Apa Yang Terjadi Dengan Orang Yahudi Di Medina? (menjawab Piagam medina)

ORANG YAHUDI DI MEDINA

Sumber Asli:

http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/jews.htm

(saya tidak menghapus link di atas agar pembaca bisa memeriksa sendiri kebenaran translasi tersebut)


Ini adalah riwayat dari akhir keberadaan bangsa Yahudi di Medinah (atau disebut juga : YATHRIB). Suatu kisah mengenai pembantaian etnik, pengkhianatan, dan Genocide yang dilakukan oleh utusan Allah swt. Sang nabi saw menjarah komunitas Yahudi yang telah tinggal selama 2000 tahun di Medinah, membunuh kaum pria-nya, merampok barang-barang mereka, memperkosa istri dan anak mereka dan melenyapkan mereka tanpa pandang bulu dari wilayah milik mereka. Motif satu-satunya Sang Nabi Suci melakukan semua ini adalah TIGA TA : TAHTA, HARTA, WANITA (Yahudi).

Image

Ini ditegaskan oleh sejarawan Muslim sendiri. Banyak pembela Muslim mengurangi pentingnya arti kehadiran dan jumlah bangsa Yahudi yang ada di Medinah saat itu. Dr. A. Zahoor dan Dr. Z. Haq menulis, ”Sejarah tidak mencatat terlalu banyak mengenai saat migrasi pertama bangsa Yahudi dari Utara ke Yathrib dimulai dan jumlah mereka juga tetap kecil pada saat mereka tinggal di sana. (1)”

Maududi dlm komentarnya di Surah 99 Quran (2) melaporkan dari “Kitab al-Aghani” [sebuah buku berisi lagu pujian, sebuah sumber informasi yang penting bagi komunitas Muslim abad pertengahan. Vol xix, p.94, oleh Abu al-Faraj Ali dari Esfahan (897-967) ]:

KEBERADAAN YAHUDI DI HIJAZ

“Orang Yahudi di Hijaz (Mekah & Medinah) mengklaim bahwa mereka telah datang untuk bermukim di Arabia pada masa-masa terakhir hidup Nabi Musa (saw). Mereka mengatakan bahwa Nabi Musa telah mengutus tentara untuk mengusir bangsa Amalek dari tanah Yathrib dan telah memerintahkan mereka untuk membunuh semua orang di suku tersebut. Tentara Israel melakukan perintah Musa, tetapi juga melakukan pelanggaran yaitu mengampuni nyawa seorang pangeran berwajah tampan dari bangsa Amalek dan mengembalikannya ke tanah Palestina. Pada saat itu Nabi Musa telah meninggal dunia, penggantinya mengambil tindakan tegas atas apa yang telah dilakukan oleh para tentara itu , dengan alasan bahwa karena tentara itu membiarkan hidup seorang pangeran Amalek maka mereka telah jelas-jelas melanggar perintah Nabi dan telah menyalahi Hukum Musa. Sebagai konsekuensinya, mereka dikucilkan dari komunitas, dan mereka diharuskan kembali ke Yathrib dan tinggal di sana selamanya.

Migrasi bangsa Yahudi yang kedua ke Medinah (menurut bangsa Yahudi) terjadi pada 587 SM. Ketika Nebukadnezar, Raja Babilon, menghancurkan Yerusalem dan membuat kaum Yahudi terpencar ke seluruh penjuru dunia. Kaum Yahudi yang tinggal di Arab berkata bahwa beberapa diantara suku-suku mereka pada saat itu telah bermukim di Wadi al-Qura, Taima, dan Yathrib (Al-Baladhuri, Futuh al-Buldan)”

Maududi membantah kedua klaim itu dan berkata;
”Hal-hal tersebut sesungguhnya tidak mempunyai basis sejarah dan kemungkinan Yahudi telah mengarang cerita itu dengan tujuan menyanggah pendapat bangsa Arab yang percaya bahwa mereka adalah garis keturunan yang syah dari kaum asli yang bermukim di daerah itu.”

Tetapi bagaimanapun juga Maududi mengakui;

”Terbukti bahwa pada thn 70 AD, bangsa Roma telah membantai kaum Yahudi di Palestina, dan pada thn 132 AD mengusir mereka dari tanah itu, sehingga banyak kaum Yahudi yang melarikan diri untuk mencari suaka di Hejaz, suatu daerah yang bersebelahan dengan tanah Palestina di bagian selatan. Di sana, mereka bermukim ditempat dimana mereka bisa mendapatkan sumber mata air dan tumbuh-tumbuhan, dan kemudian dgn tipu daya (??? :shock: mana buktinya ?) dan melalui bisnis peminjaman uang secara bertahap mereka menduduki tanah yang subur. Ailah, Maqna, Tabuk, Taima, Wadi al-Qura, Fadak, dan Khaibar berada di bawah kekuasaan mereka pada masa itu. Sementara itu Bani Quraizyah, Bani al-Nadir, Bani Bahdal, dan Bani Qainuqa juga datang pada masa yang sama dan menduduki Yathrib.”

Karena tidak ada bukti sejarah yang kuat selain sejarah versi Maududi maka kita bisa saja berkesimpulan bahwa Muslim (mungkin juga Maududi seorang Muslim) mengarang cerita itu untuk meniadakan “garis keturunan yang syah dari Bangsa Yahudi sebagai penduduk daerah Yathrib”. Tampaknya, kaum Yahudi yang telah lama bermukim di Yathrib dan bahkan dari pengakuan Maududi sendiri sebagai, ”secara praktis pemilik dari tanah yang hijau dan subur itu”(2) hanya memberikan sedikit bukti mengenai keberadaan-nya.

Sementara itu di lain pihak, Muslim yang membenci Yahudi dimulai dari jaman Muhamad sendiri dan bahkan cendekiawan terkenal seperti Maududi tidak bisa menyembunyikan kebencian mereka terhadap Yahudi dgn menunjukkan cerita palsu untuk menutupi pengusiran dan pembersihan etnik Yahudi dari tanahnya sendiri.

Tetapi bagaimanapun juga, sejarawan Muslim mengakui bahwa “kaum Yahudi yang tinggal di Arab telah bermukim di Yathrib selama beratus-ratus tahun. Dlm bidang bahasa, busana, kependudukan dan cara hidup, mereka telah benar-benar mengadopsi cara Arab, bahkan nama mereka telah berciri Arab. Dari 12 suku Yahudi yang bermukim di Hejaz, tidak ada satupun kecuali Bani Zaurah yang mempertahankan nama Yahudi mereka. Malah, tidak ada dalam puisi kaum Yahudi pada masa sebelum Islam yang bisa membedakan-nya dari puisi bangsa Arab dalam bidang bahasa, ide, dan tema puisi-puisi itu. Bahkan mereka mengadakan perkawinan campuran dengan bangsa Arab. Kenyataan lainnya, tidak ada suatu halpun yang membedakan mereka dari bangsa Arab kecuali agamanya. Karena gaya mereka yg ke-Arab-Araban inilah, maka peneliti Barat banyak salah anggap bahwa mereka bukan benar-benar Yahudi melainkan Arab yang telah memeluk Judaisme, atau paling tidak mayoritas dari mereka adalah Yahudi-Arab (tidak lagi murni Yahudi). “(2)

Mungkin saja para pemikir Barat tidak terlalu jauh dari kenyataan. Karena walaupun kaum Yahudi bermigrasi ke Arab selama ratusan tahun, atau bila kita mau menerima sejarah versi Yahudi yang menyatakan mereka tinggal di sana selama 2000 tahun, bahkan mereka telah kawin campur dengan bangsa Arab, bagaimanapun mereka adalah bangsa Arab.

Maududi menulis, “Tidak ada bukti sejarah bahwa kaum Arab Yahudi benar-benar pernah ada di dunia. Mereka tidak meninggalkan tulisan apapun dalam bentuk buku atau ukiran batu yang bisa menjadi titik terang mengenai masa lalu mereka, tidak juga ada sejarawan Yahudi dan penulis di luar dunia Arab yang menyatakan ttg keberadaan mereka. Alasan di balik semua itu adalah karena setelah mereka bermukim di jazirah Arab mereka telah melepaskan diri dari kebangsaan mereka, dan kaum Yahudi di seluruh dunia tidak lagi menganggap mereka sebagai bagian dari Yahudi. Karena mereka telah melepaskan kebudayaan Yahudi, bahasa, bahkan nama mereka, lebih lagi karena mereka telah mengadopsi budaya Arab.” (2)

Alasan lain mengenai mengapa tidak ada sejarah yang otentik mengenai Yahudi Arab adalah karena Muhammad telah menghancurkan mereka semua. Tidak ada orang mati yang bisa menulis sejarah, bukan ?

Bila bangsa Yahudi telah berkarakteristik Arab bahkan tidak bisa lagi dibedakan dengan bangsa Arab yang lain, maka mungkin saja masuk akal bahwa versi sejarah Yahudi lebih akurat dan bahwa kaum Yahudi telah tinggal di Arab jauh sebelum yang diperkirakan sejarawan Muslim. Bahkan, sekalipun kita harus menerima sejarah versi Muslim, faktanya adalah bahwa kaum Yahudi telah tinggal di Arabia, paling tidak 500 tahun sebelum kelahiran Muhamad; dan mereka berhak mengklaim wilayah mereka (Yathrib).

PENDUDUK NON-YAHUDI LAINNYA

Pada masa 450 atau 451 AD, terjadi banjir besar di Yaman yang memaksa berbagai suku dari rakyat Saba untuk bermigrasi ke bagian lain di Arabia. Diantara mereka ada suku Aus dan Khazraj yang pergi dan menetap di Yathrib. Dua suku ini besar tetapi terbelakang. Berbeda dengan Yahudi yang telah menguasai perdagangan dan menjadi pemilik hampir semua bisnis di Yathrib, bangsa Arab yang sebenarnya memperoleh penghidupan dengan menjadi pelayan kaum Yahudi di pertanian atau rumah tangga Yahudi. Mereka dipandang rendah oleh Kaum Yahudi, yang kemudian menjadi pokok permasalahan.

Selain itu, kedua suku ini tidak bisa bersatu dan kemudian berusaha mengikat persekutuan dengan suku-suku Yahudi. Ini berjalan dengan baik; karena Bani Qainuqa tidak bersahabat dengan baik dengan kedua suku Yahudi yang lain. Dengan demikian Bani Qainuqa dan Khazraj menjalin persekutuan. Sedangkan Bani Quraizah, Bani Nadir, dan Aus bergabung bersama. Adalah penting untuk dicatat perseteruan ini bukanlah karena alasan agama tetapi karena persaingan antar suku.

Maududi berkomentar, ”Karena hal inilah, maka kaum Yahudi tidak saja ikut dalam berbagai perang-antar-kelompok di Arab, tetapi mereka juga ikut perang membantu sekutu2 mereka, suku-suku Arab, melawan kelompok2 Yahudi lain bersekutu dgn kelompok Arab lain yang jadi musuh.”

Bila kita bisa melampaui kabut tebal prasangka yang telah menyempitkan pandangan para cendekiawan Muslim, maka kita bisa beranggapan bahwa semua suku yang ada di Medinah adalah Arab yang memeluk agama berbeda2. Dan sebagaimana suku atau bangsa lain yang ada di dunia, diantara mereka juga terjadi persaingan. Tetapi dilihat dari struktur perserikatan mereka, konflik-konflik itu tidak terjadi karena alasan agama. Hal ini sangatlah penting untuk dicatat. Konflik antar suku hanya ada dalam kurun waktu yang pendek, tetapi kebencian antar agama akan selalu ada selama2nya.

Dalam perkembangan selanjutnya,Muhamadlah yang telah menghembuskan kebencian antar agama. Muhamad jugalah yang harus dicap sebagai penyebab pertentangan antar agama di Arab atau bahkan di seluruh dunia.

Muhamad dianggap sebagai pemersatu seluruh suku Arab. Hal itu mungkin saja benar. Tetapi tanpa dia-pun, suku-suku itu suatu hari akan melupakan perang yang terjadi diantara mereka. Sama seperti yang terjadi dimana-mana di seluruh dunia, bahwa ada banyak suku yang mula-mula berperang, kemudian bersatu untuk membentuk bangsa yang lebih kuat.

Muhamad menyatukan Arab dan mengubah mereka menjadi kekuatan yang besar, untuk menginvasi negara lain, menghancurkan peradaban yang lain dan memaksakan bahasa, kebudayaan, dan agama mereka kepada orang lain yang ditaklukkan.

Dengan memeluk Islam, persatuan2 yg terbentuk menguntungkan Arab
secara ekonomis, tetapi bahaya dari kebencian agama yang dipercikkan Muhamad bagi seluruh manusia telah mengalahkan semua keuntungan yang pernah didapat dari persatuan yang terbentuk dari gabungan beberapa suku Arab tersebut.

HIJRAH KE MEDINAH

Arab selalu dalam keadaan perang satu sama lain. Tetapi diantara mereka, orang Mekah-lah yang mempunyai posisi yang menguntungkan. Ka’bah yang merupakan simbol tempat suci bagi seluruh bangsa Arab (bukan Muslim doang) terdapat di Mekah. Itu adalah tempat ziarah yang berarti uang dan kekuasaan bagi penduduk Mekah.

Ketika Abu Thalib, paman Muhammad dan istrinya, Khadijah, meninggal, maka ia kehilangan pendukung kuat dan penduduk Mekah meningkatkan tekanan terhadapnya. Ia menerima tawaran beberapa orang dari Bani Thaif bahwa bila Muhamad menjadikan kota mereka sebagai tempat suci bagi agama yang baru diciptakan-nya (dengan demikian kota mereka nantinya akan jadi tempat religius dan berkumpulnya pengikut agama Muhammad) maka Bani Thaqif, penduduk wilayah Thaif, akan membantu dia.

Maka Muhamad dan anak laki-laki yang diadopsinya, Zaid ibn Harith, secara diam2 pergi ke Taif pada 620 AD mencari perlindungan dari komunitas yang ada di sana dan berjanji akan membuat kota mereka sebagai salah satu tempat suci untuk Muslim. Tetapi sebaliknya yang terjadi ternyata sebagian besar Bani Thaqif mengolok-oloknya dan bahkan permohonannya agar kunjungannya ke sana dirahasiakan tidak dikabulkan. Pemimpin Taif mungkin saja telah memusuhi penduduk Mekah, tetapi mereka tidak mau menambah resiko yang membahayakan hidup mereka karena melindungi pemeluk agama yang tidak jelas.

Ketika orang Quraish (atau Qurasy, tapi bukan Quraiza) tahu mengenai rencana pembuatan Mekah sbg kota suci Muslim, mereka sangat marah dan menekan Muhamad sampai akhirnya beberapa tahun kemudian mereka memutuskan untuk membunuhnya.

Muhamad mengetahui rencana pembunuhan terhdp dirinya dan melarikan diri ke Yathrib. Di Yathrib, ia mempunyai beberapa pengikut, mereka berasal dari suku Khazraj dan Aus. Kedua suku ini takut pada perang berkepanjangan, terutama karena perang yang baru saja terjadi (Perang Bu’ath) diantara mereka. Mereka sedang berupaya mencari jalan untuk mengakhiri kekerasan itu. Jadi berkumpullah kedua pemimpin suku itu yg setuju agar Muhamad dijadikan penengah.

SURAT PERJANJIAN dgn YAHUDI MEDINAH

Adalah suatu kebiasaan universal bahwa dua pihak yg berselisih mengangkat seorang mediator sbg penengah. Muhamad, yang semula dianggap sebagai orang asing dengan demikian dianggap tidak memihak salah satu sukupun, diminta untuk menjadi juru pisah atas konflik-konflik yang terjadi kemudian. Hal yang perlu dicatat adalah bahwa konflik yang terjadi di Yathrib TIDAK terjadi antara Muslim dan Yahudi; karena jika demikian Muhamad tidak mungkin dianggap sebagai penengah. Konflik yg terjadi adalah antara Muslim dgn suku QURAISH Mekah (suku Muhamad sendiri)

Juga telah kita lihat sebelumnya tidak ada perseteruan agama yang terjadi di Yathrib. Tetapi bagaimanapun, kaum Yahudi adalah bagian dari perjanjian itu karena mereka mengikat perserikatan dengan suku2 Arab.

Ini kesempatan emas bagi karir kenabian Muhamad yang sudah lama ia impikan. Sebagai bagian dari perjanjian itu, suku-suku itu tentulah akan melindungi sang Nabi dan juga anak istrinya dari serangan penduduk Mekah.

Jumlah mengikut Muslim di Yathrib semakin bertambah karena Yahudi menawarkan tempat mereka itu sbg tempat pengungsian aman bagi imigran Muslim. Yahudi tidak sekalipun mengira bahwa orang yang telah mereka berikan suaka akan berbalik melawan mereka, apalagi menghancurkan mereka.

Perjanjian itu tidak memberi Muhamad kekuasaan untuk memerintah. Ibnu Hisham melaporkan sebagian dari perjanjian itu. Tetapi sebagaimana yang akan kita lihat, perjanjian itu telah dimanipulasi. Tertulis:

“Yahudi harus menanggung pajak mereka dan Muslim juga harus menanggung pajak mereka. Masing-masing pihak harus membantu yang lain dari ancaman pihak luar. Mereka harus mengutatamakan saling membantu, berkonsultasi, dan kesetiaan dan tidak melakukan pengkhianatan. Mereka harus dengan sungguh-sungguh berdoa bagi keselamatan pihak lain. Hubungan antar pihak ini didasarkan pada kesalehan dan kemauan untuk mengakui hak-hak pihak lain, tidak didasarkan atas dosa dan perbuatan tercela. Orang yang bersalah harus dibantu untuk diperbaiki. Yahudi harus ikut serta membantu orang beragama lain selama perang berlangsung. Yathrib akan menjadi tempat perlindungan untuk orang-orang yang ada di dokumen ini. Bila ada konflik atau pertikaian yang akan menimbulkan masalah besar, maka haruslah diserahkan kepada Tuhan dan Muhamad sebagai utusan Tuhan; kaum Quraish dan sekutunya tidak boleh diberi bantuan dan perlindungan. Pihak-pihak yang ikut dalam perjanjian ini haruslah saling membantu dalam melawan setiap serangan ke Yathrib; setiap orang haruslah bertanggung jawab mempertahankan tanah dimana ia tinggal” (Ibn Hisham, vol. ii, pp 147-150)

Ada beberapa petunjuk bahwa dokumen perjanjian itu telah dimanipulasi. Hal yang paling nyata adalah bahwa tidak mungkin Yahudi mau menandatangani dokumen yang mengakui bahwa Muhamad adalah utusan Allah. Karena hal ini berarti penerimaan atas pernyataan Muhamad bahwa ia adalah utusan Allah. Jadi nyatalah bahwa dokumen di atas, kelihatannya telah dimanipulasi.

Juga ada beberapa kontradiksi dalam konteks dokumen tersebut. Ini diawali dengan adanya suatu perjanjian yang ditangani oleh dua suku yang berkuasa yang mempunyai hak dan kekuatan yang sama. Tetapi kemudian terdapat kalimat, ” Yahudi harus ikut serta membantu orang beragama lain selama perang berlangsung “ dan “Bila ada konflik atau pertikaian yang akan menimbulkan masalah besar, maka haruslah diserahkan kepada Tuhan dan Muhammad sebagai utusan Tuhan;” menyatakan adanya suatu kesan adanya ketidakseimbangan.

Pernyataan2 tsb nampaknya disisipkan belakangan. Pernyatan itu membuat Muslim mempunyai kekuatan yang lebih, padahal di bagian lain perjanjian dikatakan bahwa semua pihak mempunyai hak yang sama. Point yang paling penting adalah bagaimana mungkin Muhamad dianggap sebagai penengah sementara ia sendiri adalah pihak yang diuntungkan dari perjanjian itu ??

Mengherankan bahwa cendekiawan Muslim mempelajari surat tersebut selama berabad2 dan tidak sedikitpun mempertanyakan bagaimana mungkin Muhamad diangkat menjadi penengah dalam sebuah perjanjian, padahal ia sendiri ikut sbg salah satu pihak dlm perjanjian itu ???

Hal-hal itulah yang menguatkan bahwa perjanjian tersebut tidak otentik. Tetapi karena Muhamad dan pengikut-nya telah menghancurkan dokumen yang asli, maka tidak ada satupun yang tertinggal untuk kita, kecuali dokumen yang cacat tersebut.

PERANG SUCI

Setelah terjadi insiden di Badr dimana pengikut Muhamad menyerang karavan milik saudagar dan mengambil barang rampasan, maka berubahlah nasib Muhammad. Ia menjadi kaya karena barang rampasan itu, dan popularitasnya meningkat. Ia menjanjikan kekayaan dan budak perempuan kepada mereka yang mengambil bagian dlm pasukan perampoknya dan juga surga dengan pelayan-pelayan cantik dan sungai anggur untuk mereka yang mati shahid.

http://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Badr
Image
Scene from Siyer-i Nebi (The Life of the Prophet) depicting Muhammad at Badr.

Untuk seorang pengikut fanatik yang **** dan rakus, ini merupakan tawaran yang tidak bisa ditolak. Bila mereka selamat, maka mereka akan mendapat bagian dari barang rampasan termasuk dapat wanita-wanitanya; tetapi bila mati, mereka akan masuk surga dengan imbalan yang serupa ditambah dengan nikmat dari Allah.

Yang menarik adalah bahwa bangsa Arab tadinya memiliki nilai-nilai kesusilaan yang diterapkan pada saat mereka menangkap wanita yang telah menikah, tetapi Nabi Allah telah mencabut nilai-nilai kesusilaan itu dan menyatakan bahwa adalah legal bagi seorang pria untuk mempunyai hubungan sexual dengan wanita yang tertangkap dalam perang. (Q. 4:24)

Yahudi memiliki agamanya sendiri, tidak bisa menerima doktrin Muhamad ttg ke-Nabiannya. Bahkan mereka mungkin menertawakan Muhamad dan pengikutnya. Hal itu tentunya dengan jelas bisa dimengerti. Bayangkan saja bagaimana Muslim bereaksi, bila ada orang diantara mereka yang meng-klaim dirinya adalah nabi Allah dan memulai agama baru. (Ingat LIA EDEN ! )

 

Di dalam kekristenan:

Perjanjian Lama Tanakh : Ulangan 34:10,11,12

Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel, dalam hal segala tanda dan mujizat, yang dilakukannya atas perintah TUHAN di tanah Mesir terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya, dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel.

Kalau anda baca lengkap seperti diatas, tentunya pasti ada Nabi lain yang berasal dari Israel tetapi mujizat dan tanda-tandanya tidak dilakukan di Mesir. Di Alkitab, tercatat ada Nabi Yesaya, Yeremia, dsb.
Bahkan di Alquran anda ada nabi lain yang berasal dari Israel selain nabi Musa yaitu semisal nabi Daud, nabi Sulaiman, dsb.

Pengertian sama seperti MUSA, adalah sesuatu yang istimewa yang tidak ada pada orang kebanyakan, misal kisah masa kecilnya, dan kejadian waktu semasa kecilnya. Makanya kalau MUSA disamakan dengan Muhammad, semisal sama-sama kawin dan sama-sama punya anak, tentunya anda juga bisa disamakan dengan Musa dan Muhammad, bahkan mungkin jutaan orang mempunyai kesamaan seperti itu.

Tetapi terlepas itu, saya berterima kasih paling tidak bahwa keberadaan Alquran tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan Alkitab, Taurat, Injil, dan kitab Zabur. Buktinya didalam Alquran sendiri menyatakan hal-hal seperti itu.

Karena itu bacalah Alkitab, Taurat, Injil dan kitab Zabur. Dan seandainya jika anda bilang bahwa semua kitab yang saya sebutkan adalah palsu, tentunya Alquran yang sekarang juga patut dipertanyakan.

 

 

 

 

 

 

————————————————

1) http://users.erols.com/zenithco/treaty22.html#note1

2) http://www.usc.edu/dept/MSA/quran/maududi/mau59.html

3)

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

The Fatal Threat Of Islam To The West

Video | Posted on by | Leave a comment

Friday, June 22, 2012 “Persecuted Christians: myth or reality? “

Video | Posted on by | Leave a comment

A Muslim convert talks about Christ by Bernardo Cervellera

Rome (AsiaNews) – A few days ago, the website of Notre Dame de Kabylie posted a tape in which a former Muslim, Mohammed Christophe Bilek, talked about his conversion to Christianity. The original broadcast, which focused on the persecution of Christians, first appeared in ‘Dieu Merci’ (Thank God), a show that deals with religion on Direct 8, a French TV channel.

Mohammed Christophe Bilek was born in Algeria in 1950 and has lived in France since 1961. He is the author of two books: Un algérien pas très catholique (A not very Catholic Algerian), published by Cerf (1999) and Saint Augustin raconté à ma fille (Saint Augustine as told to my daughter), published by Éditions Qabel (2011). In the 1990s, he founded the Notre Dame de Kabylie (in French), a website devoted to evangelisation among Muslims and Muslim-Christian dialogue.

In the video, Bilek highlights the risk Muslim converts face when accused of apostasy, an offence that can be punished by death. Nevertheless, he insists on the importance of baptism, the encounter with Jesus Christ and affiliation with the Church.

His views go against those of priests and bishops in Muslim countries, who prefer to dissuade or even deny baptism to Muslims who want to convert out of fear for the consequences they and Christian communities might face.

Is baptising banned?

A few weeks ago, a bishop in an Arab country in the Middle East told me that police threatened to close one of his communities because members had advertised a Christian-Muslim meeting on dialogue. Police were concerned that this might be the first step towards so-called proselytising and apostasy. “If this is the reaction to a meeting on dialogue, imagine what it would be if we had a conversion,” an embittered bishop said.

It is no wonder then that the prelate is against conversions and baptisms for only this seems to be the way to preserve the little freedom of worship that exists in the country in question.

In places like Morocco, and until recently Algeria, the situation is such that dioceses were instructed not to baptise Muslims who want to convert to Catholicism because “local laws ban it.”

Fr Samir Khalil remembers that a few years ago, he met a Muslim whose request for baptism was rejected for 13 years. Baptism, he was told, would bring him a lot of trouble, force him to emigrate to avoid being executed for apostasy, and endanger the priest performing the baptism. And yet, for all this time, the would-be convert studied the Gospels and the catechism on his own and led a life of prayers.

In Egypt, the Christian clergy also tends to avoid baptising Muslims; only a few priests have done so in secret. Speaking to AsiaNews, a religious who has been in Egypt for decades, said that baptising at any cost “is against the Second Vatican Council because the Council said that non-Christians can also find salvation outside the Church.” Implicitly, this means that baptism is unnecessary and that people find salvation according to their circumstances.

This is not the place to start a theological debate about the faith in Christ and the salvation of non-Christians. Suffices it to say, that both Dominus Iesus and the Doctrinal note on some aspects of evangelization reiterate the importance of a ‘visible’ and socially relevant affiliation to Christ and the Church.

What is more, baptism is a life-changing experience, one that alters the convert’s perception of life. Changes occur in the here and now, not in some future ‘eternal’ life after death. For this reason, offering others the baptism is not a superficial deed but a gift of life and hope in the present. Being baptised or not being baptised are not equivalent.

Christians’ ‘solar’ God vs the Qur’an’s ‘lunar’ God

Faith changes the present in a profound and meaningful way. On Notre Dame de Kabylie, Mohammed Christophe explains his conversion by stressing his new understanding of God.

“If the God of the Qur’an is the same as that of the Christians, why did I, Mohammed, become Christophe,” he asked himself. “Having lived in Islam, practiced its precepts among people who are still Muslim (his family still is), I continue to be dazzled by the discovery of the Gospel,” he said by way of answer.

“The light that comes from the Gospel suggests a comparison, one based on a certain premise. Anyone who wants to talk about the God of Islam must refer to Qur’an. If we replace the word ‘God’ with ‘light’, the light of the Qur’an is lunar, that of the Gospel is solar.”

“Whether God is one, i.e. the creator, whatever the name we might have given him, is something I can accept. If we stuck to this premise, it would not be necessary to leave Islam and become Christian.”

“Yet, Jesus came to reveal, first to the Jews, then to all men, that ‘God is your Father, that God loves you and wants you with Him to give you His life!’ Upon such words, I do not hesitate one moment. I accept the offer, not once, but twice. I know that the Qur’an makes an offer in which I may deserve (but that is not certain) a carnal and materialist heaven (Sura 38, 50-52) that reminds me more of ads for vacation spots to idle away the time under the tropical sun than of the certainty of ‘knowing’ my God and Lord.”

What about the images we have of Christ and Mohammed? Two quotes say it all for Mohammed Christophe. In one case, Jesus said, “I am the good shepherd. A good shepherd lays down his life for the sheep,” whilst in the other, Mohammed is told “O Prophet! We have made lawful to thee thy wives to whom thou hast paid their dowers; and those whom thy right hand possesses” (Sura 33, 50).”

“Let us be serious. It is one thing to say ‘there is but one God for all;’ it is another to say that He is interested in me, insignificant worm, to the extent that he ‘deifies’ me in Jesus. [. . .] Such revelation was my calling.”

Jesus, man’s freedom without submission

Mohammed Christophe also speaks about apostasy and the possibility of death that comes from following him.

Christ says, “Are you ready to follow me and leave everything for me? When one realises what Jesus asks, out of love, we can see how difficult it is to follow him. It is also one thing to say ‘yes’ with one’s lips; it is another to leave everything behind for Him.

“For those of us who come from Islam, this means breaking with one’s past, family and community as well as one’s moral or spiritual certainties.”

“I say it is much easier to remain a Muslim, not take a stance (since we have the same God). There are many easy excuses not to make the break, not to accept this transformation, not to die in oneself and not to follow Christ. Conversion is demanding and cannot be done without his help.”

“This is what the rich youth in the Gospel could not do, because, at least at the start, one must freely agree. Jesus does not impose on me any “submission” but only the freedom to love him.”

“This is an important difference. Does God create us as free men or slaves? Depending on our answer, God is not the same. In one case, I risk the punishment reserved for apostates or unbelievers; in the other, I am the prodigal son expected by his father, who calls all his servants as soon he sees him on the horizon.”

“Leaving Islam is dangerous. It is done at the risk of one’s life. Thus, dear brothers and sisters in the West, welcome and help those who do it.”

“I insist. I am not talking about the God of the Muslims but of the God of the Qur’an. Muslims are my brothers; perhaps one day, they may be my brothers and sisters in Christ.”

“Since the 1990s, this has not only been a hope but it has also been a reality that has made me rejoice and praise the Lord. Alleluia! Jesus has come to save all men, Muslims included.”

 

 

source: http://www.asianews.it/news-en/A-Muslim-convert-talks-about-Christ-25395.html

Posted in Uncategorized | Leave a comment

ISLAMIC LESSON FOR THE KAFIRS IN THE HOLY MONTH OF RAMADAN

Al Wala’a wal Bara’a – Love and hate for the sake of Allah.

Consider these extracts from the Lecture.

The legal meaning of Al-Wala’ (love, support, help, follow, etc.) is to totally agree with the sayings, deeds and beliefs which please Allah and the persons whom He likes. Al-Wala’u wa Al-Bara’ is the creed that guides all the actions and sayings of a Muslim and it is by its practice and application that the ranks of the believers vary. It is imperative that this creed be unambiguous to the Muslim’s mentality in order that it manifests and materialises correctly in his actions.

28. Let not the believers take the disbelievers as Awliya’ (supporters, helpers, etc.) instead of the believers, and whoever does that will never be helped by Allah in any way, except if you indeed fear a danger from them. And Allah warns you against Himself (ie. His Punishment), and to Allah is the final return. 29. Say [O Muhammad (s.a.w.)]: “Whether you hide what is in your breasts or reveal it, Allah knows it, and He knows what is in the heavens and what is in the earth. And Allah is Able to do all things”.

The General Meaning of the Aya:

Allah (s.w.t.) forbids His Believers from exhibiting any form of Muwalat to the disbelievers. This includes the manifestation of love and compassion to strengthen the ties with them or to regard them as companions and friends because of their kinship or acquaintance. The Believer can not be an ally of Allah’s enemies and it is impossible for a person to combine the love of Allah (s.w.t.) and the love of his enemies because this is a combination of opposites; therefore, he who loves Allah, must also hate His enemies.

It is forbidden upon the Muslim to give Muwalat to the disbelievers and forsake the believers. There is no association or relationship whatsoever between Iman and Kufur. The preceding noble Ayat forewarns us from Muwalat Al-Kafireen and alerts us to the consequences of such an action, with one exception being in extreme necessity when one must avoid or protect oneself from the harm or injury inflicted upon by disbelievers by presenting an outer appearance that belies what one conceals inside. This is known as Taqiyyah, and it is only permitted under such circumstances. The Rank of the Belief in Al-Wala’u wa Al-Bara’ The belief in Al-Wala’u wa Al-Bara’ occupies a meritorious rank in the Islamic Aqeedah. This can be understood from the following reasons: * Al-Wala’u wa Al-Bara’ is part of the Shahadah (testimony of faith) that being ‘La ilaha’ which is the portion from ‘La ilaha illallah’. This means to be free and immune from all that is worshiped besides Allah (s.w.t.) as He the Almighty states: “And verily, We have sent among every Ummah (community, nation) a Messenger (proclaiming): ‘Worship Allah (alone), and avoid (or keep away from) Taghut (all false deities, ie. do not worship Taghut besides Allah)” (16:36). * The eminent creed of Al-Wala’u wa Al-Bara’ is the strongest bond of Iman. Al-Barra’ bin A’aazeb (r.a.a.) narrates that the Prophet (s.a.w.) said: “The strongest bond of Iman is the love for Allah’s sake and the hatred for Allah’s sake” (Reported by Imam Ahmad).

In summary then, Muslims must:

1. Hate non-muslims because Allah hates them;

2. Not associate with or help non-muslims else Allah will punish them;

3. Use deception or Taqiyya to hide their true feelings.

Does this not explain why Muslims DON’T integrate into democratic societies, and why they want separate facilities like washrooms, toilets, dining areas, swimming areas, prayer areas?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

UMUR AISHA PADA SAAT KAWIN, DARI SUDUT PANDANG SEJARAWAN & PAKAR HADITS

Ditulis oleh : Ayman Bin Khalid
Editor : diedit oleh tim Multaqa Ahl al-Hadeeth
Silahkan kunjungi http://ahlalhdeeth.com/vbe/index.php (English) atau http://ahlalhdeeth.com/vb/index.php (Bahasa Arab) untuk mendapatkan literatur dan diskusi yg lebih bermanfaat.

ATAS NAMA ALLAH YG DITINGGIKAN YG SUDAH SELAYAKNYA DITINGGIKAN, PRIBADI YG MENUNTUN SIAPAPUN YG IA KEHENDAKI DAN YANG MENYESATKAN SIAPAPUN YANG IA KEHENDAKI. KAMI AWALI DENGAN SIKAP HATI YG BERSERAH KEPADA ALLAH

Prolog : Tujuan dari penulisan dan presentasi topik ini

Belakangan, ada usaha2 jahat dari pihak2 tertentu untuk menyebarkan keraguan mengenai umur Ummul Mukminin, Aisha ra, saat menikah dengan sosok terbaik dari seluruh umat manusia Nabi Muhammad. Ada pihak yang menolak bahwa Aisha berumur 6 tahun saat ia menikah dengan Nabi dan berumur 9 tahun saat Nabi menggaulinya.

Tuduhan palsu ini juga berusaha untuk menulis ulang sejarah dengan berkata bahwa Aisha berumur 18 tahun pada saat perkawinannya yang oleh karenanya bertentangan dengan apa yg sudah terbukti sahih dari Hadits yg sudah disetujui oleh para pakar Islam dan kaum terpelajar.

Sungguh, mengapa kita harus bertanya2 akan fenomena ini padahal kita telah diberitahu oleh Nabi sendiri saat ia berbicara mengenai penegakan hari Kiamat.
Abu Hurairah menceritakan bahwa Sang Rasul berkata :
Pada hari kesudahan, akan banyak pembohong2 dan pemalsu2. Mereka akan datang padamu dengan kisah2 yg baik engkau dan ayahmu belum pernah mendengar. Jadi biarkanlah dirimu dan mereka (mis: ayahmu) berhati2 dan berjaga2 agar orang2 tersebut tidak menyesatkan dan menggoda engkau.
Sahih Muslim, hadeeth no. 16 dalam introduksi Muslim. Juga lihat Sahih Ibn Hibban no.6766 (Shuaib Al-Arnaut menyatakan isnadnya sbg otentik), Musnad Ahmad no. 8250, Mustadrak Al-Haakim no. 351, dan Musnad Abee Yaala no. 6384.

Dengan demikian, setelah menyelesaikan doa istikhaara (doa minta petunjuk pada saat hendak membuat keputusan), aku menulis sanggahan terhadap serangan ini dengan tujuan untuk mengklarifikasi masalah ini kepada orang2 beriman akan tuduhan2 ini. Hal ini karena ada serangan ganda:

1) yg pertama menyebarkan keraguan di hati Muslim mengenai keaslian Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, dua buku yg menurut konsensus (kesepakatan bersama) para kaum terpelajar Muslim adalah buku yg paling mendekati keasliannya setelah Quran.

2) Yg kedua, tujuannya adalah untuk mencemooh dan meremehkan status dari kaum terpelajar atau pakar Hadits kita yang mendedikasikan hidupnya untuk menyampaikan kebenaran ini kepada khalayak ramai demi kepentingan Islam/Allah.

Penting bagi setiap Muslim untuk mengetahui bahwa verifikasi terhadap Hadits dilakukan kaum terpelajar terhormat, yg menghabiskan waktu dan berusaha demikian kerasnya untuk mempelajari Hadits dengan tujuan untuk memverifikasi Hadits2 tsb yang oleh karena itu menyucikan/membersihkan Sunnah dari kisah2 yg lemah serta usaha2 pemalsuan.

Karena itu, pemeriksaan secara teliti dari konteks dan hubungan berantai dari narrator dari semua Hadits di Sahih Bukhari dan Sahih Muslim dipimpin oleh kaum terpelajar terhormat di masa lalu. Pada akhirnya, mereka semua (kaum terpelajar yg mempelajari Hadits) menyimpulkan bahwa kedua buku tersebut tanpa ragu adalah sebagai buku yg sahih/asli (This reference is to all the mawsool (connected) hadeeths in these two books.). Terlepas dari hal ini, dikarenakan kedunguan, kita menemukan beberapa Muslim bukan hanya membela gagasan tak berdasar dari hadists2 lemah di kedua buku ini, namun juga menyombongkan gagasan mereka seakan-akan mereka telah menyelesaikan pencapaian besar yg patut mendapatkan perhatian dari khalayak ramai atau telah memberikan keuntungan bagi umat.

Pada artikel ini, saya mempresentasikan pembuktian kesalahan dari tuduhan2 palsu tersebut. Dalam artikel ini, saya hanya menggunakan sumber yg otentik/asli sama seperti sumber yg digunakan oleh penulis dalam mempresentasikan tuduhan2 palsunya. Saya hanya mencari kepuasan rohani pribadi dan hadiah dari Allah, yg dimana tak akan mampu kulakukan tanpa hidayah dari Allah.

Dengan ini saya menyatakan apapun yg saya nyatakan dalam artikel ini adalah benar dari Allah dan apapun yg tidak benar adalah dari Shaytaan (Setan).

PENDAHULUAN

Sebelum memasuki bab berikut, pembaca seharusnya mengingat/mencatat poin2 penting berikut ini:
1. Tuduhan2 palsu tersebut banyak didasarkan pada bukti2 sejarah didalam buku yang berisi berbagai kisah yg tidak sahih, seperti yg dinyatakan oleh penulis itu sendiri. Kisah2 tersebut umumnya ditemukan dalam buku2 sejarah. Hal dibawah ini adalah apa yg dikatakan Abu Jafar At-Tabari, penulis Tarikh At-Tabari, salah satu buku sejarah yg paling terkenal, dalam pendahuluan bukunya:

Dengan ini saya menyatakan bahwa berita2 dan kisah2 yg ada dalam bukuku yang oleh pembaca dirasakan aneh atau salah, tidak dapat dipercaya, janggal atau tidak akurat, pada kenyataannya merupakan kisah2 yg saya dengar dari orang lain yg sudah saya nyatakan dalam bukuku dikarenakan kisah2 dalam bukuku adalah tanpa campur tangan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari pihak luar. Oleh karena itu saya menyatakan diri tidak bertanggung jawab atas isi dari bukuku. (Tarikh At-Tabari, 1/8)

2. Sejarahwan cenderung untuk menyebutkan/menyebarkan semua berita terlepas dari apakah berita itu aneh, palsu atau aneh tanpa verifikasi terhadap ke-otentikan dari berita tersebut. Metode ini sudah selalu menjadi pegangan bagi sejarahwan dikarenakan tugas mereka terbatas hanya untuk menceritakan apa yg mereka dengar, dan pada beberapa kasus yg lain mereka mengklarifikasi berita tersebut atau mengalihkan tugas klarifikasi tersebut kepada kaum terpelajar yg mendatangi mereka untuk mengklarifikasi berita tersebut.

3. Kebanyakan jenis2/tipe dari kisah2 dari buku sejarah tersebut tidak ada hubungan berantai dengan para narrator yg lain.

4. Sumber yg diakui kebenarannya harus sahih dan memenuhi dua syarat : sanad (hubungan berantai dari narrator yg lain) dan matan (text dan context dari kisah tersebut). Jika tidak lolos sensor akan 2 hal tersebut, maka kisah tersebut bisa diabaikan.

5. Untuk kisah yg tidak sahih atau kisah yg tidak bisa diperiksa keasliannya dikarenakan kurangnya hubungan berantai antar narrator, atau ada kisah lain yg sahih yg bertentangan dengan kisah tersebut, maka kisah yg sahih mendapatkan prioritas yg utama karena kisah yg sahih tidak bisa dinyatakan invalid oleh segelintir kisah2 yg tidak sahih.

Untuk kisah yg tidak sahih atau kisah yg tidak bisa diperiksa keasliannya dikarenakan kurangnya hubungan berantai antar narrator, atau TIDAK ada kisah lain yg sahih yg bertentangan dengan kisah tersebut, maka kita tetap tidak bisa menerima kisah tersebut dikarenakan kisah tersebut hanya menawarkan kemungkinan2 dan asumsi tanpa adanya kepastian.

I. ARGUMEN YANG MENYATAKAN BAHWA MENIKAHI GADIS 9 TAHUN ADALAH HAL YANG TIDAK DAPAT DITERIMA OLEH NORMA KEBUDAYAAN ARAB

Penulis argumen ini menyatakan : ”Sebagai permulaan, saya rasa adalah tanggung jawab bagi semua orang yang percaya bahwa menikahi gadis semuda 9 tahun adalah hal yg dapat diterima oleh norma kebudayaan Arab, setidak2nya memberikan beberapa contoh untuk memperkuat pandangan mereka”

Argumen in jelas2 lemah dikarenakan dua hal:
1. Struktur dari argumen tersebut,
2. Kepada siapa seharusnya beban pembuktian ini ditujukan.

NORMA ITU BERDASARKAN PUBERTAS, BUKAN UMUR
Struktur dari argumen tersebut menyesatkan dikarenakan si penulis menggunakan umur sebagai kunci sementara kata kunci yg benar seharusnya pubertas. Aisha mencapai pubertasnya pada saat ia berumur 9 tahun dimana hal tersebut disetujui oleh kaum Islam terpelajar, yang membuatnya sama dengan wanita manapun yg siap untuk dinikahi.

BUKTI BAHWA NORMA ITU BERDASARKAN PUBERTAS, BUKAN UMUR
Penulis meminta kita untuk menunjukkan bukti yg mendukung bahwa norma menikahi gadis 9 tahun diterima oleh kebudayaan Arab, dimana pada kenyataannya dia yang seharusnya memberikan bukti yg mendukung pendapatnya karena dialah yang menentang norma yg ada yaitu norma berdasarkan pubertas. Meskipun demikian, demi kepentingan berargumentasi, saya mempersiapkan ayat2 berikut sebagai bukti bahwa norma menikahi gadis 9 tahun sudah dikenal, dan diterima oleh kebudayaan Arab

1. Imam Ash-Shafi’e berkata
Selama aku tinggal di Yamen, saya bertemu dengan gadis2 berumur 9 tahun yg mengalami menstruasi begitu sering (Siyar A’lam Al-Nubala’, 10/91)
2. Dia (Ash-Shafi’e) juga berkata
Saya telah melihat di kota Sana (di Yemen), seorang gadis yg telah menjadi nenek pada umur 21 tahun. Dia menstruasi pada umur 9 tahun dan melahirkan pada umur 10 tahun (Sunan Al-Bayhaqi Al-Kubra, 1/319).
3. Ibn Al-Jawzi menceritakan cerita yg sama dari Ibn U’qail dan Abbad ibn Abbad Al-Muhlabi

Abbad ibn Abbad Al-Muhlabi berkata:
Saya menyaksikan wanita dari Muhlabah yg menjadi nenek pada usia 18 tahun. Dia melahirkan pada usia 9 tahun, dan anak perempuannya melahirkan pada umur 9 tahun juga, jadi wanita tersebut menjadi nenek pada usia 18 tahun (Tahqeeq Fi Ahadeeth Al-Khilaf, 2/267)

II. ARGUMEN YANG MENYATAKAN BAHWA KEBANYAKAN KISAH2 TERSEBUT HANYA DISAMPAIKAN MELALUI HISHAM IBN ‘URWAH YANG KREDIBILITASNYA TIDAK DAPAT DIPERCAYA

Penulis argumen ini menyatakan : “Kebanyakan kisah2 tersebut hanya disampaikan oleh Hisham ibn ‘Urwah dibawah otoritas dari ayahnya, ‘Urwah ibn Az-Zubair, keponakan dari Aisha. Kisah sepenting perkawinan Aisha logisnya seharusnya disampaikan oleh lebih dari sekedar segelintir orang”

Lagi-lagi si penulis berusaha menyampaikan argumen yg sia-sia yang pada akhirnya menyingkapkan kebodohan dari si penulis akan sains dari Hadits. Lebih lanjut lagi, hal tersebut mengindikasikan bahwa si penulis hanya copy paste argument tersebut tanpa mengerti apa yg tertulis dari kisah tersebut.

RUTE LAIN YG DIGUNAKAN UNTUK MENCERITAKAN HADITS
Hadits, yg menyampaikan umur Aisha adalah 9 tahun pada saat ia telah menikah, dikisahkan oleh narrator lain sebagai berikut:
1. Muslim yg Sahih
Aisha → ‘Urwah → Az-Zuhree → Mamar → Abdur Razaaq → Abd ibn Humaid →Muslim
Aisha menyampaikan bahwa Nabi menikahinya pada saat Aisha berumur 7 tahun, dan membawanya ke rumah Nabi sebagai pengantin pada saat Aisha berumur 9 tahun, dimana Aisha membawa bonekanya bersamanya, dan pada saat Nabi meninggal, Aisha berusia 18 tahun (Sahih Muslim (Eng. Trans.), no. 3311).

Note: Beberapa kisah menyatakan bahwa umur Aisha adalah 6 tahun sementara yg lain menyatakan bahwa ia berumur 7 tahun. Imam An-Nawawi pada saat ia berkomentar akan Hadits di Sharh of Saheeh Muslim menyatakan bahwa Ad-Dawoodee berkata:
“Berkenaan dengan kisah dimana dia (Aisha) menyatakan dia berumur 7 tahun sementara kebanyakan kisah menyatakan ia berumur 6 tahun, kedua narasi tersebut dapat direkonsiliasi dengan fakta bahwa dia berumur 6 tahun ditambah beberapa bulan. Karena itu di beberapa kisah Aisha hanya menyebutkan umurnya saat itu, sementara di kisah yg lain Aisha bermaksud untuk menyatakan umurnya di masa yg akan datang, dan hanya Allah yang paling mengetahui akan hal ini”

Aisha → Al-Aswad → Ibraheem → Al-A’amash→ Abu Mua’awiyah → Yahya ibn Yahya, Ishaaq ibn Ibraheem, Abu Bakr ibn Abee Shaibah and Abu Kuraib → Muslim
Aisha menceritakan bahwa Rasul menikahinya pada saat Aisha berumur 6 tahun dan tinggal bersamanya pada saat Aisha berumur 8 tahun dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun (Sahih Muslim, no. 1422)

2. Sunan Abu Daud
Aisha → Yahya (ibn Abdur Rahmaan ibn Haatib) → Muhammad (ibn Amr) → the father of U’baidullah ibn Muadh → Ubaidullah ibn Muadh → Abu Dawood
Yahya(ibn Abdur Rahman ibn Haatib) menceritakan bahwa Aisha berkata: “Saya datang ke Medinah dan tinggal di rumah Bani Al-Harith ibn Al-Khazraj” kemudian dia (Aisha) berkata: ”Demi Allah, saya sedang bermain ayunan yg diikatkan pada 2 pohon palem. Pada saat itu, rambutku sudah tumbuh hingga mencapai telingaku. Maka ibuku datang dan menurunkan aku dari ayunan dan membawaku, supaya mereka dapat mendandaniku dengan pakaian yg pantas, kemudian mengirimkan aku ke Nabi yg kemudian menggauli (consummated the marriage) aku pada saat aku berumur 9 tahun” (Sunan Abee Dawood, no. 4937. Al-Albaani declared it to be authentic (hasan sahih))

3. Sunan An-Nasaaee
Aisha → Abu Salamah ibn Abdur Rahman → Muhammad ibn Ibraheem → I’maraibn Ghazya → Yahya ibn Ayub → the paternal uncle of Ahmad ibn Sa’d ibn Al-Hakam ibn Abee Maryam → Ahmad ibn Sa’d ibn Al-Hakam ibn Abee Maryam ->An-Nasaaee
Abu Salam Bin Abdulrahman menceritakan dari Aisha bahwa Rasul menikahinya pada saat Aisha berumur 6 tahun dan tinggal bersamanya pada saat Aisha berumur 9 tahun (Sunan An-Nasaaee, no. 3379. Al-Albaani declared it to be authentic (sahih))
Aisha → Abu U’baidah → Abu Ishaaq → Mutarrif → A’bthar → Qutaibah → An-Nasaaee
Aisha berkata, “Rasul menikahiku pada saat umur 9 tahun dan aku tinggal bersamanya selama 9 tahun” (Sunan An-Nasaaee, no. 3257. Al-Albaani declared it to be authentic (sahih))

Aisha → Al-Aswad → Ibraheem → Al-A’amash → Abu Mua’awiyah →
Muhammad ibn Al-A’laa’ and Ahmad ibn Harb → An-Nasaaee
Al-Aswad menceritakan dari Aisya bahwa Rasul menikahinya pada saat Aisha berumur 6 tahun, tinggal bersamanya pada saat Aisha berumur 9 tahun, dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun (Sunan An-Nasaaee, no. 3258. Al-Albaani declared it to be authentic (sahih)).

4. Sunan ibn Majah
Abdullah → Abu Ubaidah → Abu Ishaaq → Israeel → Abu Ahmad→ Ahmad ibn Sinan → Ibn Majah
Abdullah berkata “Nabi menikahi Aisha ketika ia berumur 7 tahun dan consummated the marriage (menggauli)nya pada aat Aisha berumur 9 tahun, dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun”. (Sunan Ibn Majah (Eng. Trans.), no. 1877. Al-Albaani and Zubair Ali Zai both declared it to be authentic (sahih).)

5. Musnad Ahmad ibn Hanbal
Aisha → Al-Aswad → Ibraheem → Al-A’amash → Abu Mua’awiyah→ the father of Abdullah → Abdullah → Ahmad ibn Hanbal
Al Aswad menceritakan dari Aisyah bahwa Rasul menikahinya pada saat Aisha berumur 9 tahun dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun (Musnad Ahmad, no. 24152. Shuaib Al-Arnaut said that its chain was authentic (sahih) according to the
conditions of the 2 Shaikhs (i.e. Bukhari and Muslim).).

6. Sunan Al-Baihaqi Al-Kubra
Aisha → Al-Aswad → Ibraheem → Al-A’amash → Abu Mua’awiyah → Yahya ibn Yahya → Abu Ja’far Muhammad ibn Al-Hajjaaj Al-Waraaq → Abu Abdullah Muhammad Ibn Ya’qoub → Abu Abdullah Al-Haafidh → Al-Baihaqi
Al-Aswad menceritakan dari Aisyah bahwa Rasul menikahinya pada saat Aisha berumur 6 tahun dan tinggal serumah pada saat Aisha berumur 9 tahun dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun (Sunan Al-Baihaqi, no. 13437).

7. Mustadrak Al-Haakim
Jaabir → Yazeed ibn Jaabir → Abdullah ibn Abdur Rahman ibn Yazeed ibn Jaabir →Abu Mushar Abdul A’laa ibn Mushar → Ibraheem ibn Al-Hussain ibn Daizeel →Ahmad ibn U’baid ibn Ibraheem Al-Asdee, the Haafidh of Hamdan → Al-Haakim
Jaabir menceritakan bahwa Nabi menikahi Aisha pada saat Aisha berumur 7 tahun, consummate the marriage (menggauli)nya pada saat Aisha berumur 9 tahun dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun dan Aisha sendiri meninggal pada masa Khalifah Mua’wiyah pada tahun 57 AH (Mustadrak Al-Haakim, no. 6714).

8. Al-Mujam Al-Kabeer of At-Tabaraani
Abdullah → Abu U’baidah → Abu Ishaaq→ Shareek → Yahya ibn Adam → AbdurRahman ibn Saalih Al-Azdee → Muhammad ibn Moosaa ibn Hammaad Al-Barbaree→ At-Tabaraani
Abdulah menceritakan bahwa Nabi menikahi Aisha ketika Aisha berumur 6 tahun dan consummated the marriage with her (menggauli)-nya pada saat Aisha berumur 9 tahun dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun (Al-Mujam Al-Kabeer, no. 10279).

Qataadah → Sa’eed ibn Abee U’roba → Zuhair ibn Ala’la Al-Qaisee → Ahmad ibn Al-Miqdaam → Muhammad ibn Ja’far ibn Ai’n Al-Baghdaadee → At-Tabaraani
Qataadah berkata: “Nabi menikahi Aisha bint Abee Bakr As-Siddeeq ketika ia berumur 6 tahun dan ia tidak menikahi gadis perawan selain Aisha. Mereka berkata bahwa Jibreel berkata kepada Nabi: “Inilah istrimu” sebelum Nabi menikahi Aisha, oleh sebab itu Nabi menikahi Aisha di Makkah sebelum hijrah (imigrasi dari Makkah ke Madeenah) dan hanya setelah kematian istri pertamanya Khadijah. Kemudian Nabi consummated the marriage (menggauli)-nya di Madeenah pada saat Aisha berumur 9 tahun dan pada saat Aisha berumur 18 tahun, Nabi meninggal” (Al-Mujam Al-Kabeer, no. 40)

Aisha → Al-Qaasim ibn Muhammad → Sa’d ibn Ibraheem → Sufyaan →
Muhammad ibn Al-Hassan Al-Asdee → Al-Hassan ibn Sahal Al-Hannat →
Muhammad ibn Abdullah Al-Hadramee → At-Tabaraani

Aisha berkata:”Saya menikah dengan Rasul ketika aku berumur 6 tahun, kemudian ia consummate the marriage (menggauli)-ku pada saat aku berumur 9 tahun” (Al-Mujam Al-Kabeer, no. 52)

Aisha → Abu U’baidah → Abu Ishaaq → Mutarrif → A’bthar ibn Al-Wasim →Sa’eed ibn Amr Al-Sha’athi → Muhammad ibn Abdullah Al-Hadramee → At-Tabaraani
Aisha berkata:”Rasul menikahiku pada saat aku berumur 9 tahun dan aku hidup bersamanya selama 9 tahun kemudian” (Al-Mujam Al-Kabeer, no. 53)

Abu Maleekah → Abu Usaama → Al-Ajla’e Abdullah ibn U’mar ibn Abbaan →Muhammad ibn Abdullah Al-Hadramee → At-Tabaraani
Abu Maleekah berkata:”Nabi meminta kepada Abu Bakr untuk memberikan Aisha kepada dirinya untuk dinikahi dan Abu Bakr pada saat itu sudah memberikan Aisha kepada Jubair ibn Mutam . Kemudia Abu Bakr menarik janjinya kepada Jubair ibn Mutam dan memberikan Aisha untuk dinikahi oleh Rasul. Aisha berumur 6 tahun pada saat itu sehingga Nabi menunggu selama 3 tahun kemudian consummated the marriage (menggauli)-nya pada saat Aisha berumur 9 tahun” (Al-Mujam Al-Kabeer, no. 62)

Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa Hadits ini (Hadits yg disampaikan oleh Hisham ibn ‘Urwah) juga dikisahkan oleh banyak sumber diluar Hisham ibn ‘Urwah. Penulis sepertinya mengkritik kisah yg dibuat oleh Hisham Ibn ‘Urwah di Irak. Hal yg bias dari penulis ini menjadi jelas dimana orang lain bisa melihat bahwa Penulis terpaksa mengambil jalan untuk membingungkan pembaca dan pernyataan2 yg menyesatkan dalam usahanya untuk memperkuat opininya.

Lagi-lagi hal ini menunjukkan bahwa Penulis tidak punya pengetahuan apapun mengenai sains dari Hadits. Sebagai tambahan, salah satu kisah di Musnad Ahmad yg disampaikan Hisham berisi narrator2 yg bukan berasal dari Irak :
Aisha → ‘Urwah → Hisham ibn ’Urwah → Abdur Rahman → Sulaiman ibn Dawood→ the father of Abdullah → Abdullah → Ahmad ibn Hanbal
Aisha berkata:”Aku menikah dengan Rasul di Makkah, setelah kematian Khadijah, ketika aku berumur 6 tahun, dan Nabi consummated the marriage with me (menggauli)-ku di Madeenah ketika aku berumur 9 tahun” (Musnad Ahmad, no. 24867)

Note : Kisah ini dinyatakan sahih/asli oleh Shuaib Al-Arnaut. Tolong diingat bahwa Abdur Rahman (ibn Abee Al-Zinaad) adalah Hasan al-hadith dan Ibn Mu’een berkata bahwa dia (Hasan al-hadith a.k.a Abdur Rahman) adalah orang yg memiliki ingatan terbaik dan pelestari dari kisah2 dari Hisham ibn ‘Urwah. Jadi bahkan jika kita berasumsi bahwa Abdur Rahman mendengarkan kisah ini di Irak kemudian mengetahui kaum terpelajar telah mengatakan beliau adalah orang yg paling tepat menceritakan kisah dari Hisham, maka cukup untuk menyatakan bahwa kisahnya dapat dipercaya.

APA PANDANGAN DARI KAUM TERPELAJAR TERHADAP HISHAM IBN ‘URWAH

Para sarjana menyatakan hal2 sebagai berikut mengenai Hisham Ibn ‘Urwah (Tahdhib at-Tahdhib dibawah Hisham ibn U’rwah):

– Al- I’ jli berkata : “Dia adalah orang yg thiqah (dapat dipercaya)”
– Muhammad ibn Sa’d berkata :“Dia adalah narrator yg thiqah yg menceritakan banyak Hadits dan dia adalah hujjah (sebuah kata yg bermakna jauh lebih kuat dibandingkan thiqah, hujjah dapat juga diartikan sebagai sifat/karakter dari yg bersangkutan yang sudah cukup untuk dijadikan bukti)”
– Abu Hatim berkata : “Dia adalah orang yang thiqah dan seorang iman (atau pemimpin) dari Hadits”
– Ya’ qub ibn Shaibah berkata : “Dia adalah orang yang bersungguh-sungguh terhadap apa yg ia ingat dan dia adalah seorang yg thiqah. Tak seorang pun yg menolak Hadits yg disampaikannya hingga suatu saat ia pergi ke Irak dimana dia mulai menceritakan Hadits dari ayahnya sementara pada kenyataannya dia mendengar Hadits tersebut dari orang lain yg mendengarnya dari ayahnya.”
– Abdur Rahman ibn Khirasj berkata: “Maalik tidak senang dengan Hisham. Namun, Hisham adalah orang yg jujur dan cerita yg dikisahkannya dianggap sebagai Hadits yg paling otentik dibandingkan Hadits yg lain. Saya diberitahu bahwa Maalik tidak menyukainya dikarenakan kisah2 Haditsnya kepada rakyat Irak. Hisham pergi ke Kufa 3 kali. Suatu saat ia berkata “Ayahku berkata kepadaku bahwa dia mendengar Aisha…” dan di lain waktu Hisham bercerita Hadits yg sama dengan mengatakan “Ayahku berkata kepadaku bahwa Aisha…” dan yg ketiga kali Hisham bercerita “Ayahku menceritakan bahwa Aisha…” ”

Ibn Hibban menyebutkan Hisham dalam bukunya Thiqaat (buku yg berisi narrator2 yg dapat dipercaya) sebagai berikut:
Hisham ibn ‘Urwah ibn Az-Zubair ibn Al-A’wwam Al-Asdee adalah orang yg dikenal juga sebagai Abu Al-Mundhir. Hisham melihat Jaabir ibn Abdullah dan Ibn ‘Umar dan menceritakan cerita Hadits tersebut dari Wahab ibn Keesan dan group Tabi’een. Hisham meninggal setelah perang Al-Hazeemah pada tahun 145 atau 146 AH dan ia dilahirkan pada tahun 60 or 61 AH. Dikatakan bahwa ia meninggal pada tahun 144 AH. Dia adalah seorang yg hafidh, luar biasa pengetahuannya akan Hadits, saleh dan mulia.( Thiqaat Ibn Hibban under Hisham ibn ‘Urwah)

Setelah membaca opini2 dari beberapa kaum terpelajar/sarjana terhadap Hisham, kita dapat menyimpulkan hal2 sebagai berikut:
– Kaum terpelajar dari Hadits melakukan perubahan pada cerita yg dikisahkan oleh Hisham Ibn U’rwah sementara pada saat yg sama mereka mengenali tadlees dari Hisham di beberapa Hadits yg ia kisahkan di Irak. Namun hal tersebut tidak membuat para kaum terpelajar menolak semua cerita yg ia kisahkan di Irak.
– Kritik dari beberapa kaum terpelajar hanya terbatas pada beberapa Hadits yg Hisham ceritakan pada saat ia berada di Irak. Hal ini dikarenakan pada kenyataannya Hisham menggunakan frase2 (kombinasi/susunan kata) yg berbeda-beda untuk menyatakan bagaimana ia mendengarkan Hadits tersebut (rantai hubungan antar narrator/kisah, bukan textnya). Oleh karenanya, kaum terpelajar hanya mengecualikan kisah Hadits-nya di Irak, sementara sisa Hadits Hisham yg lain diterima oleh kaum terpelajar tanpa ragu, karena jelas sekali Hadits tersebut tidak bercacat.

Sebagai hasilnya, kita dapat melihat bahwa kaum terpelajar pada zaman tersebut terbiasa untuk memimpin proses analisa yg mendalam dari setiap Hadits. Analisa mereka tidak membuat mereka menolak Hadits yang bersinggungan dengan umur Aisha dikarenakan Hadits2 tersebut sahih. Lebih lagi, tidak ada seorang pun dari kaum terpelajar pada masa itu yg menolak semua Hadits yg dikisahkan oleh Hisham ibn U’rwah.

Jika TIDAK ada seorangpun dari pakar Hadits yang mempermasalahkan cerita/kisah dari Hisham ibn U’rwah, mengapa juga kita mempermasalahkan hal itu?

Note : Tadlees adalah istilah yg ditujukan pada saat seorang narator menceritakan kisah dari orang lain yg mana sebelumnya narrator tersebut telah mendengar kisah tersebut langsung dari orang yang bersangkutan, yang pada akhirnya memberikan kesan bahwa narator tersebut menceritakan kisah tersebut dari sisi orang yang bersangkutan secara langsung, padahal kenyataannya tidak demikian. Contohnya : (X) menceritakan kisah dari (Y). Umumnya (X) akan berkata: “(Y) berkata kepada kami…”sementara Tadlees akan berkata “Dari (Y)..” atau (Y) berkata..””.”

III. ARGUMEN YANG MENYATAKAN SURAH AL-QAMAR (SALAH SATU SURAH TERTUA) MENGUNGKAPKAN BAHWA AISHA ADALAH GADIS MUDA BELIA (BUKAN ANAK KECIL).

Penulis argumen ini berkata : “Menurut tradisi yg umum diterima pada masa itu, Aisha lahir sekitar 8 tahun sebelum Hijrah. Tetapi menurut kisah dari Bukhari (kitabu’l-tafseer), diinformasikan pada masa Surah Al-Qamar, telah terungkap dari Quran bab ke-54 dimana Aisha berkata “Aku adalah gadis muda”. Surah bab ke 54 dari Quran ini terungkap/diwahyukan 9 tahun sebelum Hijrah. Menurut tradisi, Aisha bukan hanya lahir sebelum pewahyuan dari surah tersebut, namun juga sebenarnya ia adalah gadis muda (jaariyah), bukan anak kecil (sibyah) pada masa itu.”

Argumen ini sama dengan argumen sebelumnya : lemah dan sesat, seperti yg akan saya paparkan lebih lanjut

TERJEMAHAN YANG BENAR DARI HADITS

Hadits tersebut telah salah diterjemahkan. Karena itu, saya memaparkan Hadits beserta terjemahannya yang benar sehingga para pembaca dapat menilai sendiri kebenarannya:

Yusuf bin Mahik menceritakan : Saya ada di rumah Aisha, Ibu dari semua umat percaya. Ia berkata “Wahyu ini “Namun Jam adalah waktu yg mereka tentukan (sebagai imbalan jasa mereka secara penuh); dan Jam akan menjadi lebih mundur waktunya dan akan jauh lebih pahit” disampaikan ke pada Muhammad di Makkah saat aku masih seorang gadis muda belia yang suka bermain2 (Jaariyah).””( Sahih Bukhari (Bahasa Arab-Eng.), vol. 6, no. 399)

Sangat jelas dari Hadits, Aisha hanya berkata bahwa ia menyaksikan pewahyuan kepada Muhammad dari salah satu ayat dari Surah pada saat dimana ia adalah gadis muda di Makkah. Darimana si Penulis mendapatkan gagasan bahwa Aisha menyaksikan Pewahyuan dari keseluruhan Surah?
Biarlah para pembaca sendiri yg menilai terjemahan yg benar dari Hadits dan membandingkannya dengan penafsiran dari si Penulis yg mengikuti nafsu sesatnya dan telah ditipu oleh Setan.

KEKURANG-OTENTIKAN KISAH-KISAH YG MENYATAKAN BAHWA AYAT INI DIWAHYUKAN/DIUNGKAPKAN 9 TAHUN SEBELUM HIJRAH

Dimana dinyatakan bahwa ayat ini diwahyukan 9 tahun sebelum Hijrah?Ayat ini hanya menyatakan bahwa Aisha adalah gadis muda pada masa itu. Penting untuk diingat bahwa adalah fakta ayat dari setiap Surah itu ciri khasnya diwahyukan secara bertahap. Itu sebabnya berkenaan dengan Surah ini, Muqatil ibn Sulaiman (One of the leading scholars of tafseer (exegesis) who took his knowledge of tafseer from Mujahahid.) berkata bahwa semua pewahyuan ini diwahyukan di Makkah kecuali 3 ayat (Fathul Qadeer) meskipun pandangan pada umumnya adalah semua ayat di Surah ini diwahyukan di Makkah. Tunjukkan mana kisah sahih yg Penulis gunakan untuk menyatakan pandangannya bahwa semua Wahyu dalam Surah diwahyukan 9 tahun sebelum Hijrah.

Beberapa poin berikut yg perlu dicatat/diingat:
a. Kebanyakan Surah2 diwahyukan dalam kurun periode waktu tertentu
b. Ada pandangan yg menyatakan bahwa beberapa ayat di Surah diwahyukan di Madinah
c. Tanggal pada saat terjadinya pewahyuan tidak dirincikan/disebutkan dalam kisah manapun.

Oleh karena itu, Penulis diminta untuk membuktikan bahwa ayat dimana Aisha menceritakan wahyu yang dia saksikan di Makkah adalah memang benar 9 tahun sebelum Hijrah.

TAHUN KELAHIRAN DARI AISHA SEPERTI YG DINYATAKAN DALAM BIOGRAFI
Saya mengutip biografi Aisha dibawah ini dari beberapa sumber/buku yg otentik
– Al-Mizzi berkata: “Dia (Aisha) menikah dengan Nabi Muhammad 2 tahun sebelum Hijrah seperti yg dikatakan oleh Abu U’baida dan yg lainnya mengatakan kejadian itu terjadi 3 tahun sebelum Hijrah sementara ada juga pendapat lain yg mengatakan 1.5 tahun sebelum Hijrah atau saat dimana Aisha berumur 6 tahun. Aisha menikah di Madinah setelah perang Badr di Shawwal tahun ke2 setelah Hijrah ketika dia berumur 9 tahun. Ada lagi pendapat lain yg mengatakan kejadian itu terjadi di Shawwal setelah 18 bulan dari Hijrah” (Tahdheeb al Kamaal, 35/227)
– Ibn Hajr berkata: “Az-Zubair ibn Bakkar dan yg lainnya berkata: Dia meninggal pada tahun ke 58 setelah Hijrah sementara Ibn ‘Uainah menceritakan dari Hisham bahwa Aisha meninggal pada tahun ke 57 setelah Hijrah” (Tahdheeb at-Tahdheeb, 12/436 and U’*** Al-Athar, 2/395)
– Al-Zarakli berkata : Aisha dilahirkan 9 tahun sebelum Hijrah dan meninggal pada saat 58 AH (Al-A’laam, 3/240 (Print Number 7; 1986 by daarul I’lm lilmalayeen))

IV. ARGUMEN YG MENYATAKAN BAHWA SIAPAPUN YANG DIBAWAH 15 TAHUN TIDAK DIPERKENANKAN/DIIZINKAN UNTUK BERPARTISIPASI DALAM PERANG, DAN BAHWA AISHA BERPARTISIPASI BAIK PERANG BADR MAUPUN PERANG UHUD.

Penulis argumen ini berkata : “Menurut beberapa kisah, Aisha ikut menemani Muslim2 dalam perang Badr dan Uhud. Lebih jauh lagi, juga dilaporkan di buku2 Hadits dan sejarah bahwa tidak ada seorangpun yg berusia dibawah 15 tahun diperkenankan/diizinkan untuk mengambil bagian dalam perang Uhud. Semua anak laki2 yg berumur dibawah 15 tahun dikirim balik pulang. Aisha yg berpartisipasi dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa saat itu ia tak mungkin berumur 9 atau 10 tahun. Lagian biasanya wanita2 menemani pria dalam medan perang untuk membantu mereka, bukan untuk menambah beban mereka”

Kesimpulan dan penafsiran dari penulis menunjukkan kurang pengertian akan bahasa Arab, dan juga kurangnya pengetahuan mengenai Hadits, fiqh (Islamic jurisprudence) dan sains.

15 TAHUN ADALAH UMUR DIMANA PRIA MENCAPAI PUBERTAS
Hadits sahih, yang digunakan si Penulis, menyatakan hal sebagai berikut:

Telah dikisahkan atas seizin dan otoritas dari Ibn ‘Umar yang berkata : “Rasul menginspeksi aku di medan perang pada hari Uhud, dan aku berumur 14 tahun. Dia tidak mengizinkan aku mengambil bagian dalam perang. Nabi menginspeksi aku pada Hari Khandaq dan pada waktu itu aku sudah berumur 15 tahun, dan beliau mengizinkan aku mengambil bagian dalam perang. Nafi’ berkata: Saya datang kepada ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz yg merupakan khalifah dan menceritakan tradisi ini kepadanya. Dia berkata : Sungguh, ini adalah pemisahan antara apa yg minor dan mayor. Maka Ia menulis surat kepada Gubernur bahwa mereka harus membayar tunjangan nafkah bagi orang2 yg berumur 15 tahun, namun harus menjaga dan memelihara siapa saja yg umurnya kurang dari 15 tahun diantara anak2 tersebut.” (Sahih Muslim (Eng. Trans.), no. 4605)

Dikisahkan oleh Ibn ‘Umar: Rasul memanggilku untuk menghadapnya pada malam perang Uhud saat aku berumur 14 tahun pada saat itu, beliau tidak mengizinkan aku mengambil bagian dalam perang, namun kembali Ia memanggilku di malam perang Trench ketika aku berumur 15 tahun, dan kali ini beliau mengizinkan aku untuk bergabung dalam mengambil bagian dalam perang. Nafi’ berkata : Aku pergi kepada ‘Umar bin ‘Abdul Aziz yg pada saat itu adalah khalifah menceritakan kisah tersebut kepadanya. Dia kemudia berkata, “Umur 15 tahun ini adalah masa peralihan anak laki2 menjadi pria dewasa. (That is to say, if a boy does not experience one or both signs of puberty (ejaculation or the growth of pubic hair) by the age of fifteen, then the completion of fifteen years of age is his attainment of maturity whether or not the signs of puberty have yet become manifest.)” Dan kemudian ia menulis surat kepada Gubernur untuk memberikan upah bagi mereka yg sudah mencapai usia 15 tahun. (Sahih Bukhari (Bahasa Arab-English), vol. 3, no. 832)

Imam An-Nawawi menaruh Hadits ini pada Judul “Umur seseorang mengalami pubertas” dan berkata “Usia 15 tahun adalah usia dimana seorang anak laki-laki menjadi seorang prajurit perang dan mengambil bagian untuk memimpin sama seperti lelaki dewasa.” (Sharh Sahih Muslim, 12/13)

Kemudian Ia berkata “Berkenaan dengan Hadits ini, Imam Ash-Shafi, Al-Azwa, Ibn Wahb dan Iman Ahmad beserta yg lainnya berkomentar bahwa umur 15 tahun adalah umur dimana anak laki-laki mencapai pubertas”. (Sharh Sahih Muslim, 12/13)

Sangat jelas bahwa umur 15 tahun ini hanya berlaku bagi laki-laki. Hal ini sudah dijelaskan sejelas-jelasnya dari Hadits itu sendiri, karena usia 15 tahun adalah usia dimana anak laki-laki tumbuh menjadi pria dewasa. Di masa perang, ketika seorang anak laki-laki mencapai usia tersebut, anak tersebut mengemban tanggung jawab yg sama dengan pria dewasa.

Al-Hafith Ibn Hajr menyatakan dalam komentarnya akan Hadits ini ketika ia menjelaskan penafsiran dari beberapa sarjana/kaum terpelajar berkenaan dengan Hadits ini:
Selanjutnya, beberapa kaum terpelajar Maliki menyatakan bahwa kejadian ini adalah kejadian dimana seseorang melatih jiwa kepemimpinan atas dirinya sendiri, bukan kepemimpinan secara pada umumnya (memimpin para pria). Selanjutnya, adalah mungkin bahwa anak tersebut mencapai umur pubertasnya pada umur tersebut (15 tahun) dan oleh karena itu diizinkan untuk mengambil bagian dalam perang.( Fath Al-Bari, commentary on hadeeth no. 2521)

BUKTI BAHWA ANAK KECIL (LAKI-LAKI YANG BELUM MENGALAMI MASA PUBERTAS) JUGA MENGAMBIL BAGIAN DALAM PERANG

Telah terbukti dari Hadits sahih bahwa anak kecil juga mengambil bagian dalam peperangan.
Anas menceritakan : Haritha adalah seorang martir pada hari dimana terjadi Perang Badr, dan dia adalah bocah cilik laki-laki (ghulam : seorang laki-laki yang belum mencapai pubertasnya) kemudian ibunya datang kepada Nabi dan berkata “O Rasul, engkau tahu betapa aku mengasihi Haritha. Jika ia berada di Surga, saya akan tetap sabar, dan berharap akan hadiah dari Allah, namun jika tidak demikian, maka lihatlah apa yang akan kulakukan”. Nabi berkata “Biarlah Allah mengampunimu, apakah engkau sudah tidak waras? Apa engkau mengira hanya ada satu Surga? Ada banyak Surga dan anakmu berada di Surga tingkat tertinggi, Surga dari Al-Firdaus” (Sahih Bukhari (Bahasa Arab-English), vol. 5, no. 318. Also narrated in Musnad Ahmad, no. 13831 and
Musnad Abi Ya’la, no. 3500)

‘Abdur Rahman bin ‘Auf menceritakan : “Ketika aku sedang berperang di barisan depan pada hari dimana terjadinya Perang Badr, tiba2 aku berbalik kebelakang dan melihat disamping kanan-kiriku dua anak laki-laki dan merasa tidak aman berdiri diantara mereka. Salah satu diantara mereka bertanya secara diam-diam kepadaku agar temannya tidak mendengar. “Wahai Paman! Tunjukkan padaku Abu Jahl.” Aku berkata, “Wahai anak kecil, apa yang akan kau lakukan kepadanya?”, Anak tersebut berkata “Aku berjanji kepada Allah jika aku melihatnya (Abu Jahl), aku akan membunuhnya atau aku yg terbunuh sebelum aku membunuhnya” Kemudian temannya yg lain juga mengatakan dengan diam-diam hal yg sama persis dengannya. Aku tidak akan merasa senang menjadi orang tengah diantara keduanya. Maka aku menunjukkan Abu Jahl kepada mereka. Kemdian keduanya menyerang Abu Jahl seperti layaknya elang hingga mereka mengalahkannya. Kedua anak tersebut adalah anak dari ‘Afra (anak dari perempuan Ansari) ” (Sahih Bukhari (Bahasa Arab-English), vol. 5, no. 324.)

Sepertinya si penulis gagal untuk membedakan antara orang2 yg mengambil bagian dalam perang sebagai prajurit perang dan orang2 yg tetap tinggal di barisan belakang untuk merawat prajurit/tentara perang. Kriteria yg dibutuhkan untuk masing2 tipe prajurit ini adalah sangat berbeda, karena itu membandingkan keduanya adalah hal yang tidak valid.

Karena itu saya akan memberikan tantangan kepada Penulis sebagai berikut:
– Tolong tunjukkan satu Hadits saja yg menyatakan dengan jelas bahwa umur 15 tahun adalah usia minimum bagi perempuan untuk mengambil bagian dalam perang
– Tolong tunjukkan bukti Hadits yg mengatakan bahwa umur 15 tahun juga berlaku bagi wanita dengan menunjukkan pernyataan2 dari sarjana/kaum terpelajar terkemuka baik sarjana/kaum terpelajar di masa lalu maupun masa sekarang.

V. ARGUMEN YG MENYATAKAN BAHWA ASMAA BERUMUR 10 TAHUN LEBIH TUA DARI AISHA, DAN IA MENINGGAL PADA USIA KE 100 DI 73 AH

Menurut sejarahwan (hampir seluruhnya), Asmaa, kakak dari Aisha 10 tahun lebih tua dari Aisha. Hal ini dilaporkan dalam Taqri’bu-l-tehzi’b sama juga seperti dalam Al-bidayah wa’l-nihaya bahwa Asmaa meninggal pada 73 Hijrah ketika ia berumur 100 tahun. Jelas jika Asma berusia 100 tahun pada 73 Hijrah maka seharusnya ia berumur 27 atau 28 tahun pada masa Hijrah, dan Aisha seharusnya berumur 17 atau 18 tahun pada saat itu. Oleh karena itu, Aisha, jika ia menikah pada 1 AH (setelah Hijrah) or 2 AH, maka umurnya antara 18 – 20 tahun pada saat perkawinannya dengan Nabi.

Argumen ini didasarkan pada 2 poin, yg akan saya sebutkan dan sanggah sesuai dengan poin tersebut:
1. Perbedaan umur Asmaa dan Aisha
2. Kisah yg menyebutkan umur dari Asmaa

PERBEDAAN UMUR ANTARA ASMAA DENGAN AISHA

Perbedaan umur antara Asmaa dan Aisha diceritakan oleh sejarahwan, hanya dari perkataan Ibn Abee Az-Zinaad yg tidak hidup pada masa Asmaa dikarenakan ia berasal dari Atbaa’ at-Tabi’een (Generasi ketiga, ex: orang yg bertemu dengan orang yg bertemu dengan teman2nya Nabi). Dia hanya dipercaya oleh segelintir orang, jauh lebih banyak yg tidak mempercayainya. Selanjutnya, kebanyakan sarjana/kaum terpelajar yg menjadi sumbernya, tidak pernah melihat Asmaa. Karena itu kisah tersebut tidak dapat diterima dikarenakan rantainya munqati (tidak berlanjut/terputus)

note =>It is when the chain has a missing link between the Successors and the Companion. Ibn Hajr added that the break may occur at more than one place in the chain.

Jika kita hendak menerima kisah yg sangat lemah ini, maka kita juga harus menerima/mengakui pernyataan yg dibuat setelah menyebutkan kata2 dari Ibn Abee Az-Zinaad oleh sejarahwan yg menceritakan kisah tersebut. Imam Adh-Dhaabi berkata : “Ibn Abee Az-Zinaad berkata: Dia, Asmaa ibn Abee Bakr lebih tua 10 tahun dari Aisha”. Jika saya berkata hal ini benar, maka umur Asmaa pada saat ia meninggal seharusnya 91 tahun. Namun sebaliknya, Hisham ibn ‘Urwah berkata: Ia hidup 100 tahun dengan gigi yg masih lengkap. (Tareekh Al-Islam, 5/354)

KISAH YANG MENYATAKAN UMUR DARI ASMAA

Umur dari Asma hanya diceritakan oleh Hisham Bin ‘Urwah, yang kisahnya di Irak ditolak mentah2 oleh Penulis. Terdapat hubungan berantai antar narrator dalam kisah dimana disebutkan umur Asmaa, dimana narrator tersebut adalah berasal dari Irak, namun seperti yang kita lihat, si Penulis menerima kisah ini dikarenakan kisah tersebut sesuai dengan kebutuhan argumentasinya. Demi kepentingan berargumentasi, saya akan menerima kisah ini dan setuju bahwa umur dari Asmaa adalah 100 tahun ketika ia meninggal, meskipun para sejarahwan sendiri tetap netral/tidak memihak, tidak menyokong kisah ini mempunyai karakteristik atau kesamaan dengan kisah2 yg lain.

Argumen dari penulis tidak membuktikan apa2 mengenai umur dari Aisha, karena argument ini didasarkan pada kisah dari Ibn Abi Al-Zinaad, yg sudah kita sanggah sebelumnya dikarenakan kisahnya yg jelas2 lemah.

APAKAH SEJARAHWAN SETUJU DENGAN APA YANG DISEBUTKAN OLEH PENULIS?

Sebagai hasilnya, Saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepada Penulis dikarenakan dia menyebutkan dalam argumennya bahwa kebanyakan para sejarahwan setuju dengan informasi ini (informasi bahwa umur Asmaa 10 tahun lebih tua dari Aisha)
a. Di buku sejarah manakah seperti yg dikutip oleh Penulis bahwa kebanyakan kaum sejarahwan setuju dengan informasi tersebut?
b. Apakah dengan mengumpulkan kisah2 dalam buku sejarah berarti si Penulis setuju akan hal itu? Tentu saja tidak, karena kaum sejarahwan menyebutkan juga kisah2 yg lain, dan kisah2 tersebut sahih bahwa umur Aisha adalah 6 tahun saat ia menikah
c. Dikarenakan pendapat dari Penulis yg menyatakan bahwa kebanyakan sejarahwan setuju dengan isu ini, dapatkah si Penulis menyebutkan nama2 orang yg menentang pendapat tersebut? (Perlu dicatat bahwa kaum sejarahwan tidak pernah saling sepakat akan informasi yg menyatakan bahwa beda umur Asmaa dan Aisha adalah 10 tahun)
d. Buku yg dikutip oleh si Penulis mengandung banyak kisah lain yang menyanggah dan bertentangan dengan gagasan/pandangannya. Yang ingin saya tanyakan adalah, bagaimana bisa si Penulis hanya menerima kisah yang sesuai/fit dengan kepentingannya untuk berargumentasi, sedangkan dengan mudah ia menolak mentah2 sisa2 kisah dari buku tersebut, sekalipun apa yg Penulis tolak sudah disetujui dan terbukti oleh Hadits sahih?

VI. ARGUMEN YANG MENYATAKAN BAHWA KEEMPAT ANAK DARI ABU BAKR DARI 2 PERKAWINAN PERTAMANYA DILAHIRKAN PADA JAMAN JAAHILIYAH (zaman Pra Islam)

Penulis argumen ini menyatakan : “Tabari dalam tulisannya akan sejarah Islam, saat menyebutkan Abu Bakr, melaporkan bahwa Abu Bakr mempunyai 4 anak dan keempat2nya dilahirkan semasa zaman Jaahiliyah, masa pra Islam. Jelas, jika Aisha dilahirkan pada masa Jaahiliyah, tidak mungkin Aisha umurnya kurang dari 14 tahun di masa 1 AH, waktu yg mendekati masa perkawinannya.”

Lagi-lagi Penulis nampaknya mencoba untuk menyesatkan pembaca dengan memutar balikkan kata2 dan menerjemahkan kata2 dari Imam At-Tabari sesuai dengan kepentingannya berargumentasi, dimana penerjemahan ini jelas2 salah. Kembali hal ini menyingkapkan kurangnya pengetahuan si Penulis akan bahasa Arab.

KUTIPAN UTUH DARI IMAM AT-TABARI

Inilah kutipan secara utuh dari buku sejarah yg ditulis oleh Imam At-Tabari:
At-Tabari berkata dalam bukunya Sejarah Islam:
“Ali ibn Muhammad menceritakan bahwa seseorang menambahkan kata2 dari gurunya, bahwa Abu Bakr menikah selama zaman Pra Islam dengan Qateelah, dimana hal ini juga disetujui oleh Al-Kalbi juga, mereka berkata : Dia adalah Qateelah bin Abdul Uzza ibn Abd ibn As’ad ibn Jaabir ibn Maalik ibn Hasal ibn A’mir ibn Luai yg melahirkan Abdullah dan Asmaa. Abu Bakr juga menikah pada zaman Pra Islam dengan Umm Rooman bin A’mir ibn Umair ibn Dhahl ibn Dahmaan ibn Al-Haarith ibn Ghanam ibm Maalik ibn Kinaanah dan sumber lain mengatakan dia adalah Umm Rooman bin A’mir ibn Uwaimir ibn Abdush Shams ibn Utaab ibn Udhinah ibn Subai ibn Dahmaan ibn Al-Haarith ibn Ghanam ibm Maalik ibn Kinaanah yang melahirkan Aisha dan Abdur Rahman. Jadi keempat anaknya dilahirkan oleh kedua istrinya yg telah kita sebutkan diatas, yang dinikahi Abu Bakr selama masa Pra Islam” (Tarikh At-Tabari, 2/351)

Hal2 yg perlu diingat:
1. At-Tabari tidak pernah berkata bahwa keempat anak Abu-Bakr dilahirkan pada masa Jaahiliyah sama sekali. Dia berkata dua istri Abu Bakr, yg ia sebutkan diatas, menikah dengan Abu Bakr pada masa Jaahiliyah
2. At-Tabari tidak pernah menyebutkan tahun kelahiran anak2 Abu Bakr, demikian juga dengan tahun dimana Abu Bakr menikahi kedua istrinya.
3. Cerita tersebut tidak mempunyai hubungan berantai antar narrator secara utuh.

VII. ARGUMEN YG MENYATAKAN BAHWA AISHA MEMELUK ISLAM JAUH SEBELUM MASA DARI UMAR IBN AL-KHATTAB MEMELUK ISLAM

Penulis argumen ini menyatakan : “Menurut Ibn Hisham, sang sejarahwan, Aisha memeluk Islam jauh sebelum masa dari Umar ibn Al-Khattab memeluk Islam. Hal ini menunjukkan bahwa Aisha memeluk Islam selama tahun pertama dari Islam. Sementara, jika kisah yg menceritakan Aisha menikah pada umur 7 tahun ini dianggap benar, maka Aisha seharusnya tidak dilahirkan pada masa tahun pertama dari Islam. Menurut Ibn Hisham, Aisha adalah orang ke-20 atau 21 yg memeluk Islam (Al Shirah al-Nabawiyyah, Ibn Hisham, vol 1, hal 227-234, Bahasa Arab, Maktabah al-Riyadh al-hadeeth, Al-Riyadh) sementara orang2 yg sudah memeluk Islam sebelum ‘Umar ibn al-Khattab adalah sebanyak 40 individu/orang. (Al-Sirah al-Nabawiyaah, Ibn Hisham, Vol 1, hal 295, Bahasa Arab, Maktabah al-Riyadh al hadeeth, Al-Riyadh)”

Argumen ini hanya beralas pada satu poin : tahun dimana Umar ibn Al Khattab memeluk Islam. Argumen ini bukan hanya rapuh sama seperti argument sebelumnya tapi juga menyesatkan seperti yg akan saya tunjukkan berikut ini

TAHUN DIMANA UMAR IBN AL-KHATTAB MEMELUK ISLAM

Umar ibn Al-Khattab memeluk Islam pada tahun ke 9 setelah masa permulaan pewahyuan kepada Nabi Muhammad. Berikut ini bukti yg diambil dari beberapa sumber, termasuk sumber yg sama yg digunakan Penulis untuk mendukung argumentasinya:

Ibn Sa’d berkata: “Muhammad ibn Umar berkata kepada kami bahwa Usamah ibn Zaid ibn Aslam berkata kepadanya bahwa ayahnya berkata kepadanya bahwa kakeknya berkata kepada ayahnya : “Saya mendengar Umar ibn Al-Khattab berkata : Saya dilahirkan 4 tahun sebelum kejadian Besar Fujjar.” Dia masuk Islam pada tahun ke-6 setelah pesan Islam ada, waktu dia berumur 26 tahun. Kakeknya berkata juga hal yg sama : Abdullah ibn Umar biasanya berkata: Ayahku (Umar) masuk Islam ketika aku berumur 6 tahun” (60Al-Tabaqat Al-Kubra, 3/250)

Ibn Ishaaq berkat: “Umar ibn Al-Khatab memeluk Islam setelah Muslim2 berimigrasi ke Abyssinia (nama masa kuno untuk Ethiophia)” (Seerah An-Nabawiyyah by Ibn Katheer, 2/32 and Seerah Ibn Hisham, 2/193)

Fakta sederhana ini menyanggah pendapat yg mengatakan bahwa Umar adalah orang ke-40 yg memeluk Islam dikarenakan Muslim2 yg bermigrasi ke Ethiopia itu lebih dari 80 orang (63Seerah Ibn Hisham, 2/193). Abdullah ibn Umar menceritakan pada masa itu ia adalah seorang ghulam (istilah yg digunakan untuk menggambarkan orang yg masih muda belia, namun sudah mampu membuat penilaian yg masuk akal) ketika Umar ibn Al-Khattab menyatakan ke-Islaman-nya didepan publik. (Seerah Ibn Hisham, 2/193 and Seerah An-Nabawiyyah by Ibn Katheer, 239)

Mari kita perhatikan dengan seksama penanggalan pada kutipan diatas:
Kutipan pertama:
Umur Abdullah ibn Umar pada masa Umar memeluk Islam adalah 6 tahun
Umar memeluk Islam 6 tahun setelah permulaan wahyu yg diterima oleh Nabi
Kutipan kedua:
Umar memeluk Islam setelah migrasi pertama ke Abyssinia.
Kutipan ketiga:
Abdullah ibn Umar menyatakan bahwa ayahnya memeluk Islam ketika ia masih ghulam (dibawah umur 9 tahun).

Dari kutipan diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa penentuan tanggal dari Umar memeluk Islam adalah didasarkan pada umur anaknya. Pada Hadits sahih yg telah kita rujuk sebelumnya, menyatakan bahwa Abdullah ibn Umar berumur 14 tahun pada masa perang Uhud. Perang ini terjadi pada tahun ke-3 atau 4 setelah Hijrah. Kita juga tahu bahwa Nabi tinggal di Makkah selama 13 tahun setelah menerima pewahyuan. Oleh karena itu, berdasarkan berdasarkan informasi penanggalan ini, Umar ibn Al-Khattab memeluk Islam pada tahun ke-9 setelah masa pewahyuan kepada Nabi.
Berikut ini adalah urutan waktu untuk mendemonstrasikan kejadian2 tersebut:

Pra Hijrah (Tahun permulaan pewahyuan kepada Nabi)
– Tahun ke 5 => Aisha lahir
– Tahun ke 9 => Abdullah berusia 6 tahun
– Tahun ke 9 => Umar memeluk Islam

Hijrah => (tahun ke 13)

Pasca Hijrah
– Tahun ke 2 =>Pernikahan Aisha
– Tahun ke 3 / 4 => Perang Uhud
– Tahun ke 3 / 4 => Abdullah berusia 14 tahun

VIII ARGUMEN YANG MENYATAKAN BAHWA KATA “BIKR” TIDAK DIGUNAKAN SEBAGAI KATA UNTUK MERUJUK SEORANG GADIS MUDA.

Penulis argumen ini berkata :”Menurut kisah yg diceritakan Ahman ibn Hanbal, setelah kematian Khadijah, ketika Khaulah datang kepada Nabi dan menasihatinya untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepada pilihan apa yg ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata:’Engkau dapat menikahi seorang perawan (bikr) atau wanita yg sudah pernah menikah (thayyib). Ketika Nabi bertanya siapa gadis perawan tersebut, Khaulah mengajukan nama Aisha. Siapapun yg mengerti bahasa Arab sadar bahwa kata ‘bikr’ dalam bahasa Arab tidak ditujukan kepada gadis 9 tahun yg belum dewasa. Kata yg benar untuk gadis muda yg suka bermain-main seperti yg sudah saya nyatakan sebelumnya adalah ‘jaariyah’. ‘Bikr’ sebaliknya, digunakan untuk merujuk kepada wanita yg belum pernah menikah, dan sangat jelas gadis 9 tahun bukanlah seorang wanita. ”

Penulis sepertinya adalah penyanggah/penentang yg mengambil keuntungan dari kekurang-pahaman pembaca akan dasar2 perbendaharaan kata Arab ATAU penulis adalah orang yg terang2an meremehkan kemampuan intelek/berfikir dari pembaca. Namun dari cara dia menggunakan kata2 dari kalimatnya, terlihat bahwa dia menunjukkan boroknya sendiri akan kekurang-pahaman akan bahasa Arab. Apa lagi yg bisa kita harapkan dari orang yg cuman sekedar bisa mem-beo dari kata2 orang lain?

DEFINISI DARI BIKR DAN JAARIYAH
Argumen ini merujuk pada kata bikr dan jaariyah. Definisi dari kata2 tersebut adalah sebagai berikut:
Bikr secara umum artinya adalah anak sulung tetapi mempunyai arti tambahan, yg dapat juga digunakan untuk merujuk perempuan yg belum pernah bersetubuh dengan laki-laki (Al-Muheet Fi Al-Lugha, 2/49).

Bikr adalah seorang Jaariyah yg masih perawan dan pengertian Bikr pada wanita adalah seseorang yg belum pernah bersetubuh dengan laki-laki (Lisan Al-A’rab, 4/76).
Pengertian pada umumnya adalah setiap gadis yg masih muda belia/cilik disebut sebagai Jaariyah, jadi penggunaan kata jaariyah berhubungan/merujuk kepada umur. Namun kata Bikr adalah kata yg menjelaskan seorang perempuan yg masih perawan terlepas dari apakah mereka masih muda atau dewasa. Sebagai tambahannya, maksud dari Khaulah dalam pertanyaannya kepada Nabi adalah apakah Nabi berkeinginan untuk menikahi seseorang yg belum pernah menikah sebelumnya ATAU seseorang yg sudah pernah menikah sebelumnya.

IX ARGUMEN YANG MENYATAKAN BAHWA FATIMAH 5 TAHUN LEBIH TUA DARI AISHA DAN IA DILAHIRKAN 5 TAHUN SEBELUM MUHAMMAD MENCAPAI MASA KENABIAN-NYA.

Penulis argumen ini berkata : “Menurut Ibn Hajar, Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisha. Fatimah dilaporkan bahwa ia lahir ketika Nabi berumur 35 tahun. Jika informasi ini benar adanya, umur Aisha tidak kurang dari 14 tahun pada saat Hijrah, 15 atau 16 tahun pada saat pernikahannya. Pernyataan asli Ibn Hajar dan terjemahannya dan referensinya adalah sebagai berikut : Fatimah dilahirkan pada masa dimana Ka’bah dibangun, ketika Nabi berumur 35 tahun. Dia (Fatimah) berumur 5 tahun lebih tua dari Aisha (Al-isbah fitamyizi’lsahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol 4, hal 377, Bahasa Arab,Maktabatu’l-Riyadh alhadeetha, al-Riyadh, 1978)”

Sangat penting untuk bersikap objektif ketika sejarah didiskusikan, dan sepertinya Penulis kurang akan hal ini dikarenakan keputus-asaannya untuk mencari argument apapun yg mendukung gagasan/pandangan pribadinya. Referensi diatas yg digunakan oleh Penulis, telah diambil sepotong-potong dengan cara yg sangat menyesatkan dan keluar dari konteks aslinya.

KUTIPAN SESUNGGUHNYA DARI IBN HAJR
Berikut ini beberapa bagian yg Penulis dengan gampangnya ubah/hilangkan, dikarenakan bagian ini bertentangan dengan argumennya:

Ibn Hajr berkata (sebelum kutipan tersebut/kutipan yg diambil Penulis):“Telah terjadi masalah mengenai perbedaan pendapat tahun Fatimah dilahirkan”
Kemudian Ibn Hajr berkata lagi setelah kutipan tersebut: “Abu Umar menceritakan bahwa Ubaidullah ibn Muhammad ibn Sulaiman ibn Ja’far Al-Hashemi berkata :”Fatimah dilahirkan ketika Nabi berumur 41 tahun, tahun dimana sudah hampir setahun atau lebih saat Nabi mendapatkan pewahyuannya. Dan dia lebih muda 5 tahun dari Aisha. Ali juga menikah dengan Fatimah pada tahun kedua setelah Hijrah pada bulan Muharram, yang merupakan 4 bulan setelah pernikahan Aisha, dan sumber lain juga menceritakan kisah yg sama.”” (Al-Isabah fi Tamyizi’l-sahabah, 4/377)

Karena itu, dapat disimpulkan bahwa dikarenakan banyak jumlah kisah dalam sejarah yg berhubungan dengan topik pernikahan Aisha, maka tidak ada satupun kisah yg dapat dengan mudah dipilih sebagai bukti KECUALI kisah tersebut lolos kualifikasi setelah narratornya diperiksa dengan seksama, conteks dan text dari Hadist tersebut oleh kaum terpelajar/sarjana Islam yg dipercaya.

EPILOG – NASIHAT TERAKHIR

Saya sudah menyediakan bukti2 yg cukup dalam tulisan saya untuk menunjukkan umur Aisha adalah 9 tahun pada saat pernikahannya dengan Nabi dan hal ini adalah masalah konsensus (persetujuan yg diterima secara umum) diantara kaum terpelajar/sarjana, termasuk sejarahwan Muslim yg bukunya digunakan sebagai “bukti” yg digunakan si Penulis.

SI Penulis bergantung pada buku2 sejarah, yg sebenarnya juga menceritakan bahwa umur Aisha adalah 9 tahun pada saat pernikahannya. Namun, jelas2 ganjil bahwa si Penulis hanya mengakui/mendukung statement2 yg mendukung argumentasinya namun dengan mudah mengabaikan sisa2 statement lain yg bertentangan dengan opininya sementara sisa2 statement terarkhir terbukti sahih dan disetujui oleh kaum terpelajar/sarjana Muslim.

Metode cut and paste yg digunakan Penulis adalah bias, sangat menipu, dan pada kenyataannya menghapuskan kredibilitas dari si Penulis. Tidak ada hal yg bermanfaat yg dapat dicapai oleh seseorang yg menghalalkan segala cara untuk mempropagandakan idenya yg menyesatkan. Kita mencari tempat perlindungan dari Allah dari penyesatan ini dan penipuan dari Syaatan (Setan).

Saya hendak menasihatkan kepada diri saya sendiri dan saudara/i Muslimku bahwa kita hidup di masa2 yg sukar. Karena itu kita harus memproteksi diri kita dengan pengetahuan yg benar dari sumber yg sahih/asli. Setelah mencari perlindungan dari Allah dari pencobaan2 ini, tidak ada perlindungan yg lebih berarti selain membentengi diri kita dengan KEBENARAN. Ibn Sireen (A student of one of the Companions of the Prophet) mengatakan kata2 yg sederhana ini, dimana di waktu yg akan datang, dapat menjadi petunjuk yg sangat diperlukan bagi para kaum terpelajar, “Pengetahuan ini adalah pengetahuan agama, oleh karena itu berhati-hatilah dengan kepada siapa engkau memperoleh pengetahuan tersebut”.

Jadi mari kita tidak membiarkan telinga kita untuk mendengarkan hal2 yg meragukan yg disebarkan oleh musuh2 Islam, terutama mereka orang2 munafik yg telah menjadi juru bicara bagi orang2 kaffir, yang hanya sekedar mengeluarkan gema/sekedar membeo dikarenakan penyakit yg sudah mewabah dalam hati mereka. Mereka2 inilah yg dikatakan Allah:

Orang-orang tersebut adalah orang2 yg membuang2 waktu dan tenaga dalam hidupnya, sementara mereka sedang mengira bahwa mereka memperoleh kebaikan dengan perbuatan mereka.( Surah Al-Kahf (18):104)

Hanya Allah saja yg mengetahui hal terbaik.

Ditulis oleh seseorang yg terus menerus membutuhkan pengampunan dan belas kasihan dari Allah,
Ayman bin Khalid
28 October 2007

Sumber:

Muslim yg membela hadits Muhammad pedofiL

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Bulan penuh berkah ?

Sekilas Ramadhan adalah bulan ibadah puasa yang sudah ada sejak pra islam. Ritual untuk Dewa Bulan ini diduga kuat berasal dari budaya kaum Sabean (Sabiin), baik golongan Mandaean ataupun Harranian. Ibadah puasa pra-islam jauh lebih baik karena mereka lebih total dan khusyuk dalam beribadah tanpa harus mengganggu penganut kepercayaan lain. Ini sangat berbeda dengan pelaksanaan ibadah puasa muslim apalagi muslim masa kini. Selain tidak toleran juga penuh arogansi.

Berikut yang kerap terjadi dalam pelaksanaan ibadah puasa di bulan ramadhan
1. Menuntut penghormatan
– warung2 dipaksa tutup siang hari
– jika tetap buka, penjual makanan harus menutup warungnya dengan kain
– tempat2 hiburan malam diminta tutup dg paksa
– para pekerja hiburan malam harus libur
– orang2 non muslim dilarang makan dan minum di depan muslim yg sedang berpuasa
– hampir semua stasiun TV memperbanyak porsi acara islami
– dll

2. Polusi Suara
– corong2 masjid makin memekakkan telinga sejak maghrib sampai subuh
– kelompok2 muslim tanpa tenggang rasa, membuat kegaduhan untuk membangunkan warga agar sahur. padahal dalam setiap kelompok rukun tetangga tidak selalu dihuni oleh kalangan muslim saja
– suara mercon akan terdengar dimana-mana
– dll

3. Meningkatnya Kriminalitas
– dalam setiap periode ramadhan, angka kriminalitas naik, sehingga Polri selalu membuat kegiatan peningkatan pengawasan kamtibmas
– kasus pencurian
– kasus kekerasan oleh ormas2 islam
– dll

4. Pola Hidup Boros (note:naiknya harga sembako, karena mekanisme pasar)
– setiap ramadhan, acara buka puasa bersama sering dilakukan. banyak instansi (pemerintah & swasta) mengeluarkan budget extra
– muslim sibuk mempersiapkan menu2 special sahur dan buka puasa (bukti paling mudah, search google dg keywords menu buka puasa…analisa content2nya)
– muslim sibuk membeli baju dan segala tetek bengek yang tak perlu, untuk persiapan show lebaran
– muslim sibuk mempersiapkan aneka makanan utk lebaran
– dll

5. Lalu-Lintas & Polusi Udara
– periode ramadhan, frekuensi pengguna jalan raya makin banyak dan tentunya polusi udara dari corong2 kendaraan bermotor terjadi
– kebiasaan ngabuburit, menunggu buka sambil jalan2
– pawai2 takbir di akhir ramadhan kerap menimbulkan kemacetan dan polusi udara
– kecelakaan lebih sering terjadi
– dll

6. Turunnya Produktifitas
– sekolah banyak libur
– jam sekolah dikurangi
– jam kerja dikurangi
– hari kerja banyak libur/jadi alasan utk libur
– dll
Dan masih banyak lagi.

 

Sumber Ramadhan-Lebaran Watch

Posted in Uncategorized | Leave a comment