satu dan lainnya mencari keselamatan dengan cara yang sangat berbeda secara mendasar. Beberapa kesenjangan yang pokok kita ringkaskan disini :

1. Kesenjangan kedekatan dengan sumber Firman

Konsep (IA) memfokuskan Yesus sebagai Pribadi Firman (“Pemilik-firman”) yang berfirman dan berelasi langsung dengan pengikut firmanNya, yang sekaligus menjadi saksi mata atas firmanNya.
Sebaliknya konsep (IAK) memfokuskan wahyu dari “Pemilik Firman” yang dipercaya telah didikte-kan kepada manusia, lewat perantara makhluk tertentu (baca: malaikat) untuk diteruskan kedalam ingatan manusia tertentu (baca: nabi) sebelum diucapkan kepada manusia. Disini jelas bahwa relasi antara Pemilik-firman dan pengikutNya adalahs edemikian jauhnya, sehingga praktis tak dapat di-substansikan. Bahkan pengikut firmanNya sendiri tidak menjadi saksi mata atas firman Allah yang diwahyukan lewat 2 tahapan makhluk perantara.

Akibatnya, para pengikut (IA), kini dan sampai kapanpun dapat selalu berkomunikasi langsung dengan “Pemilik-firman”, karena peranNya sebagai Imanuel selalu aktif dan langsung.
Sebaliknya menajdi pertanyaan terbuka, bagaimanakah penganut (IAK) kini dapat berdoa, bersembahyang, atau berkomunikasi langsung dengan “Pemilik-firman”, mengingat dulu-dulu-pun Firman dan komunikasi Allah-nya tidak pernah diwahyukan secara langsung, kenapa Allah dulu-dulunya tidak berwahyu langsung pula, melainkan lewat 2 tahapan makhluk perantara?

2. Kesenjangan akan jaminan keselamatan

Konsep “Ikutlah Aku” mengakui Yesus Kristus sebagai pemilik dari pengikutNya. Mereka adalah doma-domba milikNya dan Dia adalah Gembala yang baik, Penyelamat (penebus) dan yang empunya Surga :

* Yohanes 14:3
Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.

Karena Yesus Kristus adalah sosok gembala, penyelamat dan pemilik Surga, maka para pengikutNya tidak akan tersesat tidak sampai ke tujuannya. Mereka ikut Yesus, dan itu sudah langsung masuk dalam gerbong kereta yang jalur-keretanya sudah benar sampai ke tujuannya, yaitu lurus ke Surga, dan tidak kebingungan dalam persimpangan memohon untuk ditunjuki lagi mana jalan yang lurus!.

Keselamatan adalah anugerah langsung dan pasti dari Sang Gembala kepada domba-domba yang berelasi dengan diriNya. Maka keselamatan-kekal bukanlah hasil-usaha manusia, karena manusia yang tidak kekal (yaitu domba yang lemah, rapuh dan rawan, yang amat tak berdaya dihadapan Tuhan) sungguh tak mampu mengusahakan sebuah keselamatan kekal bagi dirinya. Menyelamatkan diri kita sendiri saja kita tidak sanggup; maka bagaimana dapat kita menyelamatkan diri kita dari neraka, suatu kematian kekal akibat dosa-dosa kita?

Alkitab berkata, bahwa keselamatan itu anugerah Allah, bukan sebuah usaha manusia :

* Efesus 2:8-9
2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
2:9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Namun salah paham Anda jikalau menyangka bahwa dengan anugerah yang cuma-cuma ini lalu anak-anak Tuhan akan ber-ongkang-onkang kaki tidak usah berbuat apa-apa lagi, karena merasa sudah selamat, itu bukan namanya anak-Tuhan, melainkan anak durhaka, yang tidak tahu berterima-kasih!.

Membalas budi, bukan membeli budi

Justu karena kebaikan Tuhan itulah, kini kita rindu melakukan perintah dan kehendakNya. Perbuatan-perbuatan baik kita lakukan sebagai ungkapan syukur dan kasih kita atas keselamatan yang telah Dia berikan dengan Cuma-Cuma kepada kita, bukan untuk “membeli” keselamatan, lewat setoran pahala. Dengan kata sehari-hari, kita “membalas budi” bukan membeli budi!

Sebaliknya konsep (IAK) tidak memberikan jaminan-pasti keselamatan. Para pengikut sebuah agama mengandalkan usaha dan perjuangan mereka untuk memahami dan mentaati pernik hukum, rukun, ibadah dan aturan upacarawi keagamaan yang ditetapkan oleh Allah, agar dapat mengusahakan amal-pahala yang mudah-mudahan cukup melayakkan keselamatannya kelak. Disini Allah bersuara lewat nabiNya, agar manusia ber-action dalam tindak-penyelamatan. Sebaliknya Yesus Kristus telah bersuara dan ber-action! Yesus sendiri turun tangan turun ke dunia untuk menyelamatkan anak-anakNya yang tak berdaya keluar dari pembelengguan dosa yang mematikan. Dia yang mematahkan kematian, dan bangkit dan memberi hidup bagi mereka yang menjawab undanganNya yang unik : “Ikutlah Aku”!.

3. Kesenjangan peluang keselamatan karena beda ilmu agamanya

Konsep (IAK) mutlak menuntut pemahaman ilmu agama bagi setiap pengikut yang benar, yaitu penguasaan pasal-pasal hukum, akidah, ritual ibadah, aturan-aturan upacarawi keagamaan, jenis pahala dan bobotnya dll. agar dapat mengoperasikannya secara benar dan maksimal apa-apa yang diharuskan dan yang seyogyanya dalam aturan agamanya. Juga apa-apa yang harus diharamkan, dan apa yang masih boleh ditoleransikan. Dengan demikian, tentu banyak aturan-aturan yang masih “tersembunyi” bagi para pengikutnya, baik yang tersurat, yang tersirat, perbedaan tafsir dan mazhab, dan bagaimanapun memang ada saja yang tidak mampu tahu semuanya!

Secara natural tuntutan demikian akan membagi para pengikut menjadi pihak yang lebih ber-ilmu dan pihak yang kurang berilmu dalam pemahaman agamawi yang menghasilkan pahala, yang pada gilirannya dapat menciptakan peluang keselamatan yang berbeda diantara keduanya. Khususnya bagi orang yang miskin ilmu-agama karena termasuk yang buta-huruf, kurang akal, cacat fisik tertentu, atau setidaknya bagi pengikut pemula atau petobat kasep (sesaat menjelang kematiannya).

Sebaliknya konsep (IA) berpusat pada relasi kasih. “Ikutlah Aku” adalah seruan kasih Yesus yang amat sederhana dan mendasar untuk menyelamatkan siapa saja yang merespon undanganNya untuk be-relasi. “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat”, demikian panggilan kasih Yesus kepada manusia (Matius 11:28 ). Panggilan keselamatan yang tidak ada urusannya dengan apakah dia si buta-tuli-bisu, ataukah dia “ahli Taurat”. Tak peduli ia laki-laki atau perempuan, kriminal atau pemungut cukai, tahu cara dan ritual beribadah atau tidak. Ikut Yesus tidak memerlukan ilmu, melainkan Iman!

Untuk itu, marilah kita renungkan sejenak kisah seorang criminal yang tersalib disamping Yesus:

* Lukas 23:33-43
23:33 Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.
23:34 Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.
23:35 Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.”
23:36 Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya
23:37 dan berkata: “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!”
23:38 Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: “Inilah raja orang Yahudi”.
23:39 Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”
23:40 Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?
23:41 Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”
23:42 Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”
23:43 Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Pada detik-detik terakhir, si penjahat ini meminta Yesus menerima dia sebagai pengikutNya “Yesus, ingatlah akan aku”. Maka Yesus serentak menganugerahkan penyelamatan penuh baginya : “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku didalam Firdaus” (Lukas 23:43). Disini tampak betapa Sang Firman seolah-olah kembali menghunjukkan Kalimat-kuasaNya : “Jadilah!”. Sama seperti ketika Yesus menyembuhkan orang-orang sakit dalam sekejab, begitu pula Dia memulihkan keberdosaan si penjahat serta menganugerahkan keselamatan yang pasti, penuh dan seketika!. Tidak ada istilah “moga-moga”. Tidak juga dengan masa percobaan! Atau ditimbang-timbang besaran “pahalanya”.

Sebaliknya, pada konsep “ikutlah agamaku” (IAK), Anda selalu akan bertanya : Apakah ada kemungkinan “keselamatan instant” (yang dapat dipertanggung-jawabkan) pada saat-saat yang teramat kritis ketika seseorang dieksekusi seperti pada contoh si-penjahat diatas?.
Apa yang harus dilakukan oleh si penjahat tersalib itu, yang “kasep tapi belum kasep”, agar sedikit-sedikitnya dia mendapat kesempatan dan kemungkinan untuk selamat?

mendatangkan pertanyaan pada konsep (IAK) apakah “keselamatan-instant” seperti contih si penjahat diatas dimungkinkan? Apa yang harus dilakukan oleh si penjahat tersalib itu agar dia dapat selamat?

Relasi yang tak memerlukan ilmu-agama ini juga ditampakkan ketika Yesus terlihat memarahi murid-muridNya yang mencegah anak-anak kecil untuk menghampiri dan menjamahNya :

* Markus 10:14-16
10:14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.
10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.”
10:16 Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.

Anak-anak kecil tidak mempunyai ilmu, atau mungkin belum cukup ilmu, tetapi mereka mempunyai hati. Mereka belum mandiri “miskin”, tak bisa berusaha, tak berdaya, tetapi tergantung sepenuhnya pada Bapak (dependent). Anak-anak kecil adalah kaum yang rendah hati, sederhana, polos, pemaaf, membawa damai, dan hati yang terbuka. Tapi lebih dari semua, mereka percaya total, beriman penuh kepada bapaknya. Mereka adalah pengikut yang paling banyak bagi seruan Sang Bapa “Ikutlah Aku!”. Mental dan Alam jiwa demikianlah yang dinyatakan Yesus sebagai Yang Empunya Surga. Mereka tidak mengusahakan keselamatan, namun mereka diselamatkan dan mendapatkan berkatNya! Dan dalam kepolosan kanak-kanaknya mereka bersyukur, melompat-lompat, dan bersorak-sorai memuji Sang Bapa….. Betapa indahnya!.

“Bapa” adalah total relasi

Di keseluruhan Injil, Tuhan Yesus mengajarkan murid-muridNya untuk memanggil Allah sebagai BAPA dan tidak ada nama panggilan yang lain. Dalam doa kepada Allah, Yesus juga meminta mereka memanggil “Bapa kami” (Matius 6:9-13). Dalam bahasa Aram, Bapa disebut ABBA, suatu sebutan yang amat pribadi, intim, dan penuh dengan kasih dan pengampunan :

* Roma 8:15
Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”

* Galatia 4:6
Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!”

bandingkan dengan Markus 14:36

Itulah panggilan/sebutan yang menunjukkan relasi-pribadi dan langsung yang luar biasa dekatnya antara Allah Sang Pencipta dengan manusia ciptaanNya, suatu hal yang asing ada dalam kepercayaan/agama lainnya. Orang-orang lain tidak dapat mengakui Tuhan sebagai Bapanya, karena manusia hanya sebagai hambanya (budak) dari Tu(h)an yang Maha Besar, yaitu Allah.

Namun dalam Injil, terdapat sebutan BAPA sebanyak 186 kali (!) yang ditujukan kepada Allah. Apakah istilah ini dipalsukan sehingga tetap diingkari? Tuduhan itu sangat naïf sekali. Fakta ini sendiri telah menunjukkan betapa pentingnya sosok “Bapa” sebagai total relasi bagi manusia. Sebab dengan sebutan ini kita sekaligus ditempatkan sebagai anak-anak Allah yang dikasihinya, dan bukan budakNya yang tidak berhak atas belas kasihanNya dan warisan Kerajaan Surga, seorang budak hanya menunaikan tugas dan beban.

Ketika Yesus disalib, Ia juga memanggil nama Bapa :

* Lukas 23:34, 46
23:34 Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.
23:46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.

Panggilan “Bapa” dalam peristiwa penyaliban itu sekaligus membuktikan bahwa Yesus sendirilah yang tersalib (dan bukan orang lain) yang sedang memanggil BapaNya. Panggilan yang begitu intim dan mulia itu dapatkah diserukan oleh “sosok imitasi” (entah siapa), yang ‘katanya’ dimirip-mirpkan Allah diatas kayu salib demi mengelabuhi semua orang-orang Yahudi?!

Apakah Allah yang Mahabenar dan Kuasa itu kehabisan cara sehingga perlu mengelabuhi umatNya?! Termasuk murid-murid dan pengikutNya dan Maria ibuNya? Yang ikut menjadi saksi mata sampai kedekat salib Anaknya (reff. Yohanes 19:25-27). Jikalau begitu, Allah yang mengelabuhi itu tentu bukan Bapa yang diserukan Yesus!

Kembali ke hal “relasi dengan Allah” yang tidak menuntut penguasaan ilmu-ilmu agama untuk bisa diselamatkan. Harap jangan salah, Kristianitas bukan melecehkan ilmu, atau tidak bertanggung-jawab dalam pendewasaan rohani. Ikut Yesus adalah masuk dalam relasi dengan Yesus, dan mulai belajar mengasihi Dia, karena Dia telah mengasihi kita lebih dulu :

* 1 Yohanes 4:19
Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.

Secara natural kita akan bersyukur kepadaNya senang mendengar “suaraNya”, dan belajar tentang firmanNya, yaitu Injil Kabar Baik. Kita menjadikan itu makanan rohani kita, yang ternyata memberikan berkat yang nyata dalam kehidupan baru kita bersama dia. Kita bertumbuh dalam iman, dan selalu ingin menyenangkan hati Tuhan, dengan melakukan apa-apa yang dipesankanNya dalam InjilNya.

Bukan usaha keselamatan, melainkan buah-buah keselamatan

Melakukan perintah-perintah Allah bukanlah usaha mencari keselamatan, melainkan buah-buah keselamatan! Dan alasan yang terbaik untuk itu hanyalah tiga kata sederhana, yaitu karena “Allah itu baik!” Kita mengasihi, karena Allah lebih dulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19).

Amin.

Atikel terkait :
KRISTEN, asal kata, di kristen-vt325.html#p700

 
Aside | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s