Sejarah singkat bangsa Israel

ISRAEL

Officially: State of Israel , Hebrew “Medinat Yisra’el”, Arabic “Isra’il”, country in the Middle East, located at the eastern end of the Mediterranean Sea. It is bounded to the north by Lebanon, to the northeastby Syria, to the east and southeast by Jordan, to the
southwest by Egypt, and to the west by the Mediterranean Sea. The total area is 7,992 square miles (20,700 square km) excluding East Jerusalem and other territories occupied in the 1967 war. Jerusalem is the capital and the seat of government.

Israel is a small country with a relatively diverse topography, consisting of a lengthy coastal plain, highlands in the north and central regions, and the Negev desert in the south. Running the length of the country from north to south along its eastern border is the northern terminus of the Great Rift Valley.

The State of Israel is the only Jewish nation in the modern period, and the region that now falls within its borders has a lengthy and rich history that dates from pre-biblical times. The area was a part of the Roman and, later, Byzantine empires before falling under the control of the fledgling Islamic caliphate in the 7th century CE. Although the object of dispute during the European Crusades, the region, then generally known as Palestine, remained under the sway of successive Islamic dynasties until the collapse of the Ottoman Empire at the end of World War I, when it was placed under British mandate from the League of Nations.

Even before the mandate, the desire for a Jewish homeland prompted a small number of Jews to immigrate to Palestine, a migration that grew dramatically during the second quarter of the 20th century with the increased persecution of Jews worldwide andsubsequent Holocaust perpetrated by Nazi Germany. This vast influx of Jewish immigrants into the region, however, caused tension with the native Palestinian Arabs, and violence flared between the two groups leading up to the United Nations plan to partition Palestine into Jewish and Palestinian sectors and Israel’s ensuing declaration of statehood on May 14, 1948.

Israel fought a series of wars against neighbouring Arab states during the next 35 years, which have resulted in ongoing disputes over territory and the status of refugees. Despite continuing tensions, however, Israel concluded peace treaties with several neighbouring Arab states during the final quarter of the 20th century.

From: Encyclopaedia Britannica

 

________________________________________________________________________________________

ISRAEL 12 SUKU

Tatkala Israel masuk ke tanah Kanaan, bangsa itu terdiri dari 12 suku, dan bagian-bagian dari tanah itu ditentukan menjadi bagian pusakan dari setiap suku yang 12 (bandingkan Yoshua 13:1 dab). Kedua belas suku yang berasal dari 12 anak lelaki Yakub, yang berkumpul mengelilingi ayah mereka, dan mendengarkan nubuat yang diucapkannya mengenai mereka dan masa depan mereka :

* Kejadian 49:2-28
49:2 Berhimpunlah kamu dan dengarlah, ya anak-anak Yakub, dengarlah kepada Israel, ayahmu.
49:3 Ruben, engkaulah anak sulungku, kekuatanku dan permulaan kegagahanku, engkaulah yang terutama dalam keluhuran, yang terutama dalam kesanggupan.
49:4 Engkau yang membual sebagai air, tidak lagi engkau yang terutama, sebab engkau telah menaiki tempat tidur ayahmu; waktu itu engkau telah melanggar kesuciannya. Dia telah menaiki petiduranku!
49:5 Simeon dan Lewi bersaudara; senjata mereka ialah alat kekerasan.
49:6 Janganlah kiranya jiwaku turut dalam permupakatan mereka, janganlah kiranya rohku bersatu dengan perkumpulan mereka, sebab dalam kemarahannya mereka telah membunuh orang dan dalam keangkaraannya mereka telah memotong urat keting lembu.
49:7 Terkutuklah kemarahan mereka, sebab amarahnya keras, terkutuklah keberangan mereka, sebab berangnya bengis. Aku akan membagi-bagikan mereka di antara anak-anak Yakub dan menyerakkan mereka di antara anak-anak Israel.
49:8 Yehuda, engkau akan dipuji oleh saudara-saudaramu, tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu, kepadamu akan sujud anak-anak ayahmu.
49:9 Yehuda adalah seperti anak singa: setelah menerkam, engkau naik ke suatu tempat yang tinggi, hai anakku; ia meniarap dan berbaring seperti singa jantan atau seperti singa betina; siapakah yang berani membangunkannya?
49:10 Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.
49:11 Ia akan menambatkan keledainya pada pohon anggur dan anak keledainya pada pohon anggur pilihan; ia akan mencuci pakaiannya dengan anggur dan bajunya dengan darah buah anggur.
49:12 Matanya akan merah karena anggur dan giginya akan putih karena susu.
49:13 Zebulon akan diam di tepi pantai laut, ia akan menjadi pangkalan kapal, dan batasnya akan bersisi dengan Sidon.
49:14 Isakhar adalah seperti keledai yang kuat tulangnya, yang meniarap diapit bebannya,
49:15 ketika dilihatnya, bahwa perhentian itu baik dan negeri itu permai, maka disendengkannyalah bahunya untuk memikul, lalu menjadi budak rodi.
49:16 Adapun Dan, ia akan mengadili bangsanya sebagai salah satu suku Israel.
49:17 Semoga Dan menjadi seperti ular di jalan, seperti ular beludak di denai yang memagut tumit kuda, sehingga penunggangnya jatuh ke belakang.
49:18 Aku menanti-nantikan keselamatan yang dari pada-Mu, ya TUHAN.
49:19 Gad, ia akan diserang oleh gerombolan, tetapi ia akan menyerang tumit mereka.
49:20 Asyer, makanannya akan limpah mewah dan ia akan memberikan santapan raja-raja.
49:21 Naftali adalah seperti rusa betina yang terlepas; ia akan melahirkan anak-anak indah.
49:22 Yusuf adalah seperti pohon buah-buahan yang muda, pohon buah-buahan yang muda pada mata air. Dahan-dahannya naik mengatasi tembok.
49:23 Walaupun pemanah-pemanah telah mengusiknya, memanahnya dan menyerbunya,
49:24 namun panahnya tetap kokoh dan lengan tangannya tinggal liat, oleh pertolongan Yang Mahakuat pelindung Yakub, oleh sebab gembalanya Gunung Batu Israel,
49:25 oleh Allah ayahmu yang akan menolong engkau, dan oleh Allah Yang Mahakuasa, yang akan memberkati engkau dengan berkat dari langit di atas, dengan berkat samudera raya yang letaknya di bawah, dengan berkat buah dada dan kandungan.
49:26 Berkat ayahmu melebihi berkat gunung-gunung yang sejak dahulu, yakni yang paling sedap di bukit-bukit yang berabad-abad; semuanya itu akan turun ke atas kepala Yusuf, ke atas batu kepala orang yang teristimewa di antara saudara-saudaranya.
49:27 Benyamin adalah seperti serigala yang menerkam; pada waktu pagi ia memakan mangsanya dan pada waktu petang ia membagi-bagi rampasannya.”
49:28 Itulah semuanya suku Israel, dua belas jumlahnya; dan itulah yang dikatakan ayahnya kepada mereka, ketika ia memberkati mereka; tiap-tiap orang diberkatinya dengan berkat yang diuntukkan kepada mereka masing-masing.

Perincian anak-anak Yakub sebagai berikut :

* LEA : 1. Ruben, 2. Simeon, 3. Lewi, 4. Yehuda, 5. Zebulon, 6. Isakhar,

* ZILPA : 7. Gad, 8. Asyer,

* RAKHEL : 9. Yusuf, 10. Benyamin,

* BILHA : 11. Dan, 12. Naftali.

* Kejadian 35:23-26
35:23 Anak-anak Lea ialah Ruben, anak sulung Yakub, kemudian Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar dan Zebulon.
35:24 Anak-anak Rahel ialah Yusuf dan Benyamin.
35:25 Dan anak-anak Bilha, budak perempuan Rahel ialah Dan serta Naftali.
35:26 Dan anak-anak Zilpa, budak perempuan Lea ialah Gad dan Asyer. Itulah anak-anak lelaki Yakub, yang dilahirkan baginya di Padan-Aram.

Keduabelas anak ini beranak-cucu menjadi keduabelas suku Israel dengan pengecualian bahwa nama Yusuf tidak disebutkan lagi sebagai nama sebuah suku sesudah dia, sebab di dalam pemeliharaan yang baik dari Allah ada 13 suku, yakni kedua putera Yusuf diberi kehormatan masuk ke dalam bilangan itu dari duabelas menjadi tigabelas suku. Ketentuan ini diperlukan karena suku Lewi dipisahkan bagi Tuhan untuk tugas keimamatan :

* Bilangan 10: 11-28
10:11 Pada tahun yang kedua, pada bulan yang kedua, pada tanggal dua puluh bulan itu, naiklah awan itu dari atas Kemah Suci, tempat hukum Allah.
10:12 Lalu berangkatlah orang Israel dari padang gurun Sinai menurut aturan keberangkatan mereka, kemudian diamlah awan itu di padang gurun Paran.
10:13 Itulah pertama kali mereka berangkat menurut titah TUHAN dengan perantaraan Musa.
10:14 Terdahulu berangkatlah laskar yang di bawah panji-panji bani Yehuda menurut pasukan mereka; yang mengepalai laskar itu ialah Nahason bin Aminadab;
10:15 yang mengepalai laskar suku bani Isakhar ialah Netaneel bin Zuar;
10:16 yang mengepalai laskar suku bani Zebulon ialah Eliab bin Helon.
10:17 Sesudah itu Kemah Suci dibongkar, dan berangkatlah bani Gerson dan bani Merari yang mengangkat Kemah Suci itu.
10:18 Kemudian berangkatlah laskar yang di bawah panji-panji Ruben menurut pasukan mereka; yang mengepalai laskar itu ialah Elizur bin Syedeur;
10:19 yang mengepalai laskar suku bani Simeon ialah Selumiel bin Zurisyadai;
10:20 yang mengepalai laskar suku bani Gad ialah Elyasaf bin Rehuel.
10:21 Sesudah itu berangkatlah orang Kehat, yang mengangkat barang-barang tempat kudus; Kemah Suci sudah dipasang sebelum mereka datang.
10:22 Kemudian berangkatlah laskar yang di bawah panji-panji bani Efraim menurut pasukan mereka;
10:23 yang mengepalai laskar itu ialah Elisama bin Amihud; yang mengepalai laskar suku bani Manasye ialah Gamaliel bin Pedazur;
10:24 yang mengepalai laskar suku bani Benyamin ialah Abidan bin Gideoni.
10:25 Sebagai barisan penutup semua laskar itu berangkatlah laskar yang di bawah panji-panji bani Dan menurut pasukan mereka; yang mengepalai laskar itu ialah Ahiezer bin Amisyadai;
10:26 yang mengepalai laskar suku bani Asyer ialah Pagiel bin Okhran;
10:27 yang mengepalai laskar suku bani Naftali ialah Ahira bin Enan.
10:28 Itulah aturan keberangkatan orang Israel menurut pasukan mereka, ketika mereka berangkat.

Demikianlah sesudah Israel meninggalkan Mesir dan Tuhan memberikan kepada mereka tabernakel itu di padang gurun, kita melihat di situ bagaimana suku Lewi melayani bagi keduabelas suku Israel yang dinamai :

1. Ruben,
2. Simeon,
3. Isakhar,
4. Yehuda,
5. Zebulon,
6. Benyamin,
7. Dan,
8. Naftali,
9. Gad,
10. Asyer,
11. Efraim,
12. Manasye

Urutan dari seisi nama-nama itu ada di dalam Bilangan 10:11-28. Di situ Yusuf dan Lewi tidak disebutkan.

Tetapi bila kita melihat di Wahyu 7:4-8, di mana dikatakan, “jumlah mereka yang dimeteraikan itu adalah seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari SELURUH suku dari anak-anak Israel,” di situ disebutkan demikian:

1. Yehuda,
2. Ruben,
3. Gad,
4. Asyer,
5. Naftali,
6. Manasye,
7. Simeon,
8. Lewi,
9. Isakhar,
10. Zebulon,
11. Yusuf,
12. Benyamin.”

* Wahyu 7:4-8
7:4 Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.
7:5 Dari suku Yehuda dua belas ribu yang dimeteraikan, dari suku Ruben dua belas ribu, dari suku Gad dua belas ribu,
7:6 dari suku Asyer dua belas ribu, dari suku Naftali dua belas ribu, dari suku Manasye dua belas ribu,
7:7 dari suku Simeon dua belas ribu, dari suku Lewi dua belas ribu, dari suku Isakhar dua belas ribu,
7:8 dari suku Zebulon dua belas ribu, dari suku Yusuf dua belas ribu, dari suku Benyamin dua belas ribu.

Kembali jumlahnya 12suku dengan Lewi dan Yusuf disebut di antaranya, tetapi dengan Dan dan Efraim hilang.

Sekarang timbul pertanyaan, kenapa kedua suku itu dihapuskan?

Jawabannya terdapat di dalam

* Ulangan 29:16-20,
29:16 Sebab kamu ini tahu, bagaimana kita diam di tanah Mesir dan bagaimana kita berjalan dari tengah-tengah segala bangsa yang negerinya kamu lalui,
29:17 dan kamu sudah melihat dewa kejijikan dan berhala mereka, yakni kayu dan batu, emas dan perak itu, yang ada terdapat pada mereka.
29:18 Sebab itu janganlah di antaramu ada laki-laki atau perempuan, kaum keluarga atau suku yang hatinya pada hari ini berpaling meninggalkan TUHAN, Allah kita, untuk pergi berbakti kepada allah bangsa-bangsa itu; janganlah di antaramu ada akar yang menghasilkan racun atau ipuh.
29:19 Tetapi apabila seseorang pada waktu mendengar perkataan sumpah serapah ini menyangka dirinya tetap diberkati, dengan berkata: Aku akan selamat, walaupun aku berlaku degil — dengan demikian dilenyapkannya baik tanah yang kegenangan maupun yang kekeringan —
29:20 maka TUHAN tidak akan mau mengampuni orang itu, tetapi murka dan cemburu TUHAN akan menyala atasnya pada waktu itu; segenap sumpah serapah yang tertulis dalam kitab ini akan menghinggapi dia, dan TUHAN akan menghapuskan namanya dari kolong langit.
Dalam ayat-ayat tersebut diucapkan kutukan menentang penyembahan berhala, atau perzinahan rohani. Suku Israel yang berpaling kepada penyembahan berhala namanya dihapus.

Sejarah mengenai kedua suku (Dan dan Efraim) yang namanya dihapus oleh karena penyembahan berhala, hal itu terdapat di dalam :

* I Raja-Raja 12:25-30,
12:25 Kemudian Yerobeam memperkuat Sikhem di pegunungan Efraim, lalu diam di sana. Ia keluar dari sana, lalu memperkuat Pnuel.
12:26 Maka berkatalah Yerobeam dalam hatinya: “Kini mungkin kerajaan itu kembali kepada keluarga Daud.
12:27 Jika bangsa itu pergi mempersembahkan korban sembelihan di rumah TUHAN di Yerusalem, maka tentulah hati bangsa ini akan berbalik kepada tuan mereka, yaitu Rehabeam, raja Yehuda, kemudian mereka akan membunuh aku dan akan kembali kepada Rehabeam, raja Yehuda.”
12:28 Sesudah menimbang-nimbang, maka raja membuat dua anak lembu jantan dari emas dan ia berkata kepada mereka: “Sudah cukup lamanya kamu pergi ke Yerusalem. Hai Israel, lihatlah sekarang allah-allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.”
12:29 Lalu ia menaruh lembu yang satu di Betel dan yang lain ditempatkannya di Dan.
12:30 Maka hal itu menyebabkan orang berdosa, sebab rakyat pergi ke Betel menyembah patung yang satu dan ke Dan menyembah patung yang lain

* Hosea 4:17,
Efraim bersekutu dengan berhala-berhala, biarkanlah dia!

Perhatikanlah secara khusus bahwa hukuman karena penyembahan berhala ialah bahwa nama suku tersebut harus dihapuskan dari “kolong langit.” (Ulangan 29:20).
Tidak dikatakan bahwa namanya dihapuskan “didalam surga”, tetapi dihapuskan dari bawah kolong langit.

Dan tepat demikianlah sekarang ini, sebab sekarang ini Israel kembali ke Palestina, dan dalam waktu dekat Tuhan akan memeteraikan 144.000 orang darimereka. Tetapi dari jumlah tersebut Dan dan Efraim tidak termasuk. Wahyu 7:4-8, “Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: 144.000 yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.

1. Dari suku Yehuda 12.000 yang dimeteraikan,
2. dari suku Ruben 12.000,
3. darisuku Gad 12.000,
4. dari suku Asyer 12.000,
5. dari suku Naftali 12.000,
6. dari suku Manasye 12.000,
7. dari suku Simeon 12.000,
8. dari suku Lewi 12.000,
9. dari suku Isakhar 12.000,
10. dari suku Zebulon 12.000,
11. dari suku Yusuf 12.000,
12. dari suku Benyamin 12.000.”

—–

Menurut beberapa teori modern gambaran Alkitab tentang asal-usul suku-suku Israel ini tak dapat diterima. Alkitab mengatakan bahwa seluruh bangsa itu dulu di tanah Mesir. Tetapi menurut beberapa teori modern ini, tidak semua suku Israel tinggal di tanah Mesir pada zaman dulu itu. Dasar teori ini adalah pemikiran bahwa ada pemisahan antara suku-suku keturunan Lea dan suku-suku keturunan Rahel, dan bahwa suku-suku keturunan Lea lebih dulu menduduki tanah yang sudah diusahakan daripada suku-suku keturunan Rahel.

Kadang-kadang dipertahankan bahwa ibadah kepada YHVH sibawah ke tanah Kanaan oleh suku-suku keturunan Yusuf, dan kemudian diambil alih oleh suku-suku keturunan Lea. Sehubungan dengan ibadah kepada YHVH itu, timbul semacam kelompok agama yang agak menyerupai kelompok-kelompok agama di Yunani Lama. Maka ibadah kepada YHVH lah yang mengikat suku-suku ini menjadi satu.

Jelas bahwa teori-tori seperti diatas langsung bertentangan dengan pernyataan-pernyataan dalam Alkitab, dan memerlukan dibuangnya banyak ayat-ayat dalam Alkitab. Penolakan ini biasanya didasarkan pada penyusunan ulang penulisan dan isi kitab-kitab Alkitab yang sungguh-sungguh mengubah atau malahan memutarbalikkan dan isi Kitab-kitab dalam Alkitab, yang sungguh-sungguh mengubah datau malahan memutarbalikkan gambaran sejarah Israel yang diberikan didalamnya. Karena itu kita tidak dapat menerimanya.

PEMBAGIAN TANAH

Image

Musa sudah membagi suku-suku yang harus menempati tanah di sebelah timur Sungai Yordan dan suku-suku yang menempati sebelah baratnya. Di sebelah timur bagian-bagian tanah itu diberikan kepada suku-suku Ruben dan Gad untuk menjadi pusakanya, beserta setengah suku Manasye. Suku yang terakhir harus menempati daerah selatan Danau Galilea, termasuk desa-desa Yair bersama Astarot dan Edrei. Gad harus menempati tanah yang langsung di sebelah selatan bagian Manasye terus sampai kira-kira ujung utara Laut Mati, dan di selatan lagi ialah adaerah Ruben, yang meluas ke selatan, sampai ke Aroer dan Sungai Arnon.

Di bagian barat Sungai Yordan, dai tanah Kanaan yang sebenarnya, disitulah suku-suku lain harus tinggal. Milik pusaka mereka ditentukan dengan menundi, terkecuali bagi suku Lewi yang tidak mempunai milik pusaka berupa tanah, sebab suku Lewi mempunyai tugas keimamatan bagi semua suku Israel.
Akhirnya suku-suku itu dibagi bagi menjadi suku-suku utara dan suku-suku selatan, yang secara berurut diwakili oleh Efraim dan Yehuda. Kerajaan Utara disebut dengan Istilah Israel.

Bagian Selatan dibagikan kepada suku Simeon, yang kelihatannya sudah menempati tanah di Negeb. Di sebelah utaranya terdapat bagian Yehuda, termasuk daerah pegunungan Yudea dan terus sampai ke Sungai Yordan di timur ialah daerah Benyamin. Bagian ini hanya sampai beberapa kilometer ke sebelah utara dan je barat pada tepi daerah pegunungan. Ke sebelah baratnya terdapat bagian yang kecil, yang diberikan kepada suku Dan.
Di utara kedua suku Dan dan Benyamin ialah daerah yang diberikan kepada suku Efraim, yang meluas ke utara sampai ke Sungai Kana dan Sikhem. Kemudian datanglah sebagian besar yang ditentukan menjadi pusaka dari setengah suku Manasye, yang melingkupi segala-galanya di antara Laut Tengah dan Sungai Yordan dan terus ke utara sampai ke Megido. Di sebelah utara Manasye ialah Isakhar dan Zebulon, dan sepanjang tepi pantai, dari Karmel memnuju ke utara ialah daserah Asyer.

Dalam perjalanan waktu kedudukan Yehuda terus bertambah-tambah penting, sebab sungguh-sungguh ia memeluk Benyamin, dan Yerusalem menjadi ibukota. Di bagian utara perbedaan suku agaknya menjadi kurang penting dari semula, Kerajaan Utara (Kerajaan Israel) menjadi musuh Yehuda. Suku-suku utara, yaitu Zebulon dan Naftali, ialah yang pertama-tama dibawa ke pembuangan, dan kemudian pada tahun 722sM Samaria takhluk. Akhirnya Nebukadnezar menaklukkan Yerusalem pada tahun 587 sM, dan dengan demikian seluruh bangsa tidak lagi sebagai bangsa. Makna perbedaan suku terus-menerus semakin surut, dans ecara praktis menghilang sesuah pembuangan.

Kepustakaan :
J Bright, History of Israel, 1959, p 128 dst.
Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, jilid 2, p 422
Dan beberapa sumber lain.

_______________________________________________________________________________

 

I. ISRAEL SECARA ETIMOLOGI DAN ALKITABIAH

Israel ( יִשְׂרָאֵל – YISRAEL, Ibrani), artinya ‘Allah bergumul’, adalah nama bagi :

1. Nama baru yang diberikan kepada Yakub sesudah malam pergumulannya di Pniel ( פנואל – PENI’EL :

* Kejadian 32:28
LAI TB, Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.
KJV, And he said, Thy name shall be called no more Jacob, but Israel: for as a prince hast thou power with God and with men, and hast prevailed.
Hebrew,
וַיֹּאמֶר לֹא יַעֲקֹב יֵאָמֵר עֹוד שִׁמְךָ כִּי אִם־יִשְׂרָאֵל כִּי־שָׂרִיתָ עִם־אֱלֹהִים וְעִם־אֲנָשִׁים וַתּוּכָל׃
Translit, VAYOMER LO YA’AQOV YE’AMER ‘OD SYIMKHA KI ‘IM-YISRAEL KI-SARITA ‘IM-‘ELOHIM VE’IM-‘ANASYIM VATUKHAL

Bergumul שרית – SARITA, Ibrani, dari kata שרה – SARAH. Pemberian nama baru ini ditegaskan di BETEL ( בית–אל – BEYT-‘EL) dalam :

* Kejadian 35:10
LAI TB, Firman Allah kepadanya: “Namamu Yakub; dari sekarang namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel, itulah yang akan menjadi namamu.” Maka Allah menamai dia Israel
KJV, And God said unto him, Thy name is Jacob: thy name shall not be called any more Jacob, but Israel shall be thy name: and he called his name Israel.
Hebrew,
וַיֹּאמֶר־לֹו אֱלֹהִים שִׁמְךָ יַעֲקֹב לֹא־יִקָּרֵא שִׁמְךָ עֹוד יַעֲקֹב כִּי אִם־יִשְׂרָאֵל יִהְיֶה שְׁמֶךָ וַיִּקְרָא אֶת־שְׁמֹו יִשְׂרָאֵל׃
Translit, VAYOMER-LO ‘ELOHIM SYIMKHA YA’AQOV LO-YIQARE SYIMKHA ‘OD YA’AQOV KI ‘IM-YISRAEL YIHYEH SYEMEKHA VAYIQRA ‘ET-SYEMO YISRAEL

Allah menampakkan diri dalam suatu THEOFANI kepada Yakub memberikan/menegaskan nama baru kepada Yakub. Maka sejak itu, nama ISRAEL dipakai di seluruh Perjanjian Lama (PL) sebagai sinonim dari YAKUB; khususnya apabila keturunan Yakub disebut ‘anak-anak (atau ‘orang’) Israel’ (BENEY YISRAEL, Ibrani).

2. Nama sebuah bangsa dari keturunan Yakub.

Adalah bangsa yang leluhurnya dari Yakub atau ke-12 anak-anak Yakub. Ada beberapa bentuk nama seperti ‘Israel’ :

* Kejadian 34:7
Sementara itu anak-anak Yakub pulang dari padang, dan sesudah mendengar peristiwa itu orang-orang ini sakit hati dan sangat marah karena Sikhem telah berbuat noda di antara orang Israel dengan memperkosa anak perempuan Yakub, sebab yang demikian itu tidak patut dilakukan

Dan ‘orang Israel’ :

* Kejadian 32:32
Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena Dia telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya.

Dan ke-12 suku Israel :

* Kejadian 49: 16,28
49:16 Adapun Dan, ia akan mengadili bangsanya sebagai salah satu suku Israel.
49:28 Itulah semuanya suku Israel, dua belas jumlahnya; dan itulah yang dikatakan ayahnya kepada mereka, ketika ia memberkati mereka; tiap-tiap orang diberkatinya dengan berkat yang diuntukkan kepada mereka masing-masing. dan ayat selanjutnya…

Acuannya paling dini kepada bangsa Israel dalam berita non-Israel tercatat dalam Merenptah, raja Mesir kuno, kira-kira 1230sM : ‘Israel bersedih; tidak ada tinggal keturunannya’ (DW Thomas,Documents of Old Testament Times (DOTT), 1958, p 139). Acuan berikutnya juga non-Israel dalam prasasti-prasasti Salamneser III dari Asyur, Kira-kira 853 sM, berulang-ulang menyebut Israel, termasuk bualan ‘Israel binasa sama sekali untuk selamanya’ (DOTT, p 196 dab).

I. AWAL ISRAEL

Acuan Prasasti Merenptah dalam prakteknya adalah bersamaan waktunya dengan awal sejarah nasional Israel, sebab berawal pada peristiwa ‘keluar’ dari Mesir, yang terjadi pada masa pemerintahan Merenptah atau bapaknya, yang mencirikan kelahiran Israel sebagai suatu bangsa. Beberapa generasi sebelumnya, nenek-moyang mereka, anggota dari suatu suku ‘penggembala’, hijrah dari Kanaan ke Mesir sewaktu ditimpa bala kelaparan dan tinggal menetap di Wadi Tumilat.

Raja-raja pertama Mesir dari dinasti ke 19, memaksa mereka membentuk regu-regu kerja paksa dalam jumlah besar, untuk membangun kota-kota benteng di perbatasan timur laut Mesir. Dalam keadaan demikian, besar kemungkinan semua mereka akan kehilangan identitas dengan akibat tidak saling mengenal sesama budak paksa, seandainya iman kepercayaan nenek moyang mereka tidak dibangun kembali oleh Musa, yang datang kepada mereka dalam nama Allah nenek-moyang mereka, dan yang membawa mereka keluar dari Mesir di tengah-tengah rentetan peristiwa dengan mana mereka diajar untuk mengakui kekuasaan Allah nenek-moyang mereka, yang melaksanakan kelepasan mereka.

Dibawah pimpinan Musa, mereka berjalan ke arah Timur melalui ‘jalan padang gurun menuju Yam Suph’ hingga mereka sampai di tempat dimana Allah dari nenek-moyang mereka pernah memperkenalkan diriNya kepada Musa dengan Nama perjanjianNya, YHVH, dan menugaskan Musa untuk membawa mereka keluar dari Mesir; Disitu, dikaki Gunung Sinai, mereka dimasukkan ke dalam hubungan perjanjian khusus dengan YHVH. YHVH telah menampakkan diriNya sebagai Allah mereka dengan melepaskan mereka dari perbudakan di Mesir; Mereka sekarang berjanji menjadi umatNya.

Dalam upaya ini tercakup ketaatan mereka kepada ‘ASERET HADEVÂRÏM –SEPULUH FIRMAN yaitu hukum yang ditetapkan YHVH yang memberitahukan kehendakNya kepada mereka. Mereka harus menyembah Dia – dan hanya Dia – ; mereka tidak boleh mengandaikan diriNya atau kehadiranNya walau dalam bentuk apapun juga; mereka hanya boleh menyebut namaNya dalam rangka penghormatan; mereka harus menguduskan tiap hari ketujuh bagi Dia; dan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan mereka harus bertingkah laku terhadap satu dengan yang lain dengan cara yang sesuai dengan perjanjan yang mengikat mereka bersama-sama. Mereka menjadi bangsa yang khusus diasingkan untuk YHVH, dan karena itu maka keadilanNya, pengasihanNya dan kebenaranNya akan nampak diterapkan dalam hidup mereka.

Sikap demikian adalah MONOTEISME praktis. Apakah dewa-dewa dari bangsa-bangsa tetengga hidup atau tidak, tidaklah digubris oleh pikiran Musa atau pengikutnya; Tugas mereka ialah mengakui YHVH adalah Allah yang Mahatinggi dan yang satu-satunya :

* Ulangan 6:4
LAI-TB, Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
KJV, Hear, O Israel: The LORD our God is one LORD:
Hebrew,
שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה ׀ אֶחָֽד ׃
Translit interlinear, SYEMA’ {dengarlah} YISRA’EL {Israel} YEHOVAH {YHVH dibaca Adonai, TUHAN} ‘ELOHEINÛ {Allah kita} YEHOVAH {(baca Adonay), TUHAN} EKHAD {esa}

Musa bukan hanya pembuat undang-undang Israel yang pertama dan terbesar; dalam probadinya terpadu peranan nabi, imam dan raja. Dia menghakimi perkara-perkara hukum dan mengajar mereka asas-asas kewajiban keagamaan; dia membimbing mereja dari Mesir ke Yordan, dan setelah dia meninggal, suatu generasi setelah generasi Keluaran, dia tinggalkan bukan sebagai kumpulan pekerja budak yang tidak berdisiplin, seperti generasi yang dulu mengikutinya keluar dari Mesir, melainkan suatu pasukan tentara perkasa yang suap menyerbu Kanaan, sebagai penakluk dan penghuni tetap.

Israel biarpun sebelum menetap di kanaan, telah diorganisir sebagai satu persekutuan keagamaan dari 12 suku. Memang mereka satu keturunan, tapi pusat kesatuannya adalah saling mengambil bagian dalam perjanjian dengan YHVH. Pertanda yang kelihatan dari kesatuan perjanjian mereka ialah Tabut Perjanjian, disimpan dalam Kemah Suci, ditempatkan di pusat perkemahan bila mereka bergerak atau dalam pertempuran.

Mereka membentuk persekutuan yang erat dengan kelompok-kelompok pengembara lainnya, seperti orang Keni (punya hubungan keluarga perkawinan), orang Kenas dan orang Yerahmeel, yang kemudial hari nampak bergabung dalam suku Yehuda.

Terjadi pelanggaran atas persekutuan oleh kelompok pengembara lain, yaitu orang Amalek, yang mungkin menimbulkan permusuhan pahit sehingga Israel memusuhi mereka dari generasi ke generasi.

Persekutuan dengan suku-suku penggembala seperti itu lain sekali dengan persekutuan dengan penduduk petani yang menetap di Kanaan, yang pola asasi keagamaannya memuja dewa kesuburan, yang sangat bertentangan dengan penyembahan murni kepada YHVH. Perjanjian Israel dengan YHVH sangat keras melarang orang Israel bersekutu dengan orang Kanaan.

Pusat utama kegiatan suku-suku Israel pada periode padang belantara adalah Kadesy-Barnea. Beberapa dari mereka menyusup ka utara terus asuk ke pusat Negeb, tapi jumlah terbesar maju ke wilayah selatan dan timur Laut Mati, menyusuri daerah-daerah dari sanak-saudara mereka di Edom,Amon, dan Moab , yang baru saja mengorganisir diri sebagai kerajaan-kerajaan yang menetap. Lebih jauh ke Utara, dalam wilayah Transyordan terletak Kerajaan Sihon dan Kerajaan Og dari Amori, yang mereka masuki sebagai musuh yang menyelusup. Kekuatan-kekuatan Sihon dan Og yang melancarkan perlawanan dipatahkan, dan daerah-daerah mereka duduki sebagai Ruben, Gad dan Manasye Timur. Jadi sebagian masyarakat Israel telah tinggal menetap dengan hidup sebagai petani, sebelum bangsa itu menyeberangi sungai Yordan.

 
______________________________________________________________________________
 
II. TINGGAL MENETAP DI KANAAN

Penyeberangan Yordan segera disusuli perebutan dan pemusnahan benteng Yeriko. Dari Yeriko mereka maju terus sampai ke pedalaman negeri itu. Menduduki benteng-benteng pertahanan satu demi satu. Mesir tidak mampu lagi mengirim bantuan kepada pengikut-pengikutnya di Kanaan; Mesir menguasai hanya sepanjang jalan pantai di wilayah barat sampai ke jalur lintas Megido di utara. Bahkan di wilayah ini juga pendudukan Filistin (+ 1190 sM) segera memperlihatkan suatu rintangan pada perluasan kekuasaan Mesir.

Suatu koalisi lima gubernur militer dari kota-kota benteng Kanaan, mencoba menghalangi orang Israel membelok ke arah selatan dari pusat daerah pengunungan, dimana Gibeon dan kota-kota sekutu di daerah orang Hewi telah tunduk kepada kelima gubernur itu. Koalisi itu dikalahkan seluruhnya di jalur lintas Bet-Horon, dan jalan kearah selatan menjadi terbuka bagi penyerbu. Biarpun pasukan kereta perang dari benteng-benteng Kanaan dikerahkan untuk mencegah Israel beroperasi di daerah-daerah datar, namun dalam tempo singkat, mereka telah menguasai dan menduduki tanah-tanah tinggi di wilayah pusat dan selatan, juga dataran tinggi Galilea, di utara dari dataran Yizreel.

Suku-suku Israel yang telah menetap di wilayah utara menjadi terputus dari sesama suku mereka di wilayah pusat Kanaan. Oleh suatu mata rantai benteng Kanaan di dataran Yisreel, yang bertebaran dari Laut Tengah sampai ke Yordan. Yudea, di Selatan lebih terputus lagi dari pusat suku-suku oleh kubu Yerusalem, yang tetap bertahan sebagai daerah kantong Kanaan selama 200tahun.

Pada suatu peristiwa luar biasa, suku-suku Israel di wilayah utara dan pusat bersekutu melawan para gubernur militer penguasa daerah Yezreel, yang terus menerus mengurangi kebebasan mereka. Perlawanan terpadu itu dikaruniai kemenangan gemilang pada pertempuran di Kisyon (+ 1125 sM), ketika tiba-tiba badai mengamuk dan mengakibatkan air sungai meluap, sehingga pasukan kereta perang Kanaan lumpuh total. Dengan demikian pasukan Israel yang hanya bersenjata sederhana dapat dengan mudah menghancurkan musuhnya. Dalam peristiwa ini, pada saat seruan supaya bertindak dikirim kepada semua suku di wilayah utara dan pusat, dan juga kepada suku yang tertinggal di Trans-Yordan, kelihatannya Yehuda tidak menerima seruan itu karena terputus sama sekali dengan suku-suku lainnya.

Pada peristiwa seperti diatas, bila suku-suku Israel mengingat janji persekutuan mereka, kekuatan persekutuan mereka memampukan mereka untuk mengatasi musuh-musuh mereka. Tapi aksi terpadu macam ini jarang sekali terjadi. Berkurangnya abhaya biasanya diikuti oleh ustu periode menyesuaikan diri dengan pola hidup Kanaan. Ini mencakup perkawinan campur dan mengikuti upacara-upacara kesuburan Kanaan, sedemikian rupa, sehingga YHVH dipikirkan lebih sebagai Baal, dewa hujan yang menyuburkan,daripada sebagai Allah nenek moyang mereka, yang menyelamatkan mereka dari Mesir untuk khusus menjadi umatNya yang istimewa. Perjanjian persekutuan itu menjadi lemah, dan mereka menjadi mangsa empuk bagi musuh-musuh mereka. Bukan hanya orang Kanaan yang mencoba menjerumuskan Israel kepada perbudakan, dari waktu ke waktu mereka menderita serangan-serangan dari seberang Yordan, yakni orang-orang Moab dan Amon, dan lebih celaka lagi serangan orang Midian. Pemimpin-pemimpin yang membawahi mereka pada periode-periode semikian adalah ‘hakim-hakim’ (periode pemukiman seluruh Kanaan biasanya disebut ‘Zaman Hakim-hakim’); mereka bukan hanya memimpin Israel, maju meraih kemenangan atas musuh-musuh Israel, tapi juga kembali kepada kesetian kepada YHVH.

Ancaman terbesar dan paling gigih atas kemerdekaan Israel datang dari Barat. Tidak lama setelah orang Israel menyeberangi Yordan, gerombolan bajak laut dari kepulauan Aegea dan daerah-daerah pantai, bermukim di daerah pesisir barat Kanaan dan mengatur diri mereka dalam 5 negara kota : Asdod, Askelon, Ekron, Gaza, & Gad. Masing-masing diperintah oleh seorang seren seorang dari ‘5 raja Filistin’. Orang Filistin ini kawin campur dengan orang Kanaan dan segera bersifat Kanaan dalam bahasa dan agama, tapi mereka memelihara tradisi tanah air sendiri dalam bidang politik dan militer. Setelah mereka menetap di kelima negara kota itu, mereka memperluas pengawasan atas bagian-bagian lain di wilayah Kanaan, termasuk wilayah-wilayah yang diduduki orang-orang Isarel. Secara militer, Israel bukanlah tandingan Filistin. Orang Filistin menguasai keterampilan membuat alat-besi dan mempertahankannya sebagai monopoli mereka. Sewaktu orang Israel mulai menggunakan alat-alat besi dalam kegiatan pertanian, orang-orang Filistin menuntut agar mereka harus datang kepada tukang-tukang besi Filistin untuk menempanya. Ini digunakan untuk menjamin agar orang-orang Israel tidak akan mampu menempa alat-alat besi bagi peperangan, dengan mana mereka dapat memberontak terhadap raja atasan Filistin itu.

Pada akhirnya orang Filistin memperluas kekuasaan mereka di dataran Yizreel sejauh Yordan. Kekuasaan mereka tidak mengancam hidup orang Israel, tapi sangat mengancam identitas bangsa Israel. Suku-suku Israel pada masa itu telah mendirikan bait di Silo di wilayah Efraim, dimana tabut kudus berada dan diurus oleh golongan imam yang garis leluhurnya sampai ke Harun, saudara Musa. Imamat ini memegang peranan pimpinan dalam pemberontakan suku-suku Israel menentang Filistin merebut tabut, Silo dan baitnya dihancurkan, dan imamat hampir punah (+ 1050 sM). Segala ikatan identitas kebangsaan Isarel nampaknya akan lenyap juga bersama mereka.

Bahwa identitas Isarel tidak lenyap, bahkan menjadi lebih tegar dan mantap, adalah berkat sifat keperkasaan dan keberanian daya juang Samuel, tokoh terbesar Isssrael disamping Musa dan Daud. Samuel, seperti Musa, menggabungkan dalam dirinya peranan nabi, imam dan hakim; dan ia sendiri sebagai pusat kehidupan semangat nasional. Dibawah kepemimpinannya, Isarel kembali kepada kesetiaan perjanjian, dan dengan kembalinya kesetiaan agamawi itu, Isarel mampu mengalahkan Filistin, justru di medan perang, dimana mereka pernah dihancurkan secara memalukan.

Setelah Samuel menjadi tua, masalah penggantinya menjadi hangat. Timbul tuntutan luas untuk seorang raja – Akhirnya Samuel menyetujui tuntutan ini – mengurapi Saul dari Suku Benyamin untuk memerintah Israel. Awal pemerintahan Saul adalah masa gemilang oleh berkat, berupa jawaban yang tepat dan cepat atas suatu aksi permusuhan dari pihak Amon. Hal ini diikuti oleh tidakan gemilang atas orang Filistin di daerah pegunungan pusat. Selama Saul meneriman dan menerapkan petunjuk Samuel dalam bidang agamawi, maka semua berjalan dengan baik, tapi keberjayaan Saul mulai menurun bila ia melanggar petunjuk Samuel. Saul menerima Ajalnya pada pertempuran melawan orang Filistin di Gunung Gilboa, yang berkobar akibat tindakannya yang gegabah tapi sia-sia, untuk memasukkan suku-suku Israel di wilayah utara yang tidanggal di dataran Yizreel ke dalam kesatuan Israel. Kuasa pengekangan Filistin atas Israel sekarang lebih kuat daripada sebelumnya (+ 1010 sM).

Artikel terkait :
SAUL, RAJA PERTAMA KERAJAAN ISRAEL, di saul-yonatan-vt3053.html#p16983

 
__________________________________________________________________________________
 
III. KERAJAAN ISRAEL DIBAWAH DAUD DAN SALOMO

Tokoh yang memampukan Israel untuk meremukkan belenggu kekuasaan Filistin adalah Daud, suku Yehuda, yang pada suatu waktu adalah panglima kerajaan Saul. Setelah Saul meninggal, Daud segera diakui sebagai raja Yehuda, dan 2 tahun kemudian seluruh Israel meminta Daud menjadi raja mereka. Dalam serentetan aksi militer yang gemilang, Daud melancarkan pukulan yang melumpuhkan orang Filistin, dan sejak itu Filistin harus hidup sebagai bangsa bawahan Daud. Keberhasilan Daud merebut Yerusalem pada tahun ke-7 pemerintahannya, memperlengkapi kerajaannya dengan ibu kota yang kuat dan strategis letaknya, Yerusalem juga menjadi pusat keagamaan yang baru. Tabut dijemput dari tempat pembuangan dan dengan penuh khidmat ditempatkan di kemah kudus di Gunung Sion, yang dikemudian hari diganti dengan Bait Salomo.

Setelah kemerdekaan Isarel tegak dan berjaya unggul di tanah Kanaan, selanjutnya Daud melalui penaklukan dan diplomasi membangun suatu kerajaan yang terbentang dari perbatasan Mesir dan Teluk Akaba sampai Sungai Efrat. Kerajaannya ini diwariskan kepada anaknya Salomo, yang terlampau membebadi negaranya dengan program pembangunan raksasa dan pemeliharaan istana yang indah sekali, sehingga kemampuan dananya menurun. Guna memanfaatkan pendapatan nasional yang lebih baik, Salomo membagi kerajaannya menjadi 12 wilayah administratif, menggantikan pembagian lama berdasarkan suku. Untuk menaikkan pendapatan negara, ia tidak hanya menaikkan pajak yang cukup berat, tetapi juga memberlakukan kerja paksa umum yang akhirnya juga berlaku juga pada orang-orang Israel. Kemudian dengan adanya beban yang terlalu berat itu, pada akhirnya pemerintahan Salomo melemah, kebanyakan dari bangsa-bangsa yang ditundukkan, memperoleh kembali kemerdekaan mereka. Dan setelah Salomo meninggal (+ 930 sM) suku-suku Israel sendiri pecah menjadi 2 kerajaan – yakni di utara bernama Kerajaan Israel dan di selatan bernama Kerajaan Yehuda yang terdiri dari 2 suku yaitu Yehuda dan Benyamin, dimana keturunan Daud dan Salomo terus memerintah di ibukota Yerusalem.

Image

Artikel terkait,
DAUD, di daud-vt3003.html#p16839
SALOMO, di salomo-vt738.html#p1723

 
____________________________________________________________________________
 
IV. KERAJAAN ISRAEL (Kerajaan Israel ke-2)

Yerobeam, pendiri Kerajaan Utara (Kerajaan Israel ke-2) yang memisahkan diri itu, kembali menggunakan kedua tempat suci lama di Dan (jauh di utara) dan Betel (dekat perbatasan dengan Yehuda), dari sebagai tempat-tempat suci nasional menjadi tempat pemujaan bagi berhala. Dalam kedua tempat itu disediakan 2 patung lembu anak emas disediakan sebagai alas-alas yang kelihatan untuk tahta YHVH yang tidak kelihatan (demikianlah fungsi kerub-kerub emas dalam Bait Allah di Yerusalem). Pada awal pemerintah kedua kerajaan Ibrani itu, kedua-duanya diserbu oleh pasukan Mesir dibawah Sisak Tapi Kerajaan Selatan kelihatannya lebih menderita; justru di kemudian hari Kerajaan Utara merasa tidak perlu takut akan usaha Dinasti Daud untuk memperoleh kembali kedaulatannya atas semua wilayahnya yang telah memisahkan diri.

Tapi ancaman yang lebih serius datang dari Utara. Kerajaan Aram dari Damsyik, yang berdiri di masa pemerintahan Salomo, mulai melanggar batas wilayah Israel pada kira-kira tahun 900 sM. Inilah awal dari perang berulang-ulang selama 100tahun, yang kadang-kadang memojokkan Kerajaan Israel (Kerjaan Utara) ke dalam kesulitan yang sangat menyedihkan.

Keamanan Kerajaan Israel juga diganggu oleh pemberontakan-pemberontakan yang sering terjadi di istana dan oleh pergantian dinasti. Hanya 2 Dinasti – yaitu Dinasti Omri (+ tahun 880 sM) dan Dinasti Yehu (+ tahun 841 sM) – dapat berlangsung lebih dari 2 generasi. Anak Yerobeam dibunuh oleh Baesa, seorang dari komandan tentaranya, pada tahun dia mewarisi kerajaan; Setelah Baesa memerintah selama 20tahun, anaknya mengalami nasip yang sama. Kemudian menyusul perang saudara selama beberapa tahun, dan Omri muncul sebagai pemenang.

Omri mendirikan ibukota baru untuk kerajaannya di Samaria. Dia memperkuat kedudukannya dengan menundukkan Moab, di wilayah Laut Mati, dan memasuki perserikatan ekonomi dengan Fenisia. Anaknya, Ahab, mengawini seorang putri Fenisia, Izebel, dan mengakiri permusuhan antara kerajaannya dengan Kerajaan Yehuda melalui suatu perserikatan, yang berlangsung sampai dinasti Omri digulingkan.

Keuntungan dari perserikatan dagang dengan Fenisia adalah besar, tapi dalam bidang agamawwi, hal ini justru menjurus kepada kebangkitan kembali penyembahan Baal, dimana Izebel memegang peranan besar. Tokoh utama penyembahan murni kepada YHVH adalah Elia, yang juga mencela penyelewengan raja dri kesetiaan mematuhi perjanjian dalam bidang sosial (khusunya hal Nabot dari Yizreel), dan ia menubuatkan malapetaka yang menimpa dinasti Omri.

Perang dengan Damsyik berlangsung terus selama pemerintahan Omri dan semua keturunannya, kecuali perang 3 tahun selama pemerintahan Ahab, sewaktu raja-raja Israel dan Damsyik dan negara-negara tetangga membentuk suatu koalisi militer untuk melawan Raja Asyur yang menyerbu, yaitu Salmaneser III. Mereka menggempur Salmaneser di Qarqar, Orontes (853 sM), dan akibat Salmaneser tidak menyerbu negeri-negeri di wilayah barat selama 12tahun. Mundurnya Salmaneser ditandai dengan pembubaran koalisi itu dan timbulnya lagi permusuhan antara Israel dan Damsyik.

Permusuhan keluarga Omri dalam pemberontakan Yehu (841 sM) disusuli penghapusan penyembahan Baal secara resmi. Pemberontakan itu didukung oleh golongan nabi yang tidak mengasihi keluarga Omri. Tapi hal ini sangat melemahkan Kerajaan Israel terhadap serangan-serangan Aram dan selama 40tahun pertama pemerintahan dinasti Yehu adalah merupakan kesengsaraan yang bersinambungan bagi Isarel. Bukan hanya daerah-daerah Trans-yordan Isarel yang diserbu oleh musuh, tapi juga propinsi utara; orang Aram menyerbu dataran Yizreel dan menguasai pantai Laut Tengah sampai ke Gat di Selatan. Israel berada dalam kesukaran yang menyedihkan, dan baru menurun ketika pada tahun 803 sM, Raja Asyur, Adadniari III, menyerbu Syria, merompak Damsyik dan mengharuskannya membayar upeti. Sejak itu tekanan Damsyik atas Isarel menurun, dan orang Israel kembali mampu dan memanfaatkan kesempatan ini, dan memperoleh kembali banyak kota yang dulu direbut orang Aram dari mereka.

Selama masa kesengsaraan ini, ada satu orang Israel, yang semangat juang dan kepercayaannya kepada YHVH tidak pernah tergoyahkan, dan orang itu adalah Nabi Elisa. Tepatlah julukan yang diberikan oleh raja Israel kepadanya, sewaktu ia meninggal ‘Kereta Israel dan oranh-orangnya yang berkuda’ (2 Raja 13:14). Elisa meninggal dengan ramalan kemenangan atas orang Aram di bibirnya.

Parohan pertama abad 8 sM, adalah masa kembalinya kemakmuran Israel, teristimewa dibawah Yerobeam II, Raja ke-4 dari dinasti Yehu. Kedua Kerjaan Ibrani itu bebas dari gangguan negara luar; Damsyik terlalu lemah sesudah dihajar oleh Asyur, sehingga tak mungkin memperbarui agresinya. Yerobeam memperluas batas-batas kerajaannya dan kemakmuran nasional bertambah secara besar-besaran.

Tapi peningkatan kemakmuran nasional ini dinikmati dan dikuasai oleh hanya segelintir orang saja – para pedangan kaya dan tuan-tuan tanah, yang memperkaya dirii atas jerih payah para petani. Para petani kecil yang dahulunya mengolah tanah milik sendiri, sekarang dalam jumlah besar terpaksa menjadi buruh apda usaha pertanian raksasa milik tetangga mereka. Akhirnya sebagai budak mereka mengolah tanah, yang sebelumnya adalah milik merekan sendiri dan mereka oleh secara bebas.

Perbedaan yang makin tajam antara ke-2 kelompok masyarakat Israel yang merdeka, memancing kutukan dari nabi-nabi seperti Amos dan Hosea, dan kutukan itu makin berat, karena orang-orang kaya yang mengambil alih tanah tetangga-tetangga mereka yang miskin, sangat cermat melaksanakan apa yang mereka anggap sebagai kewajiban agamawi mereka. Nabi-nabi tanpa pamrih terus menyatakan bahwa yang dituntut oleh YHVH dari umatnya bukanlah persembahan ternak yang gemuk-gemuk, melainkan kebenaran dan kesetiaan kepada perjanjian, yang apabila tidak diterapkan maka bangsa itu akan ditimpa malapetaka yang lebih besar dari malapetaka sebelumnya.

Kira-kira tahun 745 sM, dinasti Yehu berakhir sebagaimana mulai, yahitu pembunuhan dan pemberontakan. Pada tahun itu Tiglat-Pileser III menjadi raja Asyur dan mulai suatu gerakan merebut kerajaan lain. Dan dalam kurun waktu kurang dari seperempat abad, ia mengakhiri eksistensi Kerajaan Israel dan kemerdekaan Kerajaan Yehuda. Menahem dari Isarel (+ 745-737 sM) membayar upeti kepada Tiglat Pileser, tapi suatu politik anti Asyur telah dipupuk oleh Pekah (+ 736-732 sM), yang bersekutu dengan Damsyik untuk tujuan itu. Tiglat Pileser merebut Damsyik, menghapuskan kerajaan itu, dan menjadikannya propinsi Asyur. Wilayah-wilayah utara dipisan dari wilayah Trans-yordan Israel dan dijadikan 2 propinsi Asyur. Kelas lapisan atas dari penduduk kedua daerah ini diasingkan, diganti dengan para imigra dari daerah-daerah lain Keajaan Asyur. Sewaktu Hosea, raja terakhir Israel, tidak membayar upeti kepada Asyur atas anjuran Mesir (2 Raja 17:1-5), raja Hosea dipenjarakan. Samaria, ibukotanya direbut pada tahun 722 sM, sesudah 3tahun pengepungan, dan menjadi pusat pemerintahan propinsi Asyur wilayah Samaria. Pembuangan berikutnya terjadi lagi – menurut data-data Asyur ada 27,290 orang ditangkap dan dibuang dan pemukim-pemukim asing didatangkan untuk mengambil alih tempat mereka.

Image

Artikel terkait :
IV. Kerajaan Yehuda, di yehuda-vt3001.html#p16845

 
——————————————————————————————————————————
 
V. PROPINSI SAMARIA

Pembuangan orang-orang Israel dari wilayah utara dan Transyordan sedemikian cermat, sehingga kedua daerah ini kehilangan sifat ke-Israel-annya. Tetapi propinsi Samaria lain. Para imigran di propinsi ini pada waktunya menerima agama Israel – ‘hukum beribadah kepada Allah negeri itu’ (2 Raja 17:26 dab), lalu membaur dengan orang Israel yang tersisa tidak diangkut dari sana. Tapi orang Samaria (nama yang kemudian diberikan kepada penduduk di propinsi Samaria) dianggap hina sebagai peranakan, baik secara ras maupun agama oleh orang Yahudi di wilayah selatan, khususnya sejak akhir abad 6 sM dan seterusnya.

Raja Hizkia dari Yehuda (+ 705 sM) mencoba membangkitkan kembali semangat kesatuan agama Israel dengan mengundang orang Samaria datang ke Yerusalem untuk beribadah, tetapi usahanya gagal karena serbuan Sanherip ke Yehuda (+ 701 sM). Hasil yang agak lumayan diperoleh dalam aksi Yosia, cicit Hizkia, yang mengambil keuntungan dari merosotnya Kerajaan Asyur. Ia memperluas kekuasaan Israel pada tahun 621 sM. Fakta bahwa dia mencoba menghalangi gerak maju Firaun Nekho di Megido, membuktikan adanya usaha memperluas kerajaannya, tetapi kematiannya disana pada 609 sM mengakhiri pengharapan akan penyatuan kembali seluruh Israel dibawah seorang raja dari keluarga Daud. Negeri Israel berada dibawah hagemoni Mesir, dan beberapa tahun kemudian dibawah Babel.

Orang Babel nampaknya mengambil alih organisasi pemerintahan propinsi Asyur di wilayah barat. Setelah Gedalya, gubernur Yehuda dibawah pemerintahan Babel, terbunuh. Negeri Yehuda, terkecuali Negeb (sekarang diduduki oleh Edom), dimasukkan ke propinsi Samaria (+ 582 sM). Dalam hal ini tidak ada perubahan besar sebagai akhibat dari penakhlukan Persia (539 sM), kecuali bahwa orang-orang Yehuda yang diasingkan dibawah pemerintahan Nebukadnezar, diizinkan kembali dan bermukim di Yerusalem dan sekitarnya. Daerah ini kemudian menjadi propinsi Yehuda yang terpisah, tapi kecil sekali, dibawah seorang gubernur yang diangkat oleg raja Persia.

Orang Samaria ingin bersahabat dengan orang Israel bekas buangan yang kembali itu. Mereka menawarkan kerja-sama untuk membangun kembali Bait Suci Yerusalem, tapi tawaran ini ditolak oleh orang-orang Yehuda. Mereka jelas takut ‘tertelan’ oleh orang Samaria yang jumlahnya lebih besar, mereka juga sangat meragukan ras dan kemurnian agama orang Samaria itu, Akibatnya, putusnya hubungan selama ini menjadi lebih pahit dari sebelumnya. Dan jika orang Samaria menggunakan kesempatan untuk menjelekkan orang Yehuda kepada Pemerintahan raja Persia. Tetapi usaha mereka gagal, Pembangunan Bait Suci di Yerusalem, telah disetujui oleh Koresy pada tahun 538 sM, namun usaha orang Samaria yang lain berhasil untuk sementara merintangi usaha orang Yehuda membentengi Yerusalem.
Tetapi sewaktu Artaxerxes I mengutus Nehemia ke Yehuda sebagai gubernur pada tahun 445 sM, dengan petunjuk langsung untuk membangun kembali tembok-tembok Yerusalem, orang Samaria dan tetangga-tetangga Yehuda lainnya tentu memperlihatkan rasa kecewa dengan bermacam-macam cara, tapi mereka tidak dapat melancarkan tindakan efektif terhadap dekrit raja.

Gubernur Samaria pada waktu itu adalah Sanbalat, yang memangku jabatan itu beberapa tahun lamanya. Pada tahun 408 sM dia disebut dalam naskah persekutuan Yahudi dari Elephantine di Mesir; mereka membutuhkan jasa-jasa baik dari anak-anak Sanbalat guna memperoleh izin pemerintah Persia untuk membangun kembali Bait Suci mereka yang dihancurkan dalam huru-hara anti yahudi 2 atau 3 tahun sebelumnya.

Bait itu dibangun lebih dari satu abad sebelumnya untuk melayani kegiatan agamawi masyarakat Yahudi, yang dimukimkan oleh raja-raja Mesir dari Dinasti 26 di wilayah garis batas selatan, sebagai penghalang atas serangan-serangan Etiopia. Sebelum mengirim surat kepada anak-anak Sanbalat, orang-orang Yahudi di Elephantine berusaha dulu memperoleh bantuan dari imam besar di Yerusalem, tapi sang imam tidak menggubris permohonan mereka, karena tentu ia tidak menyetujui adanya bait tandingan atas Bait Suci di Yerusalem. Anak-anak Sanbalat – dengan wajar, berkaitan dengan hubungan antara Samaria dan Yerusalem – cepat menanggapinya, dan mereka memperoleh izin yang diperlukan untuk membangun kembali Bait Suci Elephantine

Kenyataan bahwa anak-anak Sanbalat, dan bukan ayah mereka yang didekati oleh orang-orang Yahudi di Elephantine, memberi kesan bahwa sewaktu Sanbalat masih menjadi gubernur, anak-anaknyalah yang melaksanakan sebagian besar tugasnya atas namanya, mungkin karena usianya telah lanjut.

Papirus Elephantine yang menginformasikan kepada kita persekutuan orang Yahudi di Mesir sangat menarik perhatian, karena menggambarkan satu golongan Yahudi yang nampaknya tidak dipengaruhi oleh reformasi zaman Raja Yosia. Dalam hal ini mereka sangat berbeda dengan kalangan Yahudi yang pulang dari pembuangan, kembali ke Yerusalem dan daerah sekitarnya. Para bekas orang buangan ini bersama saudara-saudaranya di Babel telah memetik pelajaran dari pembuangan, terbukti dari makin mantapnya dan cermatnya ketaatan mereka kepada Taurat, khususnya pada unsur-unsur Taurat yag memisahkan mereka dari bangsa-bangsa bertata-hukum dari semua persekutuan lainnya. Munculnya orang yahudi bertata-hukum dalam arti paling khusus, adalah terkait teristimewa pada karya Ezra, yang olehnya Hukum Pentateukh menjadi undang-undang negara ‘Bait Yehuda’, kendati masih harus menghormati kekuasaan yang lebih tinggi, yaitu kerajaan Persia.

Karya Ezra (didukung sepenuhnya oleh Nehemia sebagai gubernur) berakibat, bahwa harapan untuk memperbaiki perpecahan antara orang Samaria dengan orang Yehuda menjadi sangat tipis dibandingkan sebelumnya.

Beberapa waktu sebelum 400 sM, seorang keturunan keluarga dari imam besar di Yerusalem, bernama Manasye, yang mengawini putri Sanbalat, dilantik oleh mertuanya menjadi imam besar di tempat kudus lama di Gunung Gerizim, dekat Sikem, dimana telah didirikan suatu Bait atas izin raja. Kultus yang didirikan demikian sebagai tandingan atas kultus di Yerusalem terus bertahan sampai masa selanjutnya, namun anehnya mereka mendasarkan kepercayaan mereka dalam Kitab Hukum yang persis sama yang diakui baik oleh orang Yahudi maupun orang Samaria.

Artikel terkait :
SAMARIA, di samaria-vt136.html#p276

_____________________________________________________________________________________
 
VI. DIBAWAH ORANG MAKEDONIA

Penaklukan Kerajaan Persia oleh Aleksander Agung tidak membawa perubahan konstitusional baik atas Samaria maupun Yehuda. Kedua propinsi ini sekarang diurus oleh gubernur Yunani-Makedonia, pengganti gubernur-gubernur Persia dahulu.

Upeti sekarang dibayarkan kepada raja baru yang mengganti raja lama. Diaspora Yahudi, yang memencar di seluruh wilayah kerajaan Persia – Haman tidak melebih-lebihkan bila menggambarkannya kepada Xerxes sebagai ‘tercerai-berai dan terasing diantara bangsa-bangsa di dalam seluruh kerajaan tuanku’ (Ester 3:8) – Sekarang mendapat tempat-tempat baru untuk didiami, teristimewa kota Aleksandria dan Kirene.

Pengaruh Yunani tidak dapat dielakkan, mulai mempengaruhi keberadaan mereka. Pengaruh ini dalam beberapa segi adalah baik, misalnya, situasi orang Yahudi yang berbahasa Yunani di Aleksandria, mengharuskan penterjemahan Pentateukh dan kitab PL lainnya ke bahasa Yunani pada abad 3 dan 2 sM, dengan demikian membuka pengetahuan akan Allah Israel kepada orang-orang non-Yahudi.

Sebaliknya, ada kecenderungan meniru kebudayaan Yunani yang terjalin ketat dengan kekafiran, yang tentu akan mengaburkan perbedaan khas ‘bangsa khusus’ pilihan YHVH itu dari bangsa-bangsa sekitar mereka. Sejauh mana suatu keluarga Yahudi terkemuka dapat menyesuaikan diri kepada aspek-aspek budaya hidup Yunani yang buruk, dilukiskan dalam cerita Yosefus mengenai keuntungan-keuntungan keluarga Tobias, yang memperkaya diri sebagai pemungut-pemungut cukai, mulanya dibawah pemerintahan raja-raja Ptolomeus dan kemudian dibawah raja-raja Seleukus.

Diantara dinasti yang mewarisi kerajaan Aleksander, ada 2 dinasti yang paling banyak mempengaruhi sejarah Israel, yakni raja-raja dari dinasti Ptolomeus di Mesir dan raja-raja dari dinasti Seleukus yang menguasai Aram dan negeri-negeri sepanjang Efrat. Dari tahun 320 s/d 198 sM pemerintahan dari raja-raja Ptolomeus meluas dari mesir ke Asia meliputi Lebanon dan pantai Fenisia, termasuk Yehuda dan Samaria. kemenangan raja Seleukus tahun 198 sM di Panion dekat hulu Yordan,, berarti bahwa Samarian dan Yehuda sekarang membayar upeti kepada Antiokia, bukan lagi kepada Aleksandria.

Kekalahan raja Seleukus Antiokhus III kepada orang Roma di Magnesia tahun 190 sM, dengan keharusan mengganti kerugian kepada Roma yang jumlahnya sangat besar, mengakibatkan penambahan pajak yang sangat besar pula atas warga negaranya, termasuk orang Yahudi. Sewaktu anaknya, Antiokhus IV, mencoba memperbaiki keadaan itu dengan memaksakan kekuasaannya atas Mesir (melalui 2 kampanye pada tahun 169 dan 168 sM), orang Roma memaksa dia untuk melepaskan ambisi-ambisi ini.

Yehuda, di perbatasan barat-daya kerajaannya, sekarang menjadi daerah penting dan strategis. Antiokhus merasa, ada alasan untuk mencurigai kesetiaan masyarakat Yahudi. Mengikut nasehat dari para penasehat yang tidak bijaksana, dia memutuskan untuk menghapuskan nasionalitas dan agama yahudi yang khas dan khusus itu. Puncak dari kebijaksanaan politik ini ialah penempatan ibadah kafir – menyembah illah Zeus Olympios (nama yang diganti oleh orang Yahudi menjadi ‘pembinasa yang keji’) – di Bait Suci Yerusalem apda bulan Desember 167 sM. Bait Samaria juga dialihkan peranannya menjadi penyembahan kepada Zeus Xenios.

Pada waktu itu banyak orang Yahudi yang saleh memilih lebih baik mati martir daripada mengingkari agama mereka. Orang-oranglain memberontak terhadap raja mereka. Dianataranya adalah keluarga imam dari keturunan Hasmonean, dipimpin oleh Matatias dari Modin dan kelima anaknya. Yang terkemuka dari kelima anak ini adalah Yudas Makabe, pemimpin berbakat yang unggul dalam perang gerilya. Kemenangannya yang pertama menentang pasukan raja, mendorong orangsebangsanya bergabung di bawah pimpinannya, termasuk banyak orang saleh Israel (orang-orang Khasidim, yang menyadari bahwa perlawanan pasif tidaklah cukup menghadapi ancaman atas eksistensi bangsa dan agama mereka. Raja mengerahkan tentara lebih banyak lagi menumpas mereka, tapi pasukan inipun dihancurkan oleh pasukan Yudas Makabe dengan taktik-taktik perang yang diluar dugaan.

Nyata bagi raja Antiokhus bahwa politiknya gagal total. Ia meminta Yudas supaya mengikir utusan ke Antiokhia untuk merundingkan perdamaian dan syarat-syaratnya. Antiokhus ingin merebut kembali daerah-daerah yang melepaskan diri di wilayah timur kerajaan, karena itulah sangat penting bagi dia mengamankan perbatasannya dengan Mesir. Syarat utama dan asasi dari pihak Yahudi, tentu, adalah pembatalan tuntas larangan terhadap agama mereka. Syarat ini disetujui; orang Yahudi bebas mempraktekkan agama nenek-moyang mereka. Kebebasan itu segera disusuli pensucian Bait Suci dari semua kegiatan penyembahan berhala yang telah ditempatkan didalamnya, dan penahbisan kembali Bait itu untuk kebaktian kepada Allah Israel yang telah berlangsung berabad-abad lamanya. Penahbisan Bait itu pada akhir tahun 164 sM (sesudah itu senantiasa diperingati pada pesta Hanukkah; bandingkan dngan Yohanes 10:22) mungkin tidak termasuk pada syarat perdamaian, tapi nampaknya diterima sebagai faith accompli.

Tapi segera jelas bahwa Yudas, saudara-saudaranya dan pengikutnya tidak puas dengan memperoleh hanya kebebasan beragama saja. Setelah meraih kemenangan dengan kekuatan militer, mereka terus berjuang merebut kemerdekaan politik. Penahbisan Bait Suci dilanjutkan dengan pembentengan bukit Bait itu, berhadapan dengan benteng atau Akra, yang ditempati oleh pasukan kerajaan. Yudas mengirim pasukan bersenjata ke Galilea, Transyordan dan daerah-daerah lain dimana ada persekutuan Yahudi terpencil dan membawa mereka ke daerah-daerah aman di wilayah Yehuda yang berada dibawah kekuasaan pasukannya.

Rentetan tindakan permusuhan demikian tidak dapat dibiarkan oleh pemerintah keluarga Seleukus. Tentara segera dikerahkan menumpas Yudas. Yudas gugur dalam pertempuran pada musim semi tahun 160 sM, dan untuk sementara, gerakan yang dipimpinnya kelihatannya sudah musnah. Tapi beberapa peristiwa yang terkemudian sangat menguntungkan bagi penerusnya. Teristimewa kematian Antiokhus IV pada tahun 163 sM, diikuti perang saudara yang menelan waktu lama dan yang terjadi berulang-ulang di kerajaan Seleukus, antara kelompok-kelompok yang bersaing merebut tahta kerajaan dengan melibatkan para pendukungnya.

Yohathan, saudara Yudas, yang menggantinya memimpin partai pemberontak itu, bersembunyi, menunggu waktu yang tepat, dan setelah waktu itu tiba, melalui perundingan diplomatik ia menerima kemenangan luar-biasa dan maju pesat. Pada tahun 152 sM Alexander Balas, yang nenuntut baginya takhta Seleukus dengan alasan bahwa dia adalah anak dari Antiokhus IV (kebenaran tuntutan ini sulit dinilai), menunjuk Yonathan untuk mengurus kekuatan militernya sendiri di Yehuda, dan mengakui Yonathan ini sebagai imam besar yahudi, sebagai imbalan atas janji Yonathan membantu dia.

Antiokhus IV mulai mencampuri urusan agama Yahudi – campur tangannya melahirkan kelompok Hasmonean – dengan memecat dan menunjuk imam-imam besar atas kemauannya sendiri, hal yangbertentangan dengan kebiasaan lama. Sekarang Hasmonean menerima jabatan imam besar dari seorang yang berhak memberinya melulu berdasarkan tuntutan bahwa ia adalah anak dan penerus dari Antiokhus IV. Betapa cepatnya hilang cita-cita luhur itu!

Golongan-golongan saleh yang memberi bantuan kepada orang orang Hasmonean – mengingat bahwa hanya oleh Hasmonean kebebasan beragama diperoleh – merasa puas bila tujuan itu sudah dicapai, mereka makin kritis terhadap ambisi-ambisi Hasmonean. Tapi ambisi yang paling menjengkelkan mereka diantara adalah ambisi merebut jabatan imam besar. Dianatara orang saleh itu ada yang menolak untuk mengakui imam besar kecuali keturunan Zadok, dan mereka menantikan hari dimana anak-anak zadok kembali memegang jabatan di Bait Suci yang disucikan itu. Suatu kelompok dari keluarga Zadok diizinkan membangun bait Yahudi di Leontopolis di Mesir, dan mereka diperbolehkan memegang jabatan imam disana. Tapi bait suci di luar Israel tidak dianggap sah oleh orang-orang Kasidim, yang sangat menghormati Hukum Taurat.

Pada tahun 143 sM Yonathan terjebak dan dibunuh oleh salah seorang saingan penuntut kekuasaan atas kerajaan Seleukus. Tapi Yonathan diganti oleh saudaranya, Simon, yang dalam kepemimpinannya orang Yahudi memperoleh kemerdekaan sempurna dari kuk kafir. Kemerdekaan itu dituangkan dalam keputusan raja Seleukus Demetrius II bulan Mei 142 sM; orang Yahudi dibebaskan dari kewajiban membayar upeti. Imon melanjutkan keberhasilan diplomasi ini dengan menghapuskan sisa-sisa terakhir dari pengaruh Seleukus di Yehuda – Benteng Gazara (Gezer) dan benteng di Yerusalem. Demetrius memulai suatu perlawanan terhadap orang Partia, dan dia tidak mampu melawan Simon, senandainya dia mau, Simon menerima penghormatan dari Yahudi sesamanya karena kemerdekaan dan perdamaian yang ia capai untuk mereka, Pada pertemuan perserikatan orang-orang Yahudi pada September 140 sM, diputuskan bahwa,d engan mempertimbangkan prestasi patriotik, baik prestasi Simon sendiri dan saudara-saudaranya, maka dia ditunjuk menjadi gubernur bangsa itu, panglima tertinggi militer dan imam besar turun-temurun. Ketiga kekuasaan ini diwariskan kepada keturunannya dan para penerusnya.

Simon terbunuh di Yerikho pada tahun 134 sM oleh menantunya, Ptolomeus, anak Abubus, yang sangat berambisi memegang kekuasaan di Yehuda. Tapi anak Simon, Yohanes Hykanus, menghancurkan ambisi iparnya itu, dan ia mencapai kedudukan sebagai pengganti ayahnya.

Raja Seleukus Antiokhus VII, yang mencoba mengokohkan kembali kekuasaannya atas Yehuda pada masa akhir pemerintahan Simon, berhasil membebankan upeti kepada Yohanes Hyrkanus selama beberapa tahun pertama pemerintahannya. Tapi kematian Antiokhus VII dalam pertempuran dengan orang Partia pada tahun 128 sM, mengakhiri untuk selama-lamanya kedaulatan raja Seleukus atas Yehuda.

 
_____________________________________________________________________________________
 
VII. KELUARGA HASMONEAN

Pada tahun ke-7 pemerintahan Yohanes Hyrkanus, nagara merdeka Yehuda tegak kukuh tegar, 40 tahun sesudah Antiukhus IV menghapuskan keadaan yang lama sebagai negara bait yang otonom dalam kerajaannya. Ketaatan orang-orang Khasidim, kehandalan Yudas dalam kemiliteran dan kenegarawanan Simon yang piawai, ditambah perpecahan dan kelemahan yang semakin memburuk dalam pemerintahan Seleukus, telah memberikan kepada orang yahudi (umumnya memang nampak demikian) apa yang mereka peroleh melebihi apa yang hilang dari mereka pada pemerintahan Antiokhus IV. Tidaklah mengherankan, kalau tahun-tahun pertama kemerdekaan dibawah Yohanes Hyrkanus dianggap oleh generasi-generasi berikutnya sebagai zaman emas.

Pada masa Yohanes Hyrkanus terjadi perpecahan antara mayoritas golongan Khasidim dan keluarga Hasmonaean. Yohanes tersinggung karena keberatan-keberatan Kashidim atas jabatannya sebagai imam besar, dan terjadilah perpecahan diantara mereka. Mulai dari saat itu dan seterusnya kelompok Khasidim muncul sebagai Golongan Farisi, walaupun belum pasti apakah mereka menerima nama itu (Ibrani, PERUSYIM, yang terasing) sebab mereka menarik diri dari perserikatan mereka dulu dengan golongan Hasmonaean seperti sering dianggap orang demikian, kelompok Khasidim terus bertahan sebagai pihak oposisi terhadap rezim pemerintah selama 50tahun. Para memimpin agama yang mendukung pemerintahan dan duduk dalam dewan nasional muncul pada waktu yang bersamaan, dan kelompok ini dikenal sebagai Saduki.

Yohanes Hyrkanus mengambil keuntungan dari makin melemahnya kerajaan Seleukus, dan mengembangkan kekuasaannya. Salah satu dari tindakannya yang terdahulu setelah menegakkan kemerdekaan Yahudi, adalah menyerbu daerah Samaria dan menaklukkan kota Samaria, yang bertahan selama 1 tahun, tapi kemudian direbut dan dimusnahkan. Sikhem juga direbut, dan tempat suci Samaria di Gunung Gerizim dihancurkan. Orang Samaria memohon bantuan dari raja Seleukus, tapi pemerintah Roma memperingatkan dia agar jangan mencampurinya. Orang-orang Hasmonaean, pada awal pergumulan mereka, telah membuat pakta perserikatan dengan pemerintah Roma dan pakta ini diperbarui oleh Yohanes.

Ke arah selatan, dari kerajaannya Yohanes menggempur orang Idumea, menaklukkan dan memaksa mereka disunat dan menerima agama Yahudi. Dia merebut kota-kota Yunani dan Transyordan dan menyerbu Galilea.

Pekerjaannya di Galilea diteruskan oleh anaknya yang sekaligus penerusnya, Aristobulus I (104-103 sM), yang memaksa orang Galilea taklukkan itu menerima Yudaisme, seperti yang diperbuat ayahnya terhadap orang Idumea.

Menurut Yosefus, Aristobulus I memilih gelar ‘raja’ ketimbang gelar ‘ethnarch’, yang dipakai neneknya dan (sejauh kita ketahui) ayahnya juga. Ia memakai mahkota sebagai pertanda status kerajaannya. Dengan jalan ini, dia pasti menghadapkan dapat menikmati prestise yang lebih besar diantara bangsa-bangsa tetangga Non-Yahudi, biarpun dalam mata uang logamnya tertera kata-kata enak bagi perasaan orang Yahudi, yakni “Yehuda imam besar”.

Aristobulus I meninggal (mungkin akibat TBC) sesudah 1 tahun memerintah. Ia diganti oleh saudaranya Aleksander Yannaeus (103-76 sM), yang mengawini jandanya, Salome Aleksandra. Sukar membayangkan seorang imam besar sejelek Yannaeus. Dia berfungsi sebagai imam besar pada hari-hari upacara tertentu, dan dia sengaja berbuat demikian sehingga banyak melukai hati orang-orang Yahudi yang taat beragama (teristimewa orang Farisi). Ambisi Yannaeus. Yang paling besar ialah penaklukkan secara militer. Amisi politiknya ini memang sering mendapat tantangan, tapi pada akhirnya dia berhasil menguasai hampir semua daerah yang dulunya termasuk wilayah Israel pada masa gemilang sejarah bangsa itu – dengan menghapuskan segala yang berharga dalam warisan spiritual bangsanya.

Kota-kota Yunani di pantai Laut Tengah dan Transyordan menjadi sasaran khusus serangannya; satu per satu diserbu dan ditaklukkannya. Yannaeus Memperlihatkan sifat kejam dan suka merusak. Ia tidak memperdulikan sedikitpun nilai-nilai peradapan Yunani yang sejati. Dia menerapkan cara hidup yang kasar gaya pangeran-pangeran Yunani Asia Barat. Perasaan menentang dia yang timbul dalam diri banyak warga Yahudi makin memuncak, sehingga sewaktu dia mengalami kekalahanbesar atas kekuatan Nabate di Transyordan tahun 94 sM. Mereka memberontak terhadap Yannaeus, dan mendapat bantuan dari raja Seleukus, Demetrius III. Tapi warga Yahudi lainnya, sekalipun tidak menyukai Yannaeus, menganggap sangatlah memalukan meminta bantuan dari raja Seleukus, Demetrius III untuk memberontak dan melawan raja dari keluarga Hasmonaean. Dengan sukarela mereka akhirnya membantu Yannaeus yang sudah sedemikian tertekan, mampukah dia memukul mundur pasukan Seleukus. Kebiadaban Yannaeus membasmi pemberontakan itu, teristimewa tindakan sadisnya atas pemimpinnya (diantaranya beberapa tokoh terkemuka Farisi) diingat lama dengan kengerian.

Yannaeus mewariskan kerajaannya kepada jandanya, Salome Aleksandra, yang memerintah sebagai ratu selama 9tahun. Ratu melimpahkan jabatan imam besar kepada anaknya yang tertua Hyrkanus II. Dalam satu hal penting ratu dikagumi. Ia memutar haluan politik pendahulunya; dia melindungi golongan Farisi dan memperhatikan nasihat mereka selama pemerintahannya.

Kematiannya tahun 67 sM, diikuti perang saudara diantara pendukung kedua anaknya, Hyrkanus II dan Aristobulus II, yang bangkit memperebutkan kekuasaan tinggi di Yehuda. Aristobulus II adalah khas pangeran Hasmonean, penuh ambisi dan agresif; sedangkan Hyrkanus II tidak becus dan dapat dengan mudah dimanipulasi oleh pendukungnya demi kepentingan pribadi para pendukungnya itu. Pemimpin kelompok Hyrkanus II ialah Antipater, orang Idumnia, yang ayahnya adalah gubernur wilayah Idumnia dibawah Yannaeus.

Perang saudara antara kedua bersaudara itu dan pendukungnya amsing-masing, dipadamkan oleh orang Roma pada tahun 93 sM, sekaligus mengakiri kemerdekaan Yehuda yang pendek usia dibawah orang-orang Hasmonean.

 
______________________________________________________________________________________
 
VIII. KEUNGGULAN ROMAWI

Pada tahun 66 sM senat dan bangsa Roma mengutus jendral paling ulung waktu itu, Pompius, untuk menyelesaikan perang, yang mereka lancarkan sewaktu-waktu selama lebih dari 20tahun terhadap Mithridates, raja dari Pontus, yang telah membentuk suatu kerajaan di Asia Barat meliputi daerah negeri-negeri Seleukus yang makin lemah dan Negara-negara yang berdekatan. Tidak lama Pompius mengalahkan Mithridates (yang lari ke Krimea dan bunuh diri disana) ; tapi sebagai akibatnya Pompius dihadapkan kepada keharusan menata kembali kehidupan politik di Asia Barat. Tahun 64sM Pompius mencaplok Siria dan menjadikannya propinsi Roma. Ia juga diundang oleh beberapa golongan yang bertikai di negeri Yahudi, untuk mencampuri persoalan mereka dan mengakhiri perang saudara antara anak-anak Yannaeus.

Berkat analisis tajam Antipater mengenai situasi, maka partai yang mendukung Hyrkanus menunjukkan sikap bersedia bekerja-sama dengan Roma, dan Yerusalem membuka gerbang-gerbangnya bagi Pompius pada musim semi tahun 63 sM. Tapi Bait Suci, yang terpisah dibentengi dan dipertahankan oleh pendukung Aristobulus, menderita pengepungan selama 3 bulan, sebelum direbut oleh pasukan Pompius.

Yehuda sekarang menjadi pembayar upeti kepada Roma. Kekuasaannya atas kota-kota Yunani yang ditaklukkan raja-raja Hasmonaean dicabut, dan orang Samaria dibebaskan dari pengawasan Yahudi. Hyrkanus diberhentikan sebagai imam besar dan pemimpin bangsa itu, dan dia harus puas dengan gelar “ethnarch” (wali negeri) karena Pemerintah Roma menolak menakuinya sebagai raja. Antipater terus menolak membantunya, bertekat memanfaatkan perubahan yang baru itu demi kepentingannya sendiri yang (ini harus diakui) umumnya sesuai dengan keuntungan Yehuda.

Aristobulus dan keluarganya berupaya terus dari waktu ke waktu untuk menimbulkan pemberontakan terhadap Roma, sedemikian rupa, untuk menegakkan kekuasaan di Yehuda untuk dirinya sendiri. Tapi selama beberapa tahun upaya ini selalu gagal. Gubernur-gubernur Romawi berusaha keras untuk menguasai Yehuda dan Siria, karena kedua propinsi Roma ini sekarang berada di perbatasan timur wilayah kerajaan Roma, berbatasan dengan kerajaan saingan, Partia.

Akan betapa pentingnya letak strategis kedua daerah ini teracu dalam jumlah pokok besar sejarah Romawi, yang turut berperan dalam perjalanan sejarah Yehuda dan menjadikannya propinsi Roma; Krassus, gubernur Siria tahun 54-53sM yang merampok Bait Suci di Yerusalem dan banyak lagi kuil di Siria, sambil mengumpulkan sumber-sumber dana untuk biaya perang melawan Partia, tapi dikalahkan dan dibunuh oleh musuhnya di Karhae t di tahun 53sM; Julius Caesar yang menjadi pemimpin dunia Romawi setelah menyingkirkan Pompius di Farsalus tahun 48sM; Mark Anthony, yang menguasai propinsi-propinsi wilayah timur kerajaan Roma, setelah dia dan Octavius mengalahkan pembunuh Julius Caesar dan komplotan pembunuh itu di Filipi tahun 42sM; kemudian Octavius sendiri yang menyingkirkan Mark Anthony dan Cleopatra di Aktium pada tahun 31sM dan sesudah itu memerintah dunia Romawi yang dikenal sebagai Kaisar Agustus.

Selama pergantian pemimpin pada prang saudara dan perang melawan kerajaan lain, Antipater dan keluarganya mempertahankan politik mendukung wakil utama kekuasaan Romawi di Timur setiap waktu, siapapun orangnya dan dari partai manapun dia di Negara Romawi. Khususnya Julius Caesar mempunyai alasan untuk berterima kasih kepada Antipater atas bantuannya, sewaktu Julius Caesar terkepung di Alexandria selama musim dingin tahun 48-47sM, Julius Caesar memberikan hak-hak istimewa bukan hanya kepada Antipater sendiri, tetapi juga kepada orang Yahudi.

Kepercayaan ini sebagai dampak dari jasa keluarga Antipater yang dinikmati oleh orang Roma, nyata mencolok pada tahun 40sM. Pada tahun itu orang Partia menyerbu Siria dan Palestina dan memampukan Antigonus, anak terakhir yang masih hidup dari Aristobulus II untuk memperoleh kembali takhta Hasmonaean dan memerintah sebagai raja sekaligus Imam Besar atas orang Yahudi. Hyrkanus II dipuntungkan sehingga tidak boleh menjadi imam besar lagi. Pada waktu ini Antipater telah meninggal. Tapi orang mencoba mengangkap dan menghancurkan keluarganya. Seorang anaknya Fasael, ditangkap dan dibunuh, tapi Herodes, anak Antipater yang paling cakap, lari ke Roma.

Senar Roma memilih Herodes menjadi raja orang Yahudi, atas permintaan Mark Anthony dan Octavius. Tugasnya ialah merebut kembali Yehuda dari Antigonus (yang tidak diganggu oleh komandan pasukan Romawi di Siria, sewaktu pasukan penyerbu dari Partia diusir keluar) dan memerintah daerah itu demi kepentinga Romawi, sebagai ‘teman dan sekutu’ mereka. Tigas itu tidak mudah dan baru tuntas tahu 37sM dengan penyerbuan Yerusalem setelang pengepungan selama 3 bulan. Nyata bagi Herodes bahwa kebencian terhadap dirinya membara pada pihak warga yang baru itu, yang tidak dapat disingkirkannya betapapun ia berusaha. Antigonus dibelenggu dan dikirim kepada Mark Anthony, yang menjatuhinya hukuman mati. Herodes mencoba mengukuhkan kedudukannya di mata orang Yahudi dengan mengawini Miriamme, seorang putri Hasmonaean, tapi perkawinan ini bahkan menambah kesulitan, bukan mengurangi.

Kedudukan Herodes sangat gawat pada 6tahun pertama pemerintahannya. Biarpun Mark Anthony adalah teman dan pelindungya, tapi Cleopatra bertekat memasukkan Yehuda ke dalam kerajaannya, seperti diperbuat nenek moyangnya, orang Ptolemeus. Untuk tujuan itu Cleopatra berusaha mempengaruhi Mark Anthony. Tergilingnya Cleopatra dan Mark Anthony pada tahun 31sM, dan dikukuhkannya kedudukan Herodes dalam kerajaannya oleh sang penakluk, Kaisar Agustus, mendapakkan beberapa keringanan dalam hal urusan luar negeri baik dalam lingkungan keluarganya sendiri maupun dalam hubungannya dengan bangsa Yahudi. Namun dia memerintah Yehuda dengan tangan besi, dengan melayani kepentingan-kepentingan Roma lebih baik dibandingkan Gubernur Romawi manapun juga.

Sesudah Herodes meninggal tahun 4sM, kerajaannya dibagi oleh ketiga anak-anaknya yang masih hidup. Herodes Arkelaus memerintah Yehuda dan Samaria sebagai wali negeri sampai tahun 6M; Herodes Antipas memerintah Galilea dan Perea sebagai raja wilayah sampai 39M; Herodes Filipus menerima daerah timur dan timur laut dari Tasik Galilea, yang ditenteramkan ayahnya untuk kepentingan Kaisar, dan memerintah sebagai raja wilayah itu sampai kematiannya tahun 34M.

Herodes Antipas mewarisi keecrdasan politik dan menerukan tugas memajukan kepentingan Romawi di wilayahnya dan sekitarnya. Tetapi Herodes Arkelaus mewarisi kebengisan ayahnya tanpa kecerdasan. Segera warganya bangkit menentang dia, yang mencapai puncaknya ketika mereka memohon supaya Kaisar Romawi menggesernya guna menghindari timbulnya pemberontakan. Sesuai dengan permohonan itu Herodes Arkelaus dipecat dan diasingkan. Wilayah timur diatur kembali sebagai satu propinsi Romawi tingkat tiga. Dan guna pengaturan upeti tahunan kepada bendahara kekaisaran, maka Gubernur Siria, Kirenius, mengadakan sensus di Yehuda dan Galilea. Sensus ini menyulut pemberontakan Yudas dari Galilea. Pemberontakan itu dipatahkan, namun cita-citanya tetap hidup dalam kelompok orang Zelot, yang menyatakan bahwa membayar upeti kepada Kaisar atau kepada pemerintah kafir manapun, adalah merupakan pengkianatan terhadap Allah Israel.

Sesudah sensus, Yudea (Propinsi Yehuda dan Samaria) diperintah oleh seorang wali dari Romawi sebagai gubernur. Wali negeri ditunjuk oleh kaisar dan tunduk pada pengawasan umum para Gubernur Siria. Para wali negeri terdahulu menerapkan hak menunjuk imam besar Israel – suatu hak yang sejak akhir keluarga Hasmonaean, telah diterapka oleh Herodes (Agung) dan Herodes Arkelaus. Para wali negeri menjual jabatan kudus itu kepada para penawar tertinggi, dan harkat spiritual menjadi sangat rendah. Berdasarkan jabatannya, imam besar mengetuai Sanhedrin (Mahkamah Agama Agung) yang mengurus soal-soal intern bangsa itu.

Dari para wali negeri terdahulu, satu-satunya yang terkenal ialah Pontius Pilatus. Sifatnya yang kasar dank eras kepala dicatat dalam halaman-halaman buku Josephus dan Philo – tanpa menyebut peranannya dalam PB (Perjanjian Baru). Bah wa ia membangun saluran air yang baru guna memperbaiki penyediaan air untuk Yerusalem dan Bait Suci, menandakan keuntungan-keuntungan Romawi, bahwa ia meremhkan keberatan-keberatan religius orang Yahudi dengan berkeras membiayai pembangunan saluran air itu dengan dana Bait Suci, menunjukkan segi pemerintahan Romawi yang bertanggung jawab atas pemberontakan tahun 66M; artinya kekebalan tanggung jawab gubernur atas perasaan local.

Dalam kurun waktu singkat antara tahun 41 dan 44M, Yudea menikmati kelegaan administrasi dari wali Romawi, kepada Herodes Agripa I, cucu dari Herodes Agung dan Mariamme, Kaisar Gayus memberikan bekas wilayah Filistin tahun 37M, lalu memperluasnya dengan menambahkan Galilea dan Perea tahun 39M. Setelah Herodes Antipas dipecat dan dibuang. Kemudian Herodes Agripa I menerima Yudea dan Samaria sebagai tambahan bagi kerajaannya dari Kaisar Claudius tahun 41M. Karena dialah keturunan Hasmonaean (melalui mariamme) dia cukup disenangi kalangan Yahudi. Tetapi sesudah keatiannya tahun 44M, dalam usia 54tahun, Propinsi Yudea (sekarang ddidalamnya termasuk baik Galilea maupun Samaria) kembali kepada pemerintahan wali negeri sebab anak dari Herodes Agripa I, Agripa muda, terlalu muda untuk menerima tanggung jawab kerajaan ayahnya. Tetapi kelonggaran diberikan untuk memenuhi keinginan orang Yahudi, yakni hak istimewa menunjuk imam besar, yang diwarisi Agripa muda dari para wali negeri yang mendahuluinya, tidak kembali kepada para wali negeri yang menggantinya, melainkan diberikan pertama kepada saudaranya, Herodes dari Khalkis, dan sesudah kematian Herodes tahun 48 M, diberikan kepada Agripa Muda.

 
____________________________________________________________________________
 
IX. AKHIR NEGARA YAHUDI II

Kira-kira selama 20tahun setelah kematian Herodes Agripa I, kesulitan beruntun dan lebih parah menimpa Yudea. Rakyat umumnya jengkel akibat kehadiran Wali-Negeri asing yang menggantikan pemerintahan mereka yang singkat dibawah pemerintahan Raja Yahudi; dan para Wali-Negeri itu sendiri tidak berusaha meredakan ketidak-puasan warganya, orang Yahudi.

Kemudian pemberontakan timbul beruntun oleh hasutan ‘mesias-mesias’ palsu, seperti Teudas yang dibunuh oleh pasukan berkuda yang dikerahkan oleh Wali-Negeri Fadus (44-46 M) atau pembeontakan oleh para pemimpin Zelot, seperti Yakobus dan Simon (Keduanya anak Yudas dari Galilea), yang disalibkan oleh Wali-Negeri berikutnya, yaitu Tiberius Yulius Aleksander (46-48 M). Aleksander adalah seorang Yahudi Murtad, keturunan dari satu keluarga Yahudi terkenal dari Aleksandria, sama sekali tidak mau mengambil hati orang Yahudi.

Pada masa Wali-Negeri Fadus dan Aleksander, Yudea ditimpa bala kelaparan seperti disebut dalam Kisah 11:28 :

* Kisah 11:28
Seorang dari mereka yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan, bahwa seluruh dunia akan ditimpa bahaya kelaparan yang besar. Hal itu terjadi juga pada zaman Klaudius.

Josephus mencatat, bagaimana Helana, ibu suri ratu Adiabene, di timur Tigris, membeli gandum di Mesir dan buah ara di Siprus pada waktu itu untuk membantu rakyat Yahudi yang dilanda kelaparan. Keluarga ratu dari Adiabene itu memeluk agama-Yahudi terkemuka pada waktu itu, beberapa orang dari mereka berjuang di pihak Yahudi dalam perang melawan Roma, yang pecah di tahun 66M.

Dibawah pemerintahan Wali-Negeri Feliks, ketidak puasan bertambah di Yehuda. Dengan segala daya Feliks membersihkan propinsi itu dari gerombolan-gerombolan pengacau. Tindakan-tidakannya penuh kekerasan memang disertai keberhasilan sementara. Tapi hal itu sangat menjengkelkan hati sejumlah besar penduduk, sebab dimata mereka para pemberontak itu bukanlah penjahat criminal, melainkan pahlawan.

Tahun-tahun berakhir, pemerintahan Feliks dijejali kerusuhan sengit antara penduduk Non Yahudi dan Yahudi di Kaisarea, yang timbul akibat pertengkaran mengenai hak-hak istimewa kewarganegaraan. Feliks menyuruh pemimpin ke-dua partai itu ke Roma, agar persoalan mereka diputuskan oleh Kaisar. Tapi Feliks ditarik kembali dan diganti oleh Festus (59 M). Pertengkaran Kaisarea diputuskan dan dimenangkan oleh pihak Non Yahudi. Dendam Yahudi atas keputusan itu, yang dibakar oleh tindakan kekerasan Non Yahudi karena kemenangan mereka, adalah salah satu unsur yang menyulut timbulnya huru-hara tahun 66 M.

Dari satu sisi Festus adalah gubernur yang adil dan lembut, tapi pada tahun 62 M, sewaktu masih memangku jabatannya ia meninggal. Kedua penggantinya : Albinus dan Florus, melalui tindakannya yang menyakiti perasaan nasional Yahudi dan agama-Yahudi, memacu timbulnya ekstrimis anti Roma. Puncak tindakan kebrutalan pemimpin Roma itu ialah merampas 17 talenta dari perbendaharaan Bait Suci. Tindakan yang melanggar kesucian dan kedaulatan Bait Suci ini menimbulkan kerusuhan yang dipadamkan oleh pasukan Roma dengan menelan banyak korban. Golongan moderat bangsa itu, dibantu Agripa Muda, menasehatkan supaya pihak Yahudi menekan perasaan, tapi rakyat tidak peduli. Hubungan antara benteng Antonia dan halaman Bait Suci diputus, dan pemimpin Bait Suci yang juga adalah pemimpin partai perang di Yerusalem , secara formal melepaskan otoritas kaisar dengan menghentikan uparaca penyerahan korban harian untuk keselamatan kaisar.

Florus sekarang tidak mampu menguasai keadaan. Campur tangan Cesteus Gallus, Guberbur Siria, dengan mengerahkan pasukan tangguh memperkuat pasukanFlorus, ternyata tidak berkutik, Gallus terpaksa mundur dan pasukannya menderita kerugian besar sewaktu mundur melalui jurang Bet-Horon (November 66 M).

Keberhasilan ini begitu mencolok bagi orang Yahudi pemberontak itu, merasuki mereka dengan optimisme palsu. Kesimpulan para ekstrimis itu nampaknya mutlak; Roma tidak mampu mempertahankan diri terhadap mereka. Seluruh Palestina berada dalam keadaan perang.

Tapi Vespasianus, yang dipercayakan menumpas pemberontakan itu, memulai tugasnya secara metodik. Tahun 67M, dia membasmi pemberontak Galilea itu lari ke Yerusalem . Kedatangan mereka di Yerusalem menambah percekcokan intern, yang menyiksa kota itu selama tahun-tahun dan bulan-bulan terakhir. Pada musim panas tahun 68M, Vespasianus menuju Yerusalem. Sementara dalam perjalanan, kabar tiba mengatakan bahwa Nero telah turun takhta dan meninggal di Roma. Perang saudara terjadi di pusat kekaisaran itu meneguhkan hati pembela-pembela Yerusalem dengan pengharapan baru; dari sudut pandang mereka Roma dan kekaisaran sedang berada di ambang kehancuran dan kerajaan kelima Daniel akan didirikan diatas puing-puingnya.

Dari Kaisarea, Vespasianus mengamati perkembangan di Roma, pada tanggal 1 Juli 69M, dia diumumkan sebagai Kaisar di Aleksandria oleh Gubernur Mesir (orang Yahudi murtad yang sama yaitu, Aleksander, yang dulunya menjadi Wali-Negeri di Yudea). Pengumuman di Aleksandria segera diikuti di Kaisarea dan Antiokhia dan oleh pasukan tentara di wilayah timur. Vespasianus kembali ke Roma untuk menduduki takhta kekaisaran, meninggalkan anaknya Titus, untuk menyelesaikan penindasan pemberontakan di Yudea. Menjelang akhir tahun 69 M, seluruh Yudea ditaklukkan, kecuali di Yerusalem dan 3 benteng yang menghadap ke Laut Mati.

Yerusalem dikepung pada musim semi tahun 70M. pada bulan mei, setengah dari kota itu telah dikuasai oleh pasukan Roma, tetapi para pembelanya menolak menerima syarat-syarat penyerahan. Pada tanggal 24 Juli 70M, Benteng Antonia diserbu; 12 hari kemudian kebaktian penyerahan persembahan korban harian di Bait Suci dihentikan, dan pada tanggal 29 Agustus 70 M tempat suci itu dibakar dan musnah. Empat minggu kemudian seluruh Yerusalem jatuh ketangan Jenderal Titus. Kota itu diratakan denga tanah, kecuali sebagian tembok barat, dengan 3 menara dari istana Herodes di tembok itu, yang dijadikan markas besar pasukan (garnisun) Romawi. Pusat pemberontakan terakhir yang harus ditindas adalah Benteng Masada yang hampir tidak terkalahkan dari bagian barat-daya Laut Mati, dimana suatu kekuatan Zelot bertahan sampai akhir musim semi tahun 73 M dan kemudian melakukan bunuh diri masal, untuk menghindari penangkapan tentara Roma.

Yudea ditata kembali sebagai suatu propinsi dibawah duta kaisar Romawi, langsung bertanggung jawab kepada kaisar dan sekali-kali tidak dibawahi oleh Duta Romawi di Siria. Berbeda dengan para Wali-Negeri, duta-duta Romawi dari Yudea mempunyai beberapa pasukan tentara dibawah pimpinan mereka. Pajak Bait Suci, yang selama ini dibayar oleh orang Yahudi di seluruh dunia untuk pemeliharaan Bait Suci di Yerusalem, terus diberlakukan, tapi sekarang dialihkan untuk pemeliharaan kuil Yupiter di Bukit Kapitoline di Roma.

Hirarki Bait Suci Sanhedrin seperti diatur dahulu telah lenyap. Maka kekuasaan dalam dan terutama ditengah-tengah bangsa Yahudi, diserahkan kepada suatu Sanhedrin yang baru terdiri dari para Rabi, yang untuk pertama kalinya dipimpin oleh Yohanan bin Zakai, guru sekolah Hillel. Lembaga keagamaan ini menjalankan pengawasannya melaui rumah-rumah ibadah, dan mulai membentuk suatu badan untuk menyusun hukum lisan tradisional ke dalam bentuk tertulis dalam Misnah menjelang akhir abad ke 2 Masehi. Adalah kebijaksanaan Yohanan bin Zakai dan rekan sekerjanya, sehingga identitas nasional dan agama Yahudi dapat hidup terus sesudah Bait Suci di Yerusalem dan Negara ke-2 Yahudi runtuh pada tahun 70 M.

Sumber :
Josephus, Antiquities of the Jew
M Noth, The History of Israel, 1960
J Bright, A History of Israel, 1972,
etc.
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid 1, P 447-460.

 
 
_____________________________________________________________________
 
10 SUKU HILANG DARI ISRAEL

Anak-anak Yakub berjumlah 12 orang, sering ditulis “dua belas” tetapi suku bangsa Israel itu jumlahnya “tiga belas”. Dua anak Yusuf diangkat sebagai anak oleh Yakub dan memiliki status yang sama (Kejadian 48 ).

* Yosua 14:4
Sebab bani Yusuf merupakan dua suku, Manasye dan Efraim. Maka kepada orang Lewi tidak diberikan bagiannya di negeri itu, selain dari kota-kota untuk didiami, dengan tanah penggembalaannya untuk ternak dan hewan mereka.

Suku Lewi “dipisahkan” dari bani Israel karena tugas mereka melayani Bait Allah. Tatkala Perjanjian Lama menulis “dua belas” orang dari bangsa Israel, maka suku Lewi tidak termasuk di dalamnya karena mereka bertugas di kemah suci.

* Yosua 3:12
Maka sekarang, pilihlah dua belas orang dari suku-suku Israel, seorang dari tiap-tiap suku.

Dengan ini Manasye dan Efraim masing-masing menjadi nama suku. Demikianlah sesudah Israel meninggalkan Mesir dan Tuhan memberikan kepada mereka tabernakel itu di padang gurun, kita melihat di situ bagaimana suku Lewi melayani bagi keduabelas suku Israel yang dinamai :

1. Ruben,
2. Simeon,
3. Isakhar,
4. Yehuda,
5. Zebulon,
6. Benyamin,
7. Dan,
8. Naftali,
9. Gad,
10. Asyer,
11. Efraim,
12. Manasye

Reff. Bilangan 10:11-28 Nama Yusuf (menjadi Efraim & Manasye) dan Suku Lewi tidak disebutkan sebab mereka melayani Bagi 12 suku Israel.
(demikian tentang “tiga belas” suku Israel sebagai tambahan referensi)

a. Kerajaan Israel I (Takhta Saul, Daud, Salomo)

Baca di israel-vt134.html#p274

b. Kerajaan Israel pecah :

Setelah Salomo mati, Kerajaan Israel terpecah menjadi dua, yaitu bagian utara ibukota Samaria bernama “Kerajaan Israel dan bagian selatan ibukota Yerusalem bernama Kerajaan Yehuda. “Sepuluh” suku di kerajaan utara dan “tiga” suku di kerajaan Yehuda.

Sebab apa Kerajaan Warisan Daud-Salomo ini pecah, inilah kejadiannya :

Ketika anak Salomo, Rehabeam menduduki takhta, maka rakyat menginginkan tarif pajak yang telah ditetapkan oleh Salomo diperingan, karena itu mereka mengirim Yerobeam, untuk membicarakan hal tersebut kepada raja mereka Rehabeam.

* 1 Raja 12:4,11,16
12:4 “Ayahmu telah memberatkan tanggungan kami, maka sekarang ringankanlah pekerjaan yang sukar yang dibebankan ayahmu dan tanggungan yang berat yang dipikulkannya kepada kami, supaya kami menjadi hambamu.”
12:11 Maka sekarang, ayahku telah membebankan kepada kamu tanggungan yang berat, tetapi aku akan menambah tanggungan kamu; ayahku telah menghajar kamu dengan cambuk, tetapi aku akan menghajar kamu dengan cambuk yang berduri besi.”
12:16 Setelah seluruh Israel melihat, bahwa raja tidak mendengarkan permintaan mereka, maka rakyat menjawab raja: “Bagian apakah kita dapat dari pada Daud? Kita tidak memperoleh warisan dari anak Isai itu! Ke kemahmu, hai orang Israel! Uruslah sekarang rumahmu sendiri, hai Daud!” Maka pergilah orang Israel ke kemahnya,

Kemudian Yerobeam memberontak :

* 1 Raja 12:19-24
12:19 Demikianlah mulanya orang Israel memberontak terhadap keluarga Daud sampai hari ini.
12:20 Segera sesudah seluruh Israel mendengar, bahwa Yerobeam sudah pulang, maka mereka menyuruh memanggil dia ke pertemuan jemaah, lalu mereka menobatkan dia menjadi raja atas seluruh Israel. Tidak ada lagi yang mengikuti keluarga Daud selain dari suku Yehuda saja.
12:21 Ketika Rehabeam datang ke Yerusalem, ia mengumpulkan segenap kaum Yehuda dan suku Benyamin, seratus delapan puluh ribu teruna yang sanggup berperang untuk memerangi kaum Israel dengan maksud mengembalikan kerajaan itu kepada Rehabeam, anak Salomo.
12:22 Tetapi datanglah firman Allah kepada Semaya, abdi Allah, demikian:
12:23 “Katakanlah kepada Rehabeam, anak Salomo, raja Yehuda, dan kepada segenap kaum Yehuda dan Benyamin dan kepada selebihnya dari bangsa itu:
12:24 Beginilah firman TUHAN: Janganlah kamu maju dan janganlah kamu berperang melawan saudara-saudaramu, orang Israel. Pulanglah masing-masing ke rumahnya, sebab Akulah yang menyebabkan hal ini terjadi.” Maka mereka mendengarkan firman TUHAN dan pergilah mereka pulang sesuai dengan firman TUHAN itu.

Yerobeam – dan kesepuluh suku yang memberontak tersebut menamakan dirinya “Kerajaan Israel”. Kerajaan tersebut dipimpin oleh dua suku yang telah diurapi oleh Yakub untuk menyandang namanya. Mereka adalah Efraim dan Manasye, sedangkan rajanya berasal dari suku Efraim.

* 1 Raja 11:26
Juga Yerobeam bin Nebat, seorang Efraim dari Zereda, seorang pegawai Salomo, nama ibunya Zerua, seorang janda, memberontak terhadap raja.

c. Kerajaan Israel II – 10 suku :

* 1 Raja-raja 11:31
dan ia berkata kepada Yerobeam: “Ambillah bagimu sepuluh koyakan, sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari tangan Salomo dan akan memberikan kepadamu sepuluh suku.

Kerajaan Israel Menolak Peraturan Allah. Setelah Yerobeam menjadi raja atas Israel, ia segera membuat dua patung anak sapi emas, dan memasukkan berhala kepada Kerajaan Israel. (1 Raja 12:28-33). Yerobeam melakukan hal ini karena ia takut kehilangan takhtanya, karena rakyatnya harus kembali ke Yerusalem setahun sekali untuk merayakan hari rayaTabernakel. Jadi dengan memperkenalkan berhala, maka diharapkan rakyatnya tidak akan pergi ke Yerusalem, melainkan mereka akan tetap tinggal di tempat baru tersebut.

Penyembahan kepada berhala ini disertai dengan pelanggaran hari Sabat, hari Sabat tidak lagi diperingati (Yehezkiel 20:10-24), hal ini adalah merupakan dosa terbesar yang membawa kutuk kepada Israel. Dari generasi ke generasi Allah selalu berusaha agar Kerajaan Israel mau kembali ke jalanNya. Tetapi selama 9 generasi dengan 19 raja, mereka tetap menolak peraturan Allah, dan tetap melakukan berhala. Karena itulah kemudian Allah menghukum mereka dengan menjadikan mereka sebagai bangsa tawanan (1 Raja 14:15-16). Pada tahun 721-718 sM, Kerajaan Israel dikalahkan, diusir, dan ditawan oleh Assiria, yaitu disekitar teluk selatan Laut Kaspia. Dan kemudian menghilang dari pandangan.

* 2 Raja 17:18
Sebab itu TUHAN sangat murka kepada Israel, dan menjauhkan mereka dari hadapan-Nya; tidak ada yang tinggal kecuali suku Yehuda saja. —

(Note : Israel yang dimaksud adalah Kerajaan Israel, dan Yehuda yang dimaksud adalah Kerajaan Yehuda.)

Hancurnya Kerajaan Israel ditegaskan kembali dalam ayat ini :

* 2 Raja 17:22-23
17:22 Demikianlah orang Israel hidup menurut segala dosa yang telah dilakukan Yerobeam; mereka tidak menjauhinya,
17:23 sampai TUHAN menjauhkan orang Israel dari hadapan-Nya seperti yang telah difirmankan-Nya dengan perantaraan semua hamba-Nya, para nabi. Orang Israel diangkut dari tanahnya ke Asyur ke dalam pembuangan. Demikianlah sampai hari ini.

Jadi mereka akhirnya keluar dari tanah mereka, dan pergi ke Asyur. Dengan ini Kerajaan Israel menghilang, dan dikenal dengan sebutan “Sepuluh Suku Yang Terhilang”.

Sekarang kita baca :

* 2 Raja 17:24
Raja Asyur mengangkut orang dari Babel, dari Kuta, dari Awa, dari Hamat dan Sefarwaim, lalu menyuruh mereka diam di kota-kota Samaria menggantikan orang Israel; maka orang-orang itu pun menduduki Samaria dan diam di kota-kotanya.

2 Raja 17:24 menjelaskan siapakah yang menggantikan bangsa Israel setelah mereka keluar dari daerah mereka. Para orang baru tersebut adalah orang asing, pada jaman Yesus, mereka disebut orang – orang Samaria. Orang Samaria adalah keturunan orang Israel yang tertinggal di kerajaan Utara dan telah kawin campur dengan para pendatang – orang-orang asing yang menjadi penduduk baru disitu.

Orang Samaria dianggap bukan ras asli Israel oleh orang Yahudi karena mereka adalah keturunan campuran. Mereka tidak pernah dapat bekerja sama dengan Yehuda secara efektif pada zaman Nehemia, keretakan itu jelas sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Pembangunan Bait Suci orang Samaria di Gunung Gerizim – dan dari situ orang dapat melihat Sikhem (Yohanes 4:20) – merupakan bukti jelas bahwa orang Yahudi menolak sekte ini, dan mereka anggap bidat.

Pada tahun 128 sM, Raja Yahudi II bernama Hyrcanus menghancurkan Bait Suci orang Samaria. Tetapi orang Samaria juga menyembah Allah, sama seperti orang Yahudi. Bagi mereka, yang mempunyai otoritas tertinggi adalah 5 Kitab Musa (Pentateukh), yang dapat dikatakan ‘tidak berbeda’ dengan versi Yahudi. Mereka juga menanti-nantikan datangnya seorang Nabi seperti Musa. Kebencian dan penghinaan orang Yahudi terhadap orang Samaria ini lebih cenderung disebabkan oleh pertimbangan-pertimbangan historis dan ras, ketimbang perbedaan agama yang fundamental.

c. Kerajaan Yehuda :

Suku Yehuda tetap mengakui Rehobeam sebagai raja. Bersama – sama dengan suku Benyamin, dan suku Lewi , mereka bergabung dalam satu wadah kerajaan yang bernama “Kerajaan Yehuda”.

Garis Keturunan Daud tetap memerintah Atas Kerajaan Yehuda. Allah telah berjanji Sang Mesias tidak akan lepas dari Yehuda (Kejadian 49:10; Yesaya 11:1-16) . Kerajaan Yehuda menamakan dirinya sesuai dengan nama sukunya, sedangkan kesepuluh lainnya, menyandang nama Israel, mereka ini memisahkan diri karena protes atas pajak yang diterapkan Salomo & Rehabeam. Kerajaan Yehuda tetap mengakui Rehabeam sebagai raja mereka. Apa yang menyebabkan perpecahannya, sudah disinggung diatas

Seperti Kerajaan Israel, Kerajaan Yehuda-pun juga hancur dan dikuasai Nebukadnezar dari Babilon. Namun ada perbedaannya dengan apa yang terjadi pada Kerajaan Israel (Utara). Setelah lebih dari 130 tahun kemudian, Nebukadnezar membawa orang-orang dari Kerajaan Yehuda yang masih tinggal di Palestina ke Babilon. Jadi tidak ada keturunan Israel pun yang tinggal di Palestina setelah Yehuda di tawan. Semua keturunan Yakub, dikeluarkan dari tanah mereka. Kemudian orang-orang eks Kerajaan Yehuda dikembalikan ke Palestina untuk membangun kembali Bait Allah, dan kembali beribadah kepada Allah setelah 70 tahun ditawan. Tetapi mereka hanyalah adalah suku Yehuda, Benyamin, dan Lewi saja.

Tiga suku di kerajaan selatan adalah suku Yehuda, dan Benyamin, plus suku Lewi yang melayani Bait Allah di Yerusalem. Tiga suku inilah yang dibuang ke Babel di era Nebukadnezar dan kemudian kembali ke Yerusalem atas persetujuan Raja Koresh.

* Ezra 1:1-3
1:1 Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia, sehingga disiarkan di seluruh kerajaan Koresh secara lisan dan tulisan pengumuman ini:
1:2 “Beginilah perintah Koresh, raja Persia: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda.
1:3 Siapa di antara kamu termasuk umat-Nya, Allahnya menyertainya! Biarlah ia berangkat pulang ke Yerusalem, yang terletak di Yehuda, dan mendirikan rumah TUHAN. Allah Israel, yakni Allah yang diam di Yerusalem.

d. Kembali dari pembuangan

Keturunan Israel dari Kerajaan Israel (Utara) tidak pernah kembali ke Palestina.
Mereka pun juga tidak ikut kembali bersama bersama dengan orang-orang dari Kerajaan Yehuda (selatan) pada saat Ezra, dan Nehemiah. Mereka yang kembali ke Palestina, membangun dan mengadakan acara keagamaan kembali di Yerusalem. Yaitu setelah masa penawanan kerajaan Yehuda oleh raja Nebukadnezar di Babilon hanyalah tiga suku saja, dan bukan dua belas:

* Ezra 1:5
Maka berkemaslah kepala-kepala kaum keluarga orang Yehuda dan orang Benyamin, serta para imam dan orang-orang Lewi, yakni setiap orang yang hatinya digerakkan Allah untuk berangkat pulang dan mendirikan rumah TUHAN yang ada di Yerusalem.

* Ezra 2:1
Inilah orang – orang propinsi Yehuda yang berangkat pulang dari pembuangan, yakni para tawanan, yang dahulu diangkut ke Babel oleh Nebukadnezar, raja Babel, danyang kembali ke Yeruslem danke Yehuda, masing – masing ke kotanya.

Dengan demikian jelas orang-orang eks kerajaan Yehudalah yang tersisa. Jadi pada saat Kristus di dunia, yang tinggal di Yerusalem hanyalah tiga suku saja, Benyamin, Lewi, dan Yehuda (Yahudi) dan mungkin sebagian kecil sekali dari Suku Asyer.

e. Bukti Perjanjian Baru (PB) tentang tersisanya 3 Suku ini :

1. Suku Yehuda :

Yesus Kristus (Yusuf dan Maria) dari suku Yehuda :

* Matius 1:1
Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.
dan seterusnya sampai ayat 17, lihat juga Lukas 3:23-38.

* Ibrani 7:14
Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tuhan kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam.

2. Suku Lewi

Rasul Barnabas, dari suku Lewi

* Kisah 4:36
Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.

Imam Zakharia suku Harun (nama lain suku Lewi)

* Lukas 1:5
Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet.

3. Suku Benyamin

Rasul Paulus adalah suku Benyamin,

* Roma 11:1
Maka aku bertanya: Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiri pun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin.

* Filipi 3:5
disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,

Sebenarnya selain dari 3 suku-suku di atas, masih ada sebagian kecil dari Suku Asyer yang eksis pada zaman Perjanjian Baru :

* Lukas 2:36
Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya,

Suku Asyer adalah jumlah yang sangat kecil dibandingkan ke-3 Suku-suku lainnya (Yehuda/Yahudi, Lewi/Harun dan Benyamin). Keberadaan Suku Asyer yang masih bertahan ada di zaman Perjanjian Baru, dapat kita lihat rujukannya di:

* 2 Tawarikh 30:11
Namun beberapa orang dari Asyer, Manasye dan Zebulon merendahkan diri, dan datang ke Yerusalem.

Sesudah kerajaan Utara jatuh, beberapa orang Asyer menanggapi seruan Hizkia untuk merayakan Paskah di Yerusalem (2 Tawarikh 30: 11). Keturunan Asyer di kemudian hari menjadi tokoh yang menajdi saksi kelahiran Sang Mesias, yaitu Hana, seorang perempuan lanjut usia, seorang nabiah, yang gembira melihat bayi Yesus(Lukas 2:36)

 
____________________________________________________________________________
 
Israel, Bangsa Pilihan

Alkitab Perjanjian Lama menyatakan demikian:

Ketika Allah memilih Abram, Dia berkata, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat … dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” (Kejadian 12:2,3). Ketika Abram berusia 99 tahun, Allah mengadakan perjanjian dengannya serta berkata, “Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa,” dan mengubah namanya menjadi Abraham (Kejadian 17:2-5).

Setelah orang Israel keluar dari Mesir dan berada di padang belantara, melalui Musa Tuhan berkata kepada mereka: “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus.” (Kejadian 19:5-6).
Karena Israel adalah bangsa yang terpilih maka mereka diminta dan diwajibkan untuk hidup sebagai bangsa yang dipilih yaitu patuh kepada segala perintah dan hukum-hukum Allah .

Daud digambarkan sebagai raja Israel yang setia dan yang menuruti kehendak Allah. Peranan Daud, pembangunan kota Yerusalem dan Bait Allah oleh Salomo di sana mendapat perhatian besar dalam sejarah Israel. Pembaharuan yang dilakukan raja Yosia menekankan dan menempatkan Bait Allah di Yerusalem sebagai satu-satunya pusat peribadahan di Israel. Begitulah Yerusalem mendapat peranan yang sangat penting sebagai tempat dan pusat kegiatan agama di seluruh daerah Israel. Sebagaimana luas diterima iman dalam dunia perjanjian lama adalah berhubungan dengan pemberian hukum Allah sebagai tanggapan oleh bangsa itu. Secara umum bagi situasi lingkungan bangsa itu sebagai umat-Nya dan interaksinya dengan agama-agama lain. Hal ini menjadi sangat khusus sebab Allah sendiri menyuarakan agar umat-Nya itu manaati Allah yang menyatakan diri-Nya sendiri. Pertama dan terutama, hukum Allah adalah tentang orang Israel. Hukum itu sendiri dialamatkan terutama kepada Israel sebagai sebuah bangsa.
Reff: ISRAEL, di israel-vt134.html#p271

Mengapa Allah memilih Israel menjadi umat pilihanNya?

      * Ulangan 7:7-9

      7:7 Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa mana pun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu — bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? —

      7:8 tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir.

    7:9 Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan,

Allah memilih bangsa Israel untuk menjadi umat yang akan melahirkan Yesus Kristus – Penyelamat dari dosa dan kematian (Yohanes 3:16). Allah pertama-tama menjanjikan Mesias setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3:15). Kemudian Allah menegaskan bahwa Mesias akan datang melalui jalur Abraham, Ishak dan Yakub (Kejadian 12:1-3). Maka, Yesus Kristus adalah penyebab utama mengapa Allah memilih Israel menjadi umat pilihanNya. Allah tidak harus memiliki ‘umat pilihan,’ namun Dia memutuskan untuk melakukannya dengan cara itu. Yesus harus datang melalui sebuah bangsa, dan Allah memilih Israel.

Namun demikian, alasan Allah memilih Israel bukan hanya untuk kedatangan Mesias semata-mata. Keinginan Allah bagi Israel adalah bahwa mereka akan pergi dan mengajar bangsa-bangsa lain mengenai Dia. Israel dipanggil menjadi bangsa imam, nabi dan misionari kepada dunia ini. Rencana Allah adalah bagi Israel menjadi bangsa yang berbeda, bangsa yang membawa orang kepada Allah dan janjiNya mengenai Penebus, Mesias dan Juruselamat. Secara umum, Israel gagal dalam tugas ini. Namun demikian, tujuan utama Allah bagi Israel, yaitu membawa Mesias dan Juruselamat, telah terpenuhi dengan sempurna – dalam diri Yesus Kristus.

Apakah keselamatan pada Perjanjian Lama itu khusus bagi Israel saja?

Kelihatannya seperti itu, namun sebenarnya Allah-pun memperkenankan bangsa-bangsa lain selain Israel untuk datang kepada-Nya. Dalam agama Yahudi dikenal satu istilah proselit (Yunani, προσήλυτος – prosēlutos .

Keluaran 12:43-49 melarang non-Israel turut merayakan Paskah (masuk dalam ibadah Israel), tapi membuka kesempatan bagi proselit yang diharapkan akan mengikuti segala tata cara upacara dan ibadah bani Israel:

      * Keluaran 12:43-49

      12:43 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun: “Inilah ketetapan mengenai Paskah: Tidak seorang pun dari bangsa asing boleh memakannya.

      12:44 Seorang budak belian barulah boleh memakannya, setelah engkau menyunat dia.

      12:45 Orang pendatang dan orang upahan tidak boleh memakannya.

      12:46 Paskah itu harus dimakan dalam satu rumah juga; tidak boleh kaubawa sedikit pun dari daging itu keluar rumah; satu tulang pun tidak boleh kamu patahkan.

      12:47 Segenap jemaah Israel haruslah merayakannya.

      12:48 Tetapi apabila seorang asing telah menetap padamu dan mau merayakan Paskah bagi TUHAN, maka setiap laki-laki yang bersama-sama dengan dia, wajiblah disunat; barulah ia boleh mendekat untuk merayakannya; ia akan dianggap sebagai orang asli. Tetapi tidak seorang pun yang tidak bersunat boleh memakannya.

    12:49 Satu hukum saja akan berlaku untuk orang asli dan untuk orang asing (baca: Proselit) yang menetap di tengah-tengah kamu.”

Proselit, mereka dalah orang non-Yahudi yang memeluk Agama Yahudi. Orang-orang Yahudi sering secara tidak adil dituduh bersikap kaku dan sangat eksklusif. Sebenarnya, teristimewa diantara orang-orang Yahudi yang tercerai-berai atau tersebar itu, ada kesadaran mengenai misi mereka terhadap orang yang bukan Yahudi. Mereka berusaha dengan tulus untuk memenangkan orang yang bukan Yahudi itu agar bertobat dan memeluk agama mereka. Memang bukan masalah yang ringan dan mudah bagi orang yang bukan Yahudi menerima Agama Yahudi. Ia harus disunat dan harus dibabtis (tevilah), dan taat pada Hukum Musa, termasuk segala peraturan ritual seperti Hukum Sabat dan hukum tentang makanan Haram/Najis. Jadi, sebenarnya ia bahkan harus menanggalkan kenasionalannya sendiri. Ada cukup banyak orang yang mengambil langkah yang drastis ini, dan mereka ini disebut “proselit”.

Banyak pula orang tertarik pada kepercayaan monoteisme dan moralitas Yudaisme yang ketat dan sangat kontras dengan politeisme Romawi yang menunjukkan kemerosotan akhlak. Mereka siap mengidentifikasikan diri dengan keyakinan dan idealisme bangsa Yahudi, tetapi tidak meimiliki komitmen sepenuhnya sebagai proselit. Kawan sesama musafir ini – sebagian besar adalah para pejabat yang kaya dan berpengaruh – dalam PB, proselit dikenal dengan sebutan “yang takut akan Allah”, maksudnya orang “saleh” (Kisah 13:26,43,50; 17:4)

      * Kisah 13:26,43,50

      13:26 LAI TB, Hai saudara-saudaraku, baik yang termasuk keturunan Abraham, maupun yang takut akan Allah, kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita.

      KJV, Men and brethren, children of the stock of Abraham, and whosoever among you feareth God, to you is the word of this salvation sent.

      TR, ανδρες αδελφοι υιοι γενους αβρααμ και οι εν υμιν φοβουμενοι τον θεον υμιν ο λογος της σωτηριας ταυτης απεσταλη

      Translit interlinear, andres adelphoi huioi genous abraam kai hoi en humin phoboumenoi {yang takut kepada} ton theon {Allah} humin ho logos tês sôtêrias tautês apestalê
      13:43 LAI TB, Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas; kedua rasul itu mengajar mereka dan menasihati supaya mereka tetap hidup di dalam kasih karunia Allah.

      KJV, Now when the congregation was broken up, many of the Jews and religious proselytes followed Paul and Barnabas: who, speaking to them, persuaded them to continue in the grace of God.

      TR, λυθεισης δε της συναγωγης ηκολουθησαν πολλοι των ιουδαιων και των σεβομενων προσηλυτων τω παυλω και τω βαρναβα οιτινες προσλαλουντες αυτοις επειθον αυτους επιμενειν τη χαριτι του θεου

      Translit interlinear, lutheisês de tês sunagôgês êkolouthêsan polloi tôn ioudaiôn kai tôn sebomenôn {yang takut akan (Allah)} prosêlutôn {dari penganut2 agama yahudi} tô paulô kai tô barnaba hoitines proslalountes epeithon autous epimenein tê khariti tou theou
      13:50 LAI TB, Orang-orang Yahudi menghasut perempuan-perempuan terkemuka yang takut akan Allah, dan pembesar-pembesar di kota itu, dan mereka menimbulkan penganiayaan atas Paulus dan Barnabas dan mengusir mereka dari daerah itu.

      KJV, But the Jews stirred up the devout and honourable women, and the chief men of the city, and raised persecution against Paul and Barnabas, and expelled them out of their coasts.

      TR, οι δε ιουδαιοι παρωτρυναν τας σεβομενας γυναικας και τας ευσχημονας και τους πρωτους της πολεως και επηγειραν διωγμον επι τον παυλον και τον βαρναβαν και εξεβαλον αυτους απο των οριων αυτων

      Translit interlinear, hoi de ioudaioi parôtrunan tas {YANG} sebomenas {takut akan (Allah)} gunaikas kai tas euskhêmonas kai tous prôtous tês poleôs kai epêgeiran diôgmon epi ton paulon kai ton barnaban kai exebalon autous apo tôn oriôn autôn
      * Kisah 17:4

      LAI TB, Beberapa orang dari mereka menjadi yakin dan menggabungkan diri dengan Paulus dan Silas dan juga sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah, dan tidak sedikit perempuan-perempuan terkemuka.

      KJV, And some of them believed, and consorted with Paul and Silas; and of the devout Greeks a great multitude, and of the chief women not a few.

      TR, και τινες εξ αυτων επεισθησαν και προσεκληρωθησαν τω παυλω και τω σιλα των τε σεβομενων ελληνων πολυ πληθος γυναικων τε των πρωτων ουκ ολιγαι

    Translit interlinear, kai tines ex autôn epeisthêsan kai proseklêrôthêsan tô paulô kai tô sila tôn te sebomenôn {takut kepada (Allah)} ellênôn {dari orang2 yang bukan yahudi} polu plêthos gunaikôn te tôn prôtôn ouk oligai

Contoh seorang Proselit yang lain dari bangsa lain, yaitu Aram/ Siria:

Naaman, Reff : http://www.sarapanpagi.org/naaman-vt3893.html#p21490

 
 
____________________________________________________________________
 
Quote:
NAAMAN PROSELIT:

Naaman, tokoh Perjajian Lama non-Yahudi, dianggap sebagai Proselit ketika ia membenamkan dirinya (Baptis/ TEVILAH) atas petunjuk dari Elisa (2 Raja-raja 5:14). Dan dari sinilah muncul ketentuan bahwa orang-orang non-Yahudi masuk ke dalam agama Yahudi dengan ditandai upacara pembaptisan dengan cara pembenaman di air (Baptis/ TEVILAH).

Upacara “baptis” dalam agama Yahudi ([size=15pt] טבילה [/size]– TEVILÂH) wajib dijalani para calon yang dibaptis dari non-Yahudi yang akan masuk menjadi pengikut agama Yahudi.
Kalangan non-Yahudi yang dibaptis disebut kalangan proselit. Menurut Talmud dan sudut pandang Parisi-Palestina, di samping harus di”benamkan ke dalam air” (dibaptis), kalangan proselit itu harus disunat dan mempersembahkan korban. Ada dua jenis proselit yaitu ‘ger tosyav’, “proselit yang bertempat tinggal di Israel” atau ‘ger sya’ar’, “proselit pintu gerbang”, dan ‘ger tsedeq’, “proselit yang benar” atau ‘ger haberit’, “proselit perjanjian” (Bava’ Metsi’a’ 5,6,9, 12; Makot 2,3, Nega’im 3).

“Proselit” diterjemahkan oleh LAI dengan “penganut agama Yahudi” misalnya Matius 23:15, Kisah Para Rasul 2:10, 6:5, dan 13:43.

Sumber:
Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Vol 2, Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1994, hlm 113
dan Berbagai Sumber.

Contoh lain seorang non Israel, pengikut YHVH, Allah Israel adalah Rahab perempuan Kanaan yang Berasal dari Yeriko. Dan juga Ruth seorang Moab, dll.

Allah untuk semua bangsa

Di dalam Perjanjian Lama dituliskan ada peristiwa bahwa Allah menengok bangsa-bangsa lain, yang didalamnya terdapat pesan-pesan keselamatan. Dalam hal ini Kitab Lukas 11:29-32 menyebutkan 2 contoh dari orang-orang yang sikapnya terpuji yaitu:

      1. Ratu dari Selatan (Ratu negeri Syeba, 1 Raja 10:1-13)

      2. Penduduk kota

Niniwe
“Ratu dari Selatan” datang atas prakarsanya sendiri dari “ujung bumi” untuk bertemu Salomo dan mendengar hikmatnya di Yerusalem dimana Allah secara khusus menyatakan diriNya kepada Israel (Yesaya 52:10 bandingkan dengan Kisah 1:8 ). Demikian juga penduduk Niniwe , pada zaman itu adalah ibukota dunia, seperti halnya kota Roma pada zaman PB. Penduduk Niniwe ini menyambut seorang nabi yang datang dari Israel yaitu Yunus, dan mereka bertobat karena pemberitaan/khotbah Yunus (lihat keterangannya lebih lanjut di artikel di tanda-yunus-ratu-selatan-lukas-11-29-32-vt376.html ).

Menarik dalam Silsilah Matius, bahwa ada 4 perempuan bangsa asing, masing-masing adalah Tamar (perempuan Kanaan, Matius 1:3) dan Rahab (perempuan Kanaan, Matius 1:5), kemudian ada Rut (perempuan Moab, Matius 1:5), kemudian Betsyeba (meski ia berasal dari Israel, namun ia pernah menjadi “bangsa asing” karena menikahi “Uria orang Het itu”, Matius 1:6).

Bukan secara kebetulan, tetapi ada suatu pesan khusus, bahwa di dalam Injil Matius itu menyebutkan nama-nama perempuan asing itu untuk memperlihatkan bahwa Tuhan menerima bangsa-bangsa non-Yahudi dalam rencana keselamatan. Dengan kata lain Matius menunjukkan bahwa Injil itu UNIVERSAL!
Siapapun sebenarnya dapat menjadi bagian dari Jemaat TUHAN karena iman!

Keselamatan pada awalnya diperkenalkan kepada Israel keturunan Abraham dan Allah mengadakan perjanjian khusus dengan Israel melalui Taurat Musa, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa Allah dengan kasih-Nya juga memandang penting keselamatan bangsa-bangsa lain, misalnya penduduk kota Niniwe di Asyur, sehingga Ia mengutus Yunus. Dan itu adalah sebuah kisah Tipologis yang pada akhirnya digenapi oleh ‘Anti-type’-nya dalam pelayanan Yesus Kristus bagi keselamatan yang juga mencakup orang-orang non-Yahudi:

      * Lukas 11:29-32 TANDA YUNUS

      11:29 Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah YESUS: “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.

      11:30 Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini.

      11:31 Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!

    11:32 Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!”

2 hal tipologis ini digenapi oleh anti-type-nya yang disinggung oleh Tuhan Yesus Kristus dalam ayat-ayat di atas, yaitu tentang Ratu Selatan (non-Israel) dan Niniwe (non-Israel), suatu pernyataan jelas bahwa Allah juga memandang bangsa-bangsa lain dalam karya keselamatan dari-Nya!

Haleluyah,
Amin!

Artikel terkait:
KESELAMATAN : Status Khusus Orang Yahudi dalam Perjanjian Baru, di keselamatan-status-khusus-orang-yahudi-dalam-pb-vt1211.html#p3795

 
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s